Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
Empatbelas


__ADS_3

Yoga memandang Moli yang masih tertawa. Ia menaruh ****** rokok yang sudah ia matikan sebelumnya di lempar ke dalam tempat sampah. “Kak Moli.”


Sontak Moli menoleh pada siapa yang menyebut namanya itu. Sosok mata tajam menatapnya tanpa berkedip, Hembusan nafas mengipas wajahnya yang berhadapan dengan nya. “Kenapa Ga?”


Diam. Tak ada yang di ucapkan. Yoga masih memandangnya. Perlahan bibir nya mulai di gerakkan. “Boleh minta peluk lagi.”


Kening Moli berkerut. Ia heran dengan ucapan Yoga. Sebenarnya Ia hampir saja


menyemburkan tawa yang sudah di ujung bibirnya, namun Ia urungkan karena melihat keseriusan wajah Yoga.


“Sini gue peluk.”


Sungguh pemandangan yang indah. Dua insan yang saling menghangatkan. Terserah apa yang di rasa dari masing masing hati. Tapi inilah kedamaian, pelengkap kekosongan, penutup kerinduan. Yoga membenamkan wajahnya di pundak Moli, mencium harum aroma gadis itu matanya terpejam tak rela untuk melepaskan.


Hei! Dia milik orang lain.


Teriakan kecil seperti mengingatkan dari sudut kepalanya. Siapa yang berbuat itu? Sekejap saja... tak bolehkah?


Moli melelas pelukan itu, di pegang kedua pipi lelaki yang masih melingkarkan tangan di pinggannya. Ia menatap mata sayu itu. “Makasih buat semuanya ya Ga.”


Cup! Satu kecupan mendarat di dahinya.


Jantung berdegup kencang. Sepertinya badai sedang menikam dirinya, menusuk semakin jauh kedalam hingga tak rela jika ini hanya sementara. Perasaan apa ini? Cinta?


Bolehkah jatuh cinta?


Ku mohon jangan berhenti! Teruslah seperti ini. Kau sudah membuat ku masuk lebih jauh. Jangan kau biarkan hati ini menjerit luka. Aku Cinta Kamu!


Teriakan dari dasar hati. Semakin membuatnya terus meronta. Sesulit inikah rasanya jatuh cinta?


“Udah ih! Kok jadi melow gini sih.”


Tangan lembut itu mencubit kedua pipi nya.


“Sakit ih!” keluh Yoga.


Notifikasi whatapp mengagetkan Moli yang masih terduduk. Di rogohnya ponsel itu dari dalam saku celananya.


Diki


Besok nonton yuk... aku jemput jam delapan malam.😘


Moli


Oke...

__ADS_1


Tawa manis menghiasi wajahnya ketika usai menutup ponsel milik nya. Ajakan dari Diki seperti bukanlah sesuatu yang spesial lagi baginya. Tak ada rasa gembira atau bahagia, tapi Moli belum sadar hal itu.


“Gue balik ya.”


Yoga berdiri dengan wajah datar. Sepertinya Ia sudah mulai cemburu dengan hubungan Moli dan Diki. Ia menggamit jaket nya yang tersampir di sova, dan pergi tanpa menoleh pada Moli yang berkerut dahi kebingungan.


“Kenapa sih Dia? Lagi dapet kali ya, ups!”


Bukankah terlalu singkat. Setidaknya biarkan hati ku berpuas dulu menikmati peluk hangat bersamanya. Kenapa Tuhan?


Gerimis malam yang menemani keterpurukan seakan mengerti dengan kecemburuan hati ini. Motor itu melaju dengan cepat, tak peduli dengan angin yang mencoba mencabik badan terluka ini. “Bolehkan aku mencintaimu? Atau ijinkan aku merasakan Cinta darimu.”


Motornya terhenti di sebuah gedung yang sebelumnya pernah di datanginya bersama Moli. Langkah gontai menaiki anak tangga hingga sampai ke ujung. Matanya memandang gedung tinggi di hiasi dengan lampu yang menyala terang.


“Aaaaaaaaaaa!!!!!”


Teriaknya dengan kedua tangan telentang dengan gerimis yang membasahi wajahnya. Di usapnya wajah nya yang terus di bayangi oleh seorang gadis yang belum bisa Ia jangkau. Bisakah terus bertahan? Sakit! Se lebay ini kah cinta?


****


Gerimis semalam berlanjut hingga pagi. Kini mereka datang lebih deras bahkan bisa di katakan hujan lebat. Ketukan ranting menabrak jendela membuat mata gadis berselimut terbuka. Ia enggan bangun, ini hari minggu tentu saja lebih memilih untuk berdiam diri dikamar di temani derasnya hujan yang terus membasahi bumi. Moli menarik selimutnya lebih ke atas, Boneka teddy yang semalam ia dapatkan terbaring di sampingnya.


Jepret! Satu gambar di ambil bersama si beruang menggunakan ponselnya. Moli tersenyum, lalu Ia posting di akun instagramnya dengan caption.


Lima menit setelah terposting, banyak yang klik suka maupun berkomentar. Tak ayal ada si Mia dan Fani yang langsung hinggap dalam kolom komentar.


Mia


Cie... yang dapat hadiah, tapi ultah lo kan masih beberapa bulan lagi.


Fani


Dari siapa tuh... selingkuhan ya?


Sialan si Fani. Moli mengerucutkan bibirnya tak suka dengan komentar dari Fani. Yoga tentu saja bukan selingkuhannya, Ia adalah seorang teman yang sudah di anggapnya seperti adik sendiri. Suka sembarang emang si Fani. Kalau sakitnya udah sembuh ya gitu, asal jeplaknya yang justru kambuh. Ck!


“Pak aku mampir ke toko sepatu dulu ya.”


Mia keluar dari Mobil. Menggamit tas slempangnya berlenggok menuju ke dalam gedung mall. Ia berjalan mencari di mana toko sepatu berada. “Sial! Pake rusak segala nih sepatu!” gerutunya melirik sepatu yang robek hingga hampir menampakkan jari kakinya.


Mia menelusuri setiap sepatu yang trjejer di rak kaca. Mencari sepatu apa yang lebih cocok membalut kalinya. “Ambil yang ini aja kali ya.” pilihan jatuh pada sepatu kets berwarna maroon mix black.


“Yang ini aja mbak.”


Beberapa meter setelah Ia keluar dari dari toko, Sepasang anak adam yang tak asing wajahnya sedang bercanda di sebuah toko baju. Lelaki itu merangkul pinggang wanita yang sedang menjembreng pakaian di depan cermin. Mia memundurkan langkahnya bersembunyi di balik patung yang bertengger di depan Toko itu. “Diki sama Mia? Serius itu mereka?”

__ADS_1


Antara kaget dan heran, Mia ters mengintai mereka. Sudah jelas itu adalah Lia dan Diki. Mia melebarkan telinga berusaha mendengar percakapan mereka yang seperti terlihat mirip sepasang kekasih.


“Cantik nggak aku pakai baju ini?” Lia menempelkan sebuah dress di badannya dengan sedikit memutar menunjukkannya pada Diki.


Diki tersenyum dengan tangan mengusap rambut wanita itu. Mia membulatkan mata seraya menutup mulut yang hampir menjerit kaget. “Mesra banget.”


“Kamu mau pakai apa aja juga tetp cantik kok, ambil itu aja.”


“Oke aku ambil yang ini aja.”


Saat mereka berbalik ke arah kasir. Mia lebih memilih untuk keluar dari tempat itu. Antara kaget dan nggak percaya, Mia melangkah dengan cepat menghampiri mobilnya. “Gue kasih tau ke Moli nggak ya?” Mia menggigit bibirnya dengan memutar mutar ponsel yang sedari tadi di pegangnya. Sialnya Ia lupa untuk merekam kejadian tadi. Terlalu kaget.


“Tapi nggak usah lah, nggak tega uga gue.”


Mia mendesah kemudian menutup pintu mobilnya. “Yuk pak jalan.”


“Makasih ya Dik bajunya, aku suka.” Lia bergelayut manja dengan menggandeng lengan Diki.


“Iya cantik.”


Apa yang akan terjadi apabila Moli melihat kemesraan mereka? Sebenarnya ada hubungan apa di antara mereka? Harusnya semesra itu? Mungkin akan ada hati yang terluka. Siapa?


“Dik, kamu nggak ada niatan buat putus sama Moli?” Tanya Li ketika mereka sedang makan di restoran.


Diki mendongak, mengurungkan niat untuk menyuap satu sendok nasi. “Ngak lah, kenapa harus putus? aku masih cinta sama Moli.”


Sepertinya hanya sedikit harapan untuk bisa kembali dengan Diki. Seandainya dulu Ia tak menolak cintanya, mungkin sampai sekarang Diki masih menjadi kekasihnya. Kenapa harus Rian si lelaki brengsek yang dulu ia pacarin? Tak ada penyesalan di awal, yang ada hanya keterlambatan dan keegoisan karena mengharapkan yang terbaik.


Tapi bukan Lia namanya jika seperti ini sudah menyerah. Baginya bisa bertemu dan bersama Diki saat ini ada awal untuk terus berusaha membuatnya mencintainya lagi.


“Dik, Aku masih boleh terus sama kamu kan? Aku masih suka sama kamu.”


Tangan itu di genggam oleh Lia. Tatapan sendu berusaha untuk meyakinkan bahwa perasaannya saat ini adalah sungguh sungguh.


Bukan perkara mudah untuk Diki menjawab itu. Ia mencintai Moli, tapi hatinya juga tak bisa berbohong kalau dalam lubuk hati nya masih ada rasa untuk Lia.


Kenapa harus datang di saat sudah ada yang terkasih? Seharusnya aku tak usah menyambut mu datang. Itu akan lebih baik. Tapi kedatangan mu adalah penghapus rindu yang lama aku pendam.


Tak ada jawaban dari Diki. Ia hanya tersenyum melihat wajah itu kemudian tertunduk dan berpaling pada makanannya kembali. Ia hanya berusaha menghindar. Tentu saja.


“Kok kamu diem si Dik, aku nggak minta kamu jadi pacar ku kok, aku Cuma mau kamu selalu ada buat aku, itu aja.”


Genggaman itu semakin erat. Diki mengangkat wajahnya menghadap gadis itu. Senyuman di wajahnya membuat hati tak tega untuk mengabaikannya. “Aku akan selalu ada buat kamu.”


****

__ADS_1


__ADS_2