
Kali ini Santi bergantian mengajak Moli keluar lagi. Bukan di kantin, melainkan di taman rumah sakit, tepatnya di samping gedung khusus obat.
Santi sudah duduk, sementara Moli masih berdiri ambil menendang kecil rerumputan yang tumbuh.
“Moli!” Panggil Santi. Moli menoleh dan seketika duduk ketika Santi menepuk ruang kosong di sampingnya.
Moli tersenyum menatap Santi. Tidak bisa dipungkiri, hari ini adalah hal yang paling membahagiakan untuk Moli. Bertemu kekasihnya kembali setelah bertahun-tahun. Santi pun menyadari hal itu, bagaimana Moli merasa bahagia saat ini, tapi satu, Sarah masih butuh penjelasan mengenai berita soal Moli yang katanya sudah punya tunangan dan akan segera menikah. Santi hanya tak mau membuat Yoga kembali terpuruk.
“Kamu masih sayang sama Yoga?” tanya Santi.
Dengan mantap dan tatapan serius Moli menjawab. “Tentu saja, aku masih sayang sama Yoga.”
“Lalu... apa benar kamu sudah punya calon suami?”
Seketika wajah Moli langsung mencirut, raut wajahnya sudah berganti ekspresi. Itu sungguh pertanyaan yang sulit, dan bagaimana cara menjelaskan semuanya?
Moli menarik napas dalam-dalam, mencoba memantapkan hati supaya ia bisa bercerita dengan baik. Setelah berhembus, Moli pun menatap bola mata Santi, meraih tangannya dan tersenyum ragu.
“Aku memang sudah punya calon suami... tapi, sebenarnya juga bukan... maksudnya, aku tidak menyukai pria itu.” Ucapannya jadi belepotan karena grogi dan gelisah. Moli tak mau sampai Santi salah paham.
“Kenapa? Bukankah setelah kamu pindah, kamu dekat dengan calon kamu? Bahkan kabarnya kamu akan segera menikah.”
Moli tertawa getir. Jadi, itukah yang mereka tahu selama ini? Memangnya siapa yang menikah, Moli saja masih setia berharap berjodoh dengan Yoga.
“Tante dapat kabar kaya gitu dari siapa?” tanya Moli. “Aku bahkan belum satu bulan kenal dengan pria yang di jodohkan papa... gimana mungkin aku sudah nikah.”
“Di jodohkan?” Santi menatap lekat bola mata Moli. “Jadi kamu di jodohkan?”
Moli mengangguk. “Iya, tante... aku juga baru mengenalnya beberapa hari yang lalu kok. Waktu pindah dulu, aku fokus belajar... itu karena papa ingin aku kerja di perusahaannya.”
“Oh... jadi begitu.” Santi manggut-manggut. Lalu bagaimana dengan kabar yang katanya Moli menikah? Semua itu berita bohong.
“Oh iya, Tante...” Mata keduanya saling bertatap lagi. “Kabar Diki, Lia dan om Yudha gimana?”
Tentu saja, tentang kabar kepergian Yudha dan pengusiran yang di lakukan Diki pada Yoga, Moli sama sekali belum tahu. Selama ini tak ada kabar dari orang terdekatnya di Indonesia selama dirinya di luar negeri. Kabar tentang Diki dan Lia pun Moli tak tahu, yang pernah di ketahuinya, Lia sudah kembali ke kota asalnya.
“Jadi kamu belum tahu ya...” ucap Santi sambil berusaha tersenyum.
“Tahu apa?”
“Papa Diki sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu.”
“Apa!” Moli sontak menutup bibirnya yang terbuka. “Meninggal?”
Santi mengangguk. Hatinya kembali terasa sakit ketika kembali teringat akan musibah itu. Kepergian Yudha adalah bencana awal untuk kehidupan baru Santi dan Yoga. Satu bulan di usir oleh keluarga Diki, Yoga pun mengalami kecelakaan hingga ingatan tentang Yudha menghilang, begitu pun ingatan tentang kekasihnya yang pergi, yaitu Moli.
“Apa om Yudha sakit?”
“Om Yudha meninggal karena serangan jantung...”
__ADS_1
Moli kembali menutup mulutnya. Ini sungguh kabar di luar dugaannya. Tunggu! Apa mungkin karena hal itu, tante Santi dan Yoga pindah rumah? Moli mencoba menebak-nebak apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Maaf tante...” Moli menepuk pelan pundak Santi. “Aku nggak bermaksud, aku cuma...”
“Nggak papa, sayang. Cepat atau lambat, kamu pasti akan tahu semuanya... contohnya musibah yang di alami Yoga.”
Benar! Perlahan pasti semua akan bisa di mengerti oleh Moli. Untuk saat ini, fokuslah pada Yoga. Jangan sia-siakan lagi perasaannya. Melawan tak apa, jika memang itu di perlukan. Begitulah prinsip Moli saat ini.
Dert... dert...
Ponselnya kembali bergetar. Moli sudah terlihat pias. Benar saja, setelah di lihat tak lain lagi yang menelpon adalah papanya.
“Bentar ya, Tante...” Moli berdiri, ketika sudah sedikit menjauh, Moli mulai menekan tombol gagang telpon berwarna hijau.
“Halo, ada apa!” Moli menjawab telpon dengan nada tak suka.
“Kamu tuh ya! Papa telpon dari tadi dan baru di angkat sekarang. Kenapa tadi di matiin?” suara dari seberang tak kalah meninggi.
“Apa sih, pa! Aku ada urusan. Papa nggak perlu tahu.” Jawab Moli lagi. Suaranya terdengar sewot namun tak keras. Santi yang masih duduk pun sepertinya tak mendengar pembicaraan itu.
“Pulang!” suara lantang Gibran langsung membuat Moli menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Astaga, papa! Nggak perlu teriak kali!” balas Moli ketika ponsel sudah menempel lagi di daun telinganya.
“Nanti kalau waktunya pulang, Moli juga pasti pulang, pa... nggak usah heboh deh.”
Suara dari seberang terdengar mulai gaduh.
“Dia juga anak papa! Coba dong, papa lebih lembut lagi... barang kali Moli mau mendengarkan.”
“Halah! Memang dasarnya dia sekarang sudah kurang ajar!”
“Lihat saja... papa sukanya marah-marah, pantes aja Moli selalu ngelawan.”
Tut!
Moli memutuskan sambungan telpon. Mendengus lalu memasukkan ponselnya kembali. Mendengar pertengkaran mereka hanya akan membuat telinganya terasa sakit.
Moli berbalik dan kembali menghampiri Santi yang masih menunggunya.
“Maaf tante, lama...” Moli nyengir sambil menggaruk rambutnya.
“Nggak papa... siapa yang telpon? Orangtua kamu?”
Moli tersenyum lagi. “Hehe, iya...”
“Tante... Moli pamit pulang dulu ya, udah di tungguin papa sama mama di rumah...”
“Ya sudah... hati-hati ya.”
__ADS_1
Moli mencium punggung telapak tangan Santi. “Bilangin sama Yoga, aku pulang dulu.”
“Iya...”
Sesampainya di dalam Mobil, Moli langsung mendesah, meraup wajahnya yang sudah berubah lesu karena di telpon papanya. Setelah menghela napas, Moli menarik pedal gas lalu melajukan mobilnya.
Sebenarnya, malas sekali jika harus pulang. Karena apa? Tentu saja karena papa dan mama nya. Di telpon saja nada bicaranya sudah membentak-bentak, apalagi nanti di rumah, habislah sudah.
Fiuh!!
Ciiittt!!!
“Astaga!!”
Mobil Moli berdecit, menepi dan hampir saja menabrak tiang listrik di pinggir jalan. Moli yang napasnya sudah tersengal-sengal langsung mengelus dadanya begitu mesin mobil sudah berhasil di matikan.
“Siapa sih itu!! Naik mobil nggak hati-hati.” Seloroh Moli sambil melepas sabuk pengaman yang melingkar di pundaknya.
Moli turun, pemilik yang hampir membuat Moli celaka pun juga turun. Dengan menghentakkan kaki kesal, Moli langsung menghampiri pria yang baru saja menutup mobil.
“Hei! Elo buta ya!” bentak Moli.
Pria itu menoleh.
“Di... Diki?”
“Moli?”
Mulut keduanya saling menyebut nama masing-masing siapa yang saat ini ada di hadapannya.
“Moli kan?” Pria itu seketika berubah semringah. Tapi lain dengan Moli, Ia justru terlihat pias.
Bertemu dengan Diki bukanlah kemauannya saat ini, bahkan kalau perlu, tak udah bertemu sama sekali. Menghadapi Anton dan orangtuanya saja sudah bikin pusing, eh ini, malah ketemu orang menyebalkan lainnya. Huh!
“Oh... jadi elo...” ucap Moli.
“Sory ya... kamu apa kabar?” Diki mengulurkan tangan, sekilas Moli hanya melihatnya, tapi kemudian Moli pun menjabat tangan itu. Bukan bermaksud apa-apa, hanya saja ini adalah bentuk kawan. Iya kah? Memangnya sejak kapan kalian berkawan? Haha!
“Baik.” Jawabnya singkat dan langsung melepas tangannya, setelah itu Moli mengusapnya perlahan di roknya.
“Seneng bisa ketemu kamu lagi...” Diki masih tersenyum. “Kamu kapan datang ke Indonesia?”
“Sory... gue masih ada urusan.” Moli berbalik. “Lain kali... kalau naik mobil jangan sembarangan.”
Greb!
Mobil pun sudah tertutup. Moli meninggalkan Diki yang masih mematung disana.
***
__ADS_1
Maaf cuma bisa up 2 episode aja 🙏🙏🙏 hari ini sibuk ngajarin anak main sepeda. mohon di maklumi. 😁😁
semoga tidak jenuh dengan ceritanya...