Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
Bonus Chapter! Yoga dan Moli


__ADS_3

Berkasih dengan yang lebih muda itu nggak buruk kok. Contohnya gue, gue menjalin kasih dengan seorang laki-laki yang 3 tahun lebih muda dari gue. Namanya Yoga. Ya, kalian sudah tahu itu kan? Gue dan Yoga sekarang sudah resmi pacaran.


Setelah Lia menghilang dari kehidupan Diki, gue udah nggak tahu lagi kabar tentang mereka. denger-denger, si Lia udah balik lagi ke kota asalnya. Karena skandalnya dengan Dikilah yang membuat Lia harus pergi dari sini.


Kalau Diki, gue pernah ketemu sesekali. Itu waktu gue main ke rumahnya Yoga. You know lah, mereka kan satu rumah. Haha! Dan kebetulan saat itu Diki sedang ada di rumah.


“Moli,” Sapa Diki. “Kamu disini?”


Gue Cuma mengangguk dan melempar senyum. Entah kenapa sekarang gue males banget sama dia. Sekedar bertemu, menyapa ataupun menjawab ucapannya, bagi gue itu hanya buang-buang waktu.


“Nunggu Yoga?”


“Iya.”


Diki duduk di sofa. Tepatnya di sofa sebelah gue. Karena gue yang udah mulai grogi, gue memilih untuk mengedarkan pandangan ke arah lain. Gue nggak peduli di sana Diki sedang apa. Itu bukan urusan gue!


“Kak Moli!”


Suara teriakan itu, sontak membuat gue langsung menoleh. Ya, itu Yoga. Memang siapa lagi? Biarpun kita sudah pacaran, tapi dia nggak pernah merubah nama panggilannya ke gue. Tetep aja dia manggil gue, kak Moli. Haha! Terserah dia lah ya.


“Maaf lama.”


Cup.


Satu kecupan dari Yoga mendarat di pipi gue. Apa yang gue lakukan? Tentu saja Cuma nyengir. Apa lagi tak jauh dari posisi gue duduk, ada Diki yang terlihat pias.


Yoga sudah memutar posisi dan sekarang duduk di samping gue. Ia sama sekali tak peduli dengan Diki yang ada disana. Tingkah manjanya masih sama walaupun ada orang lain yang melihat. Ya, memang begitu Yoga.


“Yuk, jalan.” Yoga berdiri. Menarik tangan gue supaya ikut beranjak.


“Duluan ya, Dik.”


Ku lihat Diki hanya mengangguk dan tersenyum getir. Bodo amat! Gue nggak peduli. Pada intinya dia udah bukan siapa-siapa gue lagi.


“Kalian dengan santainya bermesraan di depan gue, keterlaluan!” Maki Diki. Jemarinya mencengkeram erat tepian sofa.


“Diki, kamu kenapa?” tanya mama. Ia mengamati Diki yang terlihat menahan amarah.


Bagaimana bisa hubungan mereka selengket itu, padahal dulu saat bersama Diki, nggak seperti itu. Di mana letak salahnya?


“Semua karena Yoga!!”


“Apa Dik?”


“Nggak, bukan apa-apa.”


Diki berdiri, meninggalkan mamanya yang masih berkerut dahi. Semua masih sama, sebenci apapun Diki dengan Yoga, tapi tak merubah rasa sayangnya pada Mama.


“Kita mau kemana, Ga?” gue yang duduk di depan mendongak, mengamati wajah serius Yoga yang sedang fokus mengayuh sepeda.


“Ke taman aja, disana kan tempatnya enak buat duduk santai.”

__ADS_1


Ini sore hari, tepatnya pukul 4. Biasanya disana tak begitu ramai saat jam segini. Paling disana hanya ada beberapa penjual keliling yang lewat halu lalang. Tapi disanalah tempat favorit gue dan Yoga. Bukan bermaksud kita hanya ingin berduaan aja, tapi karena di taman itu lah kita bisa ngobrol tanpa suara berisik percakapan orang lain. Ya, begitulah kira-kira.


“Akhirnya...” Gue turun sambil mendesah. Meregangkan kedua tangan gue yang sedari tadi mengatup karena terhalang dua tangan Yoga yang mencengkeram setang sepeda.


Yoga memarkirkan sepedanya pada senderan pohon. “Kita duduk disini.” Tarik Yoga menuju tanah yang di tumbuhi rumput. Tepatnya di bawah pohon palem.


“Kak Moli tadi ngobrol apa aja sama Diki?” tanya Yoga. Raut wajah cemburunya udah terlihat.


“Nggak ngobrol apa-apa.”


“Serius?”


“Iyalah. Memangnya mau ngobrolin apa?” Gue menoleh pada Yoga.


“Ya, barang kali ngobrol sesuatu, kan udah lama juga nggak ketemu.”


“Hei!” gue menjitak keras ujung kepala Yoga. “Bego' di pelihara.” Gue mendengus kesal.


Yoga hanya nyengir sambil mengusap jidatnya. “Apa? Memang iya kan?”


“Gue tiap hari ketemu sama Diki kali.”


“Serius?”


Wajah polos Yoga hampir saja membuat tawa gue keluar. Dia itu hanya sedang cemburu kan? Kenapa sampai selinglung itu? Lihat! Wajahnya lucu banget.


“Serius dong.” Gue pancing aja biar dia tambah ngambek.


“Apa sih!”


“Elo emang masih bocah ya? Cemburu boleh, tapi nggak sebodoh itu kali.” Satu jitakan gue lempar lagi di kepala Yoga.


“Maksudnya?” dua alisnya berkerut ke tengah.


“Gue kan satu kelas sama Diki, ya kali gue nggak ketemu dia tiap hari.”


Dan akhirnya bibir gue udah nggak bisa mengatup lagi. Tawa gue menyembur begitu aja di hadapan Yoga yang terlihat melongo dengan ujung bibirnya yang terangkat. Sumpah! Wajah Yoga lucu banget. Pipinya udah merah karena menahan rasa malu. Cemburu itu memang bisa membuat orang jadi aneh.


“Dasar!!” semprot Yoga lalu berpaling ke arah lain.


“Makanya jangan berpikiran aneh-aneh, jadi blo'on kan, lo?” gue tertawa lagi tanpa peduli pada Yoga yang merengut.


Lalu seketika.


Gep! Yoga memeluk gue dengan erat. Erat sekali. Tapi tak membuat gue sesak atau kesakitan. Tawa gue udah ilang setelah dekapan ini. Rasanya nyaman. Yoga memeluk gue penuh dengan perasaan. Sepertinya cemburunya bukan main-main.


Oh iya, Gue itu kan pacar pertama Yoga, mungkin karena itu dia masih labil. Gue sontak langsung membalas pelukan hangat dari Yoga.


“Kak Moli.”


“Hem...”

__ADS_1


“Kak Moli kan sering ketemu Diki...”


Gue diam, membiarkan Yoga bicara.


“... pasti sering ngobrol juga kan? Gue kan nggak tahu kegiatan kak Moli di sekolah.”


Gue mendesah, perlahan melonggarkan pelukan ini. Mata gue langsung lurus menatap Yoga, sementara tangan gue menggenggam tangan Yoga. Kita duduk saling berhadapan.


“Ga, gue emang sering ketemu sama Diki, tapi bukan berarti gue sering ngobrol sama dia. Bahkan kalau berpapasan di sekolah, gue langsung melengos. Lagian untuk apa ngobrol sama Diki, kan nggak ada urusan penting.”


Yoga memindah tangannya bergantian menggenggam tangan gue. Dia masih diam. Hanya matanya yang terlihat berkedip lalu kembali menatap ke arah gue.


“Kak Moli beneran udah nggak ada rasa suka sama Diki kan?”


“Elo ngeragu-in perasaan gue, Ga?” gue mengibaskan tangan Yoga yang memegang tangan gue. “Jahat!”


“Bu...bukan gitu. Tapi...”


“Tapi apa!” gue memelototinya. Sebenarnya gue nggak marah kok, Cuma mau ngetes Yoga. Seberani apa dia bertanya hal seperti itu. Haha!


“Kalian kan pernah saling suka, gue cuma takut kak Moli kembali lagi sama Diki. Itu aja.” Yoga menatap ke arah lain.


“Kenapa elo kepikiran sampai sejauh itu? Itu berati elo memang belum percaya sama perasaan gue.”


“Nggak, bukan gitu. Gue Cuma... ah ribet banget sih ngomongnya!”


Sumpah! Gue pengen ketawa. Asli! Wajah Yoga imut banget. Jadi begitu ya kalau dia cemburu atau takut. Gue Cuma mengatupkan bibir kedalam karena takut tawa gue menyembur lagi.


Gue memutar kedua pundak Yoga hingga mengarah ke gue.


Cup!


Bibir gue mendarat, menyentuh lembut bibir Yoga. Untuk sesaat kita hanya diam. Kedua mata gue terpejam, tapi tidak dengan Yoga. Mungkin dia terkejut karena sentuhan bibir gue.


Bersentuhan sekitar 2 menit. Ciuman itu perlahan terlepas. Yoga masih diam.


“Kok elo diam? Nggak suka?” gue langsung merengut.


“Nggak. Bukan gitu. Gue suka, suka semua yang kak Moli lakukan.”


“Lalu?”


“Gue Cuma takut nggak Moli ninggalin gue, nggak tahu kenapa gue takut kaya gini.”


“Ga,” Gue meraih tangannya lagi. “Kita akan seperti ini selamanya. Biarpun kita masih muda, tapi gue yakin, kita bisa menjaga hati kita masing-masing.”


Dan...


Cup...


Yoga meraih tengkuk gue, dan ciuman itu kembali berlanjut. Sebuah ciuman sederhana yang lembut tanpa adegan apapun di dalamnya. Ini hanya sebuah ciuman.

__ADS_1


Ketika Kau menciumku!


__ADS_2