Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
Tigabelas


__ADS_3

Pagi ini kelas kosong. Entah kemana guru yang seharusnya mengajar di jam awal. Mungkin bangun kesiangan. Heheh. Doni menyikut Yoga yang sedang membaca buku sejarah. Kakinya terangkat dengan tangan menyangga dagu. “Eh sob! Gue tanya sekali lagi. Beruang yang kemarin lo beli sebenarnya mau buat siapa sih?”


“Lo serius punya pacar? Sejak kapan? Diem diem bae.”


“Siapa bilang gue punya pacar.” jawabnya tanpa menoleh.


“So? Itu buat siapa? Nggak mungkin buat Diki kan?” Doni terkekeh. “Masa iya cowok mau main Boneka, kan nggak lucu.”


Yoga mendengus kemudian menutup buku bacaannya. Menurunkan kakinya menatap Doni serius dengan tangannya memegang ke dua pundak Doni. Doni menelan ludah melihat tatapan serius itu.


“Nanti juga lo bakal tau.”


Doni ternganga dengan mata membulat. Maksudnya apa ngomong gitu. Bikin senewen kan? “Brengsek! Gue udah serius ****!!”


Yoga tertawa melihat wajah Doni yang masih kebingungan. Emang jahil si Yoga. Kan kasihan Diki nya. Jadi melongo gitu kan? Salah sendiri banyak tanya. Ya kan?


16.30 WIB


“Assalamualaikum...”


“Waalaikumsalam...”


Pintu depan terbuka. Yoga berdiri di teras rumah Moli dengan membawa satu kantung keresek cemilan. Ia masih memakai seragam sekolah lengkap.


“Den Yoga, silakan masuk.”


Sebelum masuk Yoga melepas sepatu dan kaos kaki kemudian diletakan di rak sepatu yang terletak di teras. “Aku nginep sini ya mbok.”


“Boleh, tapi udah ijin kan sama non Moli dan orang tua den Yoga.”


“Udah kok,” jawabnya bohong.


“Ya udah silahkan, bibi tinggal ke dapur ya, mau masak buat makan malam.”


“Oke...”


Tanpa sungkan Yoga langsung menuju ke kamar Moli di lantai dua. Perlahan membuka pintu, aroma harum tercium menusuk hidung. Ditaruhnya tas dan cemilan yang sebelumnya ia bawa di atas meja rias. “Wangi.”


Yoga melepas jaket yang menutupi baju seragamnya di atas ranjang kemudian ia berbaring terlentang membayangkan sosok bidadari cantiknya yang sekarang sedang jauh di kota seberang.


“Gue video call kali ya,”


Yoga mengambil ponsel di dalam jaket nya. Mencari kontak Moli.


“Halo... ada apa Ga?”


Suara dari balik layar ponsel. Sepertinya Moli sedang ada di pusat perbelanjaan. Terlihat di belakang nya ada beberapa kios yang berbaris yang berbaris disana.


“Kangen.”


Mia yang berdiri disampingnya menoleh, memicingkan mata. Siapakah gerangan yang bilang kangen itu? Diki? Tentu saja bukan. Mia menyikut lengan Moli hingga ponselnya hampir terjatuh. “Siapa sih?”


“Sialan! Jatuh mati deh!” Moli membenarkan posisi ponselnya yang sempat miring.


“Yoga.”


Mia manggut manggut. Kemudian berjalan lebih cepat meninggalkan Moli yang masih VC sama Yoga. “Gue duluan.”


“Ga! Lo lagi di kamar gue ya?!” Moli membulatkan mata. Mempertajam penglihatannya pada layar ponsel. “Ngapain disitu?”


Yoga nyengir. “Mau nginep disini, boleh kan?”


Ck! Ini anak mulai berani. Tapi Moli sendiri tak mempermasalahkan nya sih. Toh Yoga sudah di anggap nya seperti adik sendiri. Biarlah dia mau berbuat apa, selama tak merugikan why not?.


“Elo tuh yah, nggak ijin masuk gitu aja.” Moli mengepalkan tangannya mendekati layar ponsel. “Udah dulu... tugas gue belum selesai. Awas kalau kamar gue sampai berantakan!”


“Bawel!”


Tut... sambungan terputus. Moli mendesah di ikuti dengan senyuman. Lalu memasukkan ponsel ke dalam hand bag nya dan berlanjut mencari seorang turis untuk di ajaknya ngobrol bareng. Untungnya sih, Moli jago bahasa inggris. Jadi kalau soal di suruh percakapan doang mah gampang kali. Moli melenggokkan tubuh nya berjalan mencari Mia yang sudah menghilang sekitar 5 menit yang lalu.


“Woy! gue cariin juga.”

__ADS_1


Semprot Moli ketika menjumpai Mia sedang duduk di depan sebuah kafe. Wajahnya fokus menatap layar laptop yang tergeletak di atas Meja bundar. Moli duduk memangku tas kecilnya menyangga pipi dengan kedua tangannya di atas meja. “Ngapain sih? Udah dapat bule?”


Mia menggeleng. “Belum, nggak ada yang cocok.”


Ck! Dia kira mau cari bule yang seperti apa? Di Bali banyak woy! Lo keluar beberapa langkah juga bakal langsung ketemu tuh Bule. Bisa bisa nya si Mia bilang nggak ada yang cocok. Mau cari jodoh keles. “Lo mah aneh!” Moli menjitak kepala Mia.


“Eh Mol.” Mia menoleh menggeser kursinya menghadap Moli yang sedang memainkan kuku panjangnya. “Lo kok akhir akhir ini jarang banget jalan sama Diki? Belum putus kan?”


Desahan lirih terdengar dari mulut Moli. Mengusap wajahnya berusaha membuang bayangan samar yang sepertinya kini semakin nyata. Ia sendiri sudah mulai bingung dengan hubungan ini. Siapa sangka hubungan awal yang dipenuhi cinta rasanya kini seperti jauh tak memihak kepadanya. Moli ingat betul dimana saat Diki menembak nya di belakang gedung sekolah. Ia membawa seikat bunga kemudian berkata Aku cinta kamu dengan begitu mudahnya. Janji yang pernah dilontarkan pun masih di ingat sampai sekarang.


“Gue bingung Ia, entah kenapa gue malas aja buat ketemu Diki.” Hembusan nafas keluar dari mulutnya. Ia menelungkupkan wajahnya di atas meja dengan ditutup kedua tangannya. “Gue nggak suka ada si Lia, gue benci sama dia.”


Mia mengusap rambut Moli dengan lembut. Inilah yang membuat Mia malas berpacaran. Ia lebih memilih menyibukkan diri dengan latihan karate. Pacaran hanya akan membuat hidupnya penuh drama dan bayangan tangis jika sesekali ada pertengkaran. “Udah jalanin aja, kalau emang masih suka, anggap aja si Lia sebagai pertempuran awal.”


Moli mendongak. “Tapi gue nggak suka pertempuran, sakit!”


“Hmmm, jalanin aja dulu, jangan gampang menyerah kalau masih suka.”


“Ya elah, kaya udah pernah pacaran aja.” kekeh Moli yang di balas lirikan tajam dari Mia.


****


Tiga hari berlalu...


Rombongan wisata sudah sampai di sekolahan. Moli yang sudah kelelahan memilih duduk di teras lantai satu di depan kelas XB. Kakinya di selonjorkan matanya memandang ke kerumunan siswa yang baru saja keluar dari Bus paling akhir. Samar samar matanya melihat Lia sedang berjalan dengan menggandeng tangan Diki. Moli menyipitkan mata karena silau dari pancaran sinar matahari, satu telapak tangannya melebar di atas dahi memastikan apakah yang di lihatnya itu nyata ataukah hanya halusinasi.


“Diki? Sama Lia?”


Benar adanya, Itu adalah Lia dan Diki. Mereka terlihat sedang mengobrol. Sepertinya memang tak ada jarak di antara mereka. Sebenarnya Lia itu teman lama atau kekasih yang pernah ditinggalkan. Moli mengepalkan ke dua tangannya. Amarahnya memuncak ketika melihat Diki menggendong Lia di pungggungnya. Ia berdiri menatap mereka tajam. Sepertinya mereka memang tak punya urat malu. Bisa bisanya bermanja manja-an di area sekolahan. Dan lagi apakah Diki buta hingga tak melihat Moli yang sedari tadi meliriknya.


Kakinya mulai melangkah menghampiri mereka. Namun di cegah oleh Mia yang sepertinya sudah tahu apa yang akan di perbuat Moli. Sebelum nya Lia sempat meliriknya dengan senyum sinisnya. Itulah yang membuat Moli ingin langsung menghampiri mereka.


“Sabar Mol, ini masih di sekolah,biarin mereka mau ngapain.”


Mia memegang kedua pundak Moli berusaha menahan amarahnya. “Kita pulang yuk.”


Moli mengangguk mengatur nafasnya yang sudah naik turun tak karuan. Untung saja Mia datang tepat waktu. Jikalau saja telat satu detik saja, kemungkinan Moli sudah ngibrit menghajar si Lia yang benar benar kegatelan.


“Ingat Mol, ini masih area sekolahan, lo mau kena masalah?”


“Bener juga lo.”


Perasaannya sedikit plong ketika Ia sudah mencium aroma pengharum ruang di kamarnya. Ia sangat merindukan ruangan yang setia mendengarkan keluh kesahnya. Di kamar ini lah Ia lebih sering menghabiskan waktunya di temani kekosongan yang sudah menjalar di tubuhnya. “Gue benci sama kalian berdua!” teriaknya sebelum matanya terpejam menembus mimpi yang tak pernah bisa di jelaskan ketika terbangun.


“Assalamualaikum...”


“Waalaikumsalam... udah pulang?”Santi menghampiri Diki dan Lia yang baru saja sampai rumah.


Lia tersenyum. “Maaf tante, Lia mampir kesini dulu.”


“Nggak papa, istirahat dulu aja.”


Diki dan Lia langsung menuju ruang tengah untuk istirahat. TV sudah menyala sementara di meja ada beberapa cemilan dan satu gelas jus jambu yang tinggal setengah.


“Wah! Boneka siapa nih, lucu banget, besar lagi.”


Mia meletakkan kopernya emudian menghampiri boneka beruang yang sedang berbaring di sova ruang TV. Diki yang sedang duduk di karpet lantai menoleh melirik sekilas boneka kuning itu.


“Boneka siapa itu Ma?”Tanya Diki pada Santi yang sedang memasak di dapur.


“Apa Dik?”


“Itu boneka beruang siapa?”


Lia mengangkat boneka besar itu seraya memeluknya. Apakah ini boneka dari Diki untuknya? Lalu kenapa Diki bertanya ini punya siapa?


“Oh itu... punya si Yoga.”


Lia menelan ludahnya sendiri, kemudian menaruh si beruang besar itu pada tempat semula. “Jadi ini punya Yoga.”


Diki melengos. Setelah tahu siapa pemilik boneka kuning itu. Ia sungguh tak peduli pada hal yang bersangkutan dengan Yoga. Tapi lain halnya jika Dia tahu siapa kah pemilik selanjutnya dari Boneka itu. Mungkin saja Ia bisa membunuh beruang itu sebelum berpindah tangan.

__ADS_1


Dengan langkah terburu Yoga erjalan menuruni anak tangga. Hari ini Ia terlihat begitu dewasa, Yoga memakai kaos berwarna biru dengan celana jeans panjang. Ada jaket kulit yang berbalut menutupi bagian dari belakang bajunya. Perfec!


“Yoga pergi dulu Ma.”


Teriaknya pada Santi yang masih bertempur di dapur. Tanpa memperdulikan kehadiran Diki dan Lia, Yoga langsung membopong boneka besar itu dan berlalu meninggalkan mereka.


Dari balik helm Yoga tersenyum sendiri. Mata nya lurus menatap jalan yang trus Ia telusuri menuju rumah Moli. Boneka besar nya Ia ikat di jok belakang motor menghadap ke punggungnya.


Bayangan wajah Moli semakin terngiang menembus otaknya. Ia tak bisa bayangkan seterkejut apa nanti setelah Moli melihat si beruang besar ini. Bukankah Dia akan menyukainya?


Memang tak akan ada yang tahu jika menyangkut perasaan. Cinta contohnya...


“Mbok, ini cemilan siapa? Ada di kamar aku.” tanya Moli pada si Mbok yang sedang menyetrika pakaian di kamar belakang.


“Punya den Yoga mungkin, dua hari yang lalu kan Dia nginep disini Non.”


Moli bergeming memutar mutar kantung keresek berisikan cemilan itu. “Bisa jadi.”


Ting tong...


Moli menoleh pada pintu coklat disisi depan


rumahnya. Menaruh cemilan itu di atas meja. “Siapa sih, nggak tahu orang lagi capek apa!” Moli menghampiri siapa gerangan yang bertamu ke rumahnya.


Siapa sangka Ini akan menjadi kejutan untuk Moli. Pintu itu terbuka perlahan, seseorang tengah berdiri dengan beruang besar menutupi kepala dan separuh badannya. Moli membulatkan mata dengan mulut melongo di tutup kedua telapak tangannya.


“Surprise!” ucap suara dari balik beruang.


Kemudian menampakkan wajahnya dengan senyum tersungging di bibirnya.


Tak bisa di percaya, ternyata Yoga menanggapi serius permintaannya waktu itu. Sebenarnya Ia tak serius membuat permintaan itu. Moli masih terdiam seribu bahasa menatap beruang besar itu. Sebaik ini kah Dia? Kenapa juga harus bersusah payah menuruti keinginannya? Senyum nya melebar dengan mata tertuju pada wajah pria yang akhir akhir ini selalu mengisi ruangnya yang kosong.


“Yoga.”


Moli memeluk boneka itu dengan erat. Ada butiran air yang keluar melintasi pipi nya lembut. “Makasih.”


Yoga mendesah dengan mata yang tak lepas dari pandangannya. Seperti inikah rasanya bisa membuat orang menangis karena bahagia? Jika seperti ini hasilnya, bahkan mencari sekuncup bunga angrek di tengah hutan basah pun akan Ia lakukan. Bahkan lebih sulit dari itu sekali pun.


“Jadi Cuma beruang itu yang di peluk nih?”


Yoga menyedakepkan kedua tangannya dengan alis mata terangkat. Senyumnya tak lepas dari bibirnya melihat gadis itu memeluk erat si beruang yang sempat membuat nya frustrasi. Tak apalah jika hasilnya tak mengecewakan.


“Sini gue peluk... tapi bo-ong!”


Moli menjulurkan lidah meninggalkan Yoga yang masih berdiri dengan bibir monyongnya.


Moli tak hentinya memeluk dan menciumi Boneka itu. Yoga yang duduk disampingnya hanya tertawa geli. “Cemburu deh gue... mau juga kali di peluk...” cerocos Yoga yang hendak menyalakan rokok yang sebelumnya Ia ambil dari saku jaketnya.


Tanpa berkata Moli langsung berhambur memeluk Yoga hingga rokok yang di pegang terpental jatuh ke lantai. “Makasih, adekku sayang, makasih.” satu kecupan mendarat di kedua pipi dan jidat Yoga.


Yoga terdiam, tak ada reaksi. Masihkah bidadari ini menganggapnya hanya sebagai seorang adik lelakinya? Bolehkah jika berharap lebih? Bukankah tak ada yang tak mungkin? Pandangannya kosong, kecupan itu bukanlah di maksudkan dengan kategori untuk tercinta. Namun hanya untuk sekedar suka. Betulkah begitu? Yoga memejamkan matanya erat, membuang bayangan harapan akan dirinya pada bidadari yang kini sedang mendekapnya.


“Iya sama sama.” ucapnya setelah lamunan itu menghilang.


Moli kembali terduduk. Dengan tangan yang tak henti memainkan beruang itu. “Ngomong ngomong lo dapet di mana bonekanya?”


“Nggak usah tanya deh,” saur Yoga yang memungut rokoknya yang terlempar tadi.


“Nyusahin tuh boneka.”


“Masih bocah udah ngerokok, sayang tuh badan!”


Yoga mendengus menyulut rokok itu dengan menyenderkan punggungnya di Sova. “Gue udah ge-de, bisa nggak si jangan panggil bocah?”


Tawa Moli meledak mendengar ocehan Yoga.


“Iya... iya...”. tawanya semakin menjadi hingga membuat Yoga sedikit jengkel. Wajahnya di tekuk tanpa berpaling dari rokok yang masih berasap.


Jika diriku memang belum dewasa, apakah salah seandainya aku menaruh hati pada diri mu yang mungkin sudah berselancar lebih jauh atas nama cinta. Raga dan hati mu mungkin milik yang lain. Tapi setidaknya ijinkan aku selalu melihat tawamu walau itu sedikit menusuk jiwaku.


***

__ADS_1


__ADS_2