Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
Sembilanbelas


__ADS_3

Setengah jam kemudian Moli sudah sampai di depan rumahnya. Di teras depan sudah ada Yoga yang sedang baca koran pagi yang biasanya di selipkan pak Ujang di bawah meja bundar yang terletak di lantai depan. Ia belum menyadari kedatangan Moli, matanya mantap menatap tulisan kecil yang berbaris menjelaskan sebuah berita tentang pencabulan. Yah, memang di jaman sekarang ini harus lebih berhati hati. Khususnya untuk para kaum wanita yang biasanya lebih sering jadi sasaran lelaki biadab.


“Dor!!”


Moli menghentakkan kedua kakinya secara bersamaan tepat di depan Yoga. Yoga hanya mendesah sepertinya Dia tak begitu terkejut. Moli yang kelelahan memilih duduk dengan kaki selonjor di lantai.


“Udah lama Ga?”


“Udah.”


“Kenapa nggak masuk?”


“Udah.”


Bibir nya mengerucut. Kadang suka bikin kesel juga nih Anak. Moli menimpuk kaki Yoga yang terangkat pada satu kaki sebelah kiri.


“Menyebalkan!”


“Kenapa?”


“Nggak papa.”


Moli lebih memilih masuk kedalam rumah meninggalkan Yoga yang bersikap ketus padanya. Yoga terkekeh. “Lucu emang kalau lagi ngambek.”


“Cie yang suka ngambekan.”


Yoga mengikuti langkah Moli menuju dapur untuk mengambil minum.


“Maafin deh, bercanda kok.”


Kedua tangannya melingkar di pinggangnya dengan dagu tertempel pada pundak sebelah kanan Moli. “Jelek lho kalau lagi ngambek...”


Bisikan lirih itu membuat badannya merinding karena terlalu dekat dengan telinga dan lehernya yang termasuk bagian sensitifnya.


“Geli Ga, was ah!”


“Nggak mau.”


“Manja banget! Udah awas.”


Pelukan itu terlepas dari badannya. Wajah cantiknya masih cuek karena perlakuan Yoga tadi. Moli berjalan menuju kamarnya dan Yoga mengikuti dari belakang. Marah beneran nih cewek!


“Ih kak Moli kok gitu, marah beneran ya. gue pulang aja deh.”


“Bodo!!”


“Ih kak Moli mah, jangan gitu.”


Sikap manja Yoga sebenarnya hampir membuat tawa Moli meluber. Wajah tampannya begitu menggemaskan ketika sedang merengek seperti itu. Moli sedikit menggigit bibir nya supaya tawa itu tak terlepas keluar mulutnya. Wajahnya masih serius dan acuh pada Yoga yang terus mengikuti langkahnya kemana pergi.


“Gue mau mandi, mau ikut juga?” Semprot Moli setengah melotot.


“Mau. kalau di ijinin.”


“Dasar!!” udah nunggu sana!”


Terpaksa Yoga duduk di pinggir ranjang menunggu Moli selesai yang sedang mandi.


Yoga menoleh ketika mendengar suara notifikasi dari ponsel yang tergeletak di atas meja belajar. Yoga berdiri, di geser layar ponsel itu. Ada 15 pemperitahuan pesan whatapp dari Diki yang belum di buka oleh Moli. Masih marahan barangkali mereka.


“Allahuakbar!”


Ucap Yoga ketika ponsel yang hendak di letakkan di atas meja tiba tiba berbunyi tanda sebuah panggilan dari Diki.


“Sialan! Bikin kaget aja.”


“Telpon dari siapa Ga?” teriak Moli dari kamar mandi.


“Pacar.”


Moli keluar dengan handuk putih yang terlilit di tubuhnya. Mungkin Dia tidak sadar jika ada seorang lelaki di dalam kamarnya. Dengan langkah santai Moli berjalan mendekati Yoga yang sedang memegang ponselnya itu. Nafas


Yoga tertahan dengan ludah tertelan karena kemolekan tubuh Moli yang hanya berbalut handuk.


Jantungnya berdegup begitu cepat. Bisa berabe nih kalau posisi Yoga adalah orang lain. Atau mungkin jika saat itu yang ada di posisinya adalah Diki. Yoga bergidik lalu melemparkan pandangannya ke tempat lain.


Sementara Moli dengan cuek nya duduk di pinggir ranjang tak peduli dengan gejolak darah Yoga yang semakin berkecamuk.


“Sialan nih Cewek! Bisa khilaf gue...!” gumam nya lirih kemudian berjalan menuju jendela yang terbuka lebar.


“Ada apa Dik? Maaf aku baru mandi.”


“Ohh... nggak papa, kamu udah makan?” suara Diki dari balik ponsel.

__ADS_1


“Udah.”


“Besok berangkat sekolah aku jemput ya.”


“Iya.”


Tut tut...


Sambungan telpon itu terputus. Moli melempar ponselnya di atas kasur dengan kencang. Yoga yang masih memalingkan wajah bergumam lirih. “Ternyata mereka belum baikan.”


“Astaga!”


Moli menutup mulutnya yang hampir berteriak ketika melihat dirinya dari pantulan cermin oval di kamarnya itu. Ia baru sadar ternyata dirinya hanya tertutup handuk tanpa sehelai benang pun di dalamnya. Moli melirik punggung Yoga yang sepertinya sedang menghindar karena kelakuan dirinya.


Moli menjitak jidatnya sendiri dan berhambur menuju kamar mandi untuk memakai pakaian terlebih dahulu.


“Duh... malu nya gue! untung Yoga masih waras! Ah sial!!”


Yoga tertawa geli ketika Moli sudah masuk kedalam kamar mandinya. Yoga menutup mulutnya supaya tawanya tak lepas lebih keras. Perutnya begitu kaku hingga terasa sakit. Cewek emang suka gitu kali ya? Tangan kirinya meraup wajahnya yang tertawa hingga menyembulkan butiran air dari dalam matanya. “Sumpah kocak!”


5 menit sudah Moli akhirnya keluar dari kamar mandi dan pakaian lengkap sudah menutupi tubuhnya yang tadi sempat telanjang jika saja satu tarikan terjadi pada handuk yang melilit tubuhnya. Pipi merahnya terlihat jelas menandakan rasa malu yang di alaminya.


“Udah belum ngambek nya?”


“Udah.” jawab Moli ketus. Kemudian melempar handuk nya ke arah Yoga.


“Gitu kan enak lihatnya, khilaf gimana coba tadi.”


Tawa Yoga akhirnya mencuat hingga membuat Moli jengkel sampai menghentakkan kaki nya ke lantai. Kedua tangannya bersidakep dengan bola mata melotot pada Yoga.


“Nyebelin!!!”


****


Satu jam sudah Diki menunggu Moli di halaman rumah. Entah Diki yang datang terlalu pagi atau Moli yang bangun kesiangan. Hingga akhirnya Moli muncul sudah lengkap memakai seragam osisnya. Tak ada senyum sedikit pun untuk di tunjukan pada Diki. Diki menyadari itu, yang perlu Ia lakukan adalah berusaha lebih dalam supaya Moli bisa menerimanya lagi.


“Maaf lama.”


“Iya nggak papa, yuk berangkat.” Diki membukakan pintu mobil sebelah kiri untuk Moli.


Moli menoleh ke jok belakang, barangkali ada penampakan yang bisa membuat dirinya jantungan. Ia mendesah. Ternyata tak ada wanita ular itu.


“Nanti makan di luar yuk, aku traktir.”


Diki tersenyum. “Siap bos!”


Sesampainya di sekolah Moli langsung pamit pada Diki untuk ke perpustakaan mengambil buku untuk sebuah tugas bhs.Indonesia. sementara Diki lebih memilih langsung ke kelas karena Moli lebih memilih kesana sendirian.


Seketika langkahnya tiba tiba terhenti. Moli menoleh ke belakang, berkerut dahi merasa sepertinya ada yang membuntutinya dari tadi.


“Kaya ada yang ngikutin gue.”


Bola matanya memutar pada setiap sudut lorong itu. Tapi tak ada siapapun. Moli angkat bahu lalu berjalan kembali menuju perpustakaan.


“Heh! Pacarnya si Diki!”


Dorongan keras itu hampir membuat Moli jatuh tersungkur. “Jadi elo yang ngikutin gue?” tanya Moli ketika mengetahui ternyata Daren yang mengikutinya dari tadi.


“Mau apa lagi sih.”


“Gue Cuma mau minta tolong.” ucapannya terhenti. Matanya melihat ke sekitar. Mungkin karena was was ada si Mia yang takutnya tiba tiba muncul lagi seperti kemarin.


“Gue minta tolong, bilangin ke Diki supaya nggak usah ikut campur urusan gue buat deketin Lia.”


“Kenapa harus gue? Ngomong sendiri aja sono.”


“Dia kan Cowok lo! Barang kali lo bisa bantuin gue kan?”


“Males ah gue!”


Moli tak peduli lagi dengan celotehan Daren. Untuk apa membantunya? Apa untungnya? Paling benci jika berurusan dengan Lia. Kaya nggak ada kerjaan lain aja.


“Lagian Dia itu kan pacar lo, kenapa lo biarin deketan terus sama Lia?”


Langkah Moli terhenti tersadar akan perkataan yang di lontarkan Daren. Benar juga apa kata Daren, kenapa Moli cuma diam aja ketika kekasihnya terus berdekatan dengan wanita lain. Sepertinya ada yang salah, tapi apa?


“Sadar! Lo itu Cuma di mainin!”


Teriakan itu masih terdengar hingga Moli berusaha acuh dan masuk ke dalam perpustakaan.


Kata itu seharusnya membuat hati ini sakit. Tapi tidak! Ini kenapa? Apakah aku bodoh?


Kesialan pagi ini terus berlanjut, terjadi hingga ketika Moli sudah keluar beberapa meter dari perpustakaan. Langkahnya di hentikan oleh Lia yang entah muncul dari mana.

__ADS_1


Moli mendengus, berusaha mengabaikan Lia yang terus mencegat langkah kaki nya.


“Mau lo apa sih?”


“Gue mau elo putusin Diki! ”Lia mulai mendorong Moli hingga terpental menabrak tembok.


“Eh nggak usah main kasar ya.” Moli berbalik mendorong Lia. “Dasar cewek Ular!”


Lia melotot dengan satu jambakan menarik rambut panjang Moli. “Apa lo bilang? Berani juga lo sama gue!”


“Kenapa harus nggak berani? Patokan bisa lidah lo itu nggak bakal bisa ngeracunin gue! Jauh jauh sana dari gue.”


Dorongan keras kedua tangannya membuat Lia terjengkang hingga jatuh. Diki yang hendak menyusul Moli ke perpustakaan terkejut melihat Lia yang di dorong oleh Moli. Ia berlari menuju Lia yang berlagak kesakitan ketika mengetahui kedatangan Diki.


“Aduh sakit banget, sakit Dik.” Lia memegang pergelangan kakinya yang sebenarnya tidak sakit sama sekali.


“Kamu kok kasar si Mol,”


Moli membuka sedikit mulutnya ketika Diki lebih membela Lia dari pada dirinya. Ia memicingkan matanya menahan rasa sedih bercampur amarahnya.


“Aku nggak suka ya kamu kasar sama Lia.” Ucap Diki sambil membantu Lia yang menyembunyikan senyuman bengisnya karena berhasil membuat Diki marah pada Moli.


“Kamu tuh apa apaan sih! Kalau nggak tahu apa yang terjadi nggak usah main nyalahin aku gitu aja dong!” semprot Moli pada Diki yang menurutnya tak adil padanya.


Dengan sekilas melirik wajah Moli yang sudah memerah, Lia kembali beraksi lagi.


“Sakit banget Dik, aku lagi lewat tapi tiba tiba di didorong Moli.”


Air mata palsu itu membuat Moli serasa sesak menahan nafasnya. Begitu pandainya cewek ini dalam berbicara. Pintar sekali dalam menyembunyikan tangan kotornya. Berasal dari planet mana sebenarnya Dia? Kenapa bisa selicik itu?


Sebelumnya Lia sempat menjulurkan lidah kepada Moli tanpa sepengetahuan Diki yang kemudian membawa Lia menuju ke ruang UKS.


Dalam hati ingin rasanya Moli berteriak, mencabik wajah sok polos wanita Ular itu.


Ya Tuhan kenapa engkau ciptakan wanita seperti Dia? Tidak bisakah engkau membinasakannya?


Akhh geramnya hati ini! Moli berdecak keras dalam amarah. Memang brengsek itu cewek!


“Kenapa lo Mol? Kesambet ya?” tanya Mia ketika Moli masuk kelas dengan wajah datar. Semua ini gara gara wanita sentimen itu. Lempar batu sembunyi tangan kalau di ibaratkan.


Mia melirik Fani yang di balasnya dengan bahu terangkat tanda tak tahu. Coba saja kejadian itu ada Mia di sana, mungkin Lia bisa lebih babak belur kena timpuk tangan kekar Mia. Setidaknya biarpun di salahkan tapi Moli sudah merasa puas mengobrak abrik tampang sok polos itu.


“Kenapa sih? Lo di datengin Daren lagi?”


“Itu salah satunya.”


“Salah duanya??”


Ck! Si Mia mah suka gitu. Tambah bikin BT' aja deh. Moli merengek dengan kedua tangan mengguncang tubuh Mia dengan cepat.


“Kenapa sih?”


“Iya... kenapa sih Mol? Ada masalah?”


“Gue sebel! gue marah! Aaaaaa! Sial gue hari ini!”


Mia menyipitkan mata. Kemudian meredakan guncangan yang terus di berikan Moli padanya. “Coba lo cerita, siapa tahu gue bisa bantu.”


Sahabat Moli satu ini emang paling jago meredakan kekesalan Moli. Kalau si Fani mah lebih suka ngomporin bukan malah nyelesaiin. Mia menyuruh Moli menarik nafas panjang supaya bisa lebih tenang. “Oke, sekarang lo cerita ke kita.”


Hembusan nafas panjang menenangkan itu perlahan membuat bibir Moli mulai bergerak.


“Gue hari ini bener bener sial, sial banget.”


Moli menelan ludah kemudian melanjutkan kata katanya kembali. “Gue tadi di cegat sama Daren.”


“Apa? Daren lagi? Wah nantangin gue tuh anak!”


“Bentar dulu, gue belum selesai ngomong.”


Mia manggut manggut dengan tangan mengepal. “Oke... lanjutin.”


“Selang beberapa setelah Daren pergi, giliran Lia yang entah nongol dari mana tiba tiba jorogin gue hingga terpental ke tembok.”


Mia dan Fani ternganga. Tangan Mia semakin mengepal erat. Mungkin hari ini akan ada olahraga untuk tangan yang sedari tadi sudah siap melayangkan sebuah tonjokan. “Terus.”


“Dia maki maki Gue, Gue juga hampir berantem sama Dia, tapi Diki datang ketika gue gantian dorong Lia hingga terjatuh.” Moli mendengus. “Dan alhasil Diki salah paham, dikiranya gue yang mencelakai si Lia.”


“Gue samperin aja kali ya mereka.”


Tampang sangar Mia mulai terpampang. Namun sayangnya niatan untuk melabrak Lia urung karena jam pelajaran sudah di mulai. Dan tak selang beberapa lama Lia muncul dari ambang pintu di tuntun oleh Diki. Dasar drama queen!


untuk eps 17 masih di rivew yaaa....

__ADS_1


selamat membaca....


__ADS_2