
Sadewa mengatur napasnya yang masih tak beraturan itu sambil menatap lekat-lekat wanita yang membuat dirinya tak bisa tidur sejak tadi malam. Dua hari yang lalu, setelah datang ke rumah Maharani dan dipukul oleh sekumpulan orang tak dikenalnya, Sadewa pulang ke rumah dalam keadaan babak belur. Dia begitu nelangsa karena tak dapat bertemu Maharani.
Sadewa menerka-nerka, apa yang membuat Maharani memutuskan dirinya tiba-tiba secara sepihak beberapa tahun lalu. Dan kepulangan Maharani ke Indonesia, di sambut dengan kabar pernikahan Maharani dengan pria lain bukan dengan dirinya.
Sungguh perih hati Sadewa membayangkan Maharani akan bersanding dengan pria lain. Selagi lukanya di obati Ajeng, Sadewa mengeluarkan semua keluh kesahnya pada Ibunya itu. Ajeng malah menyuruhnya bertanya pada Bude Sri, siapa tahu saja Bude Sri mengetahui apa yang membuat Maharani memutus hubungan tanpa persetujuan darinya.
“Rani, hentikan pernikahan ini, aku mencintaimu, kembalilah padaku Sayang. Dengarkan aku, beberapa tahun lalu aku tidak pernah berciuman dengan Sari. Kamu salah paham, Supri lah yang mencium Sari. Dia meminjam baju yang kamu berikan padaku waktu itu dan model rambut potongan kami juga mirip. Mereka berdua berpacaran, kamu pasti mengira yang mencium Sari adalah aku kan?” sahut Sadewa cepat.
Semua kumpulan manusia di ruangan mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan Sadewa barusan.
Bima menatap langsung Sadewa. Entah mengapa perasaanya takut saat melihat sorot mata yang terpancar dari kedua mata Sadewa. Bima menebak bahwa Sadewa lah yang membuat Maharani berubah kala itu.
“Iya, kamu nggak bohong kan Dewa, kamu jahat banget, kalaupun iya mereka pacaran, lalu kenapa handphone kamu malah ngadep ke tempat aku, jadinya aku mengira itu kamu, Dewa…” lirih Maharani sambil terisak pelan. Dia tak menyangka kesalahpahaman antara ia dan Sadewa sangatlah panjang. Hingga hubungan dia dan Sadewa pun akhirnya kandas. Seharusnya dia bertanya pada Sadewa. Maharani amat menyesali keputusan yang dibuatnya. Namun, dia penasaran mengapa dulu posisi handphone menghadap padanya dan membuat dirinya salah paham.
“Semua itu gara-gara Mawar, dia sengaja ingin membuat hubungan kita renggang, percayalah denganku, Rani.” Sesudah mendengarkan nasihat Ibunya kemarin, Sadewa pun menghubungi Bude Sri. Menanyakan apa yang membuat Maharani memutuskannya. Setelah mendengarkan penjelasan Bude Sri, tentu saja Sadewa langsung meminta bantuan Supri dan Bejo di kampung. Dan akhirnya tadi malam, dia mendapatkan informasi jikalau Mawar pelakunya. Wanita itu sengaja mengangkat panggilan Maharani dan menghadapkan handphone ke arah Supri dan Sari yang tengah bercumbu mesra di gubuk. Pantas saja waktu itu handphone miliknya tergeletak agak jauh dari Supri. Dan hari ini dengan tekad yang bulat, akhirnya Sadewa dapat menembus rumah Maharani, meskipun sedikit kewalahan tadi saat bertarung dengan bodyguard Samsul di depan rumah.
__ADS_1
“Aku percaya sama kamu, Dewa,” ucap Maharani seketika membuat Sadewa mengulas senyum tipis. Kemudian Maharani menoleh ke arah Samsul yang sedari tadi rahangnya tampak mengeras, melihat kedatangan Sadewa.
“Maaf Papi, Rani nggak bisa lanjutin pernikahan ini, Rani cinta sama Dewa,” sahut Maharani seketika.
Samsul melototkan mata. Dengan napas yang memburu dia bangkit berdiri dan mendekati Maharani. “Apa-apaan kamu Rani?!” teriaknya menggelegar hingga semua kumpulan manusia di ruangan nampak grasak-grusuk. Mereka pun bangkit berdiri.
Suasana di ruangan yang sangat luas itu mencekam seketika. Para tamu undangan dan sanak saudara yang hadir melemparkan pandangan satu sama lain sekarang.
“Pi, Rani nggak cinta sama Bima, tolong mengertilah Pi. Sekali ini saja, Rani mohon Pi.” Maharani mengatupkan kedua tangan di dada berharap Samsul mau mendengarkan permintaannya saat ini. Meski dia tahu Papinya itu sangatlah keras kepala.
“Diam! Jangan mencampuri urusanku! Bukannya kamu senang kalau aku tidak menikah dengan Bima!’ seru Maharani tak mau kalah.
Mirna melebarkan mata, menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata kasar saat ini. Kedua tangannya terkepal kuat, amarah yang bersemayam di hatinya tengah meledak-ledak sekarang hingga membuat urat-urat di lehernya menyembul keluar.
“Sopan dengan Mamimu, Rani. Mamimu tidak mungkin berpikir seperti itu! Pernikahan tetap harus dilanjutkan!” Samsul membuka suara.
__ADS_1
“Nggak! Rani nggak mau! Dewa!” Maharani langsung mengalihkan pandangan ke arah Sadewa, yang sekarang terlihat panik.
Tanpa pikir panjang Maharani mendekati Bima. Berharap pria itu dapat mengerti perasaannya sekarang yang tak bisa melanjutkan pernikahan sakral ini.
“Bim, aku minta maaf kalau selama ini membuat dirimu sakit hati tapi apakah kamu mau hidup bersama denganku, wanita yang sama sekali tidak mencintaimu ini. Aku tahu kalau kamu mencintaiku tapi tidak denganku Bim, aku mencintai pria lain dan itu adalah Dewa, dia pemilik hatiku, Bim. Kalaupun kita menikah aku tidak akan bahagia bersamamu Bim, pikirkanlah lagi Bim,” sahut Maharani sambil meraih tangan Bima.
Bima tak bersuara sama sekali. Dia hanya menatap bola mata Maharani yang basah karena genangan air matanya sedari tadi. Pria itu nampak berpikir keras.
“Bima, jangan dengarkan Rani. Pernikahan akan tetap dilanjutkan,” sahut Samsul kemudian ketika melihat Bima hanya diam saja.
“Bima… aku mohon...” lirih Maharani sambil menatap seksama bola mata Bima.
...****************...
Selamat hari raya idul fitri 1444 H, mohon maaf lahir dan batin 🙏, kalau selama ini kak Nana ada salah-salah kata, bagi yang mudik ke kampung halaman semoga sampai dengan selamat ya 🤗
__ADS_1