Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
33. perjodohan masih berlanjut


__ADS_3

“Hati-hati, jangan kenceng-kenceng kak Mol!! Bahaya,” ucap Yoga, tapi sepertinya Moli tak peduli. Ia masih melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


“Kak Moli!” Bentak Yoga pada akhirnya.


Ciiiiiit!


Mobilnya berdecit dan menepi di pinggir jalan. Seketika Yoga langsung menarik napas sambil menepuk pelan dadanya, setelah napasnya sudah bisa di atur lagi, Yoga beralih pandangan ke arah Moli. Disana, di posisinya napas Moli terlihat turun naik dengan cepat. Ekspresi wajahnya belum bisa di tebak, yang jelas kedua telapak tangan Moli mencengkeram kemudi dengan erat.


Moli menoleh, membalas pandangan Yoga dengan tatapan membunuh.


“Kak Moli kenapa sih?! Kok jadi marah gitu?” tanya Yoga. Sebenarnya ia sedikit takut menatap Moli yang terlihat sangar itu. “Marah sama gue atau orang tadi?”


“Dua-duanya!” Jawab Moli setengah berteriak. Otomatis Yoga langsung terhenyak.


“Jadi marah sama gue? Kenapa?”


“Dasar nggak peka! Nyebelin lo, Ga!” semprotnya lalu menoleh ke depan sambil memukul kemudi.


“Gue nggak peka gimana? Jelasin biar gue ngerti!”


Moli menoleh lagi, menarik napas lalu hembuskan. “Elo itu kan pacar gue... kenapa tadi elo Cuma diem aja waktu di tanya si Anton? Jawab kek! Bilang kalau elo itu pacar gue?”


“Apa?!”


Jadi, semua ini karena itu? Hanya karena itu?


“Ja...jadi kak Moli marah karena itu? Ck, kira-in apaan?” Yoga membuang muka. Hal itu justru membuat Moli semakin jengkel.


“Yoga!” teriak Moli geram. Tangannya mencengkeram erat gagang kemudi lagi. “Bener-bener nggak peka elo ya!”


“Kok nggak peka terus dari tadi sih?!” Yoga ikut jengkel.


“Dia itu orang yang dijodohin sama gue, harusnya elo bilang kalau elo itu pacar gue... setidaknya itu bisa buat si Anton mikir-mikir untuk tidak melanjutkan perjodohan ini!”


Usai lontaran kalimat dari mulut Moli, Yoga hanya tersenyum getir. Ia ingin tertawa dengan kalimat di bagian akhirnya.


Mikir-mikir untuk apa memangnya? Mana mungkin pria seperti itu akan merasa tersaingi dengan cowok seperti gue? Yang ada, dia mungkin justru tertawa kalau gue bilang gue adalah pacar kak Moli.


“Kok elo malah tersenyum?!” hardik Moli. “Oh... jadi elo emang nggak mau mengakui kalau gue itu pacar elo?” Moli manggut-manggut pelan tanpa melonggarkan cengkeramannya.


“Bukan begitu...” Yoga meraih tangan kiri Moli, mengusap punggung tangan lembut itu. “Bukan maksud gue nggak mau mengakui, tapi gue nggak percaya diri.”


“Kenapa?”


“Dia siapa, gue siapa... kalau gue ngaku pacar kak Moli, kemungkinan orang itu bukannya mundur tapi justru lebih mendekat sambil tertawa...”


“Kenapa bisa gitu? gue nggak ngerti.”

__ADS_1


“Kak Moli nggak lihat... gue itu masih SMA, kalau dibandingin pria yang tadi, gue bukan apa-apa. Jadi, mana berani gue ngaku sebagai pacar kak Moli.”


Jadi begitu ya? maksudnya Yoga minder, benar begitu?


“Kenapa musti nggak berani? Memangnya kenapa kalau elo masih SMA? Itu nggak ngaruh apa-apa. Intinya elo itu pacar gue...”


“Gue tahu... tapi, gue malu. Dia itu pria mapan yang sudah bisa di andalkan, nah gue? Sekedar nraktir makanan di restoran aja gue belum mampu.”


“Gue nggak peduli itu! Harusnya elo tahu kan? Kalau belum apa-apa elo udah minder duluan, gimana dengan hubungan kita selanjutnya?”


Benar. Kenapa harus minder? Kalau menunjukkan titik kelemahan, justru membuat saingannya semakin kuat.


“Iya juga sih! Sory deh... tadi gue grogi lihat tampilan dia.”


“Gue ngerti... tapi lain kali lebih jantan supaya elo nggak perlu lagi merasa minder. Elo mau kan memperjuangkan cinta kita?” Moli tersenyum sambil balas menggenggam tangan Yoga.


“Tunggu!” Moli melepas genggamannya. “Atau jangan-jangan elo udah pindah ke lain hati ya?”


Yoga menarik punggungnya ke belakang, “ kenapa malah bahas itu lagi? Kan udah gue jelasin kemarin... gue itu sayang sama elo kak Moli,” ucapnya sambil mencubit gemas pipi Moli.


“Aw! Sakit tahu!” protes Moli dan langsung mengusap-ucap bekas cubitan itu.


“Makanya... nggak usah deh, bahas begituan lagi! Sebel gue dengernya.”


“Iya... iya!”


“Ya udah, ayo kita pulang! Ini udah sore lho....”


Sementara Moli masih dalam perjalanan, di istana mewahnya sedang kehadiran tamu dari keluarga Anton. Jika di hitung, ada sekitar lima orang yang bertamu. Ada satu pria dan wanita baruh baya, nenek-nenek satu, Jordi dan Anton.


Mereka bercengkerama di ruang tamu. Mereka terlihat begitu bahagia berada disini, tapi sepertinya tidak dengan Mareta. Ia tahu, setelah Moli pulang, kemungkinan suasana rumah saat ini akan berbeda. Mareta tak tahu bagaimana reaksi Moli nanti ketika tahu apa tujuan mereka datang ke sini.


Benar saja, yang sedang di khawatirkan Mareta pun muncul. Moli sudah datang. Mareta bisa melihat keterkejutan Moli ketika bola matanya menangkap keramaian di rumahnya. Moli langsung memandang Mareta dan Gibran seolah bertanya, siapakah mereka?


“Sini sayang...” Mareta melambai, meminta Moli segera mendekat. Moli pun mendekat ragu.


“Ada apa ini, ma?” tanya Moli lirih lalu ikut duduk.


“Jadi ini yang namanya Moli? Wah, cantik ya!” seloroh seorang wanita paruh baya itu.


“Mereka adalah keluarga Anton...” jelas Gibran. “Ini Mina, nenek Yoga. Ini Susan dan Bagas, Om dan tantenya Anton. Mereka datang untuk melamar kamu.”


“Apa?!” spontan teriakan terkejut menyembur keluar dari mulut Moli. Semua yang ada disitu langsung terhenyak dengan teriakan Moli yang melengking itu.


“Moli! Pelankan suara kamu!” Gibran melotot tajam.


Mareta bisa merasakan keterkejutan Moli, pasti saat ini Moli syok dan kebingungan.

__ADS_1


“Tenang dulu sayang!” Mareta merangkul pundak Moli.


“Maaf nak Moli... mungkin kedatangan kami sangat mengejutkan kamu. Ini salahku karena mengajak mereka kemari secara mendadak.” Jelas Jordi. Moli tak peduli penjelasan itu, yang jelas saat ini Moli ingin segera beranjak dan pergi.


Merasa tersudut, Moli perlahan memutar bola mata melirik ke arah Anton. Moli memicing, tapi Anton justru melempar senyum picik.


“Elo pasti kan yang ngrencanain semua ini? Brengsek!” pertanyaan itu Moli lempar hanya sebatas melalui sorotan mata. Tentu saja tanpa mengeluarkan suara. “Tadi masih ada di restoran, sekarang udah ada disini, dasar iblis!” masih racaunya dalam hati.


“Moli...” panggil Gibran. “Lusa, kamu dan Anton akan menikah...”


“Apa?!” belum selesai dengan kalimat papa, Moli sudah berteriak seperti tadi. “Menikah?!” Moli menyapu pandangan pada setiap orang yang ada disini.


“Moli!” Mareta mengusap pundak Moli. “Tenang sayang! Jangan berteriak begitu, yang sopan sama mereka.”


Sontak keluarga Anton langsung terpekik dan terkejut. Mereka tak menyangka bahwa Moli bisa semengerikan itu. Nada bicaranya sungguh meninggi, membuat siapapun akan menciut jika berhadapan dengannya.


“Jordi!” panggil Mina pada Jordi. “Kenapa begini? Apa Moli belum tahu dengan lamaran ini?”


“Iya Jordi... sepertinya Moli sangat syok dengan kedatangan kita.” Sambung Susan.


Melihat keluarga Anton sudah mulai gelisah, Gibran langsung menyela. “Maaf, bukan begitu... Moli sudah tahu tentang ini, mungkin Moli hanya sedikit grogi.” Gibran mencoba meredakan kecanggungan ini.


“Ngaco!” timbruk Moli. “Papa nggak usah bohong, Moli itu sama sekali nggak tahu semua ini. Dan nikah... apa itu? Moli sama sekali nggak ngerti.”


“Moli!” bentak Gibran lagi. Wajahnya sudah memerah. Melihat suaminya sudah mulai terbakar amarah, Mareta segera berkedip cepat pada Moli. Itu sebuah kode supaya Moli cukup tak perlu lagi membantah papanya.


“Apa sih, ma?!” keluh Moli. “Moli kan emang nggak tahu.”


“Sudah diamlah dulu! Nggak sopan di depan tamu, kamu ngeyel kaya gitu.” Mareta mencoba menenangkan. Pada akhirnya Moli pun mendesah berat dan mengalah.


Mareta tahu bagaimana perasaan Moli saat ini, akan tetapi bersikap tidak sopan di depan tamu juga bukanlah hal yang baik. Itu terlihat seperti Moli seorang wanita yang liar.


Ketika semua sudah terlihat tenang kembali, Gibran mulai melanjutkan pembicaraan yang tertunda tadi. Gibran kali ini menatap ke arah Jordi, tentu karena memang inti acara ini ada pada dirinya.


“Kita lanjutkan lagi pembicaraan tadi...”


“Baiklah... kita mulai dari mana?” balas Jordi.


“Kita akan tetap melangsungkan pernikahan Anton dan Yoga lusa.”


Moli sudah terlihat membuka mulutnya, tetapi langsung mengatup kembali begitu dua jari milik Mareta mencubit lengannya.


“Tenang dulu!” bisik Mareta di telinga Moli. Moli langsung cemberut dan menghentakkan kaki pelan.


Gimana gue bisa tenang... gue? Nikah? Lusa? Gila!!


“Apa nggak terlalu kecepeten?” sela Mina. Moli terlihat ingin menimbruk, tapi dengan cekatan Mareta menarik Moli untuk tetap diam saja.

__ADS_1


“Mereka sudah dewasa, sudah waktunya untuk menikah... aku sih, setuju aja.” Jelas Jordi yang sontak langsung membuat Gibran melebarkan senyuman.


***


__ADS_2