
Siang ini awan terlihat gelap, kemungkinan sebentar lagi akan turun hujan. Tepat pukul satu, Moli sudah angkat kaki dari kantornya. Kalau bukan karena kejadian pagi tadi dan kedatangan Anton, mungkin pikiran Moli tak sekacau ini. Hari ini bahkan Moli tak ikut menghadiri rapat pertemuan dengan beberapa kliennya.
Saat ini Moli sudah duduk di belakang kemudi. Kakinya mulai menekan pedal gas, dan mobilnya mulai melaju. Di luar sana sepertinya sudah mulai turun hujan, tidak deras memang, tapi mampu membuat telinga ini tak bisa mendengarkan suara apapun dari luar sana.
“Sial! Pake hujan segala!” Yoga yang baru setengah perjalanan pulang, memilih menepi di halte bus. Ia menyenderkan sepedanya lalu mengibas-ibas baju seragamnya yang sempat terkena air hujan. Setelahnya Yoga langsung duduk sambil memeluk erat tas punggungnya.
Ciiiittt!!!
Sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di hadapan Yoga. Yoga tak beranjak dari duduknya, ia hanya sedikit memiringkan kepala, mengamati siapa gerangan seseorang yang menghentikan mobil secara mendadak hingga berdecit keras.
Keningnya berkerut ketengah tatkala seseorang dari dalam mobil keluar sambil menutup bagian ujung kepala dengan kedua tangannya.
Yoga masih duduk. Ia melirik wanita yang sekarang berdiri di sampingnya sambil menghentakkan sepatunya yang basah. Wanita itu tersenyum, sontak Yoga langsung terpekik.
“Di...dia kan...”
“Yoga!”
Wanita itu langsung menghambur memeluk Yoga. Yoga yang merasa terkejut hanya diam sejenak lalu mendorong cepat tubuh wanita itu hingga mundur ke belakang.
“Siapa Lo, main peluk aja. Kenal juga nggak?” Dengus Yoga sambil mengelap bekas pelukan wanita itu.
“Ini gue, Moli.” Moli mendongak mencengkeram erat kedua pundak Yoga, lalu berdiri sambil menepuk dadanya sendiri.
“Siapa Moli?” Yoga mengamati postur tubuh Moli dari atas sampai bawah. Wajahnya putih bersih, rambutnya sedikit bergelombang, tubuhnya terlihat berisi dan seksi.
Tapi siapa? Yoga sama sekali tak bisa menebak siapa wanita yang sedang berdiri di hadapannya ini.
Moli berdecak beberapa kali. Ia memutar badan ke kiri lalu berbalik ke kanan. Moli merasa bahwa Yoga sedang mengerjainya. Mana mungkin Yoga tak mengenalinya kan? Apa hanya karena penampilannya yang sedikit berbeda, lalu Yoga tak mengenalinya? Mustahil!
Moli terlihat mendesah, mengelus dadanya perlahan lalu memandang ke arah Yoga. “Elo Yoga kan?”
“Iya.”
Moli berkedip sambil menjentikkan jari dengan keras. Sudah pasti dia adalah Yoga, Moli tak akan pernah lupa. Mau berapa lama, tetap tak bisa membuat Moli lupa dengan wajah Yoga.
“Sudah pasti elo memang Yoga. Gue nggak akan salah.”
Yoga yang masih kebingungan hanya bisa nyengir dan menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tak gatal sama sekali.
“Elo ingat gue kan, Ga?” Moli tersenyum gemas. “Iya kan, Ga?”
“Elo kan yang tadi pagi nabrak gue.” Yoga berdiri tegak, mendekat memepet Moli hingga tersudut di pagar besi.
__ADS_1
Moli mundur. “Apa sih! Gue emang yang nabrak elo tadi pagi, tapi bukan itu intinya.”
Yoga mundur lalu berdecak sambil menjulingkan mata. “Intinya, elo tanggung jawab sama celana gue yang sobek.” Yoga menunjuk bagian lututnya yang sedikit terlihat.
“Yoga!!!” Teriak Moli dengan keras hingga berasa melawan suara gemericik hujan yang masih turun. “Elo jangan main-main!” menghentakkan kaki kesal.
“Gue nyari elo kemana-mana, dan setelah ketemu, elo malah pura-pura nggak kenal sama gue. Bangke lo!” Mona mendorong pundak Yoga. Buliran di balik kelopak matanya sudah menetes.
Eh!
Yoga yang masih belum mengerti, langsung berubah panik. Ia meraup wajahnya sendiri lalu berdiri, membungkuk menatap Moli lalu menegak lagi.
“Kok elo malah nangis sih!” ucap Yoga sambil berdecak keras.
“Jahat lo, Ga! Ini gue Kak Moli, pacar elo.”
Haik! Bola matanya langsung membesar dengan dada membusung. Pacar? Pacar yang mana? Yoga semakin di buat kebingungan. Sejak kapan dirinya berpacaran dengan wanita yang lebih dewasa? Eeeuuuhhh! Nggak pantes deh! Yoga langsung bergidik.
“Gini ya mbak yang cantik...” Yoga sedikit membungkuk mengimbangi tinggi Moli. “Gue itu nggak kenal sama situ, serius deh! Jadi mending mbaknya pergi dari sini, dari pada bikin gue tambah bingung kan.”
Moli menghentikan isak tangisnya, ia mendongak menatap ke langit-langit. Setelah menunduk kembali, Moli terlihat menarik nafas lalu di hembuskan secara perlahan.
“Oke, kalau memang elo nggak kenal sama gue, its oke. Nggak papa.”
“Tapi...”
Yoga langsung mendesah berat. “Apa?”
“Ijinkan gue buat tanggung jawab atas kejadian tadi pagi.” Ucap Moli. “Biar gue antar elo pulang, ini kan hujan, lebih baik elo pulang bareng gue.”
Yoga diam sejenak, ia terlihat menimang sesuatu. Sepertinya tak ada salahnya numpang mobilnya, itung-itung ini ganti rugi darinya kan? Yoga akhirnya mengangguk.
“Oke.”
Mereka berdua sudah masuk kedalam mobil setelah menaruh sepeda Yoga di jok belakang dengan posisi kedua jok terlipat ke depan.
Masih sunyi, di dalam sini hanya terdengar pantulan suara hujan yang masih terus turun dari langit. Kedua diam tak ada yang berani buka suara. Moli fokus menyetir sementara Yoga diam dengan posisi miring ke arah jendela menatap pepohonan pinggir jalan yang tertiup angin.
“Apa terjadi sesuatu sama Elo, Ga?” tanya Moli dalam hati. Semua ini pasti ada alasannya kan? Mana mungkin Yoga tak mengingat sedikitpun tentang Moli. Sangat aneh!
“Gue harus cari tahu.” Sambungnya lagi masih dalam hati.
“Elo kelas berapa?” Moli membuka percakapan.
__ADS_1
“Ha? Kenapa?” Yoga menoleh lalu bersenderan pada jok.
“Elo kelas berapa?”
“Tiga SMA.”
Benar kan? Sesuai dugaan Moli, kalau ini memang benar Yoga yang di kenalnya. Kalau di hitung sejak mereka pertama bertemu, saat ini Yoga pasti masih berstatus sekolah di menengah atas dan pas dengan kelas nya sekarang, yaitu kelas 3.
“Elo masih tinggal sama Diki?”
Heh! Kenapa wanita ini bisa tahu tentang Diki?
Yoga terlihat syok ketika Moli menyebutkan nama Diki. Yoga tahu itu adalah nama saudara tirinya yang pernah membuangnya beberapa tahun yang lalu.
“Elo kenal sama Diki?”
Sekarang Moli yang terlihat terkejut, bagaimana bisa, Yoga tahu tentang Diki tapi tak mengenal dirinya yang berstatus sebagai kekasihnya.
“Nah elo kenal sama Diki?” Moli balik tanya, ia hanya ingin memancing ucapan Yoga selanjutnya.
“Ya iyalah, dia kan kakak tiri gue. Ya kali gue nggak kenal.” Yoga terkekek tanpa melihat bagaimana raut wajah Moli saat ini yang sudah berubah penuh rasa bingung.
Elo kenal Diki, lha gue??? Oke, tenang Mol, selow aja.
“Elo kenal Tika sama Fani nggak?”
“Tika? Fani? Siapa ya?” Yoga mengetuk ketuk pipinya sendiri. “Oh! Si cewek tomboy dan centil itu ya...” girang Yoga.
Astaga!! Sebenarnya ada apa ini, Moli semakin di buat kliyengan. Yoga itu pura-pura atau bagaimana? Tapi di lihat dari caranya berbicara, tak menunjukkan bahwa dia sedang main-main.
“Terus, elo tahu nggak sahabat mereka satunya lagi?”
“Siapa? Yang mana?” Yoga angkat bahu.
“Ishh, Aw!” Tiba-tiba Yoga meringis sambil menekan kepala dengan kedua tangannya.
“Elo kenapa Ga?” Moli langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan. “Elo nggak papa,”
“Nggak tahu, kok tiba-tiba jadi pusing gini ya?” Yoga berkedip beberapa kali sambil bergidik untuk menghilangkan rasa pusingnya.
“Ya udah, gue antar elo pulang.”
***
__ADS_1