
Sampai detik ini bahkan Yoga masih saja terus melanjutkan tawanya, bahkan di sudut matanya terlihat buliran bening yang hampir menetes. Selucu itukah?
Sementara Moli, ia sebenarnya sangatlah marah. Bagaimana tidak, dirinya sudah begitu serius hingga tubuhnya menegang, tapi di awal kalimat, dengan entengnya Yoga menertawainya.
Saat ini tawa itu berangsur menghilang. Yoga mendesah lalu mengusap matanya yang mengeluarkan air mata karena tawanya sendiri.
“Elo adalah Yoga Pramana...” dengan menghadap lurus ke depan, tanpa menoleh ke arah Yoga, Moli mulai melanjutkan kalimat yang tertunda tadi.
“... ya, elo adalah Yoga Pramana.”
Yoga ingin tertawa lagi, tapi melihat keseriusan di wajah Moli, akhirnya ia memilih memandanginya dan mendengarkan apa yang sebenarnya ingin Moli katakan.
Moli menoleh ke arah Yoga sebentar, memberi sorotan tajam, lalu beralih pandangan lagi lurus ke depan. “Anak dari Santi. Bokap elo...” Moli menoleh lagi dan kembali menghadap depan lagi. “Bokap elo sudah tiada sejak elo masih SD.”
Saat ini Yoga benar-benar sudah kehilangan rasa ingin tertawa. Ia sekarang sudah mulai fokus mengamati gerak bibir Moli yang terus berbicara.
“Elo punya Bokap tiri yang bernama, Yudha. Elo juga punya kakak tiri yang bernama, Diki.”
Kali ini Yoga sungguh terhenyak. Ia terkejut karena wanita cantik di hadapannya ini benar-benar mengetahui tentang dirinya. Tunggu! Tapi itu masih belum apa-apa. Yoga masih diam dan belum memberi respon, ia ingin Moli melanjutkan perkataannya. Seberapa tahu dia tentang Yoga.
“Elo suka pergi ke atap gedung kosong, disitulah elo suka duduk menyendiri ketika elo merasa tidak nyaman berada dirumah.”
Benar lagi.
“Diki, kakak tiri yang paling elo benci, karena selalu menyakiti wanita yang Elo sukai.”
Yoga ternganga. Kalimat itu membuat Yoga sedikit bingung. Kalau membenci Diki, memang iya, tapi wanita yang di sukai?
siapa? yang mana?
Ah! Yoga kembali menekan kepala dengan kedua tangannya, sementara di tempatnya, Moli masih diam dan kembali melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
“Elo juga pasti tahu kan, tentang hubungan antara Diki dan Lia?”
Yoga mendongak. Tentu saja Yoga tahu, tahu apa? Ah! Kepalanya terasa sakit kembali.
“Diki dan Lia...” seringai muncul di bibir Moli. Yoga pun bisa melihat itu. “Mereka adalah orang yang tega nyakitin perasaan wanita yang elo sayangi, wanita yang elo cintai.” Terlihat bola matanya mulai meneteskan cairan bening.
Melihat itu, Yoga sungguh semakin di buat bingung. Pasalnya dirinya memang tahu tentang hubungan Diki dan Lia, tapi kelanjutannya apa, Yoga masih tak ingat, hanya saja hati kecilnya merasakan sesuatu hal yang aneh tentang itu. Tapi apa?
“Saat ini elo memang belum mengingatnya, tapi lihat saja besok.” Moli menyodorkan beberapa lempar foto ke arah Yoga. Melemparnya hingga menabrak dada Yoga.
Yoga berkerut dahi, pandangannya langsung turun menuju lembaran foto yang tergeletak di atas pahanya.
“Ambil itu, dan keluar dari mobil gue. Sekarang!”
Kalimat bernada tinggi itu sukses membuat Yoga kaget, dan dengan cepat, Yoga mengemasi foto itu lalu keluar dari mobil.
Baru saja dua kaki Yoga menapak di atas aspal, mobil berwarna silver itu sudah melesat dengan kecepatan tinggi.
Mungkin saja Yoga pernah mengalami kecelakaan hingga amnesia, dan oke, Moli mungkin bisa menerima itu, tapi yang membuat Moli kecewa dan marah adalah, kenapa Yoga tidak mengenali Moli sementara yang lainnya Yoga tahu. Apa dia hanya lupa tentang Moli? Itu aneh!
Aaaagghhh!!!
Moli memukuli gagang kemudi dengan berderai air mata. Perasaannya sungguh hancur, ini seperti ada sebuah sayatan benda tajam yang merobek relung hatinya. Dengan susah payah Ia mencari keberadaan Yoga, dan setelah bertemu, Moli harus lebih bersusah payah lagi mengingatkan Yoga tentang hubungannya.
Ciiiiit!
Mobilnya sudah berhenti di parkiran sebuah gedung perusahaan. Ya, ini perusahaan Moli yang di warisi dari Bokap, nyokap nya. Namun jujur saja, ini bukanlah yang di inginkan Moli. Sampai detik ini, bahkan Moli masih berharap ada kesempatan untuknya supaya bisa kuliah lalu mencari pekerjaan sendiri tanpa ada campur tangan kedua orang tuanya.
“Moli!!” Sebuah panggilan keras menyebut namanya.
Moli menoleh setelah pintu mobil tertutup. Mengetahui siapa yang memanggilnya, senyum di bibirnya langsung mengembang hingga deretan gigi putihnya terlihat.
__ADS_1
Seseorang yang memanggilnya masih terlihat melambaikan tangan sambil berlari kecil ke arah Moli. Dia juga terlihat tersenyum senang.
“Moli, gue kangen sama elo. Huuu....” begitu sampai di hadapan Moli, Fani langsung menghambur memeluk erat tubuh Moli.
Dan, cup. Fani menciumi wajah Moli bertubi-tubi. Mungkin sudah sekitar dua bulan mereka berdua tak berjumpa. Sampai saat ini, hanya Fani yang masih aktif kontakkan dengan Moli. Kalau Tika, Ia sudah pindah ke kampung halaman neneknya dan menjadi guru bela diri disana. Bukan karena sudah tak punya nomor telponnya, tapi karena di kampung halamannya itu, signal tidak terlalu bagus.
“Gue juga kangen sama, elo.” Moli melonggarkan pelukan Fani. Gerah kan kalau harus berlama-lama berpelukan? Dan lagi saat ini suhu tubuh Moli sedang sangat panas. Bukan karena sakit atau semacamnya, tapi tak lain karena perasaan kecewa pada Yoga.
“Gimana lo, sehat?” tanya Moli sambil mengarahkan jalan masuk ke dalam gedung perusahaan.
“Sehat selalu dong, gue gitu loh!” Fani menepuk pelan dadanya, lalu beralih menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga.
Mereka sudah masuk ke dalam lift, menuju lantai 3 di mana tempat Moli bekerja.
“Elo sendiri gimana? Sehat?”
“Seperti yang elo lihat sekarang.” Moli melebarkan kedua tangannya, menunjukkan bagaimana keadaannya saat ini. “Gue sehat selalu juga tentunya.”
Pintu lift terbuka, Moli langsung berjalan menuju ruangannya.
“Selamat datang di kantor gue, dan ini ruangan gue,” ucap Moli setelah pintu ruang kerjanya terbuka lebar. Satu tangannya menjulur, mempersilahkan Fani untuk segera masuk.
“Terimakasih...”
Sesampainya di dalam, Fani langsung terkagum-kagum dengan interior dan design dari ruangan kerja Moli. Ruangan ini terlihat luar biasa. Posisi tengah tentu sudah ada meja dan kursi yang di gunakan untuk bekerja Moli, di sebelah timur dekat jendela kaca, berdiri kokok lemari besar yang berisikan beberapa baris buku-buku dan dokumen penting, dan di setiap sudut ruangan terlihat ada guci besar yang berisikan hiasan bunga plastik yang cantik.
Fani terus menyapu ruangan itu. Saat ini bola matanya menangkap beberapa lukisan yang menempel di dinding. Sebuah lukisan klasik yang sangat indah. Gambarnya terlihat sederhana, tapi enak di pandang mata.
Kemudian, bola matanya beralih lagi memandang yang lainnya. Kali ini Fani melihat sofa panjang dengan meja persegi di depannya. Lalu yang terakhir, mata Fani menatap sebuah pintu berwarna coklat gelap di sisi barat, tepatnya di dekat sebuah rak kecil yang berisikan beberapa foto yang berdiri di atasnya. Pintu apa itu? Fani tentu tak tahu.
***
__ADS_1