
Pagi harinya di sebuah rumah sederhana, di pinggir kota.
Sekitar 5 bulan lagi ujian sekolah akan segera di laksanakan. Bagi sebagian siswa, di saat inilah mereka akan merasakan ketakutan atau kepanikan karena akan segera menghadapi ujian kelulusan.
Tentu nilai bagus yang mereka harapkan, karena ujian menengah lebih sering menentukan garis keberhasilan para murid setelahnya. Tak terkecuali bagi Yoga. Dia anak yang pintar. Tentu. Dia tak pernah mengecewakan mamanya. Ya, untuk saat ini memang hanya mamanya yang selalu ada untuknya.
Dimana Papa angkatnya dan saudara tirinya?
Yudha sudah tiada sekitar 1 tahun yang lalu, tepatnya saat dirinya sedang berencana memberi kejutan untuk anak tirinya, yaitu Yoga. Saat itu Yoga baru saja pulang dari acara pesta yang di buat teman sekelasnya untuk dirinya.
“Selamat ulang tahun anakku.” Yudha tersenyum sambil membawa cake ulang tahun yang di lumuri coklat dengan lilin angka 16 di atasnya.
Yoga yang baru masuk, sontak langsung terkejut dan menutup mulut dengan kedua tangannya. Jangan heran, setelah kejadian beberapa tahun lalu, setelah kejadian skandal memalukan itu, hubungan Yoga dan Yudha berangsur membaik. Setidaknya sejak saat itu Yoga sudah mulai menerima kehadiran Yudha sebagai ayahnya.
“Terimakasih.” Ucap Yoga akhirnya. Ia menaruh tas punggungnya di sofa, lalu menghambur memeluk Yudha dan Santi bergantian.
Setelah mengambil nafas dalam-dalam, Yoga mulai meniup lilin itu hingga akhirnya padam, dan di ikuti suara tepukan tangan dari Yudha dan Santi.
“Terimakasih Ma, Pa.”
Ini hanya kebahagiaan sesaat. Ya, tiada yang tahu apa yang terjadi setelahnya. Takdir manusia memang nyata sudah ada yang mengatur, begitulah kira-kira gambaran yang pas untuk apa yang akan terjadi setelah suasana haru penuh gembira ini.
“Pa! Papa kenapa!” Teriak Santi dan Yoga berbarengan
Kue ulang tahun yang indah itu sudah merosot jatuh terbalik di atas lantai. Tubuh tegap nan kokoh milik Yudha seketika ambruk begitu saja dengan mudahnya. Yudha kehilangan kesadaran, nafasnya tersengal dengan telapak tangan menekan dadanya yang terasa sakit. Mereka terduduk begitu saja di atas lantai memapah kepala Yudha yang mulai terpejam di bagian bola mata indahnya.
__ADS_1
“Papa!” Santi menangis. Jemarinya menepuk pelan pipi suaminya itu. “Bangun, Pa!” teriaknya lagi.
Yoga mulai panik. Saat dirinya hendak berdiri dan beranjak menelpon ambulan, pintu ruang tamu terbuka. Sosok tubuh tegap dengan rambut sedikit gondrong menatap tajam pada mereka bergantian. Setelah bola matanya berhenti tepat menatap siapa yang tengah sekarat di pangkuan Santi, dia langsung mendorong Yoga dengan cepat.
“Apa yang terjadi sama Papa?” bertanya penuh amarah. “Papa, bangun, Pa!” mengguncang tubuhnya lebih keras.
Yoga berhasil menelpon ambulan, dan setengah jam kemudian ambulan itu berhasil membawa tubuh Yudha ke rumah sakit hanya dengan menempuh jarak sekitar 15 menit saja. Tapi, takdir berkata lain, Yudha sudah di nyatakan tiada saat masih dalam perjalanan menuju rumah sakit.
2 hari setelah pemakaman.
Apa yang terjadi setelah itu? Apalagi selain sebuah pertengkaran yang hebat. Diki yang merasa di tinggal oleh sosok seorang ayah, langsung meluapkan emosinya pada Yoga. Sesampainya di rumah, suasana damai dan tenang pun hilang begitu saja.
“Gara-gara kalian Bokap gue meninggal, dasar pembawa sial!” Racau Diki penuh amarah. Bola matanya terlihat membara menyorot Yoga yang tengah memeluk Santi. Ia tak bisa menahan tangis.
“Pergi kalian dari rumah ini!!” Teriak Diki lagi. Lengannya menjulur menunjuk ke arah pintu keluar. Yang ada dalam benaknya saat ini adalah, mengusir mereka secepatnya, karena dengan melihat mereka akan membuatnya naik pitam. Diki membenci Yoga, tak bisa di pungkiri tentang hal itu. Lalu rasa sayang untuk Santi bagaimana? Sudah lenyap. Ya, itu jawabannya.
“Dasar pembawa sial!” kali ini Oma yang bicara. Amarahnya sudah membara. Apapun yang terjadi pada Yudha, pikir Oma adalah kesalahan Santi dan Yoga.
“Tapi Bu...” Santi mencoba meraih lengan Ibu mertuanya. Tapi sayangnya, tubuh Santi langsung Ia dorong hingga terjengkang.
“Kalian jangan kasar!! Dasar tidak punya perasaan!!” Hardik Yoga setelah berhasil menangkap tubuh Santi.
Ketiganya terlihat memicingkan mata dengan ujung bibir terangkat. Diki maju, tangannya menyeret satu koper lagi, lalu Ia lemparkan di depan Yoga hingga roda koper mengenai ujung ibu jari kakinya.
“Keluarga tak tahu di untung!” seloroh Diki. “Harusnya kalian berterima kasih karena selama ini kami sudah berusaha menerima kalian. Dan sekarang sudah saatnya kalian angkat kaki dari rumah ini. Cepat!!!” Suaranya meninggi di akhir kalimat.
__ADS_1
Diki langsung berbalik. Ia menghadap ke arah lain untuk menahan sesuatu yang hendak mengalir dari balik kelopak matanya. Intan yang mengerti hal itu langsung merangkul pundak Diki.
“Kalian telah menyakiti hati kami, pergi kalian!!!” Teriak Oma dengan lantang hingga menonjolkan otot-otonya di balik kulit keriputnya.
“Baik jika itu mau kalian, kita akan pergi!” Dengan tatapan penuh kebencian, Yoga mengangkat koper dan tas besar yang teronggok di lantai, kemudian merangkul Santi, berbalik dan mulai mengangkat kaki keluar dari rumah mewah ini.
Santi masih menangis. Hatinya terasa perih dan begitu sakit. Siapa yang menyangka, bahwa pernikahan keduanya akan berakhir seperti ini. Ini bahkan terlihat lebih sadis dari pada sebuah sinetron yang sering tayang di layar TV. Santi tak pernah menyangka, kebahagiaan yang baru di mulai seketika lenyap hanya dalam hitungan menit saja.
Menunggu Yoga bisa menerima Yudha sebagai Ayahnya itu bukanlah waktu yang sebentar. Tapi butuh waktu bertahun tahun. Dan setelah semua harapan itu terwujud, ternyata sang penulis skenario alam berkata lain, santi harus kehilangan Yudha dan anak tirinya yang sekarang telah berubah menjadi kejam.
“Sudah Ma, jangan nangis lagi.” Yoga menaruh koper dan tasnya. Kedua tangannya meraih pundak Santi untuk menghadap ke arahnya. “Mereka sudah tak menginginkan kita, jadi lebih baik kita pergi kan? Kita cari tempat tinggal lain, yang lebih nyaman.”
Santi mengangguk. Kedua pipinya sudah terlihat mengering setelah telapak tangan Yoga mengusapnya dengan lembut.
Benar apa yang dikatakan Yoga, ini adalah yang terbaik. Toh selama ini keluarga itu tak menyukai keberadaannya kan? Jadi lebih baik memang menghilang jauh dari mereka.
“Sudahlah Dik...” Intan menepuk pundak Diki yang sekarang sudah terduduk membungkuk di sofa ruang tamu. “Mereka memang pantas untuk di usir.”
Diki memegang kepalanya yang terasa berat. Ia masih kepikiran tentang bagaimana raut wajah Ibu tirinya saat menangis tadi. Diki masih sedikit menyimpan rasa iba padanya. Selama ini Diki mendapat kasih sayang yang berlimpah darinya kan? Mungkin karena itu Diki jadi terdiam seribu bahasa setelah kepergian mereka.
Mungkin Diki membenci Yoga. Ya, itu sudah berlangsung sejak pertama Papa dan Mama Yoga resmi menikah. Tapi Santi? Diki tak tahu. Saat ini dirinya hanya sedang merasa kehilangan, dan yang ada di pikirannya, Ia kehilangan Papanya karena kesalahan Yoga.
Itu kehidupan yang terjadi satu tahun yang lalu. Semua kejadian itu, Yoga dan Santi kenang sampai saat ini. Mereka berdua sudah berpindah tempat, berpindah menjauh sejauh mungkin dari kehidupan Diki. Kabar Diki saat ini, yang mereka tahu adalah, Diki sudah berhasil meneruskan perusahaan Papanya yang di wariskan untuk dirinya. Memang tak ada surat resmi yang mengatasnamakan perusahaan itu menjadi miliknya, tapi Diki anak satu-satunya milik Yudha. Tentu segalah aset milik Yudha akan jatuh di tangan Diki.
Diki mendapat ahli waris yang sah, begitu kata Oma dan Intan selaku saudara dari Diki. Setelah pengusiran Diki terhadap Santi dan Yoga pun, kedua orang itu langsung ikut andil di dalamnya. Termasuk ikut menyemangati Diki untuk mengusir Santi dan Yoga.
__ADS_1
***