Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
Sembilan


__ADS_3

“Terserah kamu aja.”


Jawab Moli singkat. Kemudian melihat ponselnya yang berbunyi. Dari Nomor tak di kenal.


Kak Moli dimana? Udah mau pulang belum? Aku masih disini. Di rumah kak Moli.


Moli membuka foto profil nomor whatapp itu.


Yoga.


“Ya ampun! Gue sampai lupa kalau ada Yoga dirumah gue...” Moli menjitak kepalanya sendiri.


“Ada apa Mol? Siapa yang nge-chat?” tanya Diki yang melihat tingkah Moli.


“Bukan siapa siapa...”


Moli bangkit dari duduknya. “ Aku mau pulang dulu. Gerah disini panas rasanya...”


“Tunggu! Kita pulang bareng...” cegah Diki ketika Moli melangkah keluar. “Berangkat bareng, pulang bareng dong...” Diki memegang lengan Moli yang masih terus saja melangkah.


“Ya udah ayo cepetan! Gue pengen pulang!”


Lia meliriknya dengan tatapan sinis. Sumpah ya ini cewek emang niat banget bikin Moli panas hati! Lama lama bisa di sikat juga kali!


Diki mengusap rambut Moli. “Iya ayo kita pulang...”


Mereka masuk ke dalam Mobil. Moli duduk tanpa menoleh sedikit pun pada Diki. Setelah memasang sabuk pengaman Moli langsung mengarahkan matanya ke arah luar memandang nyala lampu yang terjejer di jalanan.


Lia membungkuk mendekatkan wajahnya pada Diki yang sedang mengemudi. “Dik... rumah Moli searah nggak sama kita?”


“Nggak... nanti aku nganterin Moli dulu... setelah itu nganterin kamu...” Diki sudah duduk di depan setir. Lia menghempaskan pantatnya bersendehan kembali pada jok. “Nggak searah to...”


Moli tetap diam duduk di samping Diki. Wajahnya masih melengos kearah luar jendela kaca mobil. “Pake nanya segala? Buat apa?” ketusnya dalam hati.


“Nggak capek kamu... kenapa nggak biarin Dia naik taksi aja?” cerocos Lia yang seakan ingin Moli keluar dari mobil itu.


Moli menekan giginya berasa gemes tangan nya sudah mengepal siap untuk meninju wajah nya yang menyebalkan itu. Terang terangan gitu caranya mengusir Moli.


“Nggak dong... kan aku yang ngajak Moli... masa pulang sendiri...” Diki tersenyum melihat Moli yang acuh padanya. Bahkan Ia tak menoleh pada Diki.


Mobil nya sudah melaju dengan kecepatan normal. Lia bergumam lirih namun sempat di dengar oleh Moli.


“Ngerepotin aja! Udah tahu arah nya beda... kenapa nggak pulang sendiri?”


“Maksud lo apa ngomong gitu? Jangan lo kira gue nggak dengar ya!!” Moli menoleh menatap tajam wajah menyebalkan Lia.


“Sukur deh kalau Elo dengar... gue kira budeg...” Lia mencibir dengan mata picik nya.


“Apa Lo bilang?!” Moli bangkit menghadap ke belakang berusaha menjambak rambut Lia. Diki yang sudah mulai tak fokus menyetir pun memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.


“Kalian ini kenapa sih? Kaya anak kecil!” bentak Diki berusaha memisahkan Lia dan Moli yang mulai jambak jambakan.


Moli tak henti berusaha menarik rambut Lia hingga hampir mencakar wajahnya. “Gue udah sabar dari tadi ya... tapi lama lama lo nglunjak juga!”


Lia juga masih kekeh terus membalas perbuatan Moli padanya. Ia menarik Moli hingga ada goresan di lengan kiri Moli karena cakaran Lia. “Aww!!”


“Udah cukup!!” teriak Diki yang sudah tak tahan dengan tingkah mereka. “Cukup ya kalian...”


Moli kembali duduk begitu juga dengan Lia. Moli mengatur nafasnya dengan tangan di silang di depan dadanya. Sementara Lia masih mengatur rambut nya yang awut awutan karena di jambak Moli.


“Kalian ini kenapa sih? Berantem kaya anak Tk!” tanya Diki ketika keadaan sudah mereda.


“Tanya tuh sama Dia!” Lia menunjuk ke arah Moli.


“Maksudnya apa? Elo tuh yang mulai duluan.” Timpal Moli tak terima.


Diki mendesah pelan. “Udah ya... kita pulang sekarang!”


****


21.45 WIB


Hampir tiga jam lebih Yoga setia menunggu Kepulangan Moli. Hingga tak terasa Ia tidur di atas ranjang gadis tersebut. Bukan bermaksud nggak sopan ya, tapi Moli sendiri yang bilang terserah mau ngapain di sini. Jadi nggak salah dong masuk kamar. Si mbok juga ngijinin.


Suara mesin mobil terdengar di halaman rumah. Lia sedikit terkejut melihat rumah Moli yang lebih mirip seperti sebuah istana. “Anak orang kaya ternyata Dia..” gumamnya dalam hati.


“Besok pagi aku jemput...” kata Diki sebelum Moli turun dari dari Mobil.


Moli membanting pintu mobil tanpa mengucap kan kata apa pun dan langsung berjalan masuk ke rumah sambil memegangi lengannya yang mulai terasa perih. Sialan tuh cewek!


Rumah nya sudah gelap. Si mbok sudah tidur, Yoga mungkin juga sudah pulang. Moli masuk ke kamarnya tanpa melihat ada seseorang yang sedang tertidur di atas ranjangnya. Ia langsung masuk ke kamar mandi untuk mengguyur badannya yang sudah acak adul tak karuan. Apa lagi tadi habis ngeluarin keringat karena duel dengan Lia. Ck! Emang sialan tuh cewek!


“Uh perih...” Moli meringis ketika bekas cakaran Lia tersentuh air. “Brengsek!” gerutunya jengkel.


Ia berendam Di beth up dengan air dingin. Gerah kan? Lima belas menit kemudian Moli keluar dengan tubuh di lilit handuk berwarna putih, rambut panjangnya di ikat ke atas memakai jepitan rambut.


Saat tengah berdiri di depan lemari Moli mendengar suara lenguhan seseorang. Moli menoleh terpekik, mata nya membulat seperti di kejutkan oleh sesuatu hal.


“Aaaaaaaa!!!!” teriak Moli yang sontak membuat Yoga terduduk bangun.


“Apa? Apa... kebakaran...” Yoga setengah panik melihat apa yang terjadi hingga matanya terhenti pada sebuah tubuh mulus seorang wanita yang hanya berbalut handuk.


Ia menelan ludah “Aaaa!! Penampakan!” teriak Yoga menutup matanya dengan telapak tangan.


Moli menyilang tangan mendekap handuk nya. “Lo masih disini?”


Yoga membuka tangan yang menutup matanya. “Lha iya... nungguin kak Moli...” jawabnya dengan santai dan turun dari ranjang mendekati Moli.


“Ma... mau ngapain Lo? Jangan macem macem ya...” Moli melangkah mundur hingga terhenti karena lemari. Yoga tersenyum dan terus melangkah mendekati Moli yang sudah tersudut. Yoga membungkuk hingga wajah mereka berdekatan. Moli semakin salah tingkah di buatnya. Antara rasa takut dan penasaran, hingga dadanya berdegup kencang.


“Udah gih... pakai bajunya... nanti Khilaf gue...” Yoga menyentil hidung mancung Moli kemudian berbalik dan keluar dari kamar.


“Brengsek!” Semprot Moli dengan setengah senyum tersungging di bibir tipis nya.


Yoga menunggu Moli di ruang tengah. Ia duduk di sova sambil melihat TV. Di gamitnya ponselnya yang ada di saku. Ada beberapa chat yang masuk.


Mama


“Kamu di mana Ga? Udah malam belum pulang...”


Pesan dari Mama sekitar satu jam yang lalu. Yoga langsung menelefon nomor tersebut memberi penjelasan supaya tak khawatir.


“Halo ma...”


“Iya sayang... kamu dimana? Kok belum pulang...”


“Dirumah temen ma... Mama belum tidur?”


“Ini udah mau tidur. Kamu hati hati di situ...”


“Iya Ma... maaf lupa kasih kabar...”


Moli yang sudah berdiri mengamati Yoga yang sedang berbicara dengan seseorang di balik telpon.


“Udah dulu ya Ma... Mama tidur aja...”


Tut... Yoga mematikan ponselnya. Kemudian menatap Moli yang masih berdiri membawa beberapa baju di tangannya. Moli sempat tersenyum sebelum telpon itu terputus. Ia kagum dari bahasa Yoga saat berbicara pada Mamanya. Ah andai saja...


“Mandi sono! Ini ada baju, lo pakai aja... masa pake baju seragam sekolah dari tadi...” ucap Moli menyodorkan baju yang di bawanya.


“Oke boss!”


Yoga berdiri dengan tangan di atas pelipisnya.


“Apaan sih! Udah sono...” Moli mendorong Yoga untuk menuju ke kamar mandi. Kemudian Ia pergi ke dapur mencari makanan.


Moli mengambil mi instan yang ada di lemari kemudian merebusnya untuk makan malam. Sebenarnya bukan untuk dirinya tapi untuk Yoga, mungkin dia belum makan dari tadi siang kan?


Mungkin terlalu aneh seorang gadis membiarkan lelaki yang baru di kenalnya masuk ke rumah bahkan sampai masuk kamarnya. Tapi entah kenapa Moli tak pernah ada rasa khawatir atau takut pada Yoga. Hatinya sudah terlalu percaya pada nya hingga hilang rasa keraguan.


“Wah enak nih...” celetuk Yoga yang sudah selesai mandi. Moli tersenyum geli melihat baju yang di kenakannya lumayan kebesaran.


“Apa sih??” tanya Yoga.


“Nggak papa... nih makan...” Moli menyembunyikan tawanya kemudian menyodorkan semangkuk Mi rebus lengkap dengan telur dan sawi.


“Eh itu kenapa?” Tanya Yoga terkejut ketika melihat lengan Moli terluka. “Kok bisa merah gitu sih...” Yoga menaruh mangkuk itu kembali dan memeriksa lengan Moli.


“Nggak papa... luka gini doang kok...”


Moli berjalan dan duduk di atas sova. Yoga mengerutkan dahi. “Kenapa ya?” batin nya.


Perlakuan Lia kali ini memang kurang ajar. Baru beberapa hari mengenalnya tapi selalu di bikin panas ketika bertemu. Apakah Dia sosok pengganggu hubungan nya dengan Diki?


Moli menggamit remot mengganti saluran TV. “Udah gih dimakan... keburu dingin lo...”

__ADS_1


Yoga mengangguk di ambilnya lagi mangkuk yang tadi sempat di abaikan. Kemudian duduk di karpet sementara Moli duduk di sova. “Nggak mau ikut makan?” tanya Yoga yang mulutnya penuh dengan mi.


“Nggak gue udah kenyang...”


“Beneran? Enak tau... Sini gue suapin...”


Yoga menoleh bertumpu pada lututnya dan menyodorkan sesuap mi pada Moli. “Nggak mau... udah kenyang...” tolak Moli menutup mulutnya.


“Dikit aja... biar gue ada teman makan...”


Karena di paksa Moli pun membuka mulutnya menerima satu suapan dari Yoga. “Enak kan?”


“He-em...”


“Kak Moli tadi abis dari mana?” tanya Yoga ketika Mi nya sudah habis.


“Jalan sama temen...”


“Pacar?” kata Yoga memainkan alisnya yang tebal.


Moli mendengus. Ia jadi teringat dengan kejadian tadi. Kejadian dimana Ia mendapat luka di lengan kirinya. Emang kurang ajar tuh si Lia. Dia itu cewek atau ular? Bisa bisanya Dia berbuat semaunya seperti itu.


“Hei!!”


Yoga menyentil hidung Moli.


“Kok malah ngelamun...”


Moli mendesah dan menyenderkan punggungnya di sova. “Kalau tahu bakal ada kejadian kaya tadi... gue nggak mau kali di ajak keluar...” gedumel Moli.


“Maksud nya apa si?” Yoga menghadap Moli dengan kedua tangan ditumpuk di atas lutut Moli. Mangkuk mi sudah Ia letakkan di bawah meja.


“Masih bocah! Nggak bakal ngerti!” Moli menjitak kepala Yoga yang duduk menghadap dirinya.


“Yeee... gue udah ge-de kali...” semprot Yoga merebahkan kepalanya di paha Moli.


“Apa sih... manja!”


“Biarin...”


Moli mengusap rambut Yoga yang masih membenamkan wajah di pangkuannya. Entah kenapa rasanya begitu hangat saat bersama dirinya. Rasanya seperti ada ikatan tersendiri hingga membuat Moli tak sungkan saat bersama Yoga. Mungkin bagi Moli, Yoga adalah sosok adik yang bisa menghiburnya di kala sepi menerpa. Kalau saja Dia ada lah Diki. Heh! Mikir apa sih?


Satu jam kemudian mereka tertidur dengan posisi Moli bersender pada sova sementara Yoga duduk di karpet dengan kepala di pangkuan Moli. Lelap yang mungkin bisa menghadirkan mimpi indah pada mereka.


06.00 WIB


Santi terbangun dari tidurnya. Ia kesiangan. Suami tercintanya juga masih tertidur pulas di samping dirinya.


“Mas bangun... udah siang...” Santi mengguncang tubuh suami nya itu.


Yudha menguap. “Udah jam berapa sekarang?”


“Jam enam...”


Santi bangkit dan melipat selimut yang semalam membalut tubuhnya. “Ayo bangun... hari ini kamu kan mau ke Bandung jemput ibu.”


Mendengar ucapan Santi, Yudha pun terbangun. Berjalan mencari handuk dan kemudian menuju kamar mandi. “Hampir lupa aku...”


Untuk hari ini tak ada sarapan di atas meja, karena Santi bangun kesiangan tentunya. Mungkin karena tidurnya terlalu malam menunggu Yoga yang tak kunjung pulang.


Santi terpekik. “Oh iya Yoga...” Santi berlari menuju kamar Yoga.


Kamarnya kosong, tak ada Yoga di dalam. “Nggak pulang Dia?”


Diki yang sudah siap berangkat kesekolah berjalan mendekati Santi yang keluar dari kamar Yoga.


“Eh udah siap berangkat kamu...” tanya Santi sambil merapikan seragam Diki.


“Mama ngapain disini? bangunin Yoga?” tanya Diki.


“Rencananya sih gitu... tapi kayaknya belum pulang dia...”


“Emang semalam kemana?”


“Katanya sih dirumah teman...”


“Ooo...” Diki manggut manggut.


Ia tak peduli dengan Yoga. Mau dia pulang atau nggak itu bukan urusannya.


“Ya udah aku berangkat dulu...” Diki mencium kening Santi kemudian mengambil sepatu hitam yang bersemayam di atas rak.


Sementara itu Yoga dan Moli yang masih tertidur di sova ruang TV di bangunkan oleh Mbok Ijah.


“Bangun Non, Den... udah siang...” mbok Ijah mengguncang pelan tubuh mereka berdua.


Belum sempat terbangun. Si mbok mendengar suara klakson mobil di halaman rumah. Ia berjalan dan mengintip dari balik gorden. Dilihatnya Diki sedang berbicara dengan pak Ujang.


Si mbok berbalik. “Non bangun... itu Den Diki udah dateng...”


Mendengar kata itu Moli langsung terbelalak hingga membuat Yoga kaget.


“Apa mbok? Diki?” tanya Moli memastikan.


“Iya...Den Diki udah di luar lagi ngobrol sama Pak Ujang.”


Yoga yang masih ayup ayupan berdiri meregangkan ototnya yang pegal karena posisi tidur yang salah.


Sementara Moli ngibrit ke kamarnya untuk siap siap. “Diki suruh nunggu di luar aja ya mbok...”


Si mbok mengangguk sepertinya paham dengan ucapan Moli.


“Diki siapa mbok?” tanya Yoga penasaran. Nama itu tak asing bukan?


“Pacarnya Non Moli...”


“Ooo...”


Karena penasaran Yoga pun berjalan ke ruang tamu. Mengintip dari balik jendela yang tertutup gorden. Sementara si mbok sudah balik ke dapur.


“Diki??” Yoga berkerut dahi tak percaya dengan apa yang Ia lihat. “Jadi pacarnya kak Moli itu Diki?” gumam Yoga lirih.


Yoga serasa di beri kabar buruk oleh sang burung. Kenapa harus Diki yang itu, bukan Diki yang lain aja. Yoga masih berdiri sambil memegang gorden dengan sedikit meremasnya. Rasa dongkol menyelimuti hatinya. Haruskah Ia bersaing dengan lelaki itu?


“Heh! Ngapain lo ngintip ngintip?” Moli menepuk pundak Yoga yang sontak langsung berjinjit karena kaget.


“Bikin kaget!” semprot Yoga.


“Gue berangkat dulu... terserah lo mau sekolah atau nggak...” Moli mengacak rambut Yoga dan berlalu meninggalkan nya menghampiri Diki yang sudah menunggunya di luar.


Yoga mendengus. Kenapa juga harus Diki? Kaya nggak ada cowok lain aja. Ia pergi mandi kemudian memakai seragam kemarin dan berangkat.


“Kenapa ada dia lagi sih...” gerutu Moli dalam hati. Ia di buat dongkol karena ternyata Diki menjemputnya bersama Lia.


Mereka bertiga hanya diam. Tak ada yang mau memulai membuka percakapan. Sunyi.


“Eh Moli tuh...” celetuk Fani ketika melihat Moli turun dari mobil Diki.


Mereka berdua menghampirinya. “Hei... pagi...” Sapa Mia dan Fani. Moli tersenyum.


Kemudian Diki dan Lia menyusul keluar dari Mobil. Fani dan Mia menatap nya sinis. Sementara yang di tatap melengos dan pergi.


“Kamu mau langsung ke kelas atau ikut aku ke kantin?” tanya Diki pada Moli.


“Ke kelas aja.” Jawabnya ketus.


Moli dan kedua sahabatnya pun pergi ke kelas.


“Mol... kok lo mau si bareng sama tuh cewek?” tanya Mia sambil menata kuncir rambutnya yang sedikit miring.


“Gue nggak tahu kalau dia juga ikut...” jawabnya sebal. “Kalau tahu ada Dia, mending di antar pak Ujang.”


Mia yang berjalan disisi kiri Moli di buat terkejut dengan luka di lengan Moli. “Itu kenapa Mol?”


“Oh ini... Di cakar singa gue kemarin...” jawab Moli.


“Singa? Maksudnya?”


“Nanti deh gue jelasin nya... Lo main ke rumah gue aja ya...” Jawab Moli.


Sesampainya di kelas Moli dan kedua sahabatnya langsung duduk. Belum ada Diki tentunya. Namun ada Lia yang sedang bercermin melalui kaca berukuran kecil. Ia sudah berpindah tempat duduk menjauh dari Moli. Sukur deh! Jadi lebih adem kan ya?


Lima menit kemudian pelajaran di mulai. Bu Demora masuk ke kelas di susul oleh Diki.


“Selamat pagi semuanya... sebelum memulai pelajaran, Ibu mau mengumumkan sesuatu terlebih dahulu.”

__ADS_1


Seisi kelas saling pandang. Tanda penasaran dengan apa yang akan di ucapkan Bu Demora. Guru 90an itu ya sebut saja seperti itu panggilan beberapa murid di SMA 68, mulai mengucap kan beberapa kata demi kata.


“Minggu depan kita akan mengadakan study tour ke Bali...”


Belum sempat menjelaskan dengan selesai sesisi kelas sudah bersorak gembira. “Diam dulu!” Bu Demora menggebrak meja.


“Ini bukan piknik ya... kita disana buat belajar... Ibu minta kalian merekam kegiatan kalian bersama turis disana dengan bahasa asing.” Jelas Bu Demora tegas.


“Baik Bu...” jawab seisi kelas.


09.30 WIB


Perpustakaan itu hampir selalu sepi. Tak ada banyak peminat untuk datang berkunjung. Moli mencari buku untuk sekedar menghiburnya dalam hampa. Sebenarnya Ia tadi di ajak kedua sahabatnya untuk pergi ke kantin. Tapi Moli pamit pergi ke toilet hingga tersasar ke perpustakaan.


Moli mengurut deretan buku menggunakan jarinya. Hingga terhenti pada satu buku.


Kahlil Gibran


Sayap sayap patah...


Moli membuka lembaran demi lembaran hingga tak terasa satu jam sudah berlalu.


Cinta memang kadang tak harus memiliki. Dan Setiap manusia pada dasarnya akan kehilangan Orang yang begitu penting dalam hidupnya. Entah itu dalam keadaan siap atau justru sebaliknya. Itulah Hidup. Kita hanya mengikuti skenario yang ada. Pada intinya kita cukup berusaha dan bersyukur.


“Mia!!” teriak Moli ketika melihat Mia di depan pintu gerbang sekolah.


“Jadi ke rumah gue kan? Fani mana?”


“Fani udah pulang... katanya mau


ngantar bokap ke bandara. Gue juga nggak bisa ke rumah lo... Sory ya...”


Moli mencibir. “kenapa? Lo ada acara?”


“Hari ini gue ada les karate... mendadak soalnya...”


“Ya udah deh nggak papa...” Moli mengerucutkan bibirnya.


“Sory ya Mol...” ucap Mia sebelum pergi karena sudah di jemput oleh supirnya.


Moli mengambil ponselnya di saku mencoba menghubungi pak Ujang.


“Halo pak... Moli jemput ya...”


“Baik Non...”


Tut... Moli menutup sambungan telponnya. Ia berdiri menunggu Pak Ujang di kursi panjang dekat pos satpam.


“Aku antar ya...” suara seseorang dari balik kaca mobil. Di jok sebelah kiri terlihat ada Lia yang sedang memainkan ponsel.


“Nggak usah. Mau di jemput pak Ujang.” Kata Moli menolak. “Males banget bareng dia lagi...” gerutunya dengan bibir mencibir.


“Beneran nggak mau bareng?”


“Nggak. Kalau mau nganterin aku nggak usah bawa Lia segala...”


“Tapi Dia belum punya temen...” jawab Diki di samping pintu mobil.


“Udah sih... Dia nya nggak mau kok.” Timpal Lia dengan nada sinis.


“Beneran nggak mau bareng...Ya udah aku duluan ya...” kata Diki kemudian melajukan mobilnya lagi.


Moli menghentakkan kakinya dengan kesal. “ Aakhh! Pengen gue tampol tuh orang!”


Satu jam lebih sudah Moli menunggu pak Ujang, namun beliau tak kunjung datang. Suasana gedung sekolah juga sudah sepi hanya tinggal pak satpam yang sedang berkeliling menyalakan lampu.


“Lama banget si pak Ujang...” Moli mondar mandir di depan pos satpam kemudian duduk kembali sambil membenarkan bandonya yang melosot kedepan.


“Belum di jemput neng?” tanya pak satpam yang ternyata sudah di samping Moli.


Moli tersenyum. “Belum pak... Udah mau di tutup gerbang nya?”


“Iya neng...”


“Ya udah saya nunggu di halte bus aja...”


Moli pergi dari situ dan berjalan menuju halte. Di lihatnya jam tangan sudah menunjukkan pukul empat sore.


“Mana sih? Lama banget! Perut udah keroncongan, perih lagi.” gerutu Moli yang sudah kelaparan karena dari pagi perutnya belum di isi sesuatu.


Tiba tiba ponselnya berbunyi. “Halo Non...” suara dari balik ponsel.


“Pak Ujang dimana sih? Kok lama banget?” omelnya pada pak Ujang.


“Maaf Non... mobil nya mogok... ini lagi di bengkel...”


“Kenapa nggak bilang dari tadi?”


“Lupa isi pulsa Non...”


“Ck! Pak Ujang ih! Ya udah Moli pesen taksi online aja...” cerocos Moli jengkel.


Pak Ujang nyebelin! Hampir dua jam ditungguin, eh ternyata Mogok. Moli menghentak hentakkan kakinya dengan kesal. “Alamak gue lupa isi kuota...” Moli menepuk kepalanya sendiri. “Nggak bisa pesen taksi online kan? Aaakhhh sebel sebel!” gerutu Moli yang sendirian di halte.


Moli melihat ke jalanan yang sepi. Diliriknya ke arah kanan dan kiri tak ada satu pun taksi atau bus yang lewat. “Sepi banget lagi...”


18.30 WIB


Terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah. “Assalamualaikum...”


Si mbok yang masih di dapur tergopoh gopoh berlari menghampiri asal suara salam itu. “Waalaikumsalam...”


“Eh Den Yoga... masuk atuh...” kata Mbok Ijah mempersilahkan Yoga masuk.


Sebelum mereka masuk terdengar suara mesin mobil parkir. Pak Ujang turun dari mobil mendekati mbok Ijah dan Yoga yang masih berdiri di depan pintu.


“Lho Non Moli teh mana pak Ujang?” tanya si mbok.


“Jadi Non Moli belum pulang?” Pak Ujang menepuk jidat.


“Gimana sih pak Ujang? Kok bisa nggak bareng...” omel si mbok yang khawatir dengan Nona muda nya itu.


“Tadi mobilnya mogok. Terus saya


bawa ke bengkel dulu...”


“Terus Moli nya di mana pak? Biar saya jemput...” Kata Yoga nimbruk obrolan mereka.


“Masih di sekolahan Den...” jawab Pak Ujang.


Tanpa banyak cincong Yoga langsung menyalakan mesin motornya dan pergi menyusul Moli dengan kecepatan penuh.


Ketika sebelum sampai di tempat tujuan Yoga melihat seorang gadis sedang duduk sendirian di halte bus. Raut wajahnya terlihat kebingungan dan ketakutan. Sepertinya Ia mengenalinya. “Kak Moli?...” Yoga melajukan Motornya ke pinggir kemudian berhenti tepat di depan Moli.


“Yoga?” Moli langsung berdiri menghampiri Yoga.


Moli memeluk Yoga yang belum sempat turun dari motornya. “Gue takut...” Moli mulai menangis.


“Nggak usah takut... kan gue disini...” Yoga memegang kedua pipi gadis yang tengah menangis itu. “Udah nggak usah nangis... nanti cantiknya ilang...”


Moli mengerucutkan bibirnya. “Kok elo bisa kesini?”


“Tadi gue main ke rumah kak Moli... eh katanya belum pulang... ya udah gue susul.”


Yoga melepas jaket hitam yang di pakainya kemudian di balutkan di badan Moli. “Nih pakai biar nggak dingin...”


“Terus elo gimana?”


“Udah pakai aja... gue ampuh kok orangnya...” kekeh Yoga memamerkan gigi putihnya.


“Ya udah ayok pulang... gue kelaparan...” perintah Moli yang sudah duduk di jok motornya sambil menepuk punggung Yoga.


“Kita mampir makan aja dulu... kelamaan kalau di rumah...”


“Oke deh...”


Yoga menyetir motornya mengarah ke penjual kaki lima di sekitar pinggiran alun alun kota. Mereka turun dan mendekati penjual nasi goreng.


“Nasi goreng nya dua bang...” kata Yoga pada penjual.


“Oke... di tunggu ya...” saur penjual.


***


Maaf yaa.. ada beberapa part yang hilang dan aku nggak bisa nulis ulang. tapi insyallah cerita masih nyambung. cuma di part ini yang hilang. 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2