Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
13. Bertemu teman lama


__ADS_3

“Elo sibuk apa sekarang?” Tanya Moli. Saat ini mereka berdua sudah duduk di sofa panjang.


“Gue masih kuliah, belum boleh kerja sama bokap, nyokap.”


Mendengar jawaban Fani, raut wajah Moli berubah pias. “Seneng ya, elo masih bisa kuliah. Nah gue?” Moli sudah merengut.


“Elo mah enak, nggak perlu sekolah tinggi-tinggi tapi udah dapat pekerjaan yang menjanjikan.”


“Tapi gue masih pengen kuliah. Otak gue berasa mau meledak kalau di suruh kerja tapi karena bukan kemauan gue.”


“Bener juga sih...” Fani manggut-manggut sambil mengelus dagunya. “Tapi nggak papa lah, elo kan pinter, kerja di kantoran mah, hal mudah buat elo.”


Moli menjulingkan mata. Memang benar, yang selalu di lihat orang itu, Moli hidup enak dengan fasilitas wah. Tanpa ***** bengek pun Moli sudah bisa bekerja di kantoran. Moli tak akan menyalahkan siapun yang berpikiran begitu, karena mereka memang hanya bisa memandang tanpa merasakan.


“Eh Fan.” Moli menepuk pelan paha Fani. Sekarang pandangan keduanya sudah saling bertemu.


Fani yang bisa merasakan keseriusan di wajah Moli, langsung bersikap tenang seolah siap mendengarkan apa yang akan di katakan Moli.


“Gue ketemu Yoga.”


“Ha?” Bibir Fani langsung terbuka begitu nama yang tak asing itu di sebut.


“Serius?”


“Yap.” Moli mengangguk yakin.


“Dimana?” Fani dengan sigap langsung menggenggam kedua tangan Moli.


“Di jalan...”


“Di jalan?” Fani berkerut dahi.


“Ya, di jalan. Pertemuan gue dan Yoga, mirip banget sama waktu pertama kali gue ketemu sama Yoga. Yaitu, dengan tanpa sengaja Yoga tertabrak mobil gue. Dulu juga begitu kan? Tapi posisinya, mobil elo yang nabrak dia?”


Dani menjatuhkah bibir bawahnya. Tentu saja mulutnya sudah kembali terbuka. Memang ada ya, di dunia ini kejadian yang terulang hingga dua kali, tapi dalam kisah seperti yang di alami Moli? Ada. Nah itu yang terjadi pada Moli.

__ADS_1


“Terus... terus gimana kelanjutannya? Kan udah lama kalian nggak ketemu. Apa langsung berpelukan? ciuman?” wajah Fani begitu terlihat antusias dan segera ingin tahu apa yang terjadi berikutnya.


“Ck!” Moli berdecak lalu mengibaskan tangan Fani yang memegang tangannya. “Elo berpikir terlalu jauh, Fan. Yang terjadi bahkan sangat jauh dari apa yang mungkin saat ini sedang otak lo bayangkan.”


“Ha??” ujung bibirnya terangkat. Fani mulai bingung.


“Elo pasti juga tahu kan, gimana gue bisa terpisah sama Yoga?”


“Yap. Tentu gue tahu.” Fani mengangguk. “Itu karena elo pindah ke luar negeri. Iya kan?”


“Itu hanya salah satunya, Fan.” Moli bangkit, berjalan ke arah jendela, perlahan membukanya lalu melangkah maju hingga sampai di balkon.


Fani menoleh, memutar posisi duduknya, mengikuti gerak Moli. “Memang ada alasan lain?” Fani akhirnya menghampiri Mona yang sedang berdiri dengan berpegangan tralis balkon.


“Ada.” Saat ini Moli berbalik dan bersendehan pada tralis. “Gue pindah karena orangtua gue memang sengaja menjauhkan gue dari Yoga.”


“Apa??” pekik Fani. Ia begitu terkejut ketika mendengar alasan lain kenapa Moli di pindahkan ke luar negeri. Yang Fani tahu kan, hanya sekedar pindah sekolah karena orangtuanya memang bekerja di luar negeri.


Moli tersenyum pias, kalau mengingat kembali perdebatan beberapa tahun yang lalu itu, rasanya ingin sekali melawan kedua orangtuanya. Hanya karena Moli merindukan mereka, akhirnya Moli menjawab ‘Iya’, ketika dirinya harus pindah ke luar negeri.


“Papa, mama!” Teriak Moli ketika orangtuanya pulang dari luar negeri. Moli langsung menghambur memeluknya. “Moli kangen kalian...” Ucap bibir mungilnya sambil memeluk erat tubuh mamanya.


“Apa?” Moli terhenyak dan langsung melepas pelukan itu. “Apa maksud papa?” lirik Moli kearah papa.


“Kamu akan pindah sekolah ke luar negeri. Kita berangkat besok pagi.” Tegas dan pakem. Begitulah yang tergambar di wajah Gibran saat berbicara.


“Mama...” Moli mengguncang tubuh Mareta. “Kalian kan baru aja sampai, kenapa langsung meminta ku pindah? Kenapa kalian tidak memelukku dulu atau memberiku sebuah ciuman karena sudah lama kita tidak bertemu.” Moli menatap wajah Mareta dengan pandangan sendu. Mungkin saja sebentar lagi Moli akan menangis.


“Jika kamu merindukan papa dan mama, maka ikutlah ke luar negeri.” Begitulah jawaban yang di berikan Mareta sambil mengusap pipi Moli.


“Cepatlah berkemas.”


Belum juga Moli menjawab, Gibran sudah berkata lagi. Moli tak habis pikir, bagaimana bisa kedua orangtuanya begitu cuek dan biasa aja ketika bertemu dengan putri semata wayangnya. Semua ini terlihat seperti sebuah drama yang penuh kepalsuan. Moli merasa teriris. Rasa rindu yang selama ini ia pendam ternyata tak berguna untuk kedua orangtuanya.


“Tapi Pa...”

__ADS_1


“Tak ada kata tapi.” Tepis Gibran. “Cepat bantu Moli berkemas.” Gibran melirik istrinya untuk segera membantu Moli bersiap-siap.


Moli ingin menangis, tapi entah kenapa air matanya sama sekali tidak mau keluar. Dadanya terasa panas, tubuhnya sudah mulai dingin. Tenggorokannya tiba-tiba mengering seperti tak ada air liur di dalamnya.


Dengan pandangan kosong dan tubuh lemas, Moli akhirnya mengikuti langkah Mareta menuju kamar.


Besok? Ya, besok. Besok Moli akan pergi. Kenapa? Untuk apa? Moli tak tahu. Saat ini yang ada di otaknya hanya menuruti kemauan orangtua karena rasa rindu.


Moli dan Mareta sudah berada di kamar. Moli tak langsung mengemas barangnya, tapi ia duduk di tepi ranjang dengan wajah cemberut.


“Ma, apa nggak bisa di tunda dulu? Kalian juga baru nyampe kan?” Moli menatap harap pada Mareta.


Mareta ikut duduk. “Itu perintah papa, mama juga nggak bisa ngelawan. Kamu nurut aja.”


“Tapi ma...”


“Sudahlah, cepat kemasi barang kamu. Mama bantu.”


Moli mendesah berat. Kepulangan mereka harusnya menjadi hal paling membahagiakan untuk Moli, tapi nyatanya apa? Mereka masih sama, sama-sama memiliki ego yang tinggi. Semua kemauannya harus di turuti dan tak boleh ada yang membantah, sekalipun itu untuk Moli. Ini memang tak adil, tapi tak ada celah untuk mengadu.


Moli kembali pada kesadarannya. Saat ini Ia hanya bisa memandang lurus ke depan tanpa tahu arah mana yang sebenarnya harus ia lalui. Memperjuangkan ingatan Yoga ataukah terjatuh pada perjodohan kedua orangtuanya.


“Setahu gue, orangtua elo kan nggak tahu tentang Yoga. Mereka ada di luar negeri, bagaimana bisa mereka tahu Yoga?” Fani memiringkan kepala menatap ke arah Moli.


“Gue juga nggak tahu. Setelah gue sampai di luar negeri, nomor Yoga tiba-tiba saja tidak bisa di hubungi...”


“Tunggu dulu,” potong Fani. “Sebelum elo pergi, elo udah pamit sama Yoga kan?”


Moli mengangguk. “Pukul sembilan malam, gue pergi ke rumah Yoga. Gue ngajak di keluar, ke tempat biasanya kita bertemu. Dan disanalah gue mengatakan semuanya.”


***


**segini aja dulu ya...🙏🙏🙏 maaf belum bisa up banyak.


jangan lupa, tinggalkan Rate, Vote, dan komentar kalian yaa... klik favoritkan juga. 🤗🤗🤗

__ADS_1


baca juga novel ku yang satunya, barang kali suka... soalnya lebih menegangkan lhooo**..



__ADS_2