Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
36. Ada apa? 2


__ADS_3

Menunggu Moli yang tak juga kunjung datang, akhirnya Fani memilih putar balik. Sudah sekitar tiga puluh menitan, Fani berdiri di depan pintu gerbang hingga kepanasan. Tapi, yang keluar bukanlah Moli melainkan sebuah mobil box bertuliskan ‘siap mendekorasi sebuah acara'.


Begitu dalam perjalanan, tentu saja Fani masih terngiang akan tulisan sederhana itu. Yang ada dalam pikirannya, memangnya di rumah Moli sedang ada acara apa? Moli menyuruhnya menunggu tapi justru tak kunjung datang. Mencurigakan!


Begitu sampai di rumah kembali, Fani masih di rundung sebuah pertanyaannya sendiri. Ada apa dengan Moli? Begitu terus bunyinya. Mama yang saat ini sedang menyiapkan makan malam pun tak Fani hiraukan. Kemungkinan Fani justru tidak tahu kalau mama ada di situ.


“Sayang...,” panggilnya pelan. Fani tak menoleh. Ia masih berjalan lurus dengan tatapan kosong.


“Sayang!” suara mama sudah meninggi. Sontak Fani langsung terjungkat dan menoleh.


“Eh, Iya Ma,” ucap Fani sambil garuk-garuk kepala. Fani sudah berjalan menghampiri mama.


“Kamu kenapa, kok ngelamun? Mama di sini sampai di cuekin.”


Fani nyengir. “Maaf Ma, aku cuma lagi bingung.” Fani menarik kursi yang bersembunyi di bawah meja, lalu ia duduk.


“Bingung kenapa?” mama ikut duduk.


Fani mendaratkan kedua lengan di atas meja. “Aku kan tadi telpon Moli, rencananya cuma mau nanyain kabar, tapi, waktu telpon udah tersambung, Moli lagi nangis. Dia minta aku buat datang ke rumahnya. Eh, setelah aku buru-buru kesana, aku malah nggak di ijinin masuk.”


Di posisinya mama sudah berkerut dahi. Sebenarnya bingung mau jawab apa, pasalnya ia sendiri bingung dengan cerita Fani.


“Mama jadi bingung... mama juga nggak tahu harus jawab gimana, mama juga nggak tahu.”


“Maka dari itu,” ucap Fani lagi. “Masa nih ya, aku tadi lihat ada tukang dekorasi keluar dari rumahnya.” Keheranan yang tadi Fani rasakan kini ia bagi ke mama.


“Tukang dekorasi?” Kepala mama agak miring ke kanan. “Mungkin mau ada acara pesta. Ah, barang kali ulang tahun Moli,” tebak mama.


“Nggak mungkin....” Fani yang posisi awalnya membungkuk di depan meja, kini ia tarik ke belangan bersenderan pada dinding kursi. “Ulang tahun Moli kan masih lama.”


“Kira-kira ada apa ya?” tanya Fani lagi. Belum sempat di beri jawaban, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Begitu melihat nama siapa yang terpampang di layar ponsel, dengan sigap Fani langsung menekan tombol hijau.


“Halo!... Mol!”

__ADS_1


“Halo... maaf yang tadi.” Suaranya terdengar parau dan sudah bisa di pastikan Moli sedang menangis lagi.


Mama yang masih duduk, hanya mengamati dengan heran, kemudian berdiri dan menjauh. Itu urusan anak muda. Begitu pikirnya


“Elo itu kenapa sih?! Cerita deh sama gue! Gue khawatir tahu!” suara Fani meninggi. Sementara suara di seberang kasih tertahan dengan isakan.


“Gu-gue, gue besok nikah, Fan.” Tangisan Moli terdengar semakin mengeras hingga terpaksa Fani berteriak ‘Apa’ dan menjauhkan ponsel dari telinganya.


Setelah ponselnya menempel lagi, Fani langsung memberondong beberapa pertanyaan.


“Elo lagi bercanda kan?” Fani tertawa hingga kepalanya menengadah.


“Gue serius.”


Jleb! Tawa Fani berhenti seketika. “Elo nggak bohong kan?” ini terdengar mengejutkan untuk Fani.


“Tunggu...” Fani menarik napas lagi. “Elo nikah sama siapa? Tentunya bukan Yoga kan? Ah, apa Anton?”


“Ya.” Begitu jawab Moli. Sontak Fani langsung menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangan. Bola matanya sudah membulat sempurna. Ia ingat bagaimana waktu itu sempat melihat Moli dan Anton berbicara, sudah bisa di pastikan intonasi bicara Moli menunjukkan ketidak sukaan pada Anton.


Di sana Moli menggeleng. “Nggak.” Masih dengan suara parau.


Oh, jangan-jangan tukang dekor itu adalah...


Fani mengatupkan kedua bibirnya. Benar, pasti itu alasan kenapa ada tukang dekorasi di sana. Sekarang Fani mengerti.


“Gue nggak mau nikah Fan...” suara rengekkan Moli terdengar. Tapi, bisa apa? Fani hanya seorang teman.


“Kalau elo nggak mau nikah, kenapa nggak bilang aja? Bilang sama papa dan mama, elo.”


“Nggak segampang itu, Fan! Gue udah capek ngomong sama mereka, gue pengen nyerah tapi, gimana dengan Yoga?”


Oh iya! Ada Yoga. Fani teringat sosok pria bernama Yoga. “Apa ingatan Yoga udah kembali? gue sampai lupa nanyain hal itu.” gumam Fani dalam hati sambil menepuk jidat pelan.


“Jadi Yoga udah inget sama elo lagi?” tanya Fani. Itu memang yang ingin Fani tahu.

__ADS_1


“Udah, Fan. Gue juga udah beberapa kali ketemu dia.” Isak tangisnya sudah mulai bisa di imbangi.


“Oke! Gue nggak mau tanya lebih tentang itu. Intinya Yoga udah inget elo lagi, itu udah hal yang baik menurut gue. Yang mau gue tanyain, elo suka nggak sama Anton?”


“Nggak lah!” jawab Moli tegas. “Gue sama sekali nggak suka sama Anton. Gue benci dia yang memanfaatkan keadaan ini. Menurut gue, dia itu pria nggak waras.” Begitu celotehan Moli.


“Terus, sekarang apa yang mau elo lakuin? Jujur aja, gue bingung cara bantuin elo.”


Moli paham, dirinya saja tidak bisa membujuk papa. Lalu, bagaimana dengan orang lain. Moli rasa itu tambah tidak mungkin. Papa orangnya keras, dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain.


“Gue nggak tahu, Fan. Gue bingung....” tangisannya terdengar lagi, dan Fani hanya bisa menghela napas karena sadar tak bisa berbuat apa-apa.


“Yoga pernah ketemu orangtua lo?” Fani bertanya dengan tampang seakan memberi sebuah ide.


“Setahu gue sih, belum. Tapi, ternyata dulu mereka pernah bertemu. Dan elo tahu? Bokap gue lah, penyebab Yoga lupa sama gue.”


“Ha?! Maksudnya?” suara Fani mengeras.


“Ceritanya panjang. Gue cuma bisa cerita kalau kita bertemu langsung.”


“Tapi, setelah itu bokap elo udah nggak pernah lagi ketemu sama Yoga kan?”


“Nggak. Kenapa emang?”


“Nah, kenapa nggak elo coba pertemukan mereka berdua. Elo ajak Yoga main ke rumah elo, buat yakin bokap elo tentang hubungan kalian berdua.”


Mungkin itu terdengar ide yang bagus, tapi, mengingat esok adalah hari pernikahannya, tentu rencana itu tidaklah berguna. Ini sudah seperti belum memulai pertandingan tapi sudah kalah duluan. Mau bagaimana lagi?


“Fan!” panggil Moli. “Gue itu nikahnya besok....”


“Apa?! Besok!?” pekik Fani karena terkejut lagi. “Serius? Besok?!”


“Iya, Fan. Hiks! Gue harus gimana?” rengek Moli sambil guling-guling di kamar.


Kalau sudah begini, Fani lebih baik angkat tangan. Mau menolong, tapi bagaimana caranya? Ini terlalu mustahil jika digagalkan. Besok? Iya besok.

__ADS_1


***


__ADS_2