
“Iya ini on the way kesitu...”
Yoga menutup telponnya menarik tas punggung nya lebih kencang.
“Gue duluan ya...”
Yoga mengambil sepedanya di parkiran. Kemudian berlalu meninggalkan Doni yang sedang menggaruk kepalanya yang tak gatal. “kenapa tuh anak?”
“Bareng yuk...” Suara tak asing itu mengejut kan Moli yang sedang membaca pesan dari Fani.
Moli mendongak malas. Ia tak bersuara melihat lelaki yang turun dari mobil BMW hitam itu. “Aku anterin yuk... dari pada nungguin pak Ujang...”
Moli melirik mobil yang tertutup kaca hitam milik Diki. Kayaknya tak ada wanita penyihir super tengil itu. Kemana Dia?
“Kok bengong sih... ayok...”
Dari kejauhan ada sepasang mata yang melihat mereka. pemandangan yang seharusnya tak perlu Ia jumpai. Yoga duduk di atas sepedanya memandang mereka dengan sedikit perih di bagian hati.
“Udah di jemput pacar nya ternyata.” Yoga mendesah kemudian berbalik mengurungkan niat menjemputnya.
“Nggak usah... aku mau di jemput pak Ujang aja...” jawab Moli bohong.
“Tapi ini udah mendung lho... nanti keburu ujan...”
“Biarin... udah kamu pulang aja... aku nggak papa disini.”
“Tapi Mol...”
Moli mendorong Diki masuk ke mobil nya. “Udah aku lagi pengen sendiri...”
Akhirnya Diki pun mengalah. Ia masuk ke mobil dan berlalu. Moli memandangi mobil itu hingga sudah tak nampak lagi. Diki tak bergeming di dalam mobilnya. “Apa Moli marah ya?” Batinnya. Diki ternyata memang tak menyadari atas kecemburuan Moli padanya. Buktinya Ia tak tahu ada apa dengan Moli sebenarnya hingga Moli begitu cuek padanya.
Heran aja, Moli lebih memilih pulang dengan Yoga dari pada dengan Diki. Ia terlanjur sewot pada nya gara gara si Lia itu. Cewek ular lebih tepat nya, atau semacamnya.
Ternyata perkataan Diki benar adanya. Air hujan pun turun dengan derasnya menampar jalanan. Kibasan angin membuat hujan tertiup membasahi dirinya yang masih duduk di halte bus menunggu seseorang yang sampai saat ini belum kunjung menampakkan diri.
Dingin mulai menusuk. Hantaman hujan semakin mengeras pada apapun yang bisa di gapainya. “Kok Yoga lama banget... kedinginan gue...”
Moli menyilangkan kedua tangannya sedakep di depan dada untuk mengurangi rasa dingin. Suara petir menyambar dengan tiba tiba membuat bidadari kedinginan itu terlonjak kaget. Kemudian menutup telinga dengan kedua tangannya. Ia berjongkok menahan rasa takut.
Satu jam berlalu. Dengan tangan gemetar Moli merogoh ponsel di saku kirinya mencari nomor seseorang.
“Halo... “ jawab dari sebrang.
Giginya sudah mulai saling hantam karena dingin. “Elo dimana kok belum dateng...”
Yoga berkerut dahi berusaha mencerna perkataan Moli. “Kak Moli dimana?”
“Aaa!!!”
Terdengar jeritan dari balik ponsel. Bukan hanya jeritan itu yang di dengar, namun suara derasnya hujan dengan bunyi petir yang sangat keras. Yoga bangkit dari atas ranjang. “Halo kak Moli dimana?”
“Gue masih di halte bus. Katanya mau jemput...”
Kata terakhir sebelum ponsel itu terputus sambungannya.
Yoga yang mulai panik langsung ngibrit mencari kunci Motor nya, menggaet jaket hitamnya yang tergantung di balik pintu. Sebelum keluar rumah Ia sempat menatap tajam wajah Diki yang sedang duduk di ruang tamu sambil merokok.
“Apa lo lihat lihat?” semprot Diki yang tak di gubris oleh Yoga.
Di pakainya helm yang ada di garasi kemudian menyetir motornya dengan kecepatan penuh. Sadar atau tak sadar Ia mengendarai Motor tanpa memakai jas hujan. Biarlah, yang penting Ia bisa melihat gadis itu terlebih dahulu.
Yoga terus melaju menembus derasnya hujan. Hingga lima belas menit kemudian Yoga sampai di halte bus. Gadis itu masih meringkuk menutup kepalanya pada dua lutut kakinya. Yoga melepas helm kemudian berhambur menghampirinya.
“Kak Moli...”
Moli mendongak. Matanya sembab dan ada sedikit air mata yang mungkin sudah mulai mengering. Bibir tipisnya membiru kedinginan.
Yoga memegang bahunya membantu berdiri kemudian di peluknya dengan erat. “Maaf kak Moli... maaf...”
“Gue takut... Elo jahat Ga!”
Tangisan itu terdengar kembali. “Ya ampun... Gue bener bener minta maaf...” pelukan itu semakin erat. Tega sekali ia meninggalkan bidadari nya di bawah deras nya hujan. Kejam!
Moli mendorong pelukan Yoga. Ia memukul dadanya dengan keras. “Elo nyebelin! Hwaaaa!” tangisannya semakin menjadi.
“Iya gue minta maaf...” Yoga memeluknya kembali. Kali ini Moli membalas pelukan itu, Ia membenamkan kepalanya di dada Yoga yang basah. Namun bisa mengurangi rasa dingin di sekujur tubuhnya.
“Lo kemana sih?” Moli mendongak menghadap Yoga yang masih memeluknya. “ Gue takut...”
Yoga hanya terdiam memandang Moli. Hatinya teriris karena telah membuat bidadari cantik ini menangis dalam dingin. “Sumpah gue Bener Bener minta maaf....”
“Gue kira tadi udah pulang bareng pacar...”
Moli mendorong Yoga hingga pelukannya terlepas. “Siapa bilang?”
“Tadi gue lihat kok...”
Dahinya berkerut. Masih ada sedikit butiran air yang menyelip di matanya. “Jadi tadi elo udah kesini?”
Yoga mengangguk. “Iya... gue kira kak Moli di atar sama pacar... jadi gue puter balik...”
Moli mendengus menghentakkan satu kakinya. “Gue nggak pulang sama Dia... tadi gue nggak mau di ajak... kan gue udah minta jemput elo.” Wajahnya cemberut melengos dari Yoga.
Bidadari cantik ini menolak ajakan pacarnya demi menunggu gue? Benarkah seperti itu? Yoga bergidik. Antara rasa dingin dan terlonjak bahagia merasuk di dalam tubuhnya. Kata itu ingin Ia dengar sekali lagi. “Moli menolak ajakan Diki demi Gue?” gumam Yoga dengan senyum tersembunyi di wajahnya.
“Ya maaf kan gue nggak tahu...” Yoga menarik pinggang ramping itu dan di peluknya kembali. “Maafin yaa...” Bisiknya di telinga Moli.
Moli tak menjawab Ia mengencangkan pelukannya kembali ketika suara petir menggelegar dalam telinganya.
Yoga melepas pelukan itu kemudian memegang ke dua pipi Moli. “Mau pulang atau nunggu reda?”
Moli menatap Yoga yang juga menatap dirinya. Lengannya masih melingkar di pinggang Yoga. “Pulang aja... udah terlanjur basah juga kan?”
“Nggak takut petir...” ledeknya menyentil hidung Moli.
“Nggak!”
****
Ruangan itu terasa hambar. Pengap walau ada ace tertempel di dinding sisi timur ruangan itu. Aroma khas ruang UGD menyebar ke seluruh ruangan membuat gadis itu lebih memilih untuk berusaha memejamkan mata. Fertigo yang dirasakannya membuatnya muntah kala menyerang waktu itu hingga Ia harus terbaring tak berdaya di sebuah rumah sakit.
Pintu no 21 terbuka. Suara langkah seseorang memecah keheningan. “Udah baikan Fan...”
Mia masuk membawa parsel buah. Lalu di letakkan di atas meja samping ranjang. Kemudian duduk di kursi menghadap Fani yang terbaring lemas. “Kok bisa? Lo kenapa?
Fani melenguh memejamkan matanya sebentar seraya mengatur nafasnya yang agak berat. “Fertigo gue kambuh... udah sekitar satu tahun yang lalu gue nggak kaya gini... eh kumat lagi...”
Mia mengusap jidat hangat itu. Wajahnya pucat. Ia prihatin, cewek yang biasanya paling usil dan cerewet kini terbaring lemah dalam balutan selimut putih di ruangan yang sunyi.
“Orang tua lo belum kesini?”
“Udah tadi...mampir nyuapin gue makan... terus balik lagi ke Toko.”
Ponsel putih di samping lengannya bergetar. Ada sebuah panggilan dari seseorang. “Halo...”
“Fani! Lo gimana keadaannya?”
Suara lantang dari balik ponsel membuat menjauhkannya dari dekat telinga. Terasa melengking di dalam telinga. “Buset nih bocah... nggak perlu sekenceng itu kali... gue cuma sakit bukan budeg!”
Moli tertawa. “iya sory... gue khawatir say...”
__ADS_1
“Maaf gue belum sempet jenguk elo... besok deh ya...”
“Serah elo dah...”
Mia hanya diam melihat Fani yang sedang mengobrol dengan Moli. Baginya memang persahabatan ini unik. Kita selalu berbicara apa adanya kita. Tak ada Satu pun rahasia di antara kita. Friends forever!
Tut... sambungan telpon sudah terputus. Moli merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rambutnya masih basah berbalut handuk biru di kepalanya. Rasa dingin yang merasukinya tadi sudah berangsur menghilang. Moli kembali terduduk melihat yoga yang terlelap di sova yang terletak di kamar nya. Ia memakai kaos oblong berwarna hitam milik Moli. Lumayan pas sih. Nggak jelek juga buat di pakai cowok. Heheh.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam sore. Moli mengambil hairdryer yang Ia simpan di lemari. Bunyi nyaring nya membuyarkan Mimpi Yoga yang masih tertidur. Ia melenguh kemudian meregangkan otot nya. Matanya terbuka ketika sudah di kucek dengan kedua tangannya.
“Hoooaaaammmm...”
Moli tersenyum kemudian mematikan hairdryer itu. “Gue kira nggak bakal bangun.” Kekeh Moli yang mulai menyisir rambut panjangnya di depan cermin. Yoga memandang tubuh ramping itu. Memang sangat cantik. Sungguh beruntung lelaki yang bisa memilikinya.
“Maaf ya yang tadi...”
Sisir itu kini tergeletak di meja rias. Moli berbalik mendekati Yoga yang sudah terduduk di atas sova. Ia duduk dengan kaki di silangkan. “Gue minta imbalan karena perbuatan elo...” Moli menunjuk hidung Yoga yang kembang kempis seperti hidung kelinci.
Alis nya kini dimainkan pertanda apakah Yoga siap memenuhi keiinginan Moli atau tidak.
“Boleh ya gue minta sesuatu sebagai tanda maaf elo ke gue...”
Yoga mencibirkan mulut nya. “Apa? Kalau bisa jangan yang aneh aneh...”
“Yeee... nggak lah!”
“Terus mau apa?...”
Moli mengetuk ngetuk hidungnya dengan jari telunjuknya berusaha memikirkan sesuatu apa yang perlu di minta dari Yoga. Beberapa detik kemudian Moli menjentikkan jarinya.
“Gue mau boneka Teddy berukuran super besar, dengan pita di leher bertulisan Love di dadanya dan harus berwarna kuning.”
Mulut Yoga ternganga. Matanya membulat mendengar perkataan Moli yang sebenarnya sedikit menyusahkan. “Ya kali ada boneka teddy warnanya kuning...” Yoga mendesah. “Cari dimana gue nya?”
Moli mengangkat bahu tak peduli. Intinya keinginannya itu harus terwujud. “Terserah mau nyari dimana, pokoknya harus dapet. Titik!”
Yoga menyenderkan punggungnya di sova berusaha memikirkan dimana Ia harus menemukan si beruang besar itu. Permintaan yang aneh! Kenapa nggak nyuruh terjun dari ketinggian kemudian nyemplung ke kolam. Itu lebih mudah bukan?
“Iya gue cari-in...” Yoga mengacak rambut Moli yang belum kering sepenuhnya. Kemudian bangkit dan pamit pulang. Bisa makin di semprot nanti kalau sampai malam belum terlihat di rumah. Nenek sihir makin mencibirnya nanti. Bisa saja bukan dia langsung yang kena sorot mata nya yang tajam, tapi Mamanya itulah yang bisa kena imbasnya.
“Gue balik... takut kemalaman...”
“Iya... udah sono...”
Moli mendorong Yoga hingga langkahnya sudah tak terlihat lagi dalam tatapan matanya.
Moli mendesah lirih dengan senyum yang mulai tersungging di bibir nya. Rasanya lebih berwarna saat bersama bocah itu dari pada ketika bersama Diki yang setatusnya adalah sebagai kekasihnya. Ada yang lebih dalam diri Yoga yang tak di miliki oleh Diki. Entah apa itu Moli belum menemukannya.
Kini Ia meringkuk pada satu bantal guling dengan berbalut selimut hingga terdengar dengkuran halus beberapa menit kemudian.
Yoga memasukkan Motor nya kedalam garasi rumahnya. Lampu ruang tamu terlihat sudah gelap tak seperti kemarin. Setelah meletakkan helm di stang motornya Ia berjalan membuka pintu dengan pelan. Tak ada siapa pun disana. Rumah itu sepi. “Kemana orang orang?... baru jam tuju lebih udah sepi...”
Tak banyak peduli. Yoga langsung ngeloyor masuk ke kamarnya. Perasaannya justru lega ketika pulang ke rumah nenek sihir itu sudah tak ada. Damai rasanya...
Yoga melempar tas punggungnya di lantai kemudian merogoh ponselnya yang ada di saku dada kirinya. Ada pesan masuk dari Mama.
Mama
Ga... mama lagi ngantar Oma ke Bandung. Paling nginep satu hari. Kamu di rumah sama Diki...
Bunyi pesan dari Mama. Yoga terdiam. Pikirannya entah terngiang melayang kemana. Mama nya menginap di rumah nenek sihir itu? Yang benar saja. Yoga bergidik. “Kok mau sih mama di ajak kesana?”
Bayangan buruk mulai merasuki otak nya. Mama tercintanya kini berada di sarang orang orang angkuh keluarga suaminya. Apakah mama akan baik baik saja? Siapa yang akan membelanya ketika hinaan terjadi pada nya?
Yoga membayangkan itu hingga matanya terlelap jauh ke dalam mimpi yang tak dapat di jelaskan kerumitannya.
06.20 WIB
“Nunggu sini aja...” jawab nya sambil memainkan kunci mobil nya.
Tak lama kemudian yang di bicarakan pun muncul dengan menenteng tas selempang nya. “Nggak sama Lia kan?...” tanya Moli tanpa basa basi. Kemudian menyelendokkan tas pada pundak kanannya.
Diki tersenyum. “Nggak kok... hari ini khusus buat kamu.”
Ck! Terus besok nya buat ular itu? Maksudnya apa? Nggak bisa bergantian seenaknya gitu dong! Moli menjulingkan mata nya dan masuk ke dalam mobil.
“Hari ini ada acara nggak?” tanya Diki pada Moli yang sedang memasang sabuk pengaman.
“Mau jenguk Fani di rumah sakit...”
“Fani sakit? Sejak kapan?”
“Dua hari yang lalu...”
“Aku ikut ya...”
“Oke.”
Lia sudah duduk di kursinya di dalam kelas. Tangan kirinya sedang memainkan pensil sedangkan tangan kanannya sedang mengurut ponselnya. Terkadang matanya melirik pada Mia yang duduk di sisi barat tempat nya duduk. “Melirik mulu! Juling baru tahu rasa lo!” gerutu Mia sambil menahan tawa.
“Mia....” Moli berlari menghambur pada Mia yang duduk sendirian di ikuti langkah Diki di belakangnya. Ia sempat menoleh pada Lia yang acuh padanya. Ck!
“Nanti siang jenguk Fani kan?”
Moli mengusap roknya kemudian duduk menata pantatnya supaya pas dalam posisi duduknya. “Mampir ke kios buah dulu ya...”
“Oke...”
“Pagi Ga...” sapa Lia pada yoga.
“Pagi juga...”
Lia menggeser kursinya lebih dekat dengan Yoga. Tangan kirinya menyangga dagunya menatap wajah Yoga yang sedang mengelap meja nya yang sedikit kotor. “Ga kamu ada acara nggak nanti sore?”
“Ada... sepulang sekolah aku mau ikut Moli jenguk Fani... kamu ikut aja...”
“Kenapa ngajak Lia segala?” Semprot Mia pada Diki. “Teman juga bukan kan?”
Lia mengerucutkan bibirnya tanda tak suka. Lagian emang buat apa jenguk Fani si cewek cerewet. Bukan teman nya juga. Lebih tepatnya musuh. Tapi kalau nggak ikut sama aja biarin mereka jalan berdua dong? “Oke deh Ikut...”
Jawaban itu membuat Moli dan Mia membulatkan mata. Sementara Lia mencibir sinis. “Rasain Lo!” batin nya.
Sekitar jam tiga sore Yoga berkeliling ke setiap toko mencari boneka teddy. Ia tak sendiri ada Doni yang setia menemaninya berburu beruang tanpa harus tahu gunanya untuk apa. Dia mah yang penting di kasih makan udah nurut kok. Sahabat Yoga yang satu ini emang doyan makan. Dia siap di ajak kemanapun asalkan ada imbalan makanan. Begitu katanya.
“Mau cari di mana lagi...” tanya Doni ketika mereka berhenti di sebuah taman. “Lagian buat apa sih tuh beruang? Buat pacar... setahu gue lo kan nggak punya pacar?”
Yoga turun dari motornya, membuka ponselnya searcing Google mencari info sebuah toko boneka. “Berisik lo... diem napa!”
Doni mendengus dan melengos kemudian duduk di kursi panjang. Sementara Yoga masih berdiri bertatapan dengan layar ponselnya. “Duh! Cari kemana lagi gue...”
“Yuk lanjut aja...” Yoga kembali memasang helm di kepalanya di susul dengan Doni dengan langkah gontai memalas.
“Cepetan!”
“Iya... ini udah cepet.”
Sudah satu jam yang lalu Moli menjenguk Fani yang terbaring di rumah sakit. Mereka mengobrol ngalor ngidul dengan tawa yang kadang muncul di bibir mereka. Lia yang merasa bosan hanya diam menatap layar ponsel memainkan game kesayangannya. Sementara Diki terkadang ikut nimbruk obrolan mereka. “ngomong ngomong kok lo bisa sakit Fan?”
“Gue kadang gini, fertigo gue nggak bisa di tebak kapan munculnya.” Jawab Fani atas pertanyaan Diki.
“Lo kecape-an kali.” sambung Moli. Sembari memegang tangan Fani yang sedang di infus.
__ADS_1
“Bisa jadi.” timpal Mia.
Lia bangkit karena rasa bosan yang sudah tak tertahankan. “Udah ayo pulang Dik, biarin mereka bertiga aja, gue udah laper.”
Sebelum di jawab oleh Diki, Fani terlebih duku nyerocos menyembur Lia. “Kenapa lo ikut? Nggak penting juga disini. Pulang sendiri gih sono.”
Kedua tangannya mengepal mendengar ocehan dari Fani. “Eh gue ngomong sama Diki ya bukan sama elo!”
“Lagian ngapain lo ikut sih? Bikin pengap ruangan aja!” semprot Fani lagi.
Dengan tatapan kebencian Lia menatap mereka bertiga. Sadar dengan apa yang akan terjadi selanjutnya Diki menarik lengan Lia membawanya ke luar ruangan itu. “Ayo kita pulang, jangan bikin ulah.”
“Kok kamu jadi narik aku gini sih, kasat!” kesal Lia dengan kaki di hentakkan.
“Ini rumah sakit ya, aku nggak mau kamu bikin ulah.”
Diki menuntun Lia membawanya pulang. Lama lama memang merepotkan ini cewek. Ternyata sifat manja nya yang keterlaluan masih menempel sampai sekarang. Bahkan karena ini cewek hubungannya dengan Moli sedikit melonggar seperti sebuah kolor yang terlepas dari celana.
“Gue heran deh sama tuh cewek, udah tahu si Diki punya pacar, tapi nempel mulu kaya perangko.” Cerocos Fani setengah menaikkan kepalanya yang sedikit merosot dari bantal.
Moli yang sedang mengupas buah apel hanya mendengus. Mereka belum tahu kali kalau boleh saja ingin rasanya meninju itu cewek sampai klenger dan nggak usah bangun lagi. Rasa benci nya sudah terlanjur menjalar keseluruh badannya. Kalau bukan karena sayang pada Diki, udah gue kirim ke gurun pasir kali dia.
“Kalau boleh, udah gue bungkus, terus gue lempar ke jurang.”
Fani dan Mia tertawa sedangkan Mia sedang fokus menatap layar ponselnya. Di usap kemudian di tekan tekan lagi dengan ibu jarinya.
Mia menoleh menatap nya sebentar kemudian berbalik menatap Fani yang juga menatapnya setengah memicingkan alis nya.
“Chatingan sama siapa tuh bocah?”
Mia menggerepe menempel pada lengan Moli seraya mengintip penasaran. Mata nya menangkap sebuah nama kontak yang tertera di bagian atas sudut layar ponsel.
Yoga.
Kening Mia berkerut. “Siapa Yoga?”
“Apa si lo kepo deh.” Moli menggeser Mia dengan sikut kanannya. Moli masih terus mengetik pada ponselnya dengan sedikit tawa menghiasi bibir nya.
“Siapa si Mol, kepo tau gue, selingkuhan elo ya.”
Sebuah jitakan melayang tepat di kening Mia. Fani terkekeh. “Sembarangan!”
“Makanya kasih tahu gue.” saur Mia yang sedang mengelus bekas jitakan Moli.
Desahan halus terdengar dari mulut Moli. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku rok nya lagi. Emang suka penasaran si Mia sama Fani. Ck!. Palingan kalau udah di kasih tahu cuma membulatkan mulut berbentuk O. Kesel nggak tuh?
“Siapa sih??” timpal Fani.
“Adek gue.”
“Adek yang mana? Setahu gue, elo kan anak tunggal.”
Mia mengedip kan mata berusaha memastikan perkataan Moli. “Yakin elo itu punya adek?”
Melihat keseriusan kedua sahabatnya Moli sontak tertawa hingga memukul mukul pinggir ranjang yang di tiduri Fani hingga bergoyang. Mereka berdua ternganga. “Serius ih!” gertaknya Mia kesal. Ia menggeser kursinya menjauh beberapa cm dari Moli.
“Emang resek nih Anak!”
Moli berdehem menghentikan tawanya yang membuat perutnya terasa sakit. “Gue mana punya adek ****.”
“Terus?”
“Terus apa nya?”
Mia menendang kaki kursi yang menyangga tubuh Moli hingga berdecak beradu dengan lantai. “Nyebelin lo mah, gue jitak juga lama lama.”
“Iya sory, Be calm oke,sini gue kasih tahu.”
Fani dan Mia mendekati Moli yang mulai menggerakkan bibir tipisnya. “Bukan siapa siapa cuma teman.”
Sontak mereka berdua mendesah mundur kembali pada posisi semula. “Sumpah nih anak, pengen gue timpuk.
Fani membalikkan tubuhnya miring menghadap ke tembok membelakangi Moli dan Mia. “Nggak asik lo.”
Mereka diam sejenak. Sepertinya Moli sedang memikirkan bagaimana caranya untuk bercerita ke mereka. Bukan hal yang susah memang, tapi apa tanggapan mereka setelah mendengar ucapan nya nanti. Moli menggigit bibir bawahnya melirik pada kedua sahabatnya yang masih terdiam.
“Yoga itu, orang yang nolongin gue waktu gue hampir di lecehin sama pria brengsek.”
Fani yang semula sudah mulai tak peduli dengan siapa itu, kini membalikkan badannya menghadap Moli heran. Mia yang diam juga menatapnya penuh tanya. “Maksud lo bocah yang di tabrak Fani?”
Moli mengangguk.
“Jadi lo masih berhubungan sama dia?” Timpal Fani dengan tatapan aneh.
Kenapa juga Fani harus bertanya seperti itu? Dia belum tahu aja gimana sifat Yoga. “Nggak Cuma berhubungan malah, gue juga sering ketemu Dia.”
Mereka berdua memandang Moli dengan mulut ternganga. Sepertinya Moli sudah kerasukan hantu beringin yang ada di belakang gedung sekolah. Kok bisa seorang Moli mau berhubungan dengan bocah SMP. Ya walaupun itu sebatas teman atau apa lah itu istilahnya. Kesambet emang dia.
“Jangan ngliatin gitu juga kali.” Moli menepuk kedua tangannya hingga membuat mereka berdua menutup mulut.
“Tunggu Mol, maksud dari sering ketemu itu, elo sering jalan berdua atau Cuma ketemu kebetulan?”
Mia menggeser kursinya lagi seraya mengangkat kaki bertumpu pada kaki satu nya lagi. Fani masih diam karena bingung sendiri.
“Nggak sering jalan sih? Tapi dia sering main kerumah gue.”
“What??”
Teriak mereka berdua. “Serius?”
Moli bangkit berjalan menuju ke arah jendala yang di hiasi gorden biru khas warna rumah sakit. Mata nya memandang keluar melihat kendaraan berhalu lalang yang terlihat lebih seperti mainan anak anak. Terlalu kecil dalam pandangan.
Mia dan Fani saling pandang di ikuti angkat bahu tanda kebingungan.
“Gue nyaman kalau ada dia.”
Moli menoleh melihat kedua sahabatnya yang masih menatap dirinya. “Dia baik sama gue, bahkan Dia selalu ada buat gue, sepi gue mulai ilang.”
Mia mendekat pada Moli. Tangannya menarik gorden yang menghalangi pandangan nya. Ia tak berbicara hanya memandang wajah Moli. Sepertinya Ia paham dengan apa yang di rasakan Moli. Ia paham betul dengan kehidupan Moli. Mulai dari yang selalu di acuhkan hingga tak di pedulikan oleh orang tua nya. Mia paham betul tentang itu.
“Jangan jangan lo suka sama Bocah itu ya...” celetuk Fani menebak nebak.
“Apa sih lo, ya nggak lah!”
Moli masih menatap keluar jendela kaca. Nafas nya memantul hingga beruap menempel pada kaca itu. “Gue emang suka dia, tapi sebagai adek gue, nggak lebih. Dia juga jauh lebih mudah dari gue kan?”
Mia menepuk bahu Moli pelan. “Terserah enak nya elo aja, yang penting dia baik sama lo.”
Pemikiran Mia memang paling dewasa di antara mereka berdua. Ia selalu bisa memunculkan sebuah kata yang bisa membuat seseorang lebih tenang atau setidaknya bisa percaya pada diri sendiri. Moli sangat bersyukur punya Mia di dalam kehidupannya, begitu juga dengan Fani yang bikin suasana lebih mencair dengan ocehannya yang kadang lebih banyak tak bermutunya.
Doni mulai kelelahan mengikuti arah kemana perginya Yoga. Sementara hari sudah mulai gelap. Lampu jalan pun sudah menyala di sepanjang jalan kota. Terdengar azan magrib Yoga menepikan motor nya di halaman mushola.
“Capek gue ngintilin elo. Tahu gini gue dirumah aja.” Semprot Doni sambil melepas helm yang melekat di kepalanya.
“Nggak usah sewot. Masuk shalat dulu,baru deh lo ngomel lagi.”
“Bangke lo!”
Lima belas menit kemudian Yoga dan Doni keluar dari mushola. Rencana nya perburuan menangkap Beruang akan di lanjut. Tapi si Doni sudah sewot karena kelelahan. Akhirnya Yoga mengalah dan memilih untuk pulang.
masih berlanjut yaaakkk
__ADS_1
semoga suka... jangan lupa like dan komen vote juga 😘😘😘