
“Mama!” Yoga berteriak sekencang mungkin. Santi yang masih menikmati bacaannya sontak langsung tergugah.
“Kenapa, Ga?” Santi sudah berdiri dan menyusul Yoga yang tengah berdiri di ambang pintu.
Yoga tak menjawab, ia hanya mengulurkan jari tunjuknya mengarah pada sesuatu di luar sana. Karena penasaran, Santi pun keluar dan pandangannya langsung menuju ke arah sesuatu yang di tunjuk Yoga.
“Ya ampun!” pekik Santi. Kedua tangannya spontan menutup mulutnya. “Siapa itu, Ga?”
“Nggak tahu Ma... kita cek aja.”
Hujan sudah tak begitu deras, hanya tinggal menyisakan gerimis, tapi Santi dan Yoga bisa melihat dengan jelas tubuh yang masih belum jelas wujudnya itu, pastilah sudah tergeletak lama di sana. Tubuhnya yang basah kuyup itulah yang membuat mereka yakin, kalau cuma sekedar gerimis, sepertinya tak akan sampai memprihatinkan seperti itu.
“Ayo, Ga... kita tolongin.”
Karena Santi hanya sendirian, Yoga pun ikut mengecek siapa gerangan wanita yang tergeletak itu. Sebenarnya Santi nggak mau kalau Yoga sampai terkena angin, apalagi ini masih gerimis, tapi mau gimana lagi. Wanita itu butuh pertolongan.
Sekilas, mereka hanya berdiri. Beberapa detik saja, saling toleh lalu keduanya pun jongkok. Santi sudah menyentuh pundak wanita itu, menarik napas panjang dan begitu sudah di hembuskan, Santi perlahan memutar tubuh wanita itu. Sontak mata Yoga dan Santi langsung membelalak.
“Moli”
“Kak Moli?”
Saking terkejutnya, mereka sampai menyebut nama Moli bersamaan.
“Ya ampun, kok jadi begini? Ada apa ini?” Santi memangku kepala Moli.
“Kita bawa masuk aja, Ma!”
__ADS_1
“Tapi gimana ngangkatnya?”
“Sini, biar Yoga aja.” Yoga sudah meraih tubuh Moli dan berusaha mengangkatnya.
“Kamu bisa?” Santi terlihat was-was, ini karena Yoga belum fit dan baru saja keluar dari rumah sakit.
“Tenang aja... Yoga bisa kok.” Yoga pun sudah berhasil mengangkat tubuh Moli yang basah kuyup.
Mereka sudah sampai di dalam.
“Baringkan disini, Ga...” Santi menepuk sofa ruang tamu.
“Iya, Ma...”
Yoga sudah berhasil membaringkan tubuh Moli di sofa. Saat ini Yoga sudah berjongkok di samping Moli, sementara Santi duduk di sofa sambil mengusap kaki Moli yang sudah kedinginan.
“Sebenarnya kak Moli kenapa ya Ma... kok sampai pingsan di depan rumah kita?” Yoga terlihat begitu khawatir. Saat ini kedua tangannya pun sudah menggenggam erat telapak tangan Moli. Yoga semakin khawatir ketika menjumpai jemari Moli yang sudah mengeriput. Bukan itu saja, bahkan bibir tipisnya pun sudah terlihat membiru.
“Oke.”
Yoga pun mulai menepuk pelan pipi Moli sambil memanggil nama Moli beberapa kali.
“Kak Moli... kak! Bangun! Ini Yoga... kak Moli!”
Masih tak ada reaksi dari Moli. Yoga kembali merasa khawatir, apalagi setelah melihat reaksi Moli yang tiba-tiba menggerakkan tubuhnya sambil menggigil. Harusnya Yoga senang, tapi tidak. Moli sama sekali belum juga sadarkan diri. Semua itu hanya reaksi tubuhnya yang sudah kedinginan.
“Gimana ini, Ma? Kak Moli udah kedinginan... apa aku bawa masuk ke kamarku aja, nanti mama yang gantiin bajunya. Kasihan ma...”
__ADS_1
Santi bisa melihat betul bagaimana khawatirnya Yoga pada Moli. Meskipun dirinya bisa bersikap tenang, tapi dalam benaknya pasti sedang di landa kepanikan. Apalagi wanita ini adalah kekasihnya yang sudah lama menghilang, tentu saja Yoga khawatir.
“Ya sudah... kamu angkat lagi Moli, kita bawa ke kamar.”
Tak perlu menunggu lama, Yoga langsung dengan sigap mengangkat tubuh Moli lagi. Meskipun sebenarnya tenaganya belum kuat, tapi demi Moli Yoga pasti akan bertindak, apalagi melihat kondisi Moli saat ini, tentu saja apapun yang terjadi harus mengutamakan Moli dulu.
Dua menit kemudian, Moli akhirnya sudah berbaring di kamar Yoga.
“Kamu ambilkan piyama mama dulu... ada di lemari.
“Oke, ma...” Yoga langsung berbalik dan menjalankan perintah Santi.
Tidak lama, hanya sekitar satu menitan saja, Yoga sudah kembali dengan membawa piyama berwarna biru laut di tangannya.
“Ini, ma...” ucap Yoga sambil menyodorkan piyama itu.
“Ya sudah... kamu keluar dulu, biar mama ganti pakaian Moli.”
Yoga mengangguk.
Selama melucuti pakaian basah Moli, Santi hanya diam dan tetap berharap Moli akan segera tersadar. Melihat tubuhnya yang lunglai, sudah bisa di pastikan, pasti telah terjadi sesuatu dengan Moli.
Akhirnya piyama itu sudah melekat di tubuh Moli. Sebelum keluar, Santi sempat mencium kening Moli, dalam hatinya berkata ‘mungkin Moli sedang mendapat masalah, semoga baik-baik saja' begitu kira-kira. Setelah itu, Santi menarik selimut, lalu menutupi tubuh Moli hingga ke bagian dada.
“Gimana, Ma?” tanya Yoga begitu Santi keluar dan menutup pintu kamar.
“Masih belum sadar... tapi mama udah ganti pakaiannya. Nanti kalau udah merasa hangat, mungkin Moli akan bangun.”
__ADS_1
“Mudah-mudahan aja.”
***