Kepentok Cinta Petani Tampan

Kepentok Cinta Petani Tampan
~ Keluar Negeri


__ADS_3

"Siapa Pi? Teman arisan Mami bukan?" tanya Mirna dari belakang. Dia pun berdiri di samping Samsul kemudian menelisik penampilan Sadewa dan Supri sambil melayangkan tatapan jijik.


Samsul menoleh sejenak. "Nggak tahu siapa, nggak jelas," katanya dengan ketus.


Sadewa dan Supri tertegun sejenak mendengar ucapan Samsul kemudian sedikit gugup melihat tatapan yang diberikan Mirna saat ini.


"Saya temannya Rani, Om. Boleh ketemu Rani sebentar, nggak Om? Kami baru aja datang dari kampung XXX," ucap Sadewa sekali lagi sambil melengkungkan senyuman dan berharap Samsul mau memperbolehkan dirinya bertemu Maharani.


"Temannya Rani?" Bukan Samsul yang menanggapi, melainkan Mirnalah yang bertanya. Wanita itu memandang sinis kedua pemuda yang pakaiannya kumal, menurutnya. "Oh ya ampun, sejak kapan Rani punya teman kayak gini ya, aduh, aduh selera anakmu sekarang semakin rendah loh Mas, baru tiga bulan tinggal di kampung udah temanan sama tikus-tikus, hiii."


"Heh Bu! Kalau ngomong di jaga ya, walaupun kami orang kampung, kami masih punya harga diri! Sembarangan aja kalau ngomong!" seru Supri tak terima atas penghinaan Mirna barusan. Dia dapat menebak jika wanita dihadapannya ini adalah Ibu tiri Maharani sebab tempo lalu dia pernah mendengar cerita dari Maharani langsung kalau dia memiliki Ibu tiri yang jahat.


Mirna melototkan mata. "Berani kamu sama saya ya!" serunya sambil berkacak pinggang.


"Sup, udah, jangan ribut, biarin aja." Sadewa langsung mengelus punggung Supri agar dapat tenang. Organ jantungnya berdetak ribuan kali lipat sekarang. Menebak jika dirinya tak dapat bertemu Maharani sekarang sebab sambutan yang diberikan penghuni rumah sangat tak baik.


Melihat wajah panik Sadewa, Supri mengurungkan niatnya untuk beradu mulut dengan Mirna. Dia membuang kasar napasnya lalu memalingkan muka ke samping.


"Maaf Bu, teman saya nggak sengaja, saya minta maaf kalau kedatangan kami menganggu waktu istirahat Ibu dan Bapak, apa boleh saya bertemu Rani?" Sadewa tak pantang menyerah meski tatapan Samsul sekarang menghunus ke dalam bola matanya.


"Kamu siapanya Rani? Hanya teman saja? Atau lebih sampai-sampai kamu nekat datang ke sini?" tanya Samsul dingin.


Sadewa menarik napas panjang. "Sebenarnya saya pacarnya Rani, Om. Makanya saya mau ke sini bertemu dia sebentar, soalnya kemarin Rani tiba-tiba pergi tanpa kasi tahu saya."


"Haha! Pacarnya Rani rupanya, ya ampun, selera Rani turun bebas ya ternyata, walaupun kamu tampan tapi kalau soal harta pasti kamu nggak punya apa-apa," ucap Mirna sambil tertawa remeh.


Supri sangat geram saat mendengarkan hinaan Mirna pada Sadewa. Seandainya saja Mirna tahu kalau Sadewa memiliki tanah berhektar-hektar di kampung. Tapi dia menahan dirinya untuk tidak membalas cercaan Mirna. Dia memilih untuk mengalihkan pandangan ke arah lain agar tak melihat wajah Mirna yang membuatnya muak.


Sadewa hanya melemparkan senyum tipis saja. Dia tak peduli akan penilaian Mirna sekarang. Pikirannya hanya fokus pada Maharani, apakah wanitanya ada di dalam atau tidak.


"Rani udah pergi ke luar negeri," ucap Samsul kemudian dengan raut muka datar.

__ADS_1


"Apa?" Sadewa sangat terkejut, mendapatkan kabar tersebut. Dunianya seakan berhenti berputar sejenak. "Kira-kira berapa lama Om?" tanyanya dengan mimik muka sedih.


"Entahlah. Sudah sekarang kalian pulang saja, rumahku tidak diperuntukan untuk orang seperti kalian," ucap Samsul sambil menyentuh gagang pintu. Dan menyuruh Mirna untuk masuk ke dalam.


"Tapi Om, boleh nggak saya minta nomor hp Rani." Sadewa menahan pintu seketika.


"Pergi kalian sebelum saya panggil satpam untuk mengusir kalian," ucap Samsul lalu menarik dengan kuat gagang pintu hingga jari Sadewa terjepit di sela-sela pintu berganda tersebut.


"Ahk!" Sadewa mengaduh kesakitan kala jari telunjuknya memerah saat ini.


"Wong edan!" Supri mengepalkan satu tangan ke udara. Lalu mengalihkan pandangan ke arah Sadewa."Kamu nggak apa-apa Dewa?" tanyanya khawatir.


Sadewa mengeleng pelan sambil meniup-niup jarinya. "Tenang Sup, hanya luka kecil."


"Parah banget dah Bapaknya Rani, sikapnya bagaikan langit dan bumi sama Rani, sudahlah Dewa, kita ke rumahmu dulu, aku yakin kayaknya Rani ada di dalam deh, itu akal-akalan Bapaknya aja biar kamu nggak ketemu Rani," ucap Supri sambil menepuk pelan pundak Sadewa.


Helaan kasar terdengar dari hidung Sadewa. Dia merasa gelisah saat mengetahui kalau Maharani pergi keluar negeri. "Entahlah Sup, tapi hati aku sekarang nggak tenang, seandainya saja nomor Rani aktif mungkin aku nggak akan khawatir gini, semoga saja tebakan kamu benar, besok kita kesini lagi, udah yuk sekarang kita ke rumah Ibuku."


"Iya, ayo kita pulang," kata Sadewa sambil membalikkan badan. Supri pun mengekori Sadewa dari belakang.


"Tunggu!"


Belum sampai lima langkah, terdengar suara seseorang dari belakang. Sadewa dan Supri pun menoleh, melihat seorang pria berkumis tipis melangkah cepat, mendekati mereka.


"Cari Non Rani ya?" Dengan napas terengah-engah Dono bertanya. Sedari tadi dia mendengar obrolan majikan dan dua pria di hadapannya ini dari bagasi mobil.


"Iya, siapa ya?" Sadewa menatap penuh tanda tanya. Begitupula dengan Supri.


"Hehe, saya supir pribadi Non Rani alias orang kepercayaan Non Rani, tadi saya nggak sengaja nguping pembicaraan kalian."


"Nggak apa-apa, memang benar ya Pak, Rani pergi keluar negeri?" tanya Sadewa seketika.

__ADS_1


"Ya benar, tapi rencananya rabu depan kok, maaf ya, kena kibulin sama Den Samsul. Beliau protektif sama Non Rani. Sekarang Non Rani lagi keluar di suruh sama Den Samsul urus surat menyurat di sekolah sama bodyguard."


"Jadi Rani masih di Jakarta?" Perasaan Sadewa campur aduk sekarang antara sedih akan ditinggalkan dan senang karena tambatan hatinya masih di Jakarta, jadi dia memiliki kesempatan bertemu Maharani.


Dono mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Pak tahu nomor hp Rani nggak?" tanya Sadewa.


"Saya–"


"Dono!!!"


Ucapan Dono terhenti saat suara panggilan dari dalam rumah terdengar nyaring.


"Waduh, saya ke dalam dulu ya, nomor hp kamu aja kasi saya, nanti saya sampaikan ke Non Rani," ucap Dono panik sambil mengulurkan tangan di hadapan Sadewa.


Secepat kilat Sadewa mengambil pulpen dan menuliskan nama dan nomor handphone miliknya di telapak tangan Dono.


"Terima kasih Pak," ucap Sadewa setelah selesai menulis nomor.


Dono mengangguk cepat lalu berlalu pergi dari hadapan Sadewa dan Supri.


"Tuh kan apa aku bilang Rani masih di sini, udah bos jangan galau lagi, sekarang kita ke rumah dulu," ucap Supri kemudian.


Sadewa tersenyum getir. "Iya udah yuk, kita keluar dari sini, ntar kena usir pula kan," kelakarnya sejenak.


Sesampainya di ambang gerbang, Sadewa mengerutkan dahi, melihat sebuah mobil melintas dengan plat nomor yang tak asing. Dia menyipitkan matanya, melihat seorang pria bertubuh kurus serta memakai kaca hitam duduk di kursi kemudi. Pria itu tengah mengemudikan mobil untuk masuk ke dalam perumahan elit ini. Jejak kemarahan tergambar jelas di bola mata Sadewa tiba-tiba saat mengenali siapa pria tersebut.


"Siapa Dewa? Kamu kenal?" tanya Supri penasaran saat mengikuti arah pandangan mata Sadewa sedari tadi.


"Hm, bukan siapa-siapa, ayo kita pulang." Sadewa semakin mempercepat langkah kakinya keluar dari gerbang.

__ADS_1


__ADS_2