Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
14. Terakhir bertemu


__ADS_3

Jumat, 12 Mei...


Di atap gedung yang biasa mereka berdua singgahi. Mereka siapa? Moli dan Yoga. Keduanya duduk berjejeran dengan tangan saling berpegangan tangan. Di malam yang dingin dengan di temani taburan bintang, Moli dan Yoga masih duduk terdiam menikmati hawa dingin yang mulai menusuk menembus kulit.


Sebelum sampai di tempat ini, sebenarnya Yoga sudah merasa tak nyaman. Pasalnya sejak mereka bertemu tadi, wajah Moli sudah terlihat mengusut dengan ekspresi yang susah di tebak. Dan lagi, ini sudah malam, kalau mau mengajak ketemuan, kenapa tidak besok saja? Disitulah Yoga mulai curiga.


“Ga,” Panggil Moli dengan kepala masih menyender di pundak Yoga. Pandangannya kosong lurus menembus kegelapan malam.


“Hemm, kenapa?”


“Elo sayang sama gue kan?”


Yoga langsung mengerutkan dahi. Ini seperti bukan Moli saja. Selama berpacaran, Moli tak pernah menanyakan hal itu. Yoga semakin yakin bahwa sedang ada sesuatu hal yang terjadi pada Yoga.


“Kenapa kak Moli tanya kaya gitu?”


“Udah, jawab aja.”


“Ya jelas, gue sayang sama kak Moli. Kak Moli masih ragu?”


“Kalau gue pergi, elo masih sayang sama gue nggak?”


Spontan Yoga langsung bergeser, berbalik menghadap ke arah Moli, di pandangnya mata cantiknya yang terlihat mulai menggenang.


Yoga meraih kedua pipi Moli. “Ini sebenarnya ada apa? Kak Moli mau pergi? Pergi kemana?”

__ADS_1


Moli tak berani menjawab, ia takut akan membuat Yoga marah dan kecewa. Tapi kalau tidak di jelaskan, pembicaraan ini tak akan pernah selesai, sedangkan besok Moli sudah harus terbang ke negara seberang.


“Yoga.” Moli mulai membuka mulut. Kedua matanya pun ia beranikan untuk menatap Yoga. “Besok pagi, gue harus pindah ke luar negeri... keberangkatannya nggak bisa di undur. Papa, mama yang minta.”


Deg!


Darahnya terasa langsung berdesir. Jantungnya berdegup lebih cepat. Yoga hanya bisa diam. Mau bicara, tapi bicara apa? Bibirnya terasa di kunci dengan sebuah gembok yang mungkin telah kehilangan kuncinya.


Ini baru berjalan satu tahun, dan harusnya berpisah? Yoga tak mau itu. Moli adalah kekasih pertamanya, apapun yang terjadi, Yoga tentu tak mau kehilangan.


“Ga! Kenapa elo diem aja.” Moli mengguncang lengan Yoga. “Yoga!” Panggil lagi dengan suara lebih lantang.


“Apa kak Moli mau hubungan ini berakhir?”


“Nggak dong! Gue nggak mau kita pisah.”


Moli menarik napas dalam-dalam, setelah merasa nyaman, perlahan ia hembuskan. Moli menatap lurus ke arah Yoga. Kedua tangannya pun sudah meraih dan menggenggam erat telapak tangan Yoga.


Moli tersenyum. “Ga, elo tahu kan, gue itu sangat merindukan orangtua gue?”


Yoga mengangguk.


“Hanya ini kesempatan gue supaya bisa berkumpul lagi dengan kedua orangtua gue. Mereka kerja di luar negeri, dan satu-satunya cara supaya gue bisa kumpul dengan mereka adalah, gue ikut mereka ke luar negeri.”


Yoga mulai mengerti. Yoga tahu betul bagaimana rasa rindunya Moli. Yoga sangat mengerti Moli begitu merindukan sosok papa dan mama. Tapi, jika harus berpisah, Yoga tentu tak mau.

__ADS_1


“Jadi kak Moli beneran mau ninggalin gue? Itu artinya kita putus?”


“Nggak! Gue nggak mau putus. Kita hanya akan menjalani hubungan jarak jauh. Atau elo mau kita putus?”


“Nggak lah! Aneh!” Yoga mengibaskan tangan Moli. “Yang mau pergi siapa, yang ingin putus siapa?”


“Elo mau kan pacaran jarak jauh? Elo nggak keberatan?”


“Jelas gue keberatan, tapi mau gimana lagi. Gue tahu kak Moli sangat merindukan kedua orangtua kak Moli, jadi gue nggak bisa berbuat apa-apa selain bilang oke.”


“Elo nggak marah kan Ga?” Moli meraih dagu Yoga.


“Jelas gue marah, tapi gue sayang kak Moli.”


Cup!


Satu kecupan mendarat di bibir Yoga. Hanya sekejap. Setelahnya Moli langsung memeluk erat tubuh Yoga sambil terisak.


“Kita bakal tetap teleponkan kok. Video call atau chating dan lain-lain,” Ucap Moli.


“Iya... iya.” Yoga melonggarkan pelukannya, meraih kedua pipi Mona lalu wajahnya mendekat. “Yang penting disana kak Moli nggak selingkuh.”


“Nggak lah!” Moli mendorong dada Yoga lalu bersidakep dan melengos. “Mungkin aja, elo yang mau sekingkuh.”


“Nggak tahu juga sih, gue ini kan ganteng dan mempesona. Pasti banyak cewek yang deketin.” Yoga terkekeh.

__ADS_1


“Yoooogaaaaa!!!!”


****


__ADS_2