Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
35. Ada apa?


__ADS_3

Satu jam sudah, akhirnya Fani pun sampai di kompleks perumahan elit. Begitu masuk, Fani melajukan mobilnya lebih lambat. Kaca mobil sudah di buka, dengan laju mobil yang lambat, bola mata Fani dengan jeli mengamati setiap nomor yang di gantung di pondasi pinggir pintu gerbang.


Nomor 24. Itu yang di kirimkan oleh Moli. Berarti rumah mewah dan besar inilah yang Fani cari-cari. Tanpa menunggu terlalu lama, Fani pun menekan tombol klakson mobilnya beberapa kali.


Pintu gerbang terlihat sudah di tarik seseorang, namun saat Fani hendak melajukan mobilnya untuk masuk ke halaman, tiba-tiba satu orang muncul dan mencegahnya. Ia berdiri tepat di moncong mobil milik Fani.


“Ada apa sih?!” tanya Fani heran. Ia langsung menyembulkan kepalanya lewat jendela mobil yang terbuka.


Seorang pria berkulit coklat dengan kumis tipis di atas bibir, mendekat. Dengan baju kemeja berlengan pendek, tentu nampak jelas garis-garis otot yang menyembul di sana. Melihat itu, membuat Fani sampai menelan salivanya karena sedikit merasa takut.


“Maaf, anda siapa, Nona?” tanya pria itu, tanpa peduli bahwa tatapan matanya membuat seorang wanita di dalam mobil merinding ketakutan.


Setelah menelan ludah kembali, Fani berkedip sekali lalu mulai menggerakkan bibirnya yang terasa kelu. “A-aku... a-aku temannya Moli. Iya....” begitu jawab Fani dengan terbata-bata.


Pria itu menoleh pada temannya yang masih sigap berdiri di samping pintu gerbang. Setelah mendapat kedipan dan gelengan kepala darinya, pria yang tengah berdiri di dekat Fani langsung mengangguk pelan. Kini pandangannya sudah beralih lagi menghadap ke arah Fani.


“Maaf Nona, anda tidak diijinkan masuk.”


Sontak jawaban itu membuat Fani terheran-heran. “Kenapa? Apa ada yang salah? Saya itu temennya Moli.” Kedua alis Fani sudah bertautan.


“Intinya, anda tidak boleh masuk.” Dan begitulah ucapan pria itu sebelum akhirnya pintu gerbang di tutup lagi.


“Ini kenapa? Kok gue nggak dibolehin masuk?” tanya Fani yang mulai merasa ada yang janggal.


Fani sudah menutup kembali kaca mobilnya. Di dalam mobil, Fani tak berhenti bertanya pada udara. Bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam sana. Ini sangat mencurigakan! Moli menangis, lalu dirinya yang notabenya adalah seorang teman pun tak diijinkan masuk ke dalam.

__ADS_1


“Oh iya!” Fani mengangkat kedua alis bersamaan. “Gue coba telpon Moli aja.” Fani menggeser layar ponsel dan langsung menelpon Moli begitu nomor Moli sudah di temukan.


“Halo!” Suara Fani langsung meninggi. Sementara si penerima telpon belum menjawab dengan suaranya. Tapi, telinga Fani bisa menangkap suara lirih dari isakan hidung Moli.


“Halo, Fan...,” suaranya terdengar parau. “Kok elo belum dateng sih?! Gue udah dari tadi nungguin elo tahu!”


“Ck! Gue udah di depan rumah elo, tapi gue nggak diijinin masuk.”


Begitu mendengar jawaban Fani, Moli yang semula meringkuk langsung duduk tertegak. “Serius?!” tanya Moli meyakinkan.


“Iya lah! Gue udah di depan rumah elo, ini!”


Sontak Moli langsung merangkak turun dari ranjang, berlari menuju balkon. Begitu pintu di buka, Moli langsung bergegas melangkah ke tepi balkon. Dengan ponsel yang masih menempel di telinganya, pandangan Moli langsung tertuju ke bawah dimana mobil Fani menepi.


Di bawah sana, Fani sudah turun dari mobil. Ketika mendengar panggilan seru dari Moli, Fani pun langsung celingukan.


Fani langsung mendongak. “Hei! Turun!” Fani berteriak sambil menutup kening dengan telapak tangan karena silau.


“Gue nggak di ijinin masuk. Elo turun!” teriaknya lagi.


Otomatis Moli langsung berkerut dahi heran. Ia langsung teringat beberapa orang pribadi papanya yang sedang bergentayangan di lantai bawah. Mungkin Fani di larang masuk oleh mereka. Pasti itu.


Moli mematikan ponsel. “ Tungguin! Gue turun.” Teriak Moli dan setelah itu langsung berbalik menuju lantai satu.


Begitu langkah kaki Moli sampai di anak tangga terakhir, jantung Moli seketika terasa berhenti. Tangan kanannya sudah mendarat menekan dadanya bersamaan dengan mulutnya yang terbuka. Sementara bola mata cantiknya nanar seperti akan berair.

__ADS_1


“A-apa ini?” tanya Moli dalam keterkejutannya. Saat ini bola matanya telah menangkap satu pemandangan yang sangat menakjubkan. Harusnya sangat indah jika di pandang mata, hati mungkin juga akan ikut tersenyum merayakan.


Tapi, ini apa? Sebuah dekorasi mewah nan megah sudah tertata rapi di ruang utama istana milik Gibran. Kaki Moli serasa melemas seperti tak bertulang. Inikah indahnya dekorasi mewah sebuah pernikahan? Hanya dalam waktu empat jam saja, ruangan ini sudah berubah di hiasi bunga dan tirai-tirai gemerlap. Sebuah meja persegi dengan sajadah warna hijau pun sudah siap tersedia di atas karpet oren. Itukah tempat untuk melasungkan ijab kobul?


Moli sungguh terhenyak. Besok, iya besok. Moli akan segera di persunting seorang pria. Seketika tubuh Moli merosot hingga terduduk dengan lutut mendarat terlebih dahulu.


“Moli! Kamu lagi ngapain?” Mareta yang tiba-tiba muncul sontak berjongkok sambil meraih kedua pundak Moli.


“Ma...,” ucapnya lirih. “Moli nggak mau nikah, Ma. Ini namanya pemaksaan!” Moli menangis lagi, bahkan ia sampai melupakan temannya sendiri yang sedang menunggu di depan rumahnya.


“Nggak usah cengeng!” hardik Gibran tiba-tiba. Ia seolah tak peduli bagaimana menderitanya Moli saat ini.


“Harusnya kamu bersyukur! Karena papa, kamu bisa menikah dengan pria tampan dan mapan.”


Moli mengepalkan kedua tangannya bersamaan giginya yang saling mengerat. Setelah membuang napas, Moli langsung berdiri. Matanya lurus menatap ke arah Gibran yang juga menatap nya.


“Papa kira Moli udah nggak laku ya?” Matanya memicing dengan kepala menengadah menantang. “Aku ini punya masih punya tampang, tak perlu di jodoh-jodohkan, aku juga bisa cari pria tampan dan mapan. Nggak perlu bantuan papa.”


Plak! Satu tamparan mendarat kasar di pipi Moli. Moli kembali memicing. Kali ini dengan di ikuti matanya yang sembab dan berair.


“Inikan yang bisa papa lakuin untuk Moli? Menggertak, membentak dan menampar.” Moli mengangkat ujung bibirnya sambil mendengus. “Begitulah papa...” imbuhnya lagi di ikuti tatapan sengit.


Gibran terlihat sudah mengangkat tangannya lagi, tapi buru-buru langsung di tepis Mareta dengan cara merangkul Moli.


“Cukup, Pa!” Mareta menoleh dengan posisi masih merangkul memegang kedua pundak Moli.

__ADS_1


“Aku mohon, berhenti menampar Moli! Papa terlihat seperti pria yang nggak punya wibawa sama sekali. Cukup dan jangan di terusin lagi!” Mareta membuang muka lalu menuntun Moli naik ke atas menuju kamar.


Di tempatnya berdiri, Gibran hanya diam terpaku dengan kedua tangan masih berada di pinggang. Untung saja para penata ruangan ini sudah pergi sedari tadi, sepertinya hanya ada ke dua orang pribadinya yang menguping di balik tirai menuju ruang tengah.


__ADS_2