
Dalam hembusan angin Yoga berusaha memutar otak bagaimana cara nya menemukan beruang besar itu. Sebenarnya sih banyak. Tapi untuk warna kuning itu lah yang susah di cari. Laju motornya semakin kencang menembus sunyi nya malam, Ia biarkan angin terus meronta menampik tubuh tegap nya itu.
Sebegitu berartinya kah gadis itu? Kenapa harus bersusah payah hanya untuk menuruti keinginannya? Yoga terdiam kemudian tersenyum dari balik helm yang Ia kenakan.
“Makasih udah nemenin gue, besok lagi ya.” Yoga terkekeh melihat raut wajah kelelahan Doni ketika helm nya sudah di buka.
Doni mendengus. “Brengsek lo! Cari sendiri besok! Nyusahin tuh beruang!”
“Gue balik ya, sekali lagi makasih.”
“Dimana gue bisa nemuin tuh beruang?” Yoga membantingkan tubuhnya di atas ranjang sesampainya di rumah. Untuk hari ini Ia hanya fokus memikirkan permintaan Moli. Badannya terasa pegal karena naik motor turun motor mengelilingi kota Jakarta. Besok harus dapat.
“Yoga kamu udah pulang.” Suara mama dari ambang pintu.
Yoga terduduk. “Iya Ma, ini baru pulang, masuk aja.”
Santi mendekati yoga dan duduk di sampingnya. “Tumben udah pulang?”
“Iya, oh ya Mama pulang jam berapa?”
“Jam 10 tadi.”
Yoga manggut manggut. “Nggak di apa apain disana kan?”
Santi membulatkan bola matanya. Kemudian menyentil hidung Yoga. “Kamu tuh ya, ngomong apa sih?”
“Ya kali aja tuh nenek sihir berulah lagi.” Semprot Yoga membenamkan kepalanya di pangkuan Santi.
“Sshhttt, nggak boleh bilang gitu. Nggak baik.”
Tentu saja Santi tak akan cerita pada Yoga tentang kegiatanya di rumah mertuanya. Yoga sendiri tentunya sudah bisa mengira ira kira kira sesuatu apa yang mungkin bisa terjadi pada Mamanya disana. Tapi untuk membahasnya mungkin bukanlah sesuatu hal yang tepat.
Sepatutnya seorang wanita itu memang harus di lindungi dan di jaga. Seperti itu lah yang dilakukan Yoga pada Santi. Biarpun Santi mengalah saat di kucil kan keluarga suaminya. Bukan berarti saat itu Yoga tak peduli. Ia hanya menghindari sebuah masalah yang mungkin saja bisa berimbas pada Santi.
“Ha-pe kamu bunyi tuh.” ucap Santi ketika mendengar suara nada dering dari dalam tas punggung milik Yoga.
Yoga berdiri dan mengambil ponsel itu. “Halo.”
“Gimana udah dapet belum?”
Yoga mendesah setelah mendengar nada bicara dari balik ponsel nya. Mama menyikut lengan Yoga. “Siapa?”
Yoga menoleh pada santi tanpa mengabaikan telfon itu. “Belum dapat lah, dikira gampang cari tuh beruang?”
Santi berkerut dahi. Untuk apa seekor beruang?
Terdengar suara kekeh dari sana. “Ya pokoknya harus dapat. Titik!”
__ADS_1
Telpon itu terputus membuat Yoga memicingkan kedua matanya. “Dasar cewek!”
“Siapa sih? Pacar?”
“Bukan...”
Santi tersenyum meledek. Kemudian mencubit pipi putranya itu. “Cie yang udah punya pacar.”
Santi tertawa dan berlalu keluar dari kamar itu.
“Apaan sih Mama, ngeledek.” Yoga menelungkupkan kepalanya kedalam bantal yang tertumpuk di ujung ranjang. “Pacar orang.”
Apakah perasaan ini hanya suka karena sering bertemu? Ataukah hanya sekedar kagum karena kecantikannya? Siapa yang bisa memberikan jawaban itu pada nya sekarang?
Drtt drtt... ponselnya bergetar kembali.
Kak Moli
Kesini Ga... bantuin gue siap siap buat besok....
Yoga melirik jam tangan menggesernya sedikit ketengah. Baru jam delapan, masih keburu. Belum terlalu malam juga. Di ambil jaket abu yang tergeletak di sova kamarnya dan langsung cus keluar menuju garasi di mana motornya bersemedi. “Lagian siap siap apa sih?”
“Ma, Yoga keluar bentar, udah di tungguin temen.”
Pamit Yoga ketika menjumpai Mamanya yang sedang nonton TV.
Yoga mengangguk dan berlalu meninggalkan rumah.
Kamar itu sangat berantakan. Baju berserakan di lantai membuat kamar itu lebih mirip dengan pembuangan sampah di TPA.
Yoga yang baru membuka pintu langsung membulatkan bola matanya seraya geleng geleng. Moli hanya menoleh sekejap kemudian sibuk lagi dengan koper berukuran sedang di atas lantai.
“Ini ada acara bongkar bongkar, mau nyumbang?” Yoga melangkah berjinjit menghindari beberapa pakaian supaya tak terinjak.
Tanpa berfikir untuk membantunya, Yoga justru terbaring memalas di ranjang empuk itu. Ia memandang ke langit langit melirik dua ekor cicak yang entah apa yang sedang di obrolin hewan berkaki lengket itu.
“Kok malah tiduran sih?” gerutu Moli sambil melempar sweter berwarna ungu tepat di wajah Yoga.
Yoga terduduk melempar kembali sweter itu pada pemiliknya. “Kalau kesini Cuma di suruh beresin nih baju, gue mah nggak bakal mau.”
Moli memelototinya dengan kedua tangan berbentuk segitiga di pinggang. “Udah tinggal bantuin aja.”
“Kenapa nggak si mbok aja? Lagian buat apa sih? Pakai ada koper segala lagi.”
“Udah, sini bantuin.”
Moli menarik kaki Yoga yang tergantung di pinggir ranjang. “Cepetan!”
__ADS_1
“Iya... ini gue bantuin."
Dengan rasa malas Yoga mulai menggamit satu persatu baju yang berserakan di lantai.
“Apa ini?” Yoga memicingkan kedua matanya melihat sesuatu benda berwarna hitam dengan renda di masing masing sudut dan dua gundukan mirip seperti sebuah gunung. Sebelumnya Yoga pernah sekilas melihat benda ini waktu Mamanya sedang menjemur pakaian. “Kak Moli.” Yoga mengangkat benda itu dengan ke dua jarinya di hadapan Moli
Moli yang sedang mengetik pesan di ponselnya menoleh. “Yoga!!” Ponsel itu terlempar. Moli langsung menjambret benda dengan dua gundukan itu dari tangan Yoga dan langsung menyelipkannya ke dalam koper. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Yoga terkekeh seraya melanjutkan lagi kegiatannya bersama baju baju menyebalkan yang masih tergeletak tak berdaya itu.
“Emang mau kemana sih? Liburan?”
Dengan wajah menutup malu, Moli menjawab tanpa menoleh. “Besok gue ada tur ke Bali...”
Yoga menghentikan kegiatannya kemudian duduk di samping Moli. “Ke Bali??”
“Iya... study tour.”
“Berapa hari?”
“Ya sekitar 3 hari kayaknya.”
Yoga mendesar lirih. “Bakal nggak ketemu dong.”
“Ya elah, tiga hari doang. Nggak lama kali.”
Koper itu sudah penuh terisi dengan beberapa perlengkapan yang di perlukan Moli saat di Bali. Moli bangkit membantu memungut beberapa pakaian yang masih tersisa di atas lantai. “Kalau elo mau main, main aja kesini... serah lo mau ngapain. jungkir balik juga boleh.”
“Ye... yakali gue kesini ngapelin si mbok.” Yoga tertawa dengan telapak tangan menepuk lantai.
Setumpuk baju terlempar berhamburan dimana posisi Yoga duduk. “Wooo dasar!”
“Tuh beresin! Gue laper mau ambil makan dulu.” Moli keluar kamar setelah melempar baju itu pada Yoga.
Lima belas menit berlalu. Baju berserakan itu sudah tergantung rapi di dalam lemari. Yoga menggamit kunci motornya kemudian keluar mencari Moli.
“Gue balik ya.”
“Eh tunggu... gue udah siapin makanan juga, kasihan si mbok udah masak.”
Moli menarik lengan Yoga menuju ke meja makan. Ternyata memang si mbok udah masak. Di meja sudah tersedia bak mi goreng lengkap dengan irisan timun dan kerupuk.
Yoga menelan ludah. “Enak nih.”
“Udah cepetan duduk.” Moli menarik yoga yang masih berdiri memandangi bak mi yang tergelek di atas meja.
****
__ADS_1
up nya setiap hari lho... karena ceritanya udah Tamat. jadi aouthor semangat post nya...