
“Ma!” panggil Yoga. “Kira-kira keadaan kak Moli gimana ya?” karena terlalu khawatir, Yoga jadi tidak selera makan. Nasi di atas piring bahkan cuma beberapa sendok saja yang berhasil masuk ke dalam mulutnya.
Santi tahu betul perasaan Yoga saat ini. Moli adalah cinta pertamanya, Yoga sudah pernah berjanji akan selalu mencintainya apapun yang terjadi. Harapannya, suatu saat jika sudah menjadi orang sukses, Yoga akan segera melamar Moli. Terdengar seperti sebuah mimpi milik anak kecil memang, tapi begitulah janji Yoga.
“Kamu tenang aja... Moli pasti baik-baik aja kok.” Santi mencoba menenangkan. “Udah kamu makan aja, keburu dingin nanti.”
Yoga akhirnya mendesah. Selama di sekolah tadi, bahkan Yoga sama sekali tak memperhatikan pelajaran dari gurunya. Yang ada di otaknya hanya ada bayangan wajah Moli. Keadaan Moli kemarin begitu memprihatinkan, Yoga pun sampai detik ini masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Moli kemarin. Bagaimana Moli bisa pingsan di halaman rumahlah yang membuat Yoga begitu penasaran.
Sebenarnya apa yang terjadi selama dirinya jauh dari Moli. Ada cerita apa di balik semua ini?
“Ma, aku masuk kamar dulu.”
“Habiskan dulu makan siangnya.”
Yoga tak menjawab, ia buru-buru masuk ke dalam kamar. Sesampainya di kamar, secepat kilat Yoga langsung melucuti seragam sekolahnya, kemudian berganti pakaian tanpa mandi terlebih dulu. Pokonya siang ini harus bisa menemui kak Moli. Begitu kata Yoga.
Tunggu! Tapi dimana Yoga menemukan Moli? Alamat rumahnya yang sekarang pun Yoga tak tahu.
“Ah sial!” Yoga ambruk begitu saja di atas ranjang. “Gue kan nggak tahu rumah kak Moli... gimana dong? Aaa!!! Sial... sial!” Yoga memukuli kasur dengan kedua tangannya.
Kalau Cuma diam saja begini, juga nggak akan menemukan jawabannya kan? Dengan memantapkan hati, Yoga akhirnya bangun, meraih kunci motornya lalu dengan cepat keluar dari kamar.
“Aku pamit keluar, Ma.” Yoga mencium pipi Santi. Setelahnya, Yoga langsung ngibrit lari keluar rumah.
“Mau kemana, Ga?” belum mendapat jawaban, Yoga sudah kabur naik motornya.
“Yoga... Yoga.” Santi menyentuh dadanya. “Kamu kan belum pulih... kenapa malah keluar rumah? naik motor lagi.” Santi terlihat khawatir.
Motornya sudah melaju di jalanan dengan kecepatan sedang. Tujuannya hanya mencari Moli, tapi dimana? Yoga sama sekali tak tahu. Di pikirannya saat ini hanya terus melaju dengan tujuan berharap bisa bertemu dengan Moli lagi. Pertemuan kemarin itu sangat singkat, hingga Yoga belum bisa menghilangkan rada rindunya. Bertahun-tahun tidak bertemu, dan sialnya Yoga hingga hilang ingatan tentang Moli. Hal itu sungguh membuatnya merasa bersalah.
“Dimana gue bisa ketemu sama kak Moli? Nggak ada yang bisa gue tanya atau hubungi...” gumam Yoga ketika motornya sudah menepi di depan sebuah kafe.
Yoga duduk di atas jok motornya sambil terus berpikir keras. Barang kali ada keajaiban yang membuatnya berhasil bertemu dengan Moli.
“Ya!” ucap Yoga seketika. “Gue tahu dimana harus bertemu kak Moli... di gedung itu.” Yoga kembali ke posisi siap meluncur, memutar kontak motor, lalu dengan cepat motor itu sudah melesat.
Mungkin hanya di tempat itu, Yoga bisa menemukan Moli. Meskipun harapan bertemu dengannya tidak memenuhi 100%, tapi tak ada salahnya mencoba pergi kesana. Hanya itu tempat yang Yoga tahu.
__ADS_1
Sesampainya disana, Yoga langsung menepikan motornya sembarang. Setelah masuk ke dalam gedung, Yoga berdiri sambil menarik napas di depan anak tangga yang menjulang tinggi ke atas. Napasnya sudah berhembus. Yoga pun langsung berlari menaiki anak tangga dengan bibir yang terus bergumam sesuatu. Mungkin berdoa supaya wanita yang sedang di carinya ada disana.
Dan benar saja, begitu kaki kanannya menginjak anak tangga yang terakhir, Yoga melihat ada seorang wanita berambut panjang yang sedang duduk dengan kaki menjuntai di dekat tepi atap gedung.
“Kak Moli!” panggil Yoga. Benar saja, itu adalah Moli. Terlihat Moli langsung menoleh.
“Yoga?!” Moli bergegas berdiri. “Yoga...” Panggilnya lagi sambil berlari menghampiri Yoga. Moli sudah menghambur memeluk Yoga.
“Kok elo bisa disini?” tanya Moli tanpa melonggarkan pelukannya. “Rencananya gue mau ke rumah elo, tahu.”
Pelukan sudah terlepas. Yoga mendaratkan satu tangan di pinggul Moli dan satu tangannya lagi mengusap pipi Moli. “Gue khawatir sama kak Moli. Karena gue nggak tahu rumah kak Moli, jadi gue kesini deh.”
Moli mundur sedikit. Wajahnya berubah masam. Pandangannya pun sudah beralih ke tempat lain. “Nggak usah ke rumah gue...” ucap Moli lirih.
“Kenapa?” Yoga mendekat.
“Elo nggak inget sama apa yang pernah Bokap gue lakuin sama elo?” Moli menatap sendu pada Yoga. Ia juga merasa bersalah atas apa yang pernah terjadi pada Yoga dimasa lalu.
“Gue inget kok...” Yoga berdiri menjejeri Moli. Matanya lurus menatap ke depan. “Gue inget banget malah.”
Yoga tersenyum. “Terus... apa hubungan kita akan sembunyi-sembunyi? Nggak kan?”
“Nggak lah!” Moli mengibaskan genggaman tangannya. Kini kedua tangannya terlipat di depan dada. “Buat apa sembunyi-sembunyi? Ini kan soal perasaan gue, jadi terserah gue dong!”
“Tapi Bokap kak Moli benci gue... gue harus gimana?”
“Kita bertahan dulu seperti ini... nanti gue bicarakan lagi sama papa. Gue nggak mau terus-terusan nurutin kemauan papa. Capek!”
“Tapi nggak baik ngelawan orang tua...”
Moli melerok tajam. “Oh... jadi elo maunya gue nurut sama papa, terus gue bersedia dijodohin? Iya gitu maksud lo?” suara Moli meninggi.
“Ya bukan gitu maksudnya...”
“Terus apa? jangan-jangan elo udah nggak sayang lagi sama gue ya? Oh iya... elo kan udah punya pacar baru kan ya?” seloroh Moli sambil mencibir.
“Nggak gitu...” Yoga mencoba meraih lengan Moli, tapi langsung di tepis. “Ih! Dengerin dulu!”
__ADS_1
“Halah! Bilang aja elo udah pindah hati. Ngaku aja deh!” terka Mona lagi.
Yoga langsung berdecak keras, kedua tangannya langsung meraih pundak Moli, dan memutar tubuh Moli menghadap ke arah dirinya. Kini tangannya sudah beralih melingkar di tengkuk Moli. Wajahnya maju semakin mendekat.
Cup!
Satu kecupan ringan menyentuh bibir lembut milik Moli. Bola mata Moli seketika membulat, tubuhnya tiba-tiba menegang. Sudah berapa lama bibir Moli tak mendapat sentuhan bibir Yoga? Terakhir kali, itu terjadi sebelum Moli pindah ke luar negeri. Itu yang di ingat Moli.
Ciuman tanpa reaksi itu sudah terlepas. Moli terlihat menggigit bibir bawahnya. Kepalanya mendongak masih menatap bola mata milik Yoga. Dulu, Moli tak perlu bersusah payah jika harus melihat wajah Yoga, tapi kini dengan tinggi Yoga yang sudah jauh melebihi Moli, tentu membuat Moli harus sedikit berjinjit dan mendongak ke atas.
“Gue nggak akan pernah jatuh cinta sama orang lain... tentang Sarah, itu udah lain ceritanya... jadi stop bilang kalau gue udah nggak sayang lagi sama kak Moli.” Yoga menjelaskan apa yang ada di dalam hatinya.
“Barang kali kak Moli yang udah pindah ke lain hati...” Sekarang gantian Yoga yang merengut. “Udah punya calon suami kan? Terus gue di kemanain?”
“Yoga!!” Bentak Moli dengan hentakkan kaki keras. “Elo jahat!” pindah memukul dada Yoga.
Eh!
Yoga terhenyak. Bukan karena pukulan dan teriakan Moli, akan tetapi Yoga terkejut karena tiba-tiba saja mata Moli langsung banjir air mata.
“Elo jahat, Ga!” Memukul Yoga lagi.
“Yah... kok nangis sih? Gue nggak bermaksud... serius deh!” Yoga membungkuk, telapak tangannya mengusap pipi Moli.
“Lepasin!!” Moli mendorong tubuh Yoga, tapi bukannya Yoga yang mundur, justru dirinyalah yang hampir terpental.
“Eh, kak Moli!” Yoga berhasil meraih tangan Moli.
“Lepasin, ih!” bentak Moli lagi.
“Maaf... gue nggak ada maksud.”
“Elo tahu nggak, Ga?” Moli berucap tanpa menoleh ke arah Yoga. “Selama kita terpisah, nggak sedikitpun gue nggak keinget sama elo... dan apa elo tahu gimana tersiksanya gue waktu itu??” Moli melirik sekilas ke arah Yoga. Sementara di posisinya, Yoga hanya diam mendengarkan ucapan Moli.
Seharusnya Yoga juga mengerti posisi Moli. Selama dirinya hilang ingatan, tentu Yoga tak pernah tahu bagaimana kabar Moli. Bagaimana mau tahu? Mengingatnya saja tidak.
***
__ADS_1