
Sekitar pukul lima sore, Moli dan Yoga akhirnya beranjak bangkit dari tempat ini. Biarpun masih jam lima, akan tetapi suasana di luar sudah nampak mulai gelap. burung-burung pun sudah terlihat terbang balik ke sangkar masing-masing.
“Ga!” Moli berhenti, tangan kirinya meraih lengan Yoga, menyuruhnya juga ikut berhenti.
“Kenapa?” tangan Yoga beralih menggandeng lengan Moli.
“Gue minta, elo jangan pernah sekali-sekali bahas tentang Anton kalau kita lagi bersama... gue nggak suka. Udah cukup gue capek karena pernah pusing nyariin elo, dan di buat kecewa karena elo pernah ngelupain gue. Apa elo paham?”
“Iya kak Moli sayang...” ucap Yoga sembari mendaratkan kecupan di kening Mona.
18.15 WIB
Moli sudah sampai di rumah. Setidaknya kali ini Moli pulang dengan ekspresi yang sumringah. Hari ini bisa bertemu dengan kekasihnya itu adalah hal terbaik untuk bisa melupakan beban yang ada.
Ceklek!
Moli memutar gagang pintu, perlahan pintu ia dorong hingga terbuka. Setelah menutupnya kembali, Moli langsung memutar bola mata mengelilingi seluruh ruangan.
“Dari mana kamu?”
Suara itu berhasil mengejutkan Moli. Akan tetapi tak lama, setelah mengetahui siapa yang memanggilnya, Moli langsung mendengus kesal.
Apa harus setiap malam, kejadian kaya gini terulang secara terus menerus?
Moli mendesis cepat. “Apa sih, Pa? Bisa nggak sih, tiap malam nggak kaya gini? Bosen tahu!”
“Kamu tuh ya!” Gibran melotot.
Sudah malas dengan kejadian seperti ini, Moli langsung berjalan ke depan begitu saja. tiba-tiba langkah kakinya langsung berhenti begitu kaki kanannya hampir menapak di anak tangga pertama. Moli bisa melihat dengan jelas, tak jauh dari posisinya berdiri saat ini, ada seseorang yang sedang mengamatinya dengan senyum penuh arti.
“Elo?” Moli memicing. “Ngapain disini?” bukannya menjawab, Anton justru angkat bahu dengan satu alis terangkat. Moli tak ingin marah, tapi melihat ada seutas senyum licik di ujung bibir Anton, Moli dadanya terasa panas.
“Yang sopan kalau bicara! Apa lagi dia kan calon suami kamu.” Gibran sudah menyusul dan sekarang ikut duduk di sofa di samping Anton. “Lain kali jaga bicara kamu!”
Moli hanya terlihat menjulingkan kedua mata sambil memanyunkan bibirnya. Sepertinya pembicaraan tadi dengan Anton, sama sekali tak ada gunanya. Lihat saja wajah menyebalkannya itu, rasanya seperti sedang menyimpan sebuah rencana terselubung.
“Terserah! Aku nggak peduli.” Moli mengibaskan dua tangan ke udara.
“Setelah kamu mandi, turun lagi ke bawah! Temani Anton lagi.” Belum juga beranjak, langkah kaki Moli sudah di hentikan dengan perintah Gibran.
__ADS_1
“Nanti kalau aku inget.” Singkat dan langsung berlari cepat.
Kenapa gue harus nemenin tuh orang lagi? Bangke! Sialan!
Bredh!
Pintu tertutup dengan keras. Moli langsung membanting tubuhnya di atas kasur. Mendesah berat, di ikuti kakinya yang menendang-nendang di kasurnya yang empuk.
Moli memutar posisi kepalanya ke kanan dengan tubuh yang masih tengkurap, sementara kedua tangannya telentang ke kiri dan kanan.
“Hidup gue gini amat!” keluh Moli. “Cuma soal hubungan aja, rasanya ribet banget. lama-lama gue bisa gila!”
Moli beranjak, duduk di tepi ranjang sambil mengacak rambutnya sendiri. “Sial!” hanya itu yang terlontar dari mulutnya. Setelah kedua kakinya menghentak keras, Moli berdiri, berjalan menuju kamar mandi.
“Sabar ya, Ton... Moli pasti luluh sama kamu,” ucap Gibran. Setidaknya dengan menyemangati Anton, mungkin saja bisa membuat Moli luluh. Kalau Anton gencar mengejar dan merayunya, pasti Moli luluh. Itu menurut Gibran.
“Iya Om... tenang aja, aku pasti bisa menaklukkan hati Moli,” ujar Anton.
Keyakinan mereka berdua sepertinya terlalu tinggi. Mereka sama sekali tidak tahu kerasnya hati Moli yang sudah terlanjur mencintai bocah SMA itu. Moli sudah mencintainya sejak lama, sejak Yoga masih duduk di bangku SMP. Tentu sangat tidak mudah jika harus meluluhkan hati Moli hanya dengan tampang dan kekuasaan Anton.
“Oh iya Om...” Anton membungkuk dengan kedua tangan bersiku di atas paha. Pandangannya lurus menatap ke arah Gibran. “Kalau boleh tahu, pacar Moli itu siapa?”
“Itu nggak penting... Moli sudah putus dengan bocah itu.”
Melihat seringai di wajah Gibran, rasa penasaran Anton justru bertambah.
“Bocah?” Anton membulatkan mata. “Bocah gimana maksudnya, Om?”
“Elo nggak perlu tahu!” Ketus Moli yang ternyata sudah berdiri di tangga dengan kedua tangan mencengkeram tralis. Matanya sudah membara seperti ingin membakar kedua pria yang sedang membicarakan kekasih tercintanya.
“Moli!” Bentak Gibran sambil melotot tajam. “Nggak sopan kamu!”
“Hei! Yang nggak sopan itu siapa?” Moli mendekat. “Udah pasti elo!” tunjuk Moli pada Anton dengan bola matanya yang membulat sempurna.
“Moli!” bentak Gibran lebih keras, bahkan jemarinya sudah mencengkeram lengan Moli.
“Apa sih, Pa! Lepasin!” Moli berontak, berusaha melepaskan tangannya.
“Makin kurang ajar kamu ya!” picing Gibran. “Sudah di racuni apa kamu sama bocah itu, ha?!”
__ADS_1
Moli menjulingkan mata sambil mendengus lirih. Bagaimana kedua orang ini bisa sangat menjengkelkan? Meluapkan emosi hanya karena satu orang, yaitu Yoga. Seperti tidak punya hati saja.
“Yang membuat aku kurang ajar itu siapa?” dengan lengan yang masih di cengkeram, Moli berani menatap Gibran. “Bukankah papa? Ck!” Moli membuang muka. Kalaupun tiba-tiba papanya menampar lagi, Moli sudah tak peduli. Tamparan itu tak jauh lebih sakit ketimbang harus berpisah lagi dengan Yoga.
Gibran sudah terlibat mengangkat tangan kirinya, tapi turun kembali ketika Anton berucap.
“Sudah Om... kasihan Moli. Biar aku yang bicara.”
Cih! Sok cari muka! Gue nggak bakal tertarik.
Gibran seketika langsung melepaskan cengkeramannya.
“Ya sudah, Om tinggal. Kalian bicaralah!” Gibran berbalik dan berpindah menuju kamarnya.
Di dalam kamar, ternyata ada istrinya yang sedari tadi sedang mendengar pembicaraan mereka. Anton bisa dengan jelas melihat wajah Mareta yang sedang menahan kemarahan. Tapi Gibran tak peduli, ia sudah terlanjur pusing menghadapi Moli yang sangat keras kepala.
“Mau sampai kapan, papa memaksakan perasaan Moli?” tanya Mareta tanpa memandang ke arah suaminya. Mareta langsung meraih bantal, menepuknya sebentar lalu berbaring.
“Ini semua demi kebaikan Moli.”
Kebaikan? Kenapa setiap perjodohan selalu mengatas namakan demi kebaikan? Basi! Tapi begitulah menurut Gibran.
“Demi kebaikan Moli atau kebaikan kamu?” kali ini Mareta melirik sekilas ke wajah suaminya.
“Apa maksud mama?” Gibran mendekat, merangkak naik ke ranjang dan menjejeri Mareta. “Jangan sembarangan kalau bicara!” imbuhnya lagi.
Sudah dijejeri suaminya, Mareta langsung memutar tubuhnya miring ke samping kiri memunggungi Gibran. “Siapa yang bicara sembarang? Aku masih punya hati, itu sebabnya aku bisa berkata demikian.”
“Terserah mama saja, aku nggak peduli. Intinya Moli dan Anton harus menikah dalam waktu dekat!”
“Terserah!” Mareta memilih memejamkan mata saja.
***
**Akhirnya up lagi. maaf ya cuma 1 eps aja 🙏🙏🙏
tapi tenang, mulai besok aku bakal up tiap hari. moga aja levelnya bisa naik. Aaamiin. tapi maaf juga ya, mungkin up nya cuma bisa 1 bab perhari.
lop you semua**....
__ADS_1