
“Dari mana kamu?” Gibran menatap Moli penuh amarah. Ia teringat kejadian beberapa jam lalu, saat Moli menghentakkan kaki dengan keras lalu pergi begitu saja tanpa berpamitan. Itu adalah hal yang sangat memalukan. Apalagi di hadapan calon besannya.
Moli terlihat acuh, bahkan ia berani berjalan melewati Papanya yang sedang berdiri sambil berkacak pinggang. Moli sudah terlanjur lelah, kalau harus berhenti dan mendengarkan ocehan papanya, itu hanya akan membuat otaknya semakin oleng.
“Moli!!” teriak Gibran.
Moli berhenti. Badannya berbalik, satu tangan kirinya mencengkeram pegangan tangga. “Apa sih, Pa? Aku capek!” keluh Moli lalu kembali membalikkan badan dan terus berjalan naik ke lantai dua.
“Lihat itu!” Hardik Gibran pada Mareta yang berdiri tak jauh darinya. “Anakmu sekarang berani melawanku.”
“Hei!” pekik Mareta setengah melotot. “Dia juga anakmu, kenapa Papa Cuma membentakku. Kenapa cuma aku yang papa marahi?” protes Mareta. Kedua tangannya sudah terlipat di depan dada, tubuhnya membelakangi suaminya.
“Itu karena mama tak pernah mendidik Moli dengan baik. Lihat, jadinya begitu kan, ngelawan sama orangtua.” Seloroh Gibran lagi.
Itu sama sekali tak berubah. Kejadian ini selalu terjadi sebelum keduanya lebih sering bekerja di luar negeri. Mereka berdua hanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Untuk sekedar bercengkerama layaknya sepasang suami istripun jarang mereka lakukan. Moli sudah hafal dengan semua itu. Ini mengapa terkadang Moli bisa menahan rasa rindu pada mereka, tentu karena bertemu pun akan percuma.
“Selalu aja bertengkar!” gerutu Moli sesampainya di dalam kamar. Dengan cepat ia langsung menjambret handuknya yang sudah berpindah di gantungan. Mungkin tadi simbok sudah memindahkan.
Hari ini terasa begitu melelahkan. Tubuh polos miliknya kini sudah masuk kedalam genangan air di dalam bethup. Tubuhnya kembali hangat setelah tenggelam dalam gelombang air hangat. Moli memejamkan kedua bola matanya, seraya berusaha menghilangkan penat yang berasa menempel erat di pundaknya.
Jam yang tergantung di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Moli meraih handuk lalu melilitkan dengan erat pada tubuhnya yang basah. Setelah keluar dari dalam kamar mandi, Moli langsung mengambil piamanya. Memakainya secara cepat, mengeringkan rambutnya lalu merangkak naik ke atas ranjang empuknya.
Kepalanya menoleh ke samping kiri, bola matanya menangkap layar ponsel yang menyala. Moli hanya melirik untuk beberapa detik saja, setelah di biarkan namun masih tatap menyala, akhirnya Moli menggamit ponsel itu.
Kedua alisnya berkerut ketengah. “Nomor siapa ini?” terlihat di layar ponselnya ada 10 panggilan tak terjawab dari nomor asing tersebut.
__ADS_1
Karena tak mau ambil pusing, akhirnya Moli memasukkan ponsel ke dalam lemari nakas. Ia tak suka jika ada nomor asing yang mencoba menghubunginya. Kalau bisa sih, sebelum melakukan sebuah panggilan telpon, lebih baik kirim pesan singkat dengan mengatakan ‘ini siapa’ karena dengan cara itu, Moli bisa tahu apakah dirinya harus menanggapi panggilan itu atau tidak.
Kedengarannya memang ribet, tapi itulah cara Moli supaya tak ada orang yang mengganggunya.
***
Semalam Moli tak bisa tidur dengan nyaman, bahkan sampai pukul satu dini hari, badannya hanya bergeser kesana kemari berpindah posisi. Rencana perjodohannya dengan pengusaha muda, telah membuat pikirannya kacau. Kalau bukan karena masih ada rasa hormat pada kedua orangtua, mungkin Moli sudah memilih pergi atau bahasa kasarnya, kabur dari rumah.
Seandainya terjadi, toh Moli tak mungkin kekurangan di luar sana. Otaknya cerdas, tampang oke, sudah pasti banyak perusahaan yang mau menerima tenaganya. Tapi kembali lagi sial hormat dan patuh. Hanya itu yang mengunci dirinya sampai saat ini.
“Moli!” Panggil lantang Gibran lagi. Ia menutup koran yang sedang di bacanya. Menaruhnya di atas meja nakas dengan keras. “ Kemari, papa mau bicara sama kamu.” Jemarinya melambai meminta Moli untuk segera mendekat.
Bibirnya sudah manyun. Setelah berdecak dengan hentakkan kaki, Moli pun mendekat malas. “Apa sih, Pa? Ini tuh masih pagi, bisa nggak sih bicaranya nanti aja.”
“Kita lanjutkan pembicaraan kita yang tertunda semalam.” Gibran berdiri dan mendekat ke arah Moli.
Mareta yang baru keluar dari kamar, cukup mengawasi mereka dari ambang pintu. Tubuhnya bersenderan pada kusen, menanti apa yang akan dua orang disana perdebatkan. Mareta memang sudah tahu, tapi lebih baik diam saja dulu, toh suaminya itu paling tidak suka omongannya di jeda atau di ganggu. Jadi tunggu saja waktu yang tepat untuk nimbruk.
“Emangnya semalam kita membicarakan apa? Setahu Moli nggak ada deh.” Acuh dan masih melengos. Sebenarnya sih, ada rasa takut untuk menatap wajah Gibran.
“Papa Cuma minta sama kamu, terima Anton sebagai calon suamimu.”
“Apa-apaan! Nggak bisa gitu dong. Ini namanya pemaksaan!” Moli melepas lipatan kedua tangannya. Kini bola matanya sudah berani beralih menatap papanya. Itu hanya reaksi spontan karena Moli terkejut.
“Memangnya kau mau cari pria seperti apa? Anton itu sempurna, dia tampan, mapan dan yang paling utama, dia berasal dari keluarga terpandang.” Gibran berbicara sambil menggerakkan tangan kesana kemari mengikuti arah kemana mulutnya berbicara.
__ADS_1
“Ini itu masalah hati Pa.” Moli berbalik, matanya saat ini sudah bertemu tatap dengan Mamanya yang ternyata juga menatapnya. Moli akhirnya menunduk, mengarah pandangannya ke lantai. “Ini bukan cuma soal mapan atau berasal dari orang terpandang... tapi... ini soalnya hati. Hati Moli juga berhak memilih.”
“Halah!” Kedua tangannya mengibas di udara. Gibran lalu menarik pundak Moli hingga memutar menghadap ke arahnya lagi. “Hari gini kamu masih bicara soal hati, yang terpenting itu siapa pria itu. Anton sudah mapan. Kurang apa lagi dia?”
“Betul sayang.” Mareta akhirnya ikut bicara. Ia tersenyum. Setelah sampai di samping Moli, perlahan jemarinya menyentuh dengan lembut pipi Moli. “Dengarkan apa kata Papamu. Semua itu yang terbaik untuk kamu.”
“Ck!” Moli menyingkirkan tangan Mareta. “Terbaik? Terbaik apanya? Terbaik dimana nya?”
“Sayang, kami sebagai orangtua hanya mau yang terbaik untuk kamu.”
“Iya Moli, dengarkan apa kata orangtua. Kau itu sudah dewasa, harusnya kau tahu mana yang memang terbaik untuk mu.”
“Terserah kalian saja.” Kedua tangannya mengibas di udara. Moli berbalik lalu kembali ke tempat persembunyiannya. Tempat dimana yang ia gunakan untuk segala hal. Dimana lagi kalau bukan di kamar.
“Kalian masih tetap sama! EGOIS!!”
Brak!
Pintu tertutup dengan keras, lalu setelahnya Moli memutar badan, kaki kanannya terangkat melayang cepat menendang pintu di ikuti kedua tangannya yang memukul pintu bagian atas.
“Gue lebih suka kalian ada di luar negri!”
“Aaa!! Benci! Aku benci semuanya!!!”
**
__ADS_1