Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
7. di tabrak


__ADS_3

“Hai Bro.” Sebuah tos Ia layangkan ke arah Yoga.


“Hai.” Balas Yoga lemas.


“Kenapa lo? Lesu banget?” kedua alisnya terangkat. “Eh, itu kenapa celananya? Kok sobek.” Sambungnya lagi.


Yoga mendengus. Ia belum menjawab. Setelah sesai memarkirkan sepedanya, barulah Yoga menoleh dan menatap sahabatnya itu.


“Di tabrak orang tadi.”


“Di tabrak? Serius?” Devan menarik pundak Yoga.


“Iya. Ya kali, udah sobek begini gue bohong.” Yoga melengos dan berjalan masuk ke lorong menuju kelasnya di lantai 3.


Devan sudah mengimbangi langkahnya, terkadang Ia nyengir melihat bekas sobekan celana di bagian lutut Yoga. Memang sih, tak sampai terluka parah, tapi tetap saja itu kecelakaan. Mungkin saat ini masih selamat, lalu selanjutnya? Devan langsung bergidik. Membayangkan hal itu terasa ngeri.


“Siapa yang udah nabrak elo? Elo kenal orangnya nggak?”


Yoga angkat bahu. “Gue nggak tahu, tapi dia cantik.” Yoga terkekeh.


“Bangke! Jadi yang nabrak elo, cewek?”


“Iya.” Mengangguk dengan kedua alis terangkat menampilkan bola matanya yang berbinar. “Sayangnya gue Cuma lihat sekilat doang. Gue udah terlanjur sebel sih, lagian masih pagi, naik mobil udah meleng. Bikin orang celaka aja.” Memuji tapi pada akhirnya menjatuhkan juga.


“Eh, ngomong-ngomong...” Devan menyikut lengan Yoga. “Tuh cewek masih sekolah nggak?” memainkan kedua alisnya naik turun.


“Kenapa elo jadi tanya begituan? Mau kenalan?”


“Ya, barang kali elo ketemu dia lagi kan... elo bisa kenalin dia ke gue.”


“Ngarep!” Yoga menggeleng kepala Devan dengan jari telunjuknya. “Tuh cewek udah dewasa, nggak pantes buat elo. Kayaknya sih, udah pekerja kantoran.”


“Yoga!” Suara melengking berhasil membuat Yoga dan Devan menutup telinga masing-masing.


“Yoga...” Panggilnya lebih halus. “Awas, Lo!” Usirnya pada Devan.


“Apa sih!”

__ADS_1


“Kamu baru berangkat ya...” Sarah bergelayut manja sambil menggandeng lengan Yoga.


“Iya... sayang ku...” balas Yoga sambil mencubit pipi Sarah.


Mereka bertiga sudah duduk di bangku masing-masing. Tentu karena memang sebentar lagi pelajaran akan segera di mulai.


“Yoga.” Bisik Sarah di telinga Yoga. “Itu lutut kamu kenapa?”


“itu?” tunjuknya ke arah lututnya yang tertekuk di bawah meja.


“Iya.”


“Jatuh tadi.”


“Tapi nggak papa kan?”


“Nggak kok, Cuma sobek dikit doang.”


Jam istirahat tiba. Seluruh penghuni kelas sudah berhambur keluar dari kelas mereka masing-masing. Ada yang berlari langsung menuju toilet, ada yang ngibrit menuju kantin, ada pula yang berlari ke arah lapangan basket dan lain lain tempat.


Ini jam istirahat, jadi terserah dong mau ngapain. Begitu juga yang di lakukan Yoga dan kekasih barunya yang baru ia pacari sekitar 1 bulan yang lalu. Mereka saat ini sudah duduk di atas rumput hijau di taman sekolahan. Disana bukan hanya ada mereka, tapi juga ada beberapa murid lain yang sedang melakukan kegiatan di saat jam istirahat. Ya, begitulah biasanya.


“Oke.”


Yoga duduk dengan kedua kaki selonjor ke depan. Lengan kirinya menjulur mencoba meraih celananya yang sobek di bagian lutut. Entah kenapa, saat melihat sobekan itu, Yoga langsung teringat kembali dengan kesialan pagi tadi. Sekelebat di otaknya terkadang terlintas suatu peristiwa yang sebelumnya pernah terjadi. Tapi apa? Yoga masih mencoba menebak.


Bahkan setelah kejadian itu, kepala Yoga menjadi terasa sedikit sakit dan berat untuk di sangga. Kecelakaan tadi seperti bukan yang pertama kali, itu pikir Yoga. Sebenarnya apa yang terjadi? Yoga mulai menekan pelipisnya yang terasa pusing.


“Gue kenapa sih?”


Yoga bergidik cepat mencoba menghilangkan bayangan abstrak yang sedang melintas di otaknya. Dan wanita itu, siapa dia? Ah! Yoga kembali menekan pelipisnya. Ini semakin terasa sakit.


“Yoga, Hei Yoga! Kamu kenapa?” Samar-samar suara seseorang memanggilnya.


“Yoga! Kamu kenapa?” suaranya mengeras hingga membuat Yoga tersadar.


“Eh, Sory.” Hanya itu yang keluar dari mulut Yoga.

__ADS_1


“Kamu sakit? Aku antar ke UKS ya?” Sarah meletakkan 2 botol minuman dan dua bungkus cemilan di samping Yoga.


Sarah terlihat begitu khawatir. Selama mengenal Yoga 2 tahun lebih, ini pertama kalinya Sarah melihat Yoga bertingkah aneh. Sebelumnya Yoga tak pernah sakit ataupun melamun seperti itu.


Tunggu dulu! Sarah teringat sesuatu. Dulu waktu pertama kali Yoga pindah ke sekolahan ini, tepatnya saat Yoga kelas 2 SMA, saat itu Yoga masih terlihat seperti orang yang kebingungan. Dan karena itulah, akhirnya Sarah jadi penasaran dengan sosok Yoga hingga terus mengamati beberapa kegiatan yang di lakukan oleh Yoga.


Saat itu Yoga sangat sulit untuk di dekati. Sifatnya yang cuek dan pendiam, membuat siapapun malas untuk berteman dengan nya. Hingga 2 bulan kemudian, Devan yang termasuk siswa baru di sekolah ini pun menjadi teman pertama untuk Yoga.


Dan saat itulah semuanya berubah seiring berjalannya waktu. Yoga mulai bersikap layaknya seorang murid SMA. Mulai dari mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan sekolah lainnya. Kemudian mulailah Sarah masuk kedalam kehidupan Yoga.


Awalnya mereka hanya menjadi teman akrab hingga berjalan sampai satu tahun lebih. Yoga terlihat begitu menyayangi Sarah, tapi mungkin hanya untuk sekedar sebatas sahabat. Ya, begitulah yang di katakan Yoga saat secara terang-terangan Sarah nembak Yoga sewaktu pulang sekolah. Awalnya Yoga menolak, tapi karena hasutan dari Devan, akhirnya Yoga pun menerima Sarah menjadi pacarnya.


“Kamu yakin nggak mau ke UKS?” tanya Sarah lagi.


“Iya. Aku nggak papa kok, cuma sedikit pusing, mungkin karena belum sarapan.”


“Ya udah, minum dulu gih.” Sarah duduk lalu menyodorkan satu botol air mineral.


“Makasih.”


Sarah mengamati wajah Yoga yang terlihat berkeringat. Ujung rambut poninya juga terlihat basah, padahal suasanya hari ini tidak terlalu begitu panas. Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Yoga? Sarah masih terus mengamati hingga tegukan air terakhir masuk kedalam tenggorokan Yoga.


Botol itu sudah di remasnya, lalu seketika Yoga melemparnya dengan cepat hingga masuk tepat kedalam tong sampah. Di sampingnya, tentu Sarah merasa terkejut melihat tingkah Yoga, itu terlihat aneh.


Yoga berdiri. “Yuk, ke kelas.” Menoleh pada Sarah untuk segera mengikutinya berdiri.


“A...ayo...” jawabnya dengan terbata-bata.


Keduanya hanya berjalan menuju kelas tanpa ada satu percakapan apapun. Keduanya diam. Sarah ingin bertanya, tapi melirik wajah Yoga yang sangat pakem di tambah keringat yang masih setia menempel di sana, membuat Sarah langsung urung dan mengatupkan kembali bibir mungilnya.


Saat ini mungkin Yoga sedang banyak pikiran atau mungkin sedang ada masalah lain. Itu tebak Sarah. Saat ini Sarah hanya bisa mengira-ira, mungkin besok Sarah bisa bertanya saat Yoga sudah terlihat biasa saja. Saat ini cukup diam dan tutup mulut.


***


**Jangan lupa, Like coment dan vote nya yaaa. 🙏🙏🙏 rate 5 nya juga di tunggu. 😅😅


yang berkenan mampir juga ke karyaku yang lain.

__ADS_1


MY BROTHER (I LOVE YOU**)


__ADS_2