
Mirna menegang seketika saat melihat Samsul menyelenong masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu sama sekali.
"Kalian kenapa?" tanya Samsul.
"Hehe, nggak kenapa-kenapa Mas, cuma cerita-cerita saja tadi tentang kegiatan Rani di sini sampai-sampai dia betah tinggal di desa, padahal kan kita tahu kalau Rani itu sangatlah manja," jawab Mirna dengan cepat. Merasa lega karena Samsul tak mendengar obrolan mereka barusan.
"Oh gitu," ucap Samsul sambil mengatur napasnya yang terengah-engah. Sepertinya pria itu baru saja berlarian menuju rumah sederhana milik Bude Sri.
"Mana Rani?"
Bude Sri celingak-celinguk sejenak sebab tak melihat Maharani datang bersama Samsul. Seandainya dia memiliki bukti kejahatan Mirna, mungkin saja Maharani tak kekurangan kasih sayang saat ini. Dia mendengar cerita dari Maharani dan sangat menyayangkan sikap Samsul yang berlaku tak adil terhadap anak kandungnya sendiri.
"Masih di belakang sama Dono, anak itu keras kepala, padahal niat aku baik, agar dia cepat kembali ke Jakarta dan melanjutkan sekolahnya," ucap Samsul sambil menghampiri Mirna.
"Iya, mau bagaimana lagi Mas, sebaiknya kamu dengerin Rani deh, kasihan dia, lebih baik Rani di sini saja," ucap Mirna menimpali. Dia melempar senyum penuh arti pada Samsul.
"Nggak bisa! Rani harus kembali ke Jakarta, aku nggak mau dia sampai putus sekolah." Samsul mendengus kasar.
Mirna berdecak sebal di dalam hatinya kala mendengar penyangkalan Samsul.
Sementara, Bude Sri hanya diam saja. Tak menyanggah apa yang dikatakan Mirna ataupun Samsul. Dia tampak berpikir keras.
"Ahk! Lepasin aku Dono, aku nggak mau ke Jakarta!" teriak Maharani dari luar. Dia tengah di seret paksa oleh Dono sekarang menuju rumah Bude Sri. Dengan susah payah Dono membujuk Maharani agar mau kembali ke Jakarta.
__ADS_1
Bude Sri menenggok keluar rumah sebentar lalu melirik Mirna sekilas, yang saat ini sangat senang melihat ketidakberdayaan keponakannya itu.
"Lepasin aku!" bentak Maharani sambil menghentak kasar tangan Dono, saat sampai di ruang depan. Dia melayangkan tatapan tajam pada Samsul dan Mirna secara bergantian.
"Rani, kenapa kamu nggak mau ke Jakarta?! Niat Papi bagus untuk kamu ha! Seharusnya kamu senang hukuman kamu berakhir!" murka Samsul.
"Baik untuk aku kata Papi?" Maharani tersenyum miris. "Tapi nyatanya tidak, setelah aku pikir-pikir aku di sini saja sama Bude! Di sini aku banyak teman, Bude Sri selalu kasi aku perhatian dan kasih sayang! Yang tidak pernah aku dapatkan dari Papi selama ini! Dan perlu papi tahu kenapa aku nggak mau ke Jakarta! Itu semua karena istri baru anda ini Tuan Samsul! Semenjak dia hadir aku nggak pernah bahagia! Istri baru Papi bermuka dua sama seperti anaknya yang kegatalan itu ha!" sembur Maharani berapi-api.
Samsul tertegun sejenak.
"Eh kalau ngomong hati-hati ya! Anak aku nggak kegatalan, mantan kamu itu yang menggoda Rara! Kamunya aja yang nggak pandai memuaskannya!" sergah Mirna seketika.
Kedua tangan Maharani terkepal kuat. Menahan amarah yang berkobar dihatinya saat ini. Tanpa banyak kata ia melayangkan tamparan di wajah Mirna.
"Awh, sakit Mas, hiks, hiks, hiks..." Mirna langsung mengeluarkan air mata buayanya di hadapan Samsul.
"Rani!" teriak Samsul menggelegar di ruangan berdinding kayu itu.
Bude Sri dan Dono terhenyak melihat pertikaian yang terjadi di depan matanya sekarang.
"Apa?" Maharani melototkan mata. "Mau tampar aku, silakan!" serunya.
Samsul tak bergerak sama sekali. Perhatiannya kini teralihkan dengan sorot mata Maharani yang menyimpan kekecewaan mendalam.
__ADS_1
"Pokoknya Papi nggak mau tahu, hari ini kamu pulang ke Jakarta," ucap Samsul kemudian tapi kali ini dengan intonasi yang lebih rendah sebelumnya.
"Rani benci Papi!" jerit Maharani dengan berderai air mata. Secepat kilat ia berlarian menuju kamarnya hendak melampiaskan semua emosinya.
Sekali lagi Samsul terdiam.
"Mas, sebaiknya kamu dengarin aja kata Rani, biarin aja dia di sini." Mirna berusaha membujuk Samsul agar menuruti keinginan Maharani.
Samsul menggeleng cepat. "Mir, keputusanku sudah bulat, sudahlah, lebih kamu sekarang bujuk Rani untuk pulang bersama kita sekarang, aku mau keluar sebentar."
Mirna menghela napas berat. "Mas, kamu tahu sendiri kan kalau Rani nggak suka sama aku, sebaiknya kamu suruh Bude Sri saja bujuk Rani, aku juga mau keluar, aku nggak betah lama-lama di sini," ucapnya kemudian melenggang cepat keluar dari rumah.
Samsul mengalihkan pandangan ke arah Bude Sri.
"Sri, aku minta tolong, bujuk Rani untuk pulang ke Jakarta, aku sudah capek sekali Sri, lagipula ini untuk kebaikan dia," ucap Samsul.
"Hm, baiklah, aku akan berusaha, tapi aku mohon sama kamu, Bang. Kalau Rani sudah di Jakarta, berlakulah adil padanya, kamu dengar sendiri kan tadi, di sana dia tidak pernah mendapatkan perhatian dari Abang, sejujurnya aku juga kecewa sama kamu Bang. Pantas saja sikap Rani seperti itu," ucap Bude Sri sambil menarik napas panjang. "Ya sudah aku ke dalam dulu." Bude Sri kembali menambahkan kemudian berlalu pergi dari hadapan Samsul.
Meninggalkan Samsul dan Dono yang saling melemparkan pandangan.
"Apa aku terlalu keras sama Rani, Don?" Tak ada angin ataupun hujan, tiba-tiba Samsul bertanya.
Dono tampak salah tingkah. Apa dia diperbolehkan berkata jujur atas sikap Samsul pada Maharani selama ini. Yang menurutnya sangat tak adil sama sekali. Di mana anak kandungnya sendiri seperti anak tirinya.
__ADS_1