Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
Delapanbelas


__ADS_3

Dari ambang pintu masuk ke kelasnya ada Daren yang tengah berdiri dengan tas punggung yang di tenteng di tangannya. Sepertinya Dia sedang menunggu seseorang. Moli berjalan mendekat dengan acuh, tentunya Ia tak mau berurusan dengan Lelaki itu.


“Moli kan? Gue perlu bicara sama lo...”


Daren menghalangi jalan dengan tangannya memegang kusen pintu. Moli tak menjawab. Ia berusa mendorong lengan itu namun kalah kuat dengan tenaga Daren.


“Minggir gue mau lewat! Gue nggak ada urusan sama lo ya...”


“Lo pacarnya Diki kan? Gue minta lo bilangin ke Diki, nggak usah ikut campur urusan gue dengan Lia. Bisa kan?”


Daren mendorong kedua pundak Moli hingga mundur beberapa langkah. Sementara Siswa di dalam kelas hanya diam seolah olah tak melihat kejadian itu.


“Lo apain temen gue ha?!”


Mia yang melihat Moli di dorong oleh Daren langsung menarik baju Daren dengan kuat. Sorot matanya tajam tanpa ada rasa takut sedikit pun pada Daren. “Lo mau gue tonjok?”


Daren meringis karena kerah bajunya mencekik lehernya yang di tarik kuat oleh tangan Mia. Ck! Bener bener kuat nih cewek! Dia wanita atau Samson?


“Nggak usah ikut campur lo ya...”



Mia udah... biarin aja...” Moli menengahi.


“Menyangkut Moli. Gue nggak bisa kalau nggak ikut campur! Paham lo!” Mia terlihat begitu emosi. “Kalau urusannya sama Lia... lo nggak usah sangkut pautin Moli. Bisa kan?”


Mia melonggarkan cengkeramannya pada baju Daren. Lalu ia mengelap merapikannya yang sempat berkerut karena ulah tangannya.


“Sono pergi Lo!”


Tanpa berkata Daren pergi dengan memicingkan matanya.


“Ada apa sih... kok pada tegang gitu...” tanya Fani setelah Daren sudah tak terlihat lagi.


“Nggak papa... udah ayo masuk...”


Pelajaran sudah dimulai dari setengah jam yang lalu. Suasana kelas hening seperti biasanya jika yang mengajar adalah Bu Demora. Semua kepala tertunduk pada buku pelajaran masing masing. Hanya Moli yang tidak fokus dengan pelajarannya, Ia terngiang dengan beberapa hal yang akhir akhir ini terjadi padanya.


“Moli... coba kamu jelaskan apa yang ibu tulis di papan tulis.” Perintah Bu Demora pada Moli. Namun tak ada jawaban dari mulut mungil Moli. Ia mengacuhkan pertanyaan dari Bu Demora.


“Moli...” Merasa duduk di sampingnya Mia langsung menyikut lengan Moli. Moli menoleh pelan.


“Kenapa sih...”


“Moli!!”


Teriakan itu membuat seisi kelas menegang. Merasa namanya di panggil Moli langsung bangkit dengan wajah panik.


“I... iya bu... kenapa?”


Tawa seisi kelas menggelegar mendengar ucapan dari Moli yang ternyata tak memperhatikan penjelasan dari bu Demora.


“Keluar kamu! Berdiri di tengah lapangan sampai jam istirahat!”


Bu Demora menunjuk arah ke ambang pintu meminta Moli segera keluar meninggalkan kelas. Dengan kepala tertunduk Moli melangkah keluar memenuhi permintaan guru killer itu.


“Bangke! Gue jadi di hukum gara gara persoalan cewek Ular!” gerutunya dengan menghentakkan kaki ketika sudah berdiri di tengah lapangan.


09.40 WIB


Brak!


Pukulan keras terdengar dari meja Diki. Diki yang sedang ngobrol dengan tara langsung menoleh pada sosok mata yang menatapnya penuh amarah. Ya beginilah kalau Mia sudah terbangun dari tidur nyenyaknya. Siapa yang mengganggu orang terdekatnya akan berurusan langsung dengan nya. Apa lagi mengenai para sahabatnya. Bisa di hajar habis tanpa beri ampun.


“Cupu banget lo jadi cowok! Klemar klemer kaya banci!”


Fani yang masih terduduk di bangkunya menjulingkan mata pada Lia yang mulai panik ketakutan dengan amarah Mia. Mampus nggak tuh? Makanya jangan bangunin singa lagi tidur! Berabe kan?


“Apa lo lihat lihat?” gue tonjok mampus lo...” semprot Fani atas lirikan Lia padanya.


Merasa kebingungan Diki berdiri menghadap Mia yang terus tajam menatapnya.


“Ini ada apa sih... kok lo tiba tiba marah nggak jelas sama gue... gue ada salah sama lo?”


“Gue bilangin sama lo ya! Stop nyakitin perasaan sahabat gue... bisa kan?” jari telunjuknya mendorong dada Diki yang sepertinya masih belum paham dengan apa yang terjadi.


“Maksudnya apa sih? Gue nggak ngerti...”


“Gara gara lo... Moli jadi sasaran si Daren! Tahu nggak lo?! Mikir woi!”


Mia menggebrak meja sekali lagi. Hingga beberapa siswa yang masih di dalam kelas menoleh padanya.


“Lo belain cewek Ular itu... sampai lo lupa sama pacar sendiri! Brengsek Lo!”


Ucapan terakhir yang di lontarkan Mia itu membuat Diki melemas. Sepertinya Ia mulai mengerti dengan perkara ini. Mia dan Fani sudah berlalu menghampiri Moli yang barangkali masih ada di lapangan.


“Lo nggak papa Dik...” tanya Tara. Lia yang mendekatinya dengan perasaan campur aduk. Bisa saja sekarang ini Diki akan memarahinya.


“Moli!”

__ADS_1


Teriak Fani ketika melihat Moli sedang berjalan menuju kantin.


Mereka bertiga duduk di kursi no 4 kantin. Mereka mengobrol namun bukan membahas hal dimana Mia yang memarahi Diki. Sebelumnya Mia sudah memperingati Fani untuk tak membicarakan hal tadi pada Moli,


takutnya Ia terkejut.


“Kalian ada yang tahu tentang Daren dan Lia nggak sih?”


“Uhuk!”


Mia tersedak minuman ketika mendengar pertanyaan Moli. Kemudian mengelap air yang tercecer di mulutnya.


Belum sempat menjelaskan Fani sudah terlebih dulu nyerocos dengan penuh semangat.


“Gue denger denger sih... Lia itu nolak cintanya si Daren... ya sekitar beberapa hari yang lalu lah...”


Ucapannya berhenti karena makanan yang Ia masukkan ke dalam mulutnya.


“Terus?”


“Ya Daren merasa nggak terima mungkin... apa lagi setelah Diki ikut campur... jadi tambah meluap deh tuh si Daren...”


Moli manggut manggut tanda mengerti dengan penjelasan Fani. Jadi seperti itu masalah yang terjadi? Lalu kenapa harus pada Moli Ia meluapkan amarahnya? Apa karena kekasih Diki? Moli bergidik.


“Jadi Diki lebih melindungi Lia dari pada gue pacarnya sendiri?” gumam Moli dalam hati.


Moli meneguk minuman dalam botol. Pikirannya entah melayang kemana. Ia merasa tak terima atas perlakuan Diki hingga membuat dirinya harus berurusan dengan Daren.


Di sepanjang perjalanan pulang Moli hanya melamun di dalam Mobilnya. Pak Ujang yang duduk di sampingnya hanya diam tak berani untuk melontarkan pertanyaan. Kenapa Diki begitu peduli pada Lia? Lalu bagaimana dengan Moli? Apakah Dia peduli? Buktinya sampai sekarang tak ada usaha sedikitpun dari Dia untuk meminta maaf padanya. Hanya sebuah pesan chat beberapa kali untuk meminta bertemu dengan Moli. Jika memang berniat ingin bertemu kenapa tak coba mencarinya langsung? Apa Lia jadi alasan?


Lamunan itu terus berlanjut hingga sampai di rumah. Bahkan sapaan mbok Ijah tak Ia hiraukan. Merasa di acuhkan Simbok melirik pak Ujang yang berjalan di belakang Moli. Namun beliau hanya menggeleng dan angkat bahu.


04.30 WIB


Yoga yang sedang duduk di ruang makan merengut melihat kedatangan Lia dan Diki. Bisa bisanya Ia jalan dengan wanita lain sementara Ia sedang bermasalah dengan kekasihnya. Lelaki macam apa seperti itu?


“Lia... kamu tunggu sini dulu ya... aku mau keluar bentar.”


“Kemana?”


“Ada lah... Cuma bentar kok...”


Lia mendengus namun Diki tetap melangkah keluar meninggalkan Lia. “Nanti kamu ngobrol sama Mama...”


Belum sempat berganti pakaian Diki langsung balik keluar pergi ke suatu tempat. Ia akan mengunjungi rumah Moli, berharap masalahnya dengan dirinya cepat terselesaikan.


“Lia? Kok sendirian? Mana Diki?” tanya Santi yang baru keluar dari kamar.


“lho Ga... ada kamu kok Lia nggak di temenin?


Santi melirik Yoga yang lebih memilih cuek dan tetap fokus pada makanannya. Buat apa nemenin wanita perusak hubungan orang? Kesempatan Yoga ketika hubungan antara Moli dan Diki merenggang, namun jika Moli tersakiti tentu bukanlah yang di inginkan Yoga.


“Sini temenin Ga...”


“Mama aja situ yang nemenin... Yoga lagi makan...”


Lia meringis mendengar ucapan Yoga itu. Kalau bukan karena saudara Diki, Udah di protes kali dia nya. Bikin malu nggak sih?


“Sialan nih bocah!”


“Maaf ya... Yoga emang suka gitu orang nya...


“Iya nggak papa kok Tante...”


Yoga kira yang namanya cewek itu punya sikap lemah lembut. Tapi lain dengan Lia. Sepertinya Dia tipe wanita yang suka menang sendiri. Sudah terlihat sih dari sorot matanya yang menyebalkan itu. Rasanya pengen nyolok. Yoga mendengus lalu pergi ke kamarnya setelah sebelumnya menaruh piring di wastafel hingga terdengar keras, membuat Santi dan Lia menoleh ke belakang. Yoga emang terkadang suka nggak sopan.


“Diki? Ngapain kesini?” Moli terkejut ketika Diki tiba tiba datang ke rumahnya. Apa Dia ingin minta maaf? Atau ada hal lain?


“Moli... aku pengen bicara sama kamu...”


Tangannya di genggam oleh kedua tangan Diki. Sepertinya Ia berniat ingin menemuinya. Terbukti dari tampilannya yang belum sempat berganti pakaian. Pikir Moli begitu.


“Ya udah ayo masuk...”


Mereka duduk di sova ruang tamu. Tapi Moli lebih memilih duduk di sova lain di samping Diki. “Kamu mau ngomong apa?”


“Aku mau minta maaf sama kamu... aku pengen hubungan kita kaya dulu lagi...”


Moli diam. Ia mengambil nafas mencoba berfikir jawaban apa yang tepat untuk Ia sampaikan pada Diki. Moli tak mau salah mengambil keputusan karena hatinya terlanjut sakit hati. Moli diam bukan berarti perasaannya baik baik saja bukan?


Bibir tipisnya mulai bergerak. “Buktikan saja dulu kalau kamu memang benar benar minta maaf... mungkin saja aku bisa berubah pikiran...”


“maksudnya?”


“Aku udah sakit Dik... kamu nggak tahu aja karena aku nggak pernah berontak seperti kamu yang mulai mengedepankan emosi dan kepentingan orang lain...”


Diki membisu. Sepertinya ucapan Moli berhasil membuat otak Diki berputar 180° untuk lebih memahami akan perasaan Moli. Diam selama ini ternyata tersirat kecemburuan yang membeku di hati Moli.


“Mungkin aku bisa maafin kamu, kalau kamu bisa adil...”

__ADS_1


“Oke... aku akan berusaha... sekarang kamu maafin aku kan?”


“Buktikan saja dulu...”


Sepertinya hati Moli sekarang lebih keras dari sebelumnya. Biasanya Ia mudah memaafkan seseorang tapi lain dengan kali ini. Mungkin Moli tak mau bersedih berkepanjangan bila seandainya hubungan dengan Diki suatu saat akan berakhir.


Diki tak menyangka sekarang Moli bisa lebih pandai dalam membicarakan hal sensitif. Biasanya Ia langsung menjawab “Iya” atau “oke” tapi kali ini Dia terlihat dewasa dan bukan seperti Moli seperti biasanya.


Diki terdiam dalam sunyi nya malam hari. Ia memandang gelapnya jalan yang hanya di terangi beberapa lampu saja. Sejahat ini kah dirinya kali ini? Hatinya terus berkecamuk, sepertinya tak mengerti dari mana harus memulai perubahan itu.


Diki mencengkeram stang Mobilnya dan mempercepat lajunya dengan kecepatan tinggi menembus angin yang semestinya tak tahu apa apa.


“Dari mana Dik? Lia nungguin kamu lho... kasihan Dia...” kata Santi ketika Diki sudah memasuki rumah. Ia menaruh kunci mobilnya di atas rak kemudian mendekati Lia yang sudah tertidur di atas sova karena terlalu lama menunggu Diki.


Perlahan Diki mengusap rambut yang menutupi jidat Lia. Di pandangnya wajah gadis itu yang mungkin sedang berimajinasi dalam mimpinya. Masih adakah rasa buatnya? Lalu bagaimana dengan gadis yang di seberang sana?


“Kamu tidur di sova sebelah... temenin Lia...”


“Oke Ma...”


09.00 WIB


Di bawah pohon beringin besar, Moli sedang duduk mengelap keringat yang membasahi wajah dan lehernya setelah sebelumnya Ia berlari mengelilingi jalan area taman kota. Ia duduk sendiri memandangi orang orang yang berhalu lalang lewat di hadapannya. Keramaian itu masih saja terasa sepi.


Setelah meneguk sebotol minuman, Moli berdiri berlari kembali ke arah rumah nya yang terletak di sebelah Timur.


Langkahnya terhenti di depan sebuah warung makan. Terlihat dari seberang jalan ada Diki dan Mia yang hendak masuk ke sebuah toko aksesoris. Usai menoleh ke kanan kiri, Moli berlari menyeberangi jalan membuntuti mereka dari kejauhan.


“Yang ini bagus nggak?” tanya Lia ketika sebuah gelang melingkar di tangan kirinya.


“Bagus kok... kamu yang pakai semuanya pasti terlihat bagus...”


“Kamu mah bisa aja...”


Moli mengeryit melihat tingkah mereka berdua. Kedua tangannya mengepal dengan erat.


“Yang ini bagus... pas di leher kamu...”Diki mengulurkan sebuah kalung silver dengan tulisan Love yang tergantung.


Apa yang di maksud dengan kata maaf? Seperti ini kah? Di hari minggu Ia lebih memilih jalan dengan gadis itu dari pada dengan kekasihnya. Jahat!


Karena tak ingin ada keributan Moli lebih memilih untuk menjauh seakan Ia tak melihat Diki dan Lia. Biarlah mereka mau berbuat apa. Sebuah kejujuran yang di pertanyakan.


“Kamu mau makan apa?”


Lia duduk menaruh beberapa belanjaannya di atas kursi no 6 di sebuah restoran. Sementara Diki duduk tertunduk menulis sesuatu di layar ponselnya.


“Kamu mau makan apa? Biar aku panggilin pelayan...”


Kepalanya mendongak dengan jari yang belum berhenti mengetik sesuatu. “Nasi ayam aja sama es teh...”


Beberapa menit kemudian makanan pun datang. Lia begitu antusias karena memang dari tadi Ia sudah kelaparan. Maklum Dia belum sarapan. Diki masih cuek bebek merengut memandang ponselnya yang terkadang di ketuk dengan keras.


“Kenapa Dik?”


“Nggak papa...” Diki menggeleng menyembunyikan sesuatu. Sepertinya Ia sedang mengirim pesan chat pada Moli, namun tak kunjung di balas. “Yuk makan...”


Pasti sedang chating sama Moli. Lia agak jengkel sebenarnya. Kapan bisa bersama Diki tanpa harus ada Moli? Cara apa yang perlu di lakukan supaya mereka berpisah? Lia berfikir keras sambil mengunyah makanannya yang sudah mulai dingin.


“Dik...” Lia menarik tangan Diki di atas meja.


“Kamu masih sayang nggak sih sama aku?”


Diki menelan ludah. Pertanyaan macam apa ini? Diki terdiam sejenak berfikir jawaban apa yang pas untuk di lontarkan. Ia menatap sayu mata Lia yang tersenyum tipis padanya.


“Aku sayang kok sama kamu... kalau nggak... nggak mungkin dong aku mau nemenin kamu kemana aja...”


Diki berharap jawaban itu bisa menghentikan Lia dari pertanyaan berikutnya. Untuk saat ini yang Diki inginkan hanya ingin lebih fokus pada Moli. Untuk Lia, Ia hanya berusaha menjaganya karena ini tanggung jawabnya selama di jakarta.


Lia mendengus, sepertinya Ia tak puas dengan jawaban itu. “Sayang yang lain maksudnya Dik... Aku pengen kita kaya dulu lagi.”


Bayangan masa lalu itu tiba tiba terhempas masuk ke dalam otaknya lagi. Sebuah hubungan yang menurutnya sangat istimewa saat itu. Dimana Diki dan Lia berbagi kasih dalam cinta monyet yang di kira akan bertahan lebih lama.


“Aku sayang sama kamu Dik... aku mau kamu...”


“Tapi aku udah punya Moli... aku nggak mau ninggalin Dia...” tak ingin menyakiti hatinya, Diki melempar senyum dengan mengusap pipi Lia.


“Tapi... aku cinta Dik sama kamu...”


Matanya mulai basah di aliri air yang muncul dari sudut matanya. Lia memang egois! Pernahkah Ia memikirkan perasaan orang lain? Harusnya Dia berfikir akan ada hati yang terluka jika Dia terus bersi keras merayu hati Diki.


Dengan nafas tertahan Diki mengusap air mata itu. Ia tak tega melihat wajah Lia yang muram itu. Dari jauh Ia pindah kesini tentunya hanya karena ingin melepas rindu bersamanya. Lalu ini kah balasan Diki?


Terkadang ke egoisan bisa mengalahkan hati


yang masih terselip rasa cinta.


“Udah jangan bahas yang itu dulu... yang penting aku selalu sama kamu kan... aku janji nggak akan ninggalin kamu...”


Senyumnya melebar ketika usapan lembut dan perkataan halus itu keluar dari mulut Diki. Inilah sedikit harapan yang mungkin akan menjadikannya kekuatan untuk lebih berusaha lagi mendapatkan Diki kembali. Tak peduli jika ada hati yang tersakiti.

__ADS_1


**Semoga cepat tayang... maaf baru bisa update lagi. kemarin2 ceritanya ada yang aku setting ulang...


happy reading...😍😍😍**


__ADS_2