
07.10 WIB
“Pagi gais.” Sapa Moli pada kedua temannya yang sudah berada di kelas.
Fani tak menggubris. Hanya Mia yang sadar bahwa hari ini Moli terlihat lain dari biasanya. Wajahnya terlihat begitu ceria bahkan senyumnya awet menempel di bibir nya yang mengkilap karena lip glos.
Mia akhirnya menyikut Moli yang sudah duduk dengan kedua tangan di atas meja bertumpu pada tas selempangnya. “Kenapa sih lo? Senyum aneh gitu?”
“Ha? Kenapa?”
“Elo lagi kenapa?”
“Kenapa gimana? Gue fine fine aja kok.”
Senyum manisnya masih tersungging di bibirnya yang semakin membuat Mia terheran heran. Mia paham betul bukan dengan Moli? Tentu saja Ia tahu bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi pada Moli. Tapi apa?
“Sepulang sekolah jalan Yuk.” kata Fani mengguncang kursi yang di duduki Mia dan Moli.
“Makan di luar gitu, gue traktir deh.”
“Serius elo mau nraktir kita? baru gajian lo?” Mia meringis namun terhenti ketika tak ada reaksi dari Moli.
“Kenapa Dia?” tanya Fani.
“Kesambet mungkin.”
“Mol, Elo ikut kan?”
Moli hanya mengangguk dan tersenyum pada ponselnya yang menyala. Kedua sahabatnya hanya angkat bahu sama sama tak tahu apa yang sedang di pikirkan Moli.
“Gue balik dulu ya, nanti nyusul, nggak lama kok, Cuma ganti baju doang.”
“Ya elah Mol, nggak usah ganti lah, kelamaan.” jawab Fani yang sudah duduk di depan setir mobilnya.
“Iya Mol, langsung aja yuk.” sambung Mia.
“Ck! Iya deh, ayok.”
Akhirnya Moli menurut. Ia duduk di jok belakang merogoh tas nya mengambil ponselnya yang bergetar.
Yoga
Kak Moli udah pulang?
Moli
Udah... tapi mau cari makan dulu bareng Mia sama Fani.
Yoga
Dimana? Ikut ya...
Moli
Watt Coffee. Nyusul ya...
Read.
“Chatingan sama sih Mol?
“Chatingan sama siapa sih Mol? Serius banget?” tanya Mia.
Moli mendongak, menaruh kembali ponselnya kedalam tas. “Sama Yoga.”
“Gue heran deh, sebenarnya ada hubungan apa sih antara Elo dan Yoga, kelihatannya akrab banget.” sambung Fani yang masih menyetir.
“Nggak ada hubungan apa apa, just friend.”
“Tapi aneh aja Mol, masa iya cewek SMA yang cantik kaya elo mau berteman sama bocah, akrab pula.”
“Yeee! nggak salah kan? Cari teman mah nggak harus milih milih kali.” semprot Moli dengan bibir terangkat. “Kalau boleh milih sih, gue temenan sama orang cerewet kaya elo Fan.”
__ADS_1
Moli tertawa di susul dengan Mia yang menepuk paha Fani. Fani cemberut mungkin tersadar kalau memang dirinya terlalu cerewet. “Resek lo emang!”
Lima belas menit kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Di depan pintu masuk sudah ada Yoga yang masih memakai seragam sekolahnya, berdiri dengan menyangga sebuah buku novel.
“Disini juga lo Ga? Sama siapa?” tanya Fani.
“Sama kak Moli..” Yoga tersenyum dan langsung merangkul pundak Moli.
Mia dan Fani meringis saling pandang. Sepertinya memang ada sesuatu di antara mereka. Sangat mencurigakan.
“Ada yang di sembunyiin dari kita ya?” Fani mencubit lengan Moli yang diam di rangkul oleh Yoga.
“Sakit ih!”
“Kalian berdua hutang penjelasan sama kita berdua!” semprot Mia yang hendak membuka pintu.
Belum sempat membuka pintu, mereka ber empat di kejutkan oleh kedatangan Diki yang berjalan dari arah lain. Sepertinya mereka juga mau masuk ke dalam. Mereka sempat saling pandang sejenak, hingga kemudian langkah Diki semakin dekat.
“Diki?” ucap Moli pelan.
“Hai Mol.” Sapa Diki sambil melirik lengan Yoga yang masih merangkul pundak Moli.
“Hai...”
“Ngapain lo disini? Kaya nggak ada tempat lain.” Cerocos Yoga enteng. Mata nya melirik dengan tatapan sengit.
“Maksud lo apa ha? Cari ribut?” Diki mencoba menarik Yoga namun di tampis oleh Moli.
“Udah ya! dimana pun tempatnya kalau bertemu pasti selalu berantem, dewasa dong kalian!”
“Aku perlu bicara sama kamu Mol, mumpung kita ketemu, ayo kita bicara!” Diki menarik lengan Moli.
Moli mengikuti langkah Diki menuju ke dalam. Sementara Yoga, Mia dan Fani menunggu di kursi luar. Yoga memutar mutar kunci motornya, sementara kakinya mengetuk ngetuk tanah. Sepertinya Ia begitu penasaran dengan apa yang akan di bicarakan oleh Moli dan Diki. Apakah akan berlanjut ataukah usai sampai disini.
“Woi! Tenang, panik banget lo.” semprot Fani pada Yoga yang tak bisa diam dalam posisi duduknya. “Tenang aja, Moli nggak akan balik lagi sama Diki, percaya sama Gue.”
Tak segampang itu untuk menenangkan tubuh yang sudah terlanjur bergetar hebat seperti ini. Kesempatan sudah mulai terbuka, lalu apa akan tertutup lagi karena memberi kesempatan pada Diki lagi?
Melihat itu dari kaca luar, Yoga semakin di buat panik. Dadanya terasa panas. Ini kah yang dinamakan cemburu? Sakit walau hanya sekedar melihat genggaman tangan itu.
“Tolong beri aku kesempatan lagi, aku janji nggak akan mengulangi kesalahan lagi.”
Moli tersenyum datar. Bibir mungilnya sepertinya sudah siap untuk berkata bahwa ini saatnya semuanya berakhir. “Maaf Dik, Aku nggak bisa, aku capek sama hubungan yang kita jalanin, Aku lelah.”
“Tapi Mol, aku masih cinta sama kamu, beri aku kesempatan sekali lagi.”
“Udah Dik, kesempatan itu udah pernah aku berikan kan? Dan lagi bagaimana dengan perasaan Lia? Bukankah itu artinya kamu akan menyakitinya? Jangan egois Dik.”
Diki tertunduk. Lia memang pernah di cintainya, tapi dulu. Kali ini Diki sudah sangat yakin siapa wanita yang sebenarnya Ia cintai. Tentulah itu Moli.
“Tolong Mol, sekali lagi aku mohon.”
“Nggak Dik, Aku emang udah maafin kamu, tapi untuk kembali menjalin hubungan, maaf aku nggak bisa.” Moli melepas genggaman tangan Diki.
“Apa semua ini karena Yoga?” Diki menatap tajam wajah Moli. Sepertinya ucapan yang tadi begitu tenang kini berubah jadi memerah tegas. “Aku tahu, semua ini pasti karena Yoga kan? Perusak memang!”
“Apa kamu bilang Dik? Jaga mulut kamu, semua ini nggak ada hubungannya sama Yoga...”
“Aku tahu bocah itu Mol, Dia berencana merusak hubungan kita, emang dasar licik!”
Perasaan Moli yang semula tenang dan ingin berbicara secara baik baik, tiba tiba berubah menjadi tegang. Moli berdiri dengan menggebrak meja perlahan. “Aku nggak suka ya kamu ngomong gitu? Aku kira kamu udah sadar, ternyata masih sama aja.”
“Cukup sampai sini aja hubungan kita!” Moli melangkah keluar namun di tarik oleh Diki dan di dekapnya dengan erat.
“Tunggu Mol!”
Perlakuan Diki pada Moli membuat pengunjung lain melirik dengan tatapan aneh. Tak ayal Yoga dan kedua sahabat Moli yang melihat dari balik kaca ikut di buat terkejut.
“Lepasin Dik! Sakit.” ucap Moli berusaha melepaskan diri dari dekapan erat Diki.
Karena sudah tak tahan akhirnya Yoga masuk di ikuti oleh Fani dan Mia menghampiri mereka berdua. Hembusan nafasnya kian cepat ketika bidadarinya berusaha melepaskan diri dari Diki namun tak bisa.
__ADS_1
“Lepasin nggak? Kasar lo!!” bentak Yoga.
Kini Diki menggenggam erat pergelangan tangan Moli, satu tangannya menunjuk tepat di depan hidung Yoga. “Nggak usah ikut campur lo! Minggir!” Diki menyeret tangan Moli keluar dari tempat itu.
“Lepasin! Sakit Dik!” Moli meringis menahan rasa sakit pada pergelangan tangannya yang sepertinya sudah memerah.
“Brengsek lo!” satu pukulan akhirnya menghantam wajah Diki. “Main kasar seenaknya!”
Yoga akhirnya berhasil mendorong Diki hingga genggaman itu terlepas. Moli menghindar lebih jauh dari tempat Diki berdiri. Ia sudah terlanjur ketakutan karena sikap Diki yang tiba tiba menjadi kasar. Sepertinya amarahnya sudah di atas ubun ubun. Sudah tak terkendali lagi.
Kini Moli sudah berada di pelukan Yoga. Ia terisak karena ulah Diki yang keterlaluan itu. Tubuhnya bergetar dan benar saja, pergelangan tangannya sudah memerah bekas cengkeraman tangan Diki.
“Udah cukup Dik! Gue minta elo pergi dari sini! Jangan bikin gaduh di tempat umum.” Semprot Mia dengan bulatan matanya yang tajam menahan marah.
“Semua ini gara gara Elo! Gue tunggu lo di rumah! *******!”
Ucapan terakhir Diki sebelum akhirnya pergi dengan cepat mengendarai mobil BMW miliknya itu akhirnya bisa membuat hati mereka sedikit lega. Yoga menuntun Moli membantunya duduk di kursi depan restoran. Sepertinya Moli masih ketakutan. Ia tak menyangka bahwa Diki memang ternyata lebih sering mementingkan hawa emosinya dari pada akal sehatnya.
Mia duduk mengusap pelan pundak Moli. “Elo nggak papa kan?”
“Udah santai, gue nggak papa kok, ya udah yuk pesen makan, gue lapar.”
Ketiganya hanya terdiam dengan mulut terbuka memandang Moli yang berubah suasana dari takut ke tangis diam hingga tersenyum kembali. Terlalu singkat! Aneh juga Dia, dengan cepatnya melupakan kejadian beberapa menit yang lalu. Mungkin karena sudah tak Cinta dan memang semuanya sudah berakhir. Jadi untuk apa berlarut larut dalam kesedihan?
Sejenak keduanya diam menikmati makanan yang sudah tersedia di atas meja. Moli makan dengan begitu lahapnya hingga membuat ke tiganya unjuk gigi. Gila juga nih cewek! Kok bisa serakus itu cara makannya? Kesambetkah Dia?
“Pelan pelan neng, keselek ****** deh.” semprot Fani.
“Ga, gue mau tanya deh sama kamu lo?”
Yoga yang masih tertunduk menghadap makanannya kontan mendongak menghadap Mia. “Tanya apa?”
“Elo ada hubungan apa sama Diki? Gue sempet denger tadi waktu Diki bilang, gue tunggu elo di rumah.”
Moli yang juga mendengar pertanyaan itu langsung tersadar bahwa sampai saat ini kedua sahabatnya belum tahu bahwa Diki dan Yoga adalah saudara tiri. Iya ya, mereka berdua kan memang belum tahu. Dan lagi hanya saat ini lah waktu tang tepat untuk memberi tahu mereka.
“Dia abang tiri gue.”
“Uhuk!” Mia tersedak makanan yang sudah masuk kemulutnya hingga menyembur ke wajah Fani.
Fani yang juga terkejut membentak perlakuan Mia. “Kaget sih boleh, tapi kira kira dong.” cerocos Fani sambil mengelap wajahnya. Moli hanya terkekeh.
“Sorry, spontan soalnya.” Tawa Mia. “Serius si Diki itu abang tiri lo? Kok bisa? Sejak kapan? Dan kenapa Moli nggak cerita ke kita?”
Moli melerok. “Yeee, Elo nggak tanya, buat apa kasih tahu, lagian nggak perlu kan? Akhirnya juga kalian tahu sendiri.”
“Pantes Diki kelihatannya marah banget sama Yoga, pacarnya di serobot sih.”
“Mia! Ck!” Moli melotot menjitak jidat Mia. Moli mendengus kemudian tertunduk menyuap makanannya lagi.
“Sejak kapan lo sodaraan sama Diki? Dari kecil?” tanya Mia lagi.
“Dari kelas 6 SD.”
Mia manggut manggut. Dari pengamatannya sih kayaknya Yoga dan Diki bukanlah saudara yang akur. Mereka berdua lebih terlihat seperti orang asing. Yoga juga kelihatannya benci banget sama Diki. Entah karena Moli atau ada hal yang lainnya. Who knows?
“Tapi ya Ga, kelihatannya Elo nggak akrab deh sama Diki, sengit gitu, ya nggak sih? Kalian musuhan?”
“He-em...” jawaban singkat dari Yoga membuat Mia memicingkan bibirnya.
“Musuhan karena Moli?” sambung Fani menyindir Moli yang masih setia dengan makanannya yang hanya tinggal kuah saja. Moli merengut. Emang suka nyebelin sih Fani. Resek!
“Nggak ada hubungannya sama kak Moli.” Jawab Yoga melirik Moli yang tak bergeming.
“Sebelum kenal sama kak Moli, Gue sama Diki juga nggak pernah akur, kalau sekarang Diki benci gue karena Kak Moli, itu salah Dia sendiri, nggak usah sangkut pautin sama hubungan Gue dan Moli.”
Mia dan Fani ternganga usai mendengar ucapan bijak Yoga. Ternyata pikirannya jauh lebih dewasa dari pada si Diki.
“Keren juga Lo,umur emang nggak bisa nentuin seberapa dewasanya nya Elo.” saur Mia. Yoga hanya tersenyum ketika Moli juga tersenyum padanya.
***
__ADS_1
selamat membaca...