
Sepulang dari sekolah tanpa sengaja Moli bertemu lagi dengan Santi di depan mini market. Di tangannya ada dua kantong keresek entah apa itu isinya tetapi hampir penuh dengan belanjaan. Moli menyuruh pak Ujang menghentikan mobilnya dan menepi di pinggir, sepertinya Santi sedang menunggu taksi terlihat dari tingkahnya yang melambai pada taksi yang lewat hanya mengabaikannya.
Moli menyeberangi jalan menghampiri Santi.
“Tante, lagi nunggu taksi?”
“Eh kamu lagi, Ee siapa ya? Tante lupa nanya nama tadi.”
“Moli Tante.” jawab Moli.
“Ohh Moli, ngapain disini? sendirian?” Santi melirik belakang Moli, mencari seseorang yang mungkin bersama Moli.
“Sama supir Tante, Aku antar aja ya tante, belanjaannya juga banyak.”
“Nggak usah, ngerepotin.”
“Nggak papa Tante, Mari saya antar.”
“Nggak ngerepotin nih?”
“Nggak Tante, santai aja, sini Moli bantu bawa belanjaannya.” senyum Moli lebar meraih satu kantong keresek di tangan kiri Santi.
Awalnya Santi menolak namun karena tawaran Moli yang terlihat tulus, akhirnya Santi pun masuk kedalam Mobil bersama Moli. Dan lagi Santi sudah terlanjur lama menunggu taksi namun tak kunjung datang juga, lebih baik menerima tawaran orang baik bukan?
“Maaf ya jadi ngerepotin.”
“Ih Tante, nggak ngerepotin kok.”
Obrolan demi obrolan mereka lakukan di dalam mobil selama perjalanan. Moli begitu semangat ketika Santi mengajaknya bercerita, rasa nya seperti mengobrol dengan orang tuanya sendiri. Nyaman, adem dan tenang. Santi adalah wanita lemah lembut, semua itu bisa di rasakan karena Moli haus akan kasih sayang. Kalau saja boleh, mungkin Moli sudah berhambur memeluknya dan membenamkan kepalanya dalam usapan lembut tangan Santi.
Moli turun dari mobil di susul oleh Santi yang langsung mengambil belanjaannya di bagasi belakang. Moli melangkah perlahan memandang sebuah rumah yang berdiri kokoh di hadapannya. Rumah itu tak lebih besar dari rumahnya, namun rumah itu bisa membuat hati dan perasaannya begitu gugup.
“Yuk masuk dulu.” ajak Santi ketika pintu depan sudah di buka.
Moli terdiam sejenak menata nafas dan jantungnya yang beradu cepat. Apa yang akan di jumpainya di dalam mungkin saja bisa membuat tubuhnya bergetar. Desahan yang keluar dari mulutnya perlahan menuntun langkah kakinya untuk berusaha masuk ke rumah itu.
“Duduk dulu, Tante bikin minuman bentar ya."
Moli meng iyakan dan langsung duduk di sova ruang tamu. Mata nya memutar pada setiap sudut di ruangan itu, barang kali ada hal yang bisa membuat hatinya terkejut.
“Mungkin Diki di dalam.” batin nya dan berusaha tenang walaupun kakinya tidak bisa diam sedikit bergetar.
“Dik, kamu di dalam?” kata Mama sambil mengetuk pintu kamar Diki.
Karena tak ada jawaban, Santi langsung masuk. Diki sedang tertidur pulas dengan selimut menutupi separuh badannya yang terlentang. “Dik, bangun! Ada temen kamu.” Santi mengguncang tubuh Diki.
“Hmmm, ada apa sih mah?”
“Itu ada temen kamu di bawah? Ayo bangun.”
Diki tak berkutik, matanya masih terpejam dan membalikkan tubuhnya dalam posisi miring kemudian menarik selimut hingga menutupi seluruh badan nya.
“Cantik loh orangnya, nama nya Moli.”
Mata sipit yang semula tertutup rapat kini terbelalak setelah mendengar nama Moli. Ia terduduk sebentar kemudian berdiri membasuh muka dan langsung turun mencari orang yang di sebutkan nama nya tadi. Melihat itu santi hanya geleng walaupun sebenarnya penasaran juga. “Sepertinya Diki dan Moli kenal dekat.”
Diki melangkah perlahan dengan perasaan gugup. “Hai! udah lama?”
“Hai! lumayan.” jawab Moli dengan senyum tipis, Berusaha bersikap biasa saja.
Setelah duduk, Diki masih sulit menggerakkan bibirnya untuk mengucapkan sesuatu. Sepertinya otak nya berhenti bekerja hingga satu kata pun tak ada yang bisa Ia utarakan pada gadis yang ada di hadapannya. Begitu juga dengan Moli, Ia hanya diam pura pura sibuk dengan ponselnya. Untuk saat ini mereka lebih terlihat seperti dua orang yang tak saling mengenal.
__ADS_1
“Kamu kesini sendirian?” satu pertanyaan muncul dari bibir yang semula membisu. Mungkin hatinya sedang dalam musim bunga karena kedatangan seorang gadis yang Ia tahu datang ke rumah untuk menengok nya.
“Sama pak Ujang, tapi udah pulang duluan.”
“Oh.”
Ruangan itu hening kembali. Moli sendiri bingung harus berbuat apa atau menanyakan hal apa. Untuk saja Moli sudah bisa bersikap dewasa hingga tak mendendam pada Diki. Hanya saja Ia masih terlalu kaku jika harus berbicara bersamanya seperti ini. Apalagi hanya berdua. Itu bukanlah hal yang sebenarnya tak di ingin kan Moli untuk saat ini. Jikalau saja bukan karena Santi, mungkin Moli sudah langsung balik ke rumahnya.
“Maaf minumannya lama.” Kata Santi mengejutkan mereka berdua.
“Ma...makasih Tante.”
“Kalian ngobrol aja, Tante mau masak."
“Iya Tante.”
Ada rasa penyesalan ketika Diki melihat Mama nya terlihat begitu lembut pada Moli. Kenapa harus jahat pada gadis itu? Seandainya saja tak ada egois, mungkin tak akan seperti ini ceritanya. Mulut dan tangannya sempat menyakiti gadis itu. Memang jahat! Tapi sudah terjadi.
“Assalamualaikum.”
Moli tertegun mendengar suara salam dari ambang pintu. Ia tahu siapa di balik suara serak itu. “Yoga, pasti Yoga.” Moli perlahan memutar badannya menoleh pada sosok pria yang sedang melepaskan sepatu.
“Kak Moli?” ucap Yoga tak percaya.
Sementara Diki masih diam menatap Yoga yang acuh padanya. Ia kesal. Kenapa juga Yoga harus datang ketika sedang ada kesempatan untuk bersama Moli?
Moli nyengir dengan lambaian tangan sejajar dengan pundaknya. “He...hei, baru pulang?"
“Iya.” tanpa rasa takut pada Diki yang memang dari tadi sudah memicingkan mata padanya, Yoga duduk di samping Moli dengan wajah sumringah.
“Sialan tuh bocah!” batin Diki melihat Yoga yang menempel pada Moli. Tangannya mencengkeram pinggir sova dengan gigi saling beradu.
“Kak Moli ngapain kesini? Kangen sama aku ya?"
“Ganti baju dulu kek sono! Ganggu lo!” semprot Diki.
“Terserah gue dong! kok Elo sewot!”
“Sialan nih bocah!” Diki hampir saja mengangkat pantatnya menghampiri Yoga, namun Ia urungkan karena kedatangan santi yang muncul dengan membawa sepiring bolu gulung.
Santi heran ketika melihat Yoga yang duduk berhimpitan dengan Moli. Aneh aja ketika teman sekelas Diki tapi ternyata akrab dengan Yoga. Santi duduk di samping Diki yang wajahnya cemberut melihat ke akraban Moli dan dan Yoga. Hingga akhirnya santi mengingat sesuatu ke jadian yang sudah lama yang pernah terjadi di rumah ini.
“Moli? Memang sepertinya pernah dengar nama itu.” Santi berusaha mengingat dimana Ia pernah mendengar nama itu.
“Udah ganti baju dulu sana, bau asem.” kata Moli sambil mendorong Yoga untuk segera menjauh karena tak enak dengan Santi yang sedari tadi memandangnya.
“Siap!”
Sebelum beranjak Yoga sempat memelototi Diki yang juga berbalas memelototinya. Dan tingkah itu langsung mengingatkan kejadian yang sedari tadi sedang di pikirkan Santi. “Ya betul, Moli. Nama yang pernah di sebut Yoga waktu sedang bertengkar dengar Diki." Batin santi sambil mengamati gadis yang sedang memainkan ponsel.
“Apa gadis ini di rebutkan oleh Diki dan Yoga? Kok bisa.”
“Tante! Moli pamit ya, udah sore.”
“Eh...i.. iya... nggak ikut makan malam dulu?” ucap santi dengan terbata bata karena lamunannya.
“Nggak usah tante makasih.”
“Aku antar ya, bentar lagi magrib juga.” Tawar Diki ketika Moli sudah bersalaman dengan Santi.
“Biar aku aja yang ngantar.” Saur Yoga yang sudah membawa kunci motor.
__ADS_1
Merasa tak terima dengan ucapan lantang Yoga, Diki mendorong nya hingga menabrak pegangan tangga. “Apaan sih lo! Ngikut aja!”
“Moli biar gue yang antar!”
“Coba lo tanya dulu, mau nggak Dia nya?”
Debatan itu membuat Moli jadi kebingungan. Apa lagi melihat Santi yang sekarang berusaha menengahi mereka dengan menarik lengan Yoga untuk kembali ke atas. “Sudah sudah! Kamu masuk aja, biar Diki yang antar, Dia kan teman nya Diki, kamu di rumah aja."
“Kata siapa Dia teman Diki? Mama emang selalu belain Dia! Yoga mah sekarang jarang dapat dukungan dari Mama!”
Der! Santi membisu. Ucapan Yoga membuatnya tertegak seperti patung museum. Ucapan sederhana namun membuat tubuh nya lemas. Yoga tak pernah bicara seperti itu. Apakah Diam Yoga selama ini karena menyimpan rasa iri dan kecemburuan? Kenapa baru sadar sekarang?
“Yoga kenapa kamu ngomong gitu? Mama nggak belain siapa pun, Moli kan teman Diki, apa salahnya Diki yang nganterin?”
“Bener tuh!” timpal Diki menyungging bibir.
Yoga turun mendekati Moli yang masih berdiri menyaksikan perdebatan itu. Moli tahu dari raut wajahnya pasti Yoga merasa tak adil. Sebelumnya Yoga juga pernah bilang bahwa dirinya terkadang merasa kesepian. Mungkin karena hal ini lah yang membuat Yoga bicara seperti itu.
“Yuk kak Moli.” Yoga menarik lengan Moli. Wajahnya memerah seperti anak kecil yang tak mau kalah saat bermain dengan teman.
“Tapi Ga, Aku nggak enak sama Mama kamu.” Saur Moli tanpa melepas gandengan tangan Yoga.
Dalam hatinya ingin rasanya Diki menonjok bocah tengil itu. Ia hanya mencoba lemah lembut karena ada Santi dan tak ingin terlihat buruk di mata Moli. “Woi! Dengerin Mama, lagian Dia kesini bukan buat Elo kali, main tarik aja.” Diki menarik Yoga hingga terlepas dari Moli.
“Apaan sih! Minggir!”
“Elo yang minggir!”
“Stop ya kalian! Kaya anak kecil!” bentak Moli yang sudah tak tahan dengan tingkah mereka.
Kini Santi benar benar yakin jika Gadis ini memang ada hubungannya dengan Diki dan Yoga hingga mereka sempat bertengkar waktu itu. Lalu kenapa di video itu bersama Lia? Ah! Santi jadi bingung sendiri melihat masalah anak muda jaman sekarang.
“Tante! Aku pamit.” Ucap Moli dengan senyum datar karena sudah di buat malu oleh kedua lelaki yang bertingkah seperti anak TK itu.
“Tunggu biar di anterin Diki.”
“Nggak usah Tante.”
“Tapi ini udah mau malam, nggak baik pulang sendiri.” Santi mengelus rambut yang tergerai panjang milik Moli. Diki dan Yoga hanya diam namun terkadang masih saling lirik.
“Ga! anterin gue.”
Ucapan terakhir sebelum Moli berbalik dan keluar dari rumah itu. Bukan karena tak mau di antar Diki, Moli hanya tak mau menganggap dirinya memberi sebuah harapan untuk Diki. Bagi Moli ini sudah cukup dan harus ber akhir sampai di sini.
“Denger tuh!” Yoga memicingkan mata elangnya pada Diki yang hendak menghampirinya namun di cegah oleh Santi.
“Kenapa Mama biarin Yoga yang nganterin Moli?” Diki mendengus meraup wajahnya yang kesal.
“Bukan ngebiarin Dik, tapi itu kan maunya si Moli, Mama juga nggak mau Dia pulang sendiri, bahaya loh.”
“Terserah Mama lah!”
Diki terlihat sangat jengkel. Namun memang ada benarnya juga, nggak baik wanita pulang sendiri apa lagi sudah malam. Berisiko.
“Kenapa Kak Moli nggak mau di antar Diki?” tanya Yoga ketika dalam perjalanan.
Pelukan erat selalu melingkar erat ketika Moli di bonceng Yoga. Nyaman tentu saja yang di rasakannya. “Kan tadi Elo yang mau.”
“Mau apa?”
“Ya, mau nganterin gue lah! Dasar O-on!” semprot Moli dengan tawa mengejek.
__ADS_1
Ck! Resek emang nih cewek! Diam diam Yoga tersenyum dari balik helm nya. Bahagia itu ketika wanita yang elo Cintai memilih pergi sama elo dari pada sama kekasihnya sendiri. Yoga berharap ini adalah sebuah kesempatan untuk dirinya bisa membuat wanita ini berpindah hati pada nya.
Tak ada yang tidak mungkin! That right!