
“Gue kira elo paham, ternyata nggak.” Moli duduk di sofa dengan satu kaki terangkat. “Tampang doang yang kelihatan berwibawa, tapi dalemnya busuk!”
Anton mengerutkan dahi. “ Maksud kamu?”
“Jadi penjelasan gue tadi siang itu nggak elo masukin ke kepala ya? udah jelas-jelas kita di jodohkan hanya karena status bisnis, harusnya elo nolak.”
“Buat apa aku nolak?” Anton mengangkat kedua telapak tangan sejajar. “Aku setuju dengan perjodohan ini... lagian aku udah terlanjur suka sama kamu.”
“Astaga!” Moli membuang muka. “Elo itu **** atau apa sih?! Kaya nggak punya harga diri jadi cowok!”
“Aku nggak peduli! Cinta itu kan bisa tumbuh seiring berjalannya waktu.”
“Shit!” Kedua kaki Moli menghentak keras. “Tapi gue itu nggak suka dengan perjodohan ini! Ingat itu!”
“Kita coba aja dulu... kita nikah, terus kita punya anak. Pasti kamu jadi suka sama aku.”
“Gila!” Moli sontak berdiri. “Elo udah nggak waras ya? Enteng banget ngomong kaya gitu. Pernikahan itu bukan untuk main-main.” Masih melotot tajam.
“Justru itu. Aku tahu pernikahan memang nggak main-main... makanya aku mau serius sama kamu.”
“Ngomong sama elo, bisa-bisa gue gila! Ini soal perasaan, elo harus paham!” Moli melengos dan pergi meninggalkan Anton.
Anton yang masih duduk, hanya bisa memandangi langkah Moli yang melenggak menaiki anak tangga. Bibirnya tertarik ke ujung, Anton pun berdiri.
“Apapun yang terjadi kita harus nikah, Mol! Aku udah terlanjur cinta sama elo,” seloroh Anton dalam sendirinya.
“Gimana caranya supaya perjodohan ini nggak lanjut?” Moli membanting tubuhnya lagi di atas kasur. Kalau melihat sikap Anton tadi, sudah jelas Anton tidak mungkin dengan mudah di singkirkan. Padahal Moli sudah meracuninya dengan embel-embel perjodohan atas dasar bisnis. Tapi sepertinya Anton justru menikmati perannya itu.
“Ga...” Moli menyebut nama kekasihnya. “Gue nggak mau pisah lagi sama elo... tapi gimana caranya? Gue bingung...” di dalam kegelisahannya Moli langsung teringat akan sosok Yoga.
Yoga, itu namanya. Cowok periang yang selalu menemani Mona selama hatinya sedang hancur maupun sedang bahagia. Dia paling mengerti bagaimana keadaan Moli yang selalu kesepian karena jauh dari orangtua. Yoga yang selalu ada ketika hatinya pernah hancur karena di khianati kekasihnya dulu. Siapa yang menghibur? Tentu saja Yoga.
Andai saja Gibran tahu bagaimana setianya Yoga menjaga Moli, mungkin tak ada istilah perjodohan seperti yang terjadi saat ini. Gibran memang tak pernah tahu bagaimana Yoga menjaga Moli dengan penuh perasaan. Apapun yang Moli minta dulu, pasti akan Yoga usahakan. Tapi percuma di jelaskan, toh Gibran memang tak akan pernah mengerti.
__ADS_1
Ruangan berbeda namun sama-sama bernama sebuah kamar, Yoga juga tengah berbaring di atas ranjangnya dengan posisi telentang, kedua tangannya terlipat ke belakang untuk menyangga kepalanya. Dua bola matanya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru laut, sepertinya bukan hanya langit-langit yang ia tatap, tapi ada tiga ekor cicak yang sedang menempel erat disana.
Salah satu dari mereka mengeluarkan decakan suaranya, entah yang mana Yoga tak bisa mengamati lebih jelas. Tapi yang pasti, dalam otak Yoga saat ini adalah, kemungkinan ke dua cicak itu adalah pejantan yang sedang merebutkan satu ekor cicak betina. Mungkin begitu.
“Kak Moli belum nikah...” Yoga bergumam sendiri. “Tapi, udah punya tunangan... nasib gue gimana?” masih menatap ketiga cicak itu.
“Kak Moli jelas cinta sama gue... tapi kalau terhalang kaya gini, gue musti berbuat apa?” Yoga berubah tengkurap, menelungkupkan kepalanya yang terasa pusing.
“Mungkin kalau sampai saat ini ingatan gue belum kembali, gue nggak akan ketemu lagi sama kak Moli... harusnya itu lebih baik kan?” Yoga malah kepikiran hal itu. Harusnya Yoga tahu, bagaimana senangnya Moli waktu bertemu kembali. Bahkan meskipun tahu Yoga hilang ingatan, Moli masih terus berusaha. Lalu, pantaskan Yoga menyerah?
Aaa!!!
Yoga terduduk sambil mengacak-acak rambutnya hingga awut-awutan. Persoalan cinta memang bikin kepala pusing. Ingat! Sebentar lagi ujian, jangan sampai pikiran gue terganggu. Yoga seketika menghela napas sambil mengusap dada. Benar, sebentar lagi ujian. Fokuslah dulu dalam belajar. Mungkin saja dengan mendapat nilai baik bisa membuat hidupnya berubah lebih baik. Kalau sukses, pasti akan lebih mudah mendapatkan restu.
“Ya! Gue harus semangat! Bokap kak Moli nggak suka sama gue pasti karena status gue saat ini. Mungkin jika gue sukses, beliau mau merestui.”
Tok... tok... tok!
“Kamu belum tidur?” tanya Santi.
“Belum ma... belum ngantuk.” Yoga bergeser mundur, bersenderan pada dinding ranjang. Kedua kakinya bersila, memberi ruang kepada mama untuk duduk di hadapannya.
“Mama ada apa ke kamar Yoga?”
“Nggak papa... mama cuma pengen ngobrol sama kamu.”
Yoga sudah curiga, ini pasti ada hubungannya dengan Moli. Sebelumnya, mama nggak pernah selarut ini datang ke kamar Yoga. Mata Yoga langsung jeli memandangi mamanya yang sudah mulai menggerakkan bibirnya.
“Ga, kamu masih lanjut dengan Moli?”
Benar kan? Ini pasti tentang Moli.
“Memangnya kenapa, ma?” tanya balik Yoga. “Mama nggak marah kan?”
__ADS_1
“Nggak...” Santi bergidik. “Mama nggak marah kok. Cuma... mama khawatir aja sama kamu.”
Yoga bisa mengerti. Selama ini Santi merawat Yoga setelah kecelakaan hanya seorang diri, tentu Santi pasti khawatir. Apa lagi kecelakaan itu terjadi tak jauh dari akibat dirinya berpisah dengan Moli.
“Mama nggak usah khawatir... Yoga baik-baik aja kok.” Yoga bergeser lalu meraih tangan mamanya. “Yoga udah gede, ma. Yoga pasti bisa jaga diri.”
“Tapi, Ga... kamu tahu kan, Moli itu berasal dari keluarga orang terpandang. Orang seperti kita itu nggak pantes bersanding dengan mereka... itu yang pernah papa Moli katakan sama kamu kan?”
Ya, Yoga ingat betul kata itu. Yoga pun tahu apa sebab dari hilangnya kabar Moli saat pindah ke luar negeri. Memang siapa lagi kalau bukan Gibran.
“Yoga tahu, ma... tapi Yoga sayang sama kak Moli. Mama tahu itu kan?” masih menatap sendu pada Santi.
“Iya, mama tahu... sangat tahu. Tapi kamu masih sekolah, sedangkan Moli sudah bekerja. Kalau harus menunggu kamu menjadi orang sukses... apa Moli bisa?”
Degh!
Yoga beralih pandangan, tangan Santi pun sudah ia lepas. Perkataan mama terasa seperti sebuah pukulan yang sangat keras. Bahkan kepala ini terasa sakit. Yoga masih terlihat diam, ia bingung harus menanggapi kalimat itu bagaimana. Otaknya buntu. Dirinya langsung merasa hanya butiran debu yang tak terlihat pandangan mata. Mungkin begitu yang terlihat di mata Gibran.
“Yoga...” Santi menepuk pundak Yoga. “Mama tahu perasaan kamu sama Moli... kamu menyayangi Moli, mama tahu. Tapi... apa kamu lupa dengan Sarah? dia juga pacar kamu saat ini kan? Pasti kamu juga belum berbicara dengannya kan?”
Sarah? Ya. Sarah. Aku hampir lupa dengan dia. Bagaimana ini?
“Tapi itu lain ceritanya, ma! Itu bukan kemauan Yoga. Kalau Yoga nggak hilang ingatan, Yoga juga nggak mungkin jadi pacar Sarah.” Jelas Yoga. Perasaannya pada Sarah itu tak seberapa, bahkan memang nyatanya tak ada rasa untuknya. Semua itu terjadi karena bukan kemauan Yoga. Bukan!
“Tapi kamu juga nggak boleh diemin Sarah gitu aja, Ga! Kamu juga harus menjelaskan secara baik-baik. Sarah juga punya perasaan.”
“Yoga pasti akan bicara dengan Sarah... Yoga tunggu besok saat di sekolah. Yoga pasti jelaskan semuanya.”
“Baiklah, jika itu mau kamu... jika kamu masih mau berlanjut dengan Moli, mama cuma mau ngingetin... kamu harus siap menghadapi orang tua Moli. Ingat! Moli itu bukan gadis sekolahan lagi, dia sudah menjadi wanita dewasa yang matang. Kamu harus tahu diri, Ga! Mama nggak mau kamu kecewa atau terluka.”
Yoga langsung terpaku diam. Santi beranjak keluar pun Yoga masih tak bersuara. Pikirannya langsung berputar-putar seolah dirasuki berbagai kalimat yang di lontarkan mamanya.
***
__ADS_1