Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
Season 2. 1. (MOLI)


__ADS_3

#Halo sahabat Motifasi_senja.... kalian sehat?? pastinya.


Akhirnya novel WHEN YOU KISSED ME! hadir kembali. Yeeee!!!!!


#HAPPYREADING


4 tahun sudah berlalu, berlalu meninggalkan kisah masa percintaan masa SMA untuk Moli. Setelah kelulusannya 2 tahun yang lalu, kini Moli sudah beranjak menjelma menjadi wanita dewasa yang sangat cantik. Moli sudah tak melanjutkan studinya lagi, Ia berhenti setelah hampir 1 tahun lebih tak meneruskan kuliahnya. Bukan karena kekurangan ataupun tak punya kecerdasan, akan tetapi sebagai anak semata wayang dari keluarga orang kaya raya, Moli sudah di wajibkan untuk meneruskan bisnis keluarganya.


Sebelumnya Moli sempat menolak, Itu karena Moli masih ingin menikmati masa belajarnya dan mencari teman baru saat kuliah. Setelah kelulusannya di SMA, segala hal yang ada pada dirinya seketika melayang jauh entah kemana. Dari teman, kekasih, musuh, semuanya menghilang. Mungkin benar kata orang, masa SMA akan ada sebagian dari kisah di dalamnya yang akan hilang. Kebersamaan saat bersama kedua sahabatnya hanya bisa di kenang, begitupun dengan romansa cinta dengan kekasihnya yang bernama Yoga. Dimana dia sekarang? Entahlah. Tak ada yang tahu.


Kriiiiiing!!!!!


Jam beker di atas meja nakas berbunyi nyaring. Tak ada reaksi dari seseorang yang masih berbaring di atas kasur, ia hanya menggeliat sambil menguap.


Kriiiiiiing!


Bugh! Prak!


Lemparan keras bantal yang keluar dari dalam selimut membuat jam itu terjatuh di atas lantai. Teronggok begitu saja, hingga senyap tanpa mengeluarkan bunyi lagi.


“Berisik!” Gerutu seseorang sambil menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi kepalanya.


Sepertinya Ia lupa, lupa dengan apa yang akan ia lakukan hari ini. Ah tunggu, bukan seperti itu. Maksudnya, Ia lupa dengan sebuah rencana kedua orang tuanya hari ini, hingga mengharuskan ia memasang jam beker untuk membangunkannya saat tidur. Ya, itu maksudnya. Sore ini, Moli harus ikut menghadiri sebuah pesta anak dari sahabat ayahnya.


“Moli! Bangun sayang!!!” teriakan melengking dari balik pintu. Pintu itu masih di ketuk-ketuk beberapa kali.


“Cepat sayang, atau kita akan terlambat! Cepat!!!”


Gedubrak!


Moli terduduk, menendang selimut begitu saja. Bola matanya langsung membulat ketika telinganya mendengar suara teriakan yang bahkan lebih melengking dari suara jam beker.

__ADS_1


“Iya! Aku sudah bangun.” Menjawab sambil menendang nendang kasur. Bibirnya sudah monyong ke depan mengikuti raut wajahnya yang sudah merengut.


Setelah mengacak rambutnya sendiri, Moli pun merangkak turun dari atas kasur. Kaki jenjangnya masih terlihat ia hentakkan di atas lantai. Marah, sebal, tapi bukan karena tidurnya yang terganggu, hanya saja Moli tak suka dengan maksud dari kenapa dirinya harus bergegas.


“Cepat sayang!” teriak seorang dari luar lagi.


“Iya.” Jawabnya lengus.


Dengan terhuyun dan rasa malas, Moli mulai melangkahkan kaki dengan sempoyongan. Berat sekali rasanya, kalau saja bisa, lebih baik berdiam diri di kamar. Itu lebih berguna dari pada harus bangun, mandi lalu dandan yang cantik dengan pakaian ala tuan putri. Untuk apa? Tentu saja untuk bertemu dengan seseorang.


Ya, sore ini Moli di minta papanya untuk menemui seorang pria. Pria anak dari sahabat ayahnya. Untuk apa? Tak tahu. Yang Moli tahu, cukup menemuinya, ajak berkenalan dan mungkin saja akan cocok. Begitulah kata papa.


Oh, berarti ini adalah sebuah perjodohan, begitu? Siapa yang mau? Lihat! Moli sama sekali tak terlihat antusias dengan semua ini. Perjodohan baginya adalah hal yang paling menjengkelkan sekaligus merepotkan. Dan lagi, sampai saat ini hati Moli masih sama, perasaannya masih sama seperti dulu, yaitu hanya untuk satu orang pria yang pernah membuatnya tertawa disaat kesepian.


Tapi dimana? Dimana dia sekarang?


Moli meraih satu blouse dan rok span dari dalam lemari, wajah cantiknya sama sekali tak bersemangat. Setelah beres, Moli langsung melempar handuk begitu saja ke sembarang tempat. Wajah polosnya ia taburi dengan bedak, bibir tipisnya ia kasih lipstik berwarna natural. Begitu saja, tak perlu tampil berlebihan di depan pria yang sama sekali tak ia minat.


Kalau saja bukan karena permintaan Ayahnya yang terlampau bawel, Moli enggan sekali untuk berdandan dan merias diri. Ini terlihat seperti bukan dirinya. Dari pantulan cermin, Moli mencibir penampilannya sendiri. Rasanya bola mata bulatnya malas untuk melihat dirinya sendiri. Ini sangatlah feminim.


Untuk apa dandan seperti ini? Sepenting apa orang itu? Kenapa juga harus berpenampilan glamor?


Aaaa!!! Gue tidak di jual kan?!


Moli berteriak sekeras mungkin. Kedua kakinya yang sekarang sudah memakai heel tinggi kembali menghentak-hentak menghajar lantai tanpa ampun.


Beberapa saat berpuas diri dengan teriakan tak jelas, perlahan telapak tangannya mengusap dadanya yang terasa terbakar emosi. Menarik nafas panjang, lalu berhembus keluar dari mulutnya.


“Gue benci diri gue sendiri!”


Brak!

__ADS_1


Pintu kamar tertutup dengan keras. Moli berbalik, kemudian melangkah cepat menuruni anak tangga.


Di bawah sana, di lantai satu, papa dan mama sudah menunggunya sambil saling bergandeng tangan. Keduanya terlihat begitu semringah. Sepertinya mereka tak akan peduli dengan perasaan Moli saat ini.


“Kamu cantik sekali, sayang.” Ucap Mareta. Bibirnya masih tersenyum dengan jemari mengusap dagu Moli.


Moli hanya tersenyum getir. Kalau boleh memilih, lebih baik tak di sebut cantik dari pada harus berdandan hingga harus bertempur dengan berbagai macam make up. Merepotkan dan sangat melelahkan.


“Ayo kita berangkat.” Gibran merangkul Mareta dan Moli.


Moli sudah duduk di jok belakang bersama Mareta, sementara Gibran duduk di jok sebelah kiri. Keluarga ini masih setia memakai jasa supir. Siapa lagi kalau bukan pak ujang, dialah yang setia mengabdi di keluarga besar Gibran.


“Ingat, bersikaplah yang sopan disana.” Mareta menepuk pelan paha Moli. Lebih baik memperingatkan sebelum sampai disana, Moli orangnya sedikit ceroboh, jangan sampai Ia mempermalukan keluarganya sendiri.


Mama kira aku anak kecil? Tak perlu di ingatkan juga aku bisa bersikap sopan.


“Sayang, kau pasti akan menyukainya.” Ucapan dari Mareta justru membuat senyum Moli semakin terasa getir.


Memangnya aku menyukai siapa? Dan siapa yang akan menyukaiku? Pria pilihan mereka?


Moli melengos, memutar bola matanya ke arah kaca jendela. Satu tangannya menyiku menyangga dagunya. Pandangannya lurus mengamati lampu jalan yang terlihat berlarian menjauh. Papa dan mama tak akan paham dengan perasaan di hati Moli. Mereka egois, itu sudah biasa. Dari dulu juga mereka begitu kan?


Bertahun tahun di negara orang, tanpa mengunjungi anak semata wayangnya di negaranya sendiri. Mereka yang selalu sibuk tak pernah sekalipun menanyai kabar Moli dengan sungguh-sungguh. Bisnis dan uang yang selalu menjadi urutan pertama untuk mereka. Lalu pernahkah sekali saja mereka peduli dengan perasaan Moli? Tidak!


Begitupun dengan hatinya, perasaannya, menjauh hingga sulit untuk di gapai kembali.


Aku merindukannya. Rindu sekali.


***


sampai disini dulu ya...

__ADS_1


silahlankan like vote dan favoritkan! 😘


tinggalkan pendapat kalian di kolom komentar, supaya aku bisa cepat up bab selanjutnya. 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2