
Benar saja, pagi harinya sesudah sampai di sekolahan, Yoga langsung mencari keberadaan Sarah. Jam sudah menunjukkan pukul tuju kurang lima belas menit, pasti Sarah sudah berada di sekolahan. Begitu masuk ke halaman sekolah, Yoga mulai melangkah masuk ke dalam menyusuri lorong koridor.
“Gue harus nyelesaiin ini semua! Gue nggak mau Sarah terus salah paham.” Yoga berjalan sambil bergumam.
Sesampainya di depan pintu kelas, disana terlihat Sarah sedang ngobrol dengan beberapa temannya. Disana juga sudah ada Devan yang sedang mencoret-coret bukunya. Mungkin sedang menggambar sesuatu.
“Hai...” Yoga duduk. Menaruh tasnya, menepuk pelan pundak Devan lalu duduk memutar menghadap ke arah Sarah yang duduk di kursi sebelah. Yoga bisa melihat raut wajah masam pada Sarah. Karena itulah Yoga ingin menjelaskan semuanya.
“Sarah!” panggil Yoga pelan.
“Hm. Ada apa?” balas Sarah tanpa menoleh. Kini Sarah masih diam dengan pura-pura fokus pada lembaran tugasnya.
“Kita perlu bicara. Kita ngobrol di taman belakang nanti.” Yoga mencondong ke depan.
“Ngobrol apa? Pulang sekolah nanti, aku lumayan sibuk.”
“Bentar aja... kita perlu bicara.” Yoga memohon dengan telapak tangan mengatup rapat.
“Hm... ya nanti. Tapi jangan lama-lama!”
“Oke.”
Yoga kembali terduduk tegak. Posisinya sudah berbalik menghadap ke depan dimana Guru yang hari ini mengajar sudah berdiri di depan papan tulis dengan membawa buku setebal 5cm.
“Elo lagi marahan sama si Sarah?” Devan menyikut lengan Yoga. Suarang ia buat perlahan supaya tak di dengar oleh yang lain termasuk gurunya.
“Nggak kok.”
“Terus kenapa? Dari kemarin kalian diem-dieman aja kayaknya... apa ada masalah?”
“Ada sih... tapi, gue belum bisa cerita. Nanti kalau udah beres, baru deh gue cerita ke elo.”
“Devan, Yoga!” suara lantang dari arah depan mengejutkan keduanya. Langkah kakinya sudah mendekat ke arah mereka dengan tatapan tajam. Sementara yang di panggil langsung gelagapan dan salah tingkah.
“Kalau kalian tidak mau ikut pelajaran saya... mendingan keluar sekarang!” guru itu sudah menunjuk ke arah pintu, mempersilahkan jika memang Yoga dan Devan mau keluar.
“Nggak Bu... kita mau di sini aja. Iya kan Ga?” jawab Devan dengan mencari dukungan.
“I... iya Bu... kita mau ikut belajar kok.”
“Sekali lagi kalian berisik... ibu hukum kalian!”
“Baik, Bu...”
“Elo sih!”
“Ya elo!”
__ADS_1
Keduanya saling menyikut.
14.45 WIB
Sepulang dari kantornya, Moli langsung berbalik arah menuju tempat Yoga bersekolah. Hari ini ia ingin sekali bertemu dengannya, mungkin karena rindu. Ya, begitu. Mobilnya juga sudah masuk ke area parkir. Di sebelah selatan, terlihat beberapa deretan sepeda kayuh yang berjejer rapi, punya Yoga pasti ada satu di antara sepeda itu. Jadi, Moli memilih menunggunya tak jauh dari sana.
Sepertinya suasanya siang ini tak begitu panas, di atas sana banyak kabut yang mulai menyelimuti langit biru menutupi sinar matahari. Sudah hampir sepuluh menit menunggunya, tapi Yoga tak kunjung terlihat. Sementara di area parkir sudah terlihat beberapa murid yang mengambil kendaraannya masing-masing.
Merasa sudah bosan, Moli memilih turun dari mobil. Kakinya berjalan memutar menuju pintu sebelah kiri. Sambil memutar-mutar kunci mobil, pandangannya masih terus memantau keberadaan Yoga yang belum juga menampakkan ujung batang hidungnya.
“Siapa dia? cantik banget...” salah satu murid laki-laki bergumam dengan temannya.
“Nggak tahu. Kayaknya nggak pernah lihat.” Jawab temannya.
Merasa di lirik ke dua cowok itu, Moli tersenyum lalu mendekat. Otomatis kedua cowok itu menjadi gugup dan saling tarik.
“Hai...” sapa Moli.
“Ha...hai...” jawab keduanya terbata-bata.
“Boleh tanya?”
“Boleh kak. Tanya apa?”
“Apa kalian kenal Yoga?”
“Yoga pacarnya si Sarah ya?”
Mendengar itu, wajah Moli berubah pias. Ternyata hubungan mereka sudah terkenal ya? Dasar!
“Iya.” Jawab Moli singkat.
“Aku nggak tahu kak... mungkin masih di kelas.”
“Oh... ya udah, makasih.”
Kedua murid cowok itu pun pergi.
Bibir Moli sudah maju beberapa senti, mendengar kata Yoga dan Sarah rasa cemburunya muncul kembali. Ketika otaknya mulai berpikiran aneh-aneh, yang sedari tadi sedang di tunggunya pun muncul.
“Kak Moli!” teriaknya dari kejauhan. Sontak Moli menoleh, awalnya Moli cemberut karena tak jauh di belakannya ada Sarah, tapi begitu Yoga berlari dan langsung memeluknya, seketika rasa cemburu itu lenyap.
“Kak Moli kesini?” tanya Yoga yang sudah memeluk tubuh sintal milik Moli. Sementara tak jauh dari mereka, Sarah hanya bisa tersenyum getir.
“Jahat banget kamu, Ga. Ada aku tapi kamu main mesra-mesraan gitu,” gumam Sarah dalam hati.
“Udah lepasin ih! Malu di lihat orang.” Moli mendorong tubuh Yoga. Sekilas Moli melirik beberapa murid lain yang belum beranjak dari tempat parkiran.
__ADS_1
“Kenapa malu... gue kan cuma meluk kakak gue, apa yang salah?”
“Dasar!” Moli memukul jidat Yoga. Hal itu lantas membuat Sarah semakin di buat cemburu.
Menurut Sarah pemandangan ini begitu menyakitkan mata, pasalnya selama Yoga berpacaran dengan dirinya, Yoga sama sekali tak pernah bersikap manja seperti yang terlihat saat ini. Sarah baru tahu, ternyata Yoga bisa bersikap kekanak-kanakan di depan wanitanya.
“Hai Sarah...” sapa Moli usai pelukan Yoga benar-benar terlepas.
“Hai kak...” jawab Sarah.
“Udah mau pulang juga?”
“Iya.”
“Bareng kita aja... gue yang antar.”
“Nggak usah...” Sarah mengibas kedua telapak tangan. “Aku bisa pulang sendiri kok.”
“Yakin?” tanya Moli sekali lagi.
“Iya, kak... makasih buat tawarannya, aku pergi dulu.”
Sarah sudah berlalu, Yoga dan Moli juga sudah masuk ke dalam mobil.
“Elo masih deket sama Sarah?” Moli membuka pembicaraan.
“Iyalah... dia kan temen gue.” Jawab Yoga sambil tersenyum. Ini caranya untuk memancing kecemburuan Moli.
“Bagus deh... biar elo nggak lupa kalau dia pernah ngisi hati elo waktu gue nggak ada.” Jawab Moli tanpa menoleh. Moli tahu Yoga sedang memancingnya, itu sebabnya Moli berlagak biasa saja.
“Jawabnya nggak ngenakin banget sih!”
“Lha... emangnya gue musti jawab gimana?” Moli menoleh sebentar, di sana wajah Yoga sudah terlihat cemberut.
Yang dipancing siapa, yang kepancing siapa?
“Nyebelin, kak Moli!”
“Kok nyebelin?” Moli melirik. “Udah deh! gue jemput elo karena gue kangen sama elo... jadi elo nggak usah mancing emosi gue!”
Mendengar kata kangen, wajah Yoga langsung bersemu merah. “Jadi kak Moli kangen sama gue?” Yoga antusias.
“Nggak!”
“Heh! Kok gitu?” Yoga melotot. Saat ini posisinya sudah menghadap ke arah Moli. “Gue cium ya...” Yoga sudah maju.
“Apa sih?!” Moli memiringkan tubuhnya ke dekat kaca hingga mobilnya hampir oleng.
__ADS_1
***