Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
16. jadi papa tahu?


__ADS_3

Suasana rumah sudah gelap. Tak ada satupun ruangan yang terang, karena semua lampu sudah di matikan. Tak ada siapapun. Cuma terlihat lampu di lantai dua yang menyala. Barang kali Papa dan mama sudah tidur.


Moli menyalakan ponsel, melihat jam yang tertera di bagian atas pada layar ponsel. Sudah pukul sembilan malam. Setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas lagi, Moli langsung melangkah menuju anak tangga.


Byar!


Seketika lampu menyala begitu terang hingga Moli menyipitkan mata. Moli langsung berhenti dan menoleh mencari letak sakelar lampu di ruang ini. Di ujung di dekat pintu menuju dapur, Moli melihat seseorang tengah berdiri di sana dengan sorot mata tajam dan penuh amarah. Moli tahu siapa itu, tentu saja pama dan mama.


Moli langsung mendengus kesal. Menghentakkan kaki pelan lalu mulai menaiki satu anak tangga.


“Tunggu!” teriak papa. Ia mengulurkan tangan kanan, melambai meminta Moli segera mendekat.


“Apa sih! Aku udah ngantuk Pa, ma.” Keluh Moli tanpa berencana untuk mendekat.


“Kesini, kamu!” Bola matanya membulat penuh ancaman. Setelah menghentakkan kaki lagi, akhirnya Mona mendekat juga.


“Dari mana kamu, jam segini baru pulang?” tanya Gibran tanpa mengurangi ekspresi seramnya.


“Kerja lah! Memang dari mana lagi...” Moli melengos.


“Moli!” kali ini Mareta yang bersuara. “Jangan bohong kamu! Kami tahu kamu tidak ada di kantor hari ini.”


Mendengar ucapan mama, Moli langsung menjulingkan mata dengan ujung bibir terangkat. “Jadi Anton mengadu sama kalian? Ck! Ke kanak-kanakkan.”


“Jangan sembarangan kamu!”


Plak!


Satu tamparan melayang begitu saja dan mendarat di pipi Moli.


Moli sontak langsung memegangi pipinya. Kepalanya yang menoleh ke samping langsung beralih lagi menghadap Gibran. Di sebelahnya, Mareta hanya diam. Ada rasa kasihan, tapi tidak berani berbuat. Memang tak ada yang berani melawan Gibran.


“Papa tega nampar aku hanya karena Anton?” Moli menatap Gibran dengan mata yang sudah mulai tergenangi air mata.


“Dia itu calon suami kamu, kamu harus nerima dia!” Suaranya masih meninggi. Tangannya pun ikut bergerak sesuai ucapan yang keluar dari mulutnya


“Anton adalah lelaki yang cocok untuk kamu. Dia tampan, mapan dan berasal dari keluarga terpandang.”


“Tapi aku tidak suka dia! Apalagi cinta, cuih!!” Moli dengan beraninya melawan Gibran.

__ADS_1


“Kamu!” Gibran sudah mengangkat telapak tangan lagi.


“Apa!? Papa mau menampar ku lagi? Silahkan!” Moli mendekatkan pipinya ke arah Gibran.


Tangan itu sudah menurun. Kali ini Gibran berkacang pinggang tanpa beralih pandangan dari Moli.


“Aku itu udah punya pacar, Pa! Biarin Moli memilih sendiri jodoh Moli.”


Gibran terlihat menyeringai. Seringai yang terlihat seperti sebuah ejekan. Setelah menoleh pada Mareta sebentar, Gibran menurunkan satu tangannya, sementara satu tangannya menuding tepat di depan wajah Moli.


“Apa pria SMP itu? Ck!” Gibran mendengus sambil menampakkan sederetan giginya. “Benar itu?”


Moli terpaku. Kalimat yang di lontarkan papa membuatnya bingung. Tanpa di sadari, bahkan tas selempang Moli sudah merosot dari pundaknya dan terjatuh di lantai.


“Ternyata benar...” sambung Gibran lagi. “Jadi benar bocah SMP itu?”


Bocah SMP? Siapa? Yang mana?


Moli masih terdiam.


“Siapa maksud papa?” tak kunjung mengerti, Moli pun bertanya.


Jeder!!


Moli bagai tersambar petir tanpa ada hujan.


Sejak kapan Gibran tahu tentang hubungannya dengan Yoga? Selama ini Moli tak pernah menceritakan hubungan dirinya dan Yoga kepada papa dan mamanya. Lebih tepatnya bukan tidak menceritakan, tapi belum sempat menceritakan. Waktu itu, itu Moli pergi ke luar negeri sebelum Papa dan mamanya tahu tentang hubungannya. Jika mereka tahu Yoga, berati itu artinya.


Seketika Moli langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Air matanya tanpa terasa semakin deras membasahi kedua pipinya. Ia tak menyangka papanya tega berbuat seperti itu hingga dirinya harus berpisah dari Yoga. Jadi ini alasannya kenapa Papa mendadak memindahkan Moli ke luar negeri?


“Kalian itu sudah berpisah lama, apa masih bisa di sebut pacar?” Gibran berkata lagi. “Papa bahkan sudah mengancamnya supaya tak menghubungi kamu selama kamu di luar negeri.”


Apa! Moli kembali terhenyak. Apa karena itu, Yoga tak pernah menelpon atau sekedar kirim pesan untuknya?


“Maksud papa apa? Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Jelaskan, Pa!” masih dengan isak tangis, Moli terus menatap Gibran, berharap ada jawaban yang bisa membuat kebingungannya segera hilang.


“Kamu nggak usah banyak tanya. Intinya sekarang, papa mau kamu segera menikah dengan Anton.”


“Nggak! Moli nggak mau!” Moli menggeleng cepat. Setelah itu langsung beralih pandangan ke arah Mareta yang sedari tadi cuma menyaksikan perdebatan panas ini.

__ADS_1


“Ma... jelaskan sama Moli...” Moli sudah meraih pergelangan tangan Mareta.


“Mama mu tak tahu apa-apa. Percuma kamu tanya.” Sela Gibran.


“Mama...” Moli mengguncang tangan Mareta lebih kencang. Tapi sepertinya Mareta sama sekali tak ada niatan untuk menjawab.


Masih sama. Mareta sama sekali tak memberi jawaban. Memandang Moli pun tidak. Pada akhirnya, Moli mulai melonggarkan genggamannya, perlahan mundur, menatap tajam ke arah mama dan papanya.


Setelah mengusap pipinya yang basah, Moli seketika berteriak. “Kalian egois!! Kalian jahat!” Moli berbalik dan berlari cepat menuju kamarnya.


“Lihatlah! Kamu kurang baik dalam mendidik Moli, makanya dia jadi kurang ajar.” Geram Gibran sambil melotot pada istrinya.


Merasa tak terima, Mareta berbalas menatap tajam ke arah suaminya. “Ingat! Dia juga anak kamu. Jadi, bukan hanya aku yang berhak mendidiknya, tapi kamu juga.” Balas Mareta tak mau kalah.


“Hei!” Gibran berkacak pinggang. “Kamu itu ibunya, jadi kamu yang lebih wajib mengurusnya. Tugasku adalah mencari nafkah!” Seloroh Gibran.


Mareta memicing. “Kamu memang egois!!” timpal Mareta jengkel.


“Diaaaam!!!!”


Terdengar suara teriakan dari lantai dua. Suara itu berhasil membuat Gibran dan Mareta berhenti bicara, dan seketika keduanya mendongak ke atas. Disana, masih terlihat Moli yang berdiri dengan sorot mata tajam, kedua tangannya mencengkeram tralis besi. Kedua pundaknya terlihat naik turun, mengikuti nafasnya yang sudah menyengal dada.


“Kalian berdua egois!! Apa kalian tidak punya cermin, ha!?” Moli masih menatap mereka. “Aku lebih suka kalian tak ada disini. Ingat itu!”


Deg! Refleks Mareta langsung mendaratkan telapak tangan di depan dada. Entah kenapa ucapan Moli terdengar begitu menyakitkan. Tapi, tidak dengan Gibran. Ia begitu terlihat biasa saja. Justru saat ini, wajahnya semakin terlihat pias dan marah.


“Dasar anak kurang ajar!”


Dan benar saja, Gibran memang marah. Kedua tangannya sudah mengepal erat. Setelah mendengus, kepalanya memutar menatap Mareta.


“Apa! Apa kamu mau marah padaku?” Sentak Mareta sebelum Gibran berbicara.


“Aku memang marah! Karena kamu tidak becus mendidik Moli.”


“Terserah!” Mareta berbalik sambil mengibaskan kedua tangannya di hadapan Gibran.


***


hanya bisa up 3 eps. 🙏🙏🙏 tunggu lanjutannya lagi...

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan vote, like, dan komentar kalian. 😘😘😘


__ADS_2