
Sepertinya, pagi hari memang tak bisa di hindari. Tepat pukul lima pagi, tubuh Moli berasa tertimpa gempa yang sangat dahsyat. Di atas kasur dari balik selimutnya, Moli sama sekali tak bergerak meskipun, seseorang di luar sana tengah mengguncangnya dan menarik-narik selimutnya.
Papa, itu pasti papa. Melihat kelembutan mama kemarin, ini sudah di pastikan bukanlah beliau.
Suaranya keras, tajam namun melengking penuh ancaman. Dari balik selimutnya, kedua telinga Moli hanya bisa mendengarkan makian papa yang ucapannya terkadang kelewat batas.
“Moli! Cepatlah!” itu panggilan pertama, dan Moli masih meringkuk.
“Moli! Bangun! Mandi, MUA udah datang. Kamu bisa terlambat.” Moli tetap diam, meskipun suara papa semakin menusuk telinga, bahkan jika ada kemungkinan di tampar lagi, Moli tidak akan peduli. Sekalipun papanya menyeret paksa, tetap satu kata, TAK PEDULI!
“Ma!” teriak papa pada Mama yang hanya berdiri diam saja tak jauh darinya. “Bantu bangunin Moli dong! Mama malah cuma diem aja.” Hardiknya dengan tangan masih mencoba menarik selimut Moli. Sebenarnya itu hal mudah, tapi karena Moli balas menarik selimut jadi, terasa sulit.
“Mama bisa apa? Moli nya nggak mau kan?” Mareta justru membuang muka. Mareta sudah jengah melihat kelakuan suaminya yang sangat berlebihan dan tak berperasaan.
“Mama!” Kali ini Gibran melepas tarikannya lalu berdiri sambil berkacak pinggang dan melotot tajam.
Sementara wanita di balik selimut, Moli justru semakin menelungkup mengeratkan selimut lebih erat lagi.
“Apa?! Mama capek ya, lihat papa yang nggak punya hati seperti ini.” Mareta balas melotot. Ini pertama kalinya Mareta berani melawan suaminya.
“Tapi ijab kobul akan di mulai dua jam lagi, Ma!” suaranya meninggi lagi. Keduanya tak tahu bagaimana keadaan Moli di balik selimut yang sudah banjir air mata.
“Itu urusan papa! Siapa yang merencanakan semua ini? Papa kan? Selesaikan saja sendiri.” Mareta acuh lalu memilih mendekati Moli. Mareta tersadar akan tangis Moli dari gerak tubuh Moli yang terlihat.
“Cukup, Ma!” teriak Gibran frustrasi. “Intinya, bangunkan Moli! Suruh dia bersiap! Keluarga Anton sebentar lagi pasti datang.” Gibran berlalu dengan amarah yang masih meninggi.
Mareta tak peduli, yang ia cemaskan saat ini tentu keadaan Moli. Perlahan Mareta menarik ujung selimut yang menutupi bagian kepala Moli. Begitu berhasil di buka, Mareta langsung bisa menyaksikan bagaimana kondisi wajah Moli saat ini. Basah, sembab dengan mata memerah.
“Moli...” panggil Mareta pelan.
“Ma...” balas Moli lirih. “Moli nggak mau nikah, Ma. Tolong bujuk Papa lagi... aku nggak mau, Ma.”
“Iya, sayang. Mama udah berusaha bujuk papa, tapi mau gimana lagi... papa nggak bisa dibantah,” Sesal Mareta. Ingin menolong tapi tak bisa.
Tok! Tok! Tok! Pintu di ketuk dengan keras.
__ADS_1
“Nyonya! Nyonya di dalam?!” suara tak asing memanggil namanya, Mareta langsung memutar badan. Sepertinya ada yang tidak beres.
“Iya, Mbok. Ada apa?!” teriak Mareta.
“Tuan, Nyoya... anu... Tuan ngamuk.”
Jleb! Mareta sontak membulatkan kedua bola matanya begitu suara dari ambang pintu menyebut nama suaminya dalam keadaan tidak baik. Tak ayal dengan Moli, karena merasa terkejut, Moli pun langsung terduduk dan dengan cepat mengusap wajahnya yang basah.
Keduanya saling pandang sekilas, kemudian mereka bergandeng tangan dan langsung keluar dari kamar.
“Ngamuk gimana, mbok?” tanya Mareta bingung.
“Itu, Nya. Di bawah...” Simbok menggiring majikannya itu menuju tepian lantai dua.
Benar saja, di bawah sana, Gibran sedang mencak-mencak pada seseorang. Dua orang itu sedang duduk sambil berpegangan tangan erat. Mereka terlihat sangat ketakutan begitu melihat Gibran marah-marah.
Kalian tahu? Dua orang itu, Moli sangat mengenalnya. Mereka sangat tidak asing. Kedua orang itu tak lain adalah mereka yang pernah menghancurkan masa indahnya di sekolah SMA dulu.
“Diki? Lia?”
Dengan menyerobot mamanya, Moli langsung berlarian menuruni anak tangga. Begitupun dengan Mareta dan simbok yang menyusul Moli di belakang.
“Kalian...” ucap Moli begitu sampai di bawah. Diki dan Lia menoleh bersamaan. Jika dicermati, kedua orang ini terlihat seperti sedang memendam sesuatu.
“Hai, Mol. Apa kabar?” sapa Lia dengan bibir melebar perlahan. Moli hanya mengeryit tak suka. Lia tak mempermasalahkan hal itu, ia tahu dirinya pernah salah.
Sementara Gibran yang masih memendam amarah, sudah dirangkul oleh Mareta. Mareta menuntunnya untuk duduk supaya lebih tenang.
“Kamu kenal mereka?” tanya Gibran begitu tubuh tegapnya sudah mendarat di sofa empuk. Moli mengangguk.
“Kamu tahu?” Gibran masih menatap Moli yang di balas dengan rasa heran. “Dua orang ini sudah berani menjelek-jelekkan Anton. Apa kalian bersekongkol?”
Tentu saja Moli langsung menarik kepala ke belakang karena terkejut. Melihat mereka berdua aja rasanya malas, kenapa harus bersekongkol?
“Om, dengar dulu penjelasan kami... kami punya buktinya,” ucap Diki. Moli penasaran. Maksudnya bukti apa? Curiganya berubah jadi tuduhan. Apa kedua orang ini akan menyakiti Moli?
__ADS_1
Sekarang sudah pukul tuju, tinggal satu jam lagi, keluarga Anton akan datang. Bahkan di ruang utama mungkin sudah ada beberapa tamu penting yang datang. Setelah masuk kedalam, sebenarnya Diki dan Lia langsung di buat terkejut dengan suasana di dalam rumah Moli. Mereka tentu bisa menebak, ini akan ada sebuah pernikahan yang segera berlangsung.
Begitu mendengar desas-desus tentang berita pernikahan Moli dan Anton, Diki langsung terkejut. Pikirnya, mungkin ini sebuah kesempatan untuk meminta maaf pada Moli.
“Bukti apa?! Kalau kamu ngawur, aku akan penjarakan kamu karena pencemaran nama baik.” Masih melotot tajam.
“Iya Om, silahkan. Saya melakukan ini karena saya masih punya rasa bersalah sama Moli. Saya dan istri saya tidak akan tenang kalau tidak menceritakan semua ini.” Jelas Diki sambil tetap menggenggam erat tangan Lia. Moli sempat meliriknya dengan sengit. Tapi, rasa penasarannya membuat ia tetap diam dan mendengarkan.
“Sudah katakan! Jangan berbelit-belit.”
Diki memandang Lia sebentar, kemudian berbalik melirik Moli dan sekarang menatap Gibran.
“Anton itu bukan orang baik, aku mengenalnya lama. Dia punya wanita simpanan yang begitu banyak...”
“Kau sudah katakan tadi!” potong Gibran seolah tidak terima jika calon menantunya di hina.
“Maaf, saya hanya ingin mengulang supaya Moli juga bisa mendengarkan dari awal.”
“Ya... ya. Terserah!”
“Aku pernah melihatnya berkencan dengan wanita berbeda setiap harinya. Sebenarnya saya terkejut ketika melihat Moli akan menikah dengan Anton. Itu sebabnya saya langsung mencari informasi keberadaan Moli dan mencari tahu rumahnya.”
Gibran masih nampak tak percaya. “Tunjukkan saja buktinya! Jangan bertele-tele.”
Diki menarik napas, menghembuskan perlahan. “Baiklah... mudah-mudahan dengan bukti ini, Om bisa segera membatalkan acara pernikahan ini.” Diki menatap Lia, dan Lia langsung menyodorkan ponselnya ke arah Gibran.
“Ini, Om. Silahkan lihat sendiri...” Lia menyodorkan ponsel itu sedikit gemetar.
Tak ada yang berani mendekati Gibran. Entah itu Mareta atau Moli, hanya bisa memandang raut wajah Gibran yang masih belum bisa di tebak. Yang terlihat, Gibran hanya menautkan kedua alisnya, menatap ponsel itu dengan mata membulat sempurna. Ketika tombol tengah berbentuk segitiga di tekan, semua orang di situ langsung terkejut dan menutup mulutnya masing-masing. Mungkin tidak untuk Diki dan Lia, karena sebelumnya mereka sudah melihat semua itu terlebih dulu.
Gibran masih menatap sebuah video menjijikkan itu dengan mata mengeryit dan pipi kiri yang sedikit terangkat. Kalau Mareta dan Moli memang belum melihat tapi, tentu saja telinga mereka bisa mendengar jelas suara dari video itu.
Mareta dan Moli menatap Gibran penuh tanya, mungkin mereka berdua sudah tahu isi video itu dari suara serak desahan seorang wanita di dalamnya. Tapi sungguh Mareta dan Moli tetap masih penasaran.
“Kurang ajar!!” Begitu teriak Gibran geram usai menutup ponsel itu. Bayangkan saja, bagaimana keadaan Gibran saat ini. Marah, kecewa dan tidak menyangka. Begitulah kira-kira.
__ADS_1
***