
14.35 WIB
Sampai jam pulang sekolah Moli tak bertegur sapa dengan Diki. Diki masih menemani Lia yang pura pura kesakitan. Moli tahu sebenarnya Lia hanya memerankan tokoh orang jahat yang pandai berbohong layaknya sebuah sinetron. Pintar sekali wanita itu!
“Gue balik dulu ya, lo hati hati.” ucap Mia ketika jemputannya sudah datang. Sementara Fani sudah lebih pergi karena ada acara dengan keluarganya.
“Emang enak di cuekin?”
Suara menyebalkan itu serasa menyumbat telinganya. Wajah cewek tengil ini unjuk gigi dengan bangganya di depan Moli. Entah mau apa sebenarnya, tapi hari ini Dia sepertinya sedang ingin berulah pada Moli.
Dengan nada memalas Moli melirik Lia yang sungguh menyebalkan itu. “Mau apa lagi sih? Niat banget cari masalah ya.”
“Emang!” Lia tertawa jahat hingga terhenti ketika dari kejauhan Ia melihat Diki sedang berjalan menuju parkiran.
“Aduh!”
Dengan tiba tiba Lia menjatuhkan badannya sendiri di atas tanah.
“Eh!” Moli menutup mulutnya terkejut dengan tingkah Lia itu.
“Kamu kenapa sih Mol, jahat banget sama aku.”
Moli jadi kebingungan melihat tingkah aneh Lia yang tiba tiba terjatuh dan sekarang menangis dengan menyalahkan dirinya.
“Lia... kamu kenapa?” ucap Diki yang berhambur menolong Lia yang masih tersungkur di atas tanah. Matanya menoleh pada Moli dengan maksud tertentu.
“kalau mau marah sama aku aja, nggak usah lempar ke Lia.”
Dengan mulut terbuka Moli membulatkan kedua matanya. Apa maksud yang di katakan Diki? Jadi Dia mengira Lia jatuh karena di dorong oleh dirinya. Akting yang sangat luar biasa.
“Maksud kamu? kamu kira aku yang bikin Lia jatuh? Buta kamu ya!” Moli mencibir tak terima dengan tuduhan itu.
“Udah lah Dik, aku nggak papa kok.”
Drama itu semakin nyata ketika tangis Lia semakin menjadi hingga merubah pandangan sengit Diki pada Moli.
“Keterlaluan kamu Mol, aku nggak nyangka kamu berbuat seperti itu.”
Hati Moli serasa di cambuk keras oleh sebuah benda tajam. Kekasihnya sudah tidak mempercayai dirinya lagi. Dimana janji nya yang katanya ingin berubah? Boleh saja Dia menyayangi Wanita itu karena beralasan teman lama, tapi bukan seperti ini caranya.
Mulutnya membisu memandang langkah Diki dan Lia yang kemudian menghilang melesat di bawa sebuah Mobil hitam.
Moli menahan tangis yang hampir saja jebol dari tanggulnya. Ini benar terasa sakit, sungguh sakit. Mungkin bukanlah alasan yang tepat memberikan kesempatan untuk Diki.
“Udah jalanin aja.”
Seseorang menepuk pundaknya dengan keras. Moli memandang seseorang yang telah berlalu mengendarai Motor gede itu.
“Daren?”
Ternyata wanita itu sangat licik. Tak menyangka ternyata Dia bukanlah sosok wanita yang lemah lembut. Tampang polos macam apa itu? Daren bergumam dalam hati setelah Ia melihat kejadian di antara Moli dan Lia. Ternyata Daren mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, tetapi Ia malas ikut campur setelah mengurungkan niatnya untuk menjatuhkan hati pada Lia yang ternyata berkelakuan buruk.
Moli masih tertegun ketika Daren mengagetkan dirinya barusan. “Apa Dia lihat yang terjadi?” Moli mengira ira.
Ketika dimana kekasih mu sudah tak lagi berpihak kepadamu. Apa yang akan kamu lakukan? Melepaskan atau bertahan? Ini sulit.
Hari sudah mulai gelap, namun Moli tak kunjung meminta pak Ujang untuk menjemputnya. Ia hanya ingin menyendiri untuk saat ini, badannya terguncang setelah apa yang Diki lakukan padanya. Dia lebih percaya wanita itu, Dia bodoh karena tak bisa membedakan kebohongan dan kebenaran.
Moli terus melangkahkan kaki hingga terjuju pada suatu tempat dimana mungkin beban dalam pikirannya bisa hilang sejenak. Ia membelokkan langkah masuk ke dalam keramaian itu. Bau rokok beradu dengan semerbak aroma alkohol tercium dari setiap pengunjung yang sedang duduk di sova maupun di kursi bar tender. Seragam osisnya membuat seorang lelaki melirik kepadanya.
“Hai cewek, mau ditemenin?” Lelaki itu mengusap dagu Moli.
“Minggir! gue timpuk mau lo!” matanya melotot pada lelaki yang sepertinya sedang mabok itu.
“Udahlah nggak usah malu malu, biar abang temenin...”
“Nggak usah! Minggir!”
Entah kenapa Moli jadi seberani itu menghadapi orang. Bahkan lelaki itu sampai tersungkur karena dorongan tangannya. Beberapa pengunjung meliriknya namun kemudian acuh dan tak peduli. Itulah hidup. Banyak dari mereka mendekati karena ada maunya dan cuek karena tak mau terlibat masalah.
Satu gelas minuman keras sudah di teguknya. Ia sedikit teler namun masih mampu untuk berjalan keluar dari kerumunan itu. Untungnya tak ada lelaki yang berusaha mengambil kesempatan pada Moli saat itu. Tahu lah apa yang akan terjadi jika seorang lelaki blingsatan melihat gadis tengah teler tak berdaya.
Moli membuka ponselnya menghubungi nomor seseorang. “Halo.” suaranya terdengar parau.
“Halo... ada apa kak Moli?”
“Pak Ujang, jemput Moli di KD karaoke sekarang.”
Tut... telponnya terputus.
“Pak Ujang? Diskotik?”
Yoga mengerutkan dahi nya.
“Astagfirullohaladzim!”
Yoga berteriak membuat Santi yang sedang menyetrika di buat kaget. Begitu juga Diki yang sedang ngobrol dengan Lia di ruang tamu.
“Ada apa Ga?ada masalah?” tanya Santi.
“Nggak papa Ma, Yoga pamit bentar.”
Setelah mengambil jaket dan kunci motornya Yoga pergi dari rumah. Sementara Diki yang melihatnya panik tak peduli dan acuh diam saja. Mungkin akan lain jadinya jika mengetahui hal apa yang membuat Yoga sampai terburu buru pergi dari rumah.
“Ya ampun Kak Moli, mudah mudahan nggak terjadi apa apa.”
Dari balik helm Yoga terus mengucap doa supaya Moli baik baik saja disana. Rasa khawatir terus merasuki dadanya hingga semakin memuncak ketika Yoga tak kunjung menemukan Moli di tempat tujuan. Yoga mencari sosok Moli di dalam kerumunan orang yang tengah berjoget ria, namun tak juga menemukan Moli di sana. Akhirnya Yoga mencari ke area parkir dan halaman tempat itu hingga Ia menemukan gadis itu tergeletak di bawah tiang lampu di seberang jalan.
“Ya Allah kak Moli."
Dadanya bergetar ketika melihat tubuh lunglai itu tergeletak tak sadarkan diri dengan posisi telungkup bersendehan pada tiang lampu jalan. “Astagfirullohaladzim! kok bisa kaya gini.”
Tubuhnya merinding ketika mengangkat tubuh lemas gadis itu. Wajahnya sayu, pipinya masih lembab mungkin Ia menangis.
__ADS_1
“Bukan gue yang jahat!” ucap Moli dalam lelapnya. Mulutnya tercium bau alkohol yang lumayan menyengat di hidung.
Setelah menyebrang Yoga duduk di pinggir jalan di dekat motornya parkir. Ia tak henti terus mengusap wajah Moli. Tangan kirinya merogoh ponsel di saku jaketnya menghubungi taksi online. Tak mungkin bisa kan, jika harus membawa Moli naik Motor sementara Dia sedang dalam keadaan tak sadarkan diri.
Motornya Ia titipkan di sebuah Ruko dan memilih masuk kedalam taksi menemani Moli. Padahal rencananya Ia akan mengikuti taksi itu di belakang, akan tetapi rasa khawatir mengurungkan niatnya itu. Bacaan istigfar Ia ucapkan sambil terus mengusap kepala Moli. Sebenarnya ada apa ini?
“Elo yang jahat! Bukan Gue!” ngigau nya lagi.
Tak menunggu terlalu lama akhirnya mereka sampai. Yoga membopong Moli menuju kamarnya. Sementara si mbok yang tertidur di sova ruang tamu langsung terbangun ketika mendengar suara keras langkah kaki.
“Kenapa itu Den? Ya Allah, ada apa lagi?” kata si mbok yang langsung menyusul mereka masuk ke kamar.
Belum ada jawaban dari Yoga. Ia membisu, wajahnya menegang dengan tangan gemetar membaringkan tubuh tak berdaya itu di atas ranjang. Di tarik selimut menutupi tubuh Moli, hingga terdengar desahan halus dari mulutnya yang sedikit plong karena berhasil membawa Moli hingga sampai ke rumah.
Si mbok yang terlihat panik langsung memberondong berbagai pertanyaan. Wajahnya nampak lebih tegang dari Yoga.
“Non Moli teh kenapa atur Den? Kok bisa pingsan gitu... ya Allah kenapa terjadi kaya gini lagi?”
“Aku belum tahu Mbok, yang jelas Moli sedang mabok. tadi tiba tiba Dia telpon tapi manggil nya pak Ujang, mungkin Dia salah pencet nomor...”
“Mudah mudahan nggak terjadi apa apa.”
“Iya mbok, aku langsung pulang ya. kabarin besok kalau Moli nya udah bangun.”
****
Satu kursi di kelas itu nampak kosong. Sepertinya ada yang tidak hadir hari ini. Siapa? Tentu saja Moli. Ia masih terbaring lemas di kamarnya. Bahkan kedua sahabatnya pun tak ada yang tahu kenapa Moli bolos sekolah.
Diki sempat melirik kursi kosong itu. Hati nya sempat berkata “Apa yang terjadi pada Moli?” itu hanya terucap di dalam batinnya. Sebenarnya Ia gelisah, apa lagi kemarin Ia sempat memarahi Moli karena perlakuannya pada Lia.
“Moli kenapa nggak masuk?”
Bisik Diki pada Fani yang duduk di sebelahnya. Fani cuek tak memberi jawaban.
“Buat apa lo nanyain Moli? Emang masih peduli?” saur Mia yang mendengar pertanyaan Diki.
“Nggak penting juga kali lo tahu kabar Moli atau nggak.”
Diki mengurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut pada mereka berdua. Mungkin ada yang di sembunyikan dari mereka? Tapi apa? Diki memang tak sadar diri atau apa sih? Nggak peka banget jadi cowok.
“Moli! Moli.”
Teriak Fani dan Mia tanpa permisi dan langsung masuk ke dalam rumah.
“Sepi Fan.”
“Kita langsung ke kamar Moli aja kali.”
Pintu kamarnya terbuka. Ternyata di dalam sudah ada Yoga yang sedang menyuapi sup pada Moli. Sepertinya Dia langsung kesini setelah pulang sekolah, terlihat dari seragam osis SMP masih melekat di tubuhnya.
“Moli! lo sakit? Apa nya yang sakit?”
Pelukan dari keduanya membuat Yoga hampir terjengkang dari kursi karena tersikut badan kekar Mia.
“Nggak papa gimana? Pucet gitu.” semprot Yoga ketika hendak keluar kamar mengembalikan mangkuk sup yang sudah kosong ke dapur.
Moli nyengir. “Sumpah deh, gue baik baik aja.”
“Kita khawatir tahu.”
Pelukan erat sedikit membuat hatinya lebih tenang.
“Kok elo bisa sakit kenapa?”
Kejadian bodoh semalam teringat kembali. Setelah keluar dari diskotek Moli sempat merangkul seorang lelaki asing, untungnya lelaki itu bukanlah lelaki ********. Sehingga Moli langsung di dorongnya hingga terjatuh di pinggir jalan. Hanya itu yang Dia ingat. Selebihnya Moli sudah tak ingat lagi.
“Hei! Kenapa sih?”
Moli mengedipkan mata seketika Fani menjentikkan jari di depan wajahnya. Ia tersadar dari lamunan.
“Semalam gue frustasi, gue kecewa sama Diki.” ucapannya terhenti. Rasa sakit di hatinya timbul kembali. “Gue nggak nyangka Dia bisa bilang gue jahat, sementara dia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Dari ambang pintu Yoga menguping pembicaraan mereka. Yoga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebenarnya Ia ingin bertanya tadi tapi keburu Fani dan Mia datang, jadi di urungkan niat itu.
“Bilang Jahat kenapa?”
“Sepulang sekolah tadi, setelah kalian pergi, Lia nyamperin gue. Tiba tiba Dia jatuhin diri sendiri di atas tanah hingga membuat Diki berfikir bahwa gue yang mendorong Lia.”
“Wah licik tuh cewek, sebelumnya Dia juga pura pura terkilir kan? Dia juga nuduh elo.”
Moli mengangguk. Sepertinya Ia ingin menyudahi hubungan ini. Toh selama ini tak ada yang spesial di antara kita. Ini akan terlalu sakit jika di pertahankan.
Kedua bola mata itu membesar, kedua tangannya mengepal. Yoga turun keluar dari rumah itu tanpa berpamitan pada Moli. Geram karena mendengar penjelasan dari Moli, Yoga ngibrit mencari sosok yang siap Ia kotori dengan kepalan tangannya.
Emosinya sudah memuncak hingga naik lebih tinggi ketika kedua matanya melihat orang yang di maksud sedang bercanda ria di ruang tamu rumahnya. Yoga menarik kerah baju Diki kemudian menonjoknya dengan keras.
“Brengsek lo!!”
Satu pukulan lagi melayang di pipi kanannya hingga yoga terpelanting di atas sova di depan Lia yang kebingungan dengan perbuatan Yoga yang tiba tiba itu.
“Yoga! Kamu kenapa sih?”
Lia mendorong Yoga untuk menjauh dari Diki yang meringis kesakitan. Ia belum sempat melawan karena posisi serangan Yoga yang langsung menerjang sebelum Ia bersiap menangkis.
“Cupu Lo!! Banci! Cuih!”
“Brengsek! Apa Lo bilang?”
Diki berdiri membalas pukulan Yoga yang berani mengatai dirinya banci. Baginya banci itu kata yang paling hina untuk seorang lelaki. Dan dengan entengnya Yoga berani melontarkan kalimat itu tepat di depan Diki di barengi dengan ludah yang keluar dari mulut nya.
“Sekali lagi lo bilang gue banci, abis lo!”
“Sadar woi!! Kalau bukan banci terus apaan ha?!”
__ADS_1
Mereka saling berbalas pukulan hingga masing masing dari wajah mereka lebam dan berdarah. Tentu saja tak ada yang mau mengalah hingga santi datang menengahi mereka.
“Kalian Ini kenapa?” Santi melempar belanjaannya ke lantai. “Berantem kaya anak kecil, kenapa?”
Yoga mundur mengelap darah yang keluar dari bibirnya. Sementara Diki terduduk dengan luka di bagian pelipis nya.
“Jelasin sama Mama! Ada apa ini?”
“Tanya tuh sama Yoga.”
Diki menunjuk Yoga dengan pelototan mata bulatnya. Tentu saja Diki merasa tak bersalah karena dari awal Yoga lah yang memulai perkelahian ini.
Santi menatap prihatin pada Anak lelakinya itu. “Kenapa sayang? jelasin ke Mama.” tangan lembut mengusap luka itu.
“Yoga paling nggak suka sama lelaki yang suka mainin hati perempuan seperti Dia!” suara lantang itu tertuju pada Diki yang langsung mengangkat kepala karena tak mengerti maksud ucapan Yoga.
“Maksud lo apa?”
“Denger ya baik baik.” jarinya menunjuk ke arah Diki yang masih merasa dirinya benar.
“Sekali lagi elo sakitin hati kak Moli, Elo siap berurusan sama gue!”
Moli? Jadi Yoga kenal dengan Moli? Lia bergumam dalam hati. Sejak kapan?
“Ooo jadi elo masih sering nemuin Dia? Sialan lo!” Diki berdiri dan hendak memukul Yoga namun di halangi oleh Santi yang semakin di buat bingung dengan urusan mereka.
“Cowok nggak tahu diri! Banci!”
Kata terakhir yang di lontarkan Yoga sebelum masuk ke kamar.
Lia mengelap luka Diki dengan es batu. Kemudian memberi obat merah untuk luka yang berdarah. Ia tak menyangka akan melihat perkelahian antara kakak beradik yang membuatnya ketakutan. Apa lagi terjadi karena satu cewek yang paling Lia benci.
“Sebenarnya ada apa si Dik? Kok Yoga sampai marah begitu.”
“Nggak tahu aku Ma, tanya langsung aja sama orangnya.”
Melihat tampang Diki yang datar itu sudah pasti Santi tak akan mendapat jawaban yang sebenarnya. Ia mencoba menghampiri Yoga berharap ada penjelasan supaya tak ada perkelahian lagi.
“Mama masuk ya Ga.”
Yoga terlihat sedang berdiri di depan cermin melihat lebam di wajahnya yang membiru. Ia meringis ketika satu tetesan obat merah menyentuh kulitnya.
“Sini duduk Ga, Mama mau tanya.”
Dengan malas Yoga memenuhi panggilan Mama dan duduk di sampingnya. Ia membuang muka tak berani menatap Santi.
“Sebenarnya ada apa si Ga? Kok sampai berantem gitu? Ada Lia, kan nggak enak.”
“Aku belum bisa cerita sama Mama, kalau Mama penasaran, Mama tanya langsung aja sama Diki. barang kali Dia mau jawab.”
“Ya udah kalau kamu belum mau cerita, tapi mama minta sama kamu, jangan berantem kaya tadi.”
“Tergantung.” Jawabnya dan langsung tengkurap membenamkan wajahnya pada bantal.
“Si Yoga kemana Mol? Dari tadi nggak nongol lagi.”
“Oh iya ya... kemana tuh anak?” saur Moli ketika menyadari Yoga tak kunjung balik ke kamarnya lagi.
“Pulang kali."
“Masa nggak bilang sama gue, ya kali...” Moli terkekeh.
“Lha dari tadi nggak nongol nongol.”
“Lagi bantuin mbok masak mungkin.”
Tawa Fani menggema di ruangan itu. Mia dan Moli hanya saling lirik merasa tak ada hal yang lucu. Kenapa Fani bisa tertawa? Aneh tuh anak!
Diam. Suara mereka bertiga tak terdengar lagi. Mungkin bingung apa yang harus di bahas lagi. Fani sibuk memainkan Game online di ponselnya sementara Mia masih duduk di samping Moli yang bersendehan pada bantal.
“Mol...”
Suara itu memecah kesunyian. “Sebenarnya lo masih suka nggak sih sama Diki?”
Bibir mungil itu tertutup rapat. Sepertinya bingung dengan apa yang harus di katakan. Pertanyaan itu yang sebenarnya selama ini Moli tunggu. Namun dari kemarin Ia tak sadar bahwa itu lah yang sebenarnya sedang mengganjal di hati kecilnya. Kenapa baru sekarang telinga ini mendengar pertanyaan itu? Jika tersadar dari kemarin, mungkin Ia akan lebih berfikir keras lagi sebelum memberi Diki sebuah kesempatan.
“Lo masih suka nggak sama Diki?”
Pertanyaan itu berdengung lagi di telinganya. Dengan memainkan jemarinya Moli mulai berkata. “Gue bingung Ia, antara masih suka atau nggak.”
“Tanya sama hati lo...”
“Terkadang gue lebih suka kalau nggak ada Diki, tapi melihat perlakuannya itu rasanya membuat hati gue ini sakit, cemburu...”
“Itu bukan cemburu Mol.” timbruk Fani yang ternyata mendengar obrolan mereka berdua.
Moli menyipitkan mata. “Maksudnya?”
Fani menaruh ponselnya dan beralih duduk di samping Mia. “Lo harus bisa bedain antara cemburu atau perasaan nggak terima...”
“Cemburu itu beda sama rasa sakit hati, coba lo pikir, posisi lo lagi di yang mana?”
Moli terdiam. Berusaha mencerna lebih dalam apa yang di maksud dengan perkataan Fani. Memang sih, untuk urusan sekolah Dia nol besar tapi, kalau soal cinta Dia adalah orangnya.
Bibir mungilnya masih tertutup, terkadang Moli melirik Mia yang hanya angkat bahu karena tak mengerti sama sekali soal beginian. Dia paling malas berurusan dengan lelaki atau yang berbau cinta cintaan. Katanya sih nggak penting, Mia emang beda.
“Apa maksud lo yang gue rasain saat ini itu bukan tentang cemburu?”
“Gue tanya sama lo, apa lo marah ketika lihat Lia sama Diki?”
“Ya marah lah, masa nggak.”
“Tapi lo lebih memilih ngebiarin mereka kan? Dan teler lo semalem itu bukan karena cemburu, melainkan karena elo nggak terima aja di tuduh Lia hingga Diki ngatain elo, ya kan?”
__ADS_1
Moli menutup mulut nya. Sepertinya baru tersadar akan apa yang di jelaskan Fani padanya. Apakah memang seperti itu? Moli mengingat kembali tentang hubungan akhir akhir ini dengan Diki sementara Mia hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, Ia sama sekali tak paham sedikit pun tentang ucapan Fani.