Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
Duapuluhdelapan


__ADS_3

Sepulangnya dari restoran Moli lebih memilih di antar oleh Yoga. Bukan karena maksud apa apa, tetapi Mia dan Fani rumahnya tak searah dengan dirinya. Sebetulnya Yoga sendiri beda jalur dengan Moli, tetapi bukankah ini sebuah kesempatan untuk semakin dekat dengan nya?


Tepat jam lima sore mereka berdua akhirnya sampai di rumah Moli. Yoga masih duduk di atas jok motornya menatap Moli yang tersenyum di hadapannya. “Makasih udah nganterin...”


“Itu doang? Nggak di suruh masuk?”


Moli meringis. “Mau mampir?”


“Ya iyalah... males pulang...” Yoga melepas helm kemudian berlenggak masuk meninggalkan Moli.


Moli menggerutu dan menyerobot langkah Yoga. “Dasar! Nggak sopan!”


“Gue ke kamar... mau nunggu sini atau ikut?”


“Ikut deh...”


Sesampainya di atas Moli langsung mengambil pakaian ganti kemudian menjambret handuk yang tergantung di balik pintu kemudian masuk ke kamar mandi. Sementara Yoga memilih berbaring di atas sova sambil membaca buku komik yang Ia ambil di rak dekat ranjang.


Usai mandi Moli melangkah menuju meja rias nya mengambil hair dryer di dalam Box persegi di atas meja. “Tolongin Ga...”


Yoga menggeser komik yang di hadapan wajahnya. “Kenapa?”


“Keringin rambut gue... udah kedinginan cepet...”


Yoga bangkit meraih hairdryer itu. “Ck! Salah sendiri udah hampir malam keramas segala...”


“Udah deh... diem... mau bantuin nggak?”


“Iya iya...”


Yoga mulai menggenggam rambut panjang itu. Baunya sangat harum. Entah apa sampo yang di gunakannya, tetapi wanginya sangat menggoda. Moli mengamati wajah serius Yoga dari pantulan cermin. Masih tetap tampan.


Yoga tersenyum ketika tatapan itu Ia pergoki.


“Terpesona ya... gue mau tahu sih... gue emang ganteng maksimal...”


Mulai lebay Dia nya. Moli meringis geli dengan ucapan Yoga itu. “Dasar kepedean!


Hueekkk!”


“Biarin!”


“Udah yang bener... nggak keburu kering nanti...”


“Iya bawel...”


Tok tok tok!


Ketukan suara pintu kontan membuat mereka menoleh. Badan paruh baya muncul dari balik pintu dengan membawa sapu masuk menghampiri Moli.


“Ada apa mbok?”


“Ada den Diki di bawah Non?”


“Diki?” Pekiknya kaget. “Serius Diki?” Moli bertanya sekali lagi.


“Iya Non... lagi nunggu di ruang tamu...”


“Ya udah... suruh nunggu bentar...”


Simbok berbalik dan pergi ke bawah menghampiri Diki. “Tunggu bentar ya Den...”


“Iya Mbok...”


“Gue ke bawah... elo tunggu sini aja...”


Yoga mengangguk walaupun sebenarnya tak ikhlas jika Moli Menemui Diki lagi. Lagian Diki juga nggak tahu diri, udah di putusin masih ngotot banget. Yoga menggerutu di dalam kamar itu. Perasaannya tak tenang memang, apa lagi mengingat kejadian tadi siang ketika Diki terus memaksa Moli.


“Ada apa lagi Dik...” tanya Moli sesampainya di ruang tamu.


“Aku mau kita balikan lagi kaya dulu Mol...”


“Nggak bisa Dik... kita udahan...”


“Pliss Mol...” Diki mencoba meraih tangan Moli namun Moli menyingkir. “Aku nggak mau kehilangan kamu...”


“Tolong Mol... kalau perlu aku akan menjauh dari Lia...”


“Egois kamu! Nggak punya hati! Kamu pikir dengan menjauhi Lia semua masalah bisa terselesaikan? Nggak Dik... kamu terlalu jahat!”


Dari lantai dua Yoga mengamati dan menguping pembicaraan mereka berdua. Wajahnya datar tak berekspresi. Yoga hanya sedikit tegang namun masih sanggup diam. Ia terus memantau mereka barang kali Diki berbuat macam macam.

__ADS_1


“Aku mohon sama kamu Mol...” kini Diki mencoba meraih pinggang Moli. Sepertinya Diki mulai tak terkendali lagi. Keegoisan cintanya bisa membuat siapapun ketakutan.


Moli mendorong Diki hingga terjengkang.


“Apa apaan kamu Dik? Ini yang kamu bilang mau berubah? Omong kosong!”


Dari atas Yoga masih berusaha menenangkan perasaannya. Ia tak mau ikut campur. Biarkan Moli menyelesaikan yang penting Yoga masih terus terjaga mengawasi tingkah Diki.


Diki berdiri lalu mendekap Moli. “Plis Mol... beri aku kesempatan...”


“Nggak Dik... lepasin!”


“Nggak Mol... aku mau kita balikan...” Diki menarik wajah Moli hingga mendongak ke atas. Mencoba meraih bibir merah merekah itu.


Moli mulai menangis dan terus mencoba melepaskan diri dari dekapan Diki yang terus mencoba mencium dirinya.


“Hoi Setan! Lepasin! Brengsek!” teriakan lantang itu membuat Diki menoleh dan melonggarkan genggaman pada ke dua pipi Moli.


Yoga berlari menuruni anak tangga dan langsung menarik Moli dalam pelukannya.


“Keluar lo!”


Diki sebenarnya terkejut ketika ada Yoga disini. Ia menatap tajam sorot mata Yoga.


“Ck! Ternyata Yoga ada disini! Sialan!” batin Diki.


“Oh jadi ini kelakuan kalian... munafik! Kalian yang selingkuh kan? Wah hebat!” Diki menepuk kedua tangannya dengan tatapan sengit.


“Aaaaaaaaa! Udah cukup!”


Teriakan Moli membuat Diki terkejut dan diam. Moli terduduk di atas lantai menelungkupkan kepalanya pada kedua lututnya. Tangisannya semakin membanjiri wajah cantiknya. Yoga yang awalnya mencoba tenang kini naik pitam. Ia mendorong tubuh Diki memaksanya untuk segera keluar.


“Keluar lo! Dasar nggak punya hati! Keluar sekarang!” Yoga mendorong Diki lebih keras hingga hampir keluar dari pintu.


“Lo tega buat Moli nangis! Kapan elo sadar dengan kesalahan elo sendiri? Berkaca woi!”


Tak ada perlawanan dari Diki. Ia terus melangkah mundur menatap Moli yang masih tertelungkup dengan tangis.


Jebret!


Pintu ruang tamu terbanting keras. Yoga berhasil mengusir Diki keluar dari rumah. Tanpa banyak cincong Yoga langsung menghambur pada gadis yang masih terisak menangis.


Perlahan Yoga membaringkan tubuh itu bersendehan pada dua bantal yang tertumpuk rapi di atas kasur. Perasaannya begitu prihatin melihat gadis ini menangis ketakutan. Diki memang sudah kelewatan. Dia terlalu mudah memutuskan sesuatu sebelum melihat apa yang sebenarnya terjadi tanpa memikirkan perasaan orang lain.


“Udah jangan nangis... jeleknya nambah nanti...”


“Biarin... hiks hiks...”


“Mau di peluk lagi...” ledek Yoga sambil mengelap air mata yang mulai terhenti. Kini Yoga semakin memantapkan hati untuk terus menjaga bidadari cantik ini. Tak akan di biarkan siapapun berani menyakitinya lagi.


“Ga...”


“Hmm...”


“Kenapa lo peduli sama gue?”


Pertanyaan macam apa pula itu? Yoga membisu. Bingung harus memberi jawaban apa. Gengsi kan kalau harus bilang karena


“Cinta”? bisa di ketawain nanti. Kan nggak lucu. Ck! Gimana ini? Tatapan Moli semakin membuat pipi Yoga memerah.


“Ih kok merah Ga...” Moli tertawa. Sementara Yoga cemberut dan memutar posisi duduknya membelakangi Moli.


Lalu tiba tiba sebuah tangan merayap di pinggangnya. Moli memeluk punggung Yoga dengan erat. “Ga...”


“Apa sih?” Yoga masih malas untuk berbalik. Antara bingung malu dan senang bercampur menjadi satu rasa.


Moli mendekatkan bibirnya di samping telinga Yoga. Yoga hampir saja terlonjak kegelian namun Ia masih bisa mengendalikan dirinya untuk tetap santai. “Peluk gue Ga...”


Bisikan di telinga nya membuat matanya membulat dan terpaku diam. Ia seperti sedang di hipnotis oleh seorang penyihir cantik. Ucapan sederhana itu sungguh sangat berarti untuknya. Ini sangat spesial!


Akhirnya Yoga memutar badannya lagi. Dan gadis itu sudah duduk bersilah menatap wajahnya yang semakin memerah menahan kecamuk di dalam hatinya. Tatapan itu sungguh membuatnya semakin gugup.


Kenapa Dia terus menatap ku? Tahukah Dia, bahwa tubuh ini sudah terguncang bagai kena topan? Mata indah itu sungguh menusuk relung hati ini. Oh Tuhan tolong aku...


“Hei kok diem?” jentikan jari menyadarkan sebuah lamunan.


“Peluk gue Ga...”


Rayuan manjanya semakin membuat jantungnya tak terkontrol lagi. Moli merentangkan ke dua tangannya tersenyum mengharap Yoga segera membalas harapannya. “Cepetan! Gue pengen di peluk...”


Sialan! Gadis ini sungguh menyiksa raga ini. Kedipan mata manja nya tak mampu untuk menolak lebih lama rayuan itu. Yoga mendesah, melenguh tertunduk pada pelukan hangat itu. Ah! Sial! Jantungnya terus berdegup meronta ketika pelukan itu semakin erat mendekap badannya. Hembusan nafasnya menggelitik merasuk hingga menembus ubun ubun. Sadar atau tidak, kali ini Moli terlihat begitu manja pada Yoga. Semakin Yoga diam justru itu semakin membuat Moli girang untuk terus melenguh pada dirinya.

__ADS_1


“Ga... kok elo diem sih? Nggak suka gue peluk?”


Ck! Wanita ini tak paham atau bagaimana? Tidakkah Dia tahu tubuhnya sudah bergetar hebat hingga mengunci bibir ini untuk bicara?


“Kak Moli...”


“Hmmm... kenapa?”


“Engap...”


Moli spontan mendorong Yoga hingga hampir terjengkang dari posisi duduknya. “Ih apaan sih? Nyebelin lo!”


Yoga tertawa melihat raut wajah Moli yang membentuk kerucut. “Sini gue peluk lagi...”


“Nggak! Minggir!”


“Sini ih!” Yoga berhasil mendekap tubuh Moli lagi.


Pelukan yang begitu terasa hangat dan nyaman. Hingga tak terasa waktu terus berputar menunjukkan pukul sembilan malam. Mungkin Moli sudah mulai merasakan sesuatu d dalam hati kecilnya, tetapi hal apa itu Moli belum bisa memastikan. Intinya rasa suka pada Yoga sudah mulai tumbuh dan untuk rasa Cinta Moli hanya tinggal memastikan lagi supaya benar benar yakin dengan perasaannya sendiri.


“Udah malam... gue balik ya...”


Pelukan itu sudah terlepas beberapa menit yang lalu. Wajah keduanya terlihat tegang karena masih menahan apa yang sedang merasuki tubuhnya.


“Ya udah hati hati... jangan berantem lagi...” ucap Moli sebelum Yoga keluar dari kamarnya.


“Iya... nggak mau cium dulu...” Goda Yoga sambil unjuk gigi.


“Bweekk!” Moli menjulurkan lidah di susul dengan tawa lebarnya.


Sementara Yoga dalam perjalanan pulang. Dirumahnya sudah ada Lia yang duduk di ruang tamu. Di sampingnya ada sebuah koper besar berwarna hitam. entah apa itu isinya, mungkin beberapa baju Lia selama tinggal di jakarta.


Suasana diruang tamu begitu tenang. Santi dan Yudha duduk berdampingan sementara Diki duduk di samping Lia yang berkaca kaca. Lia memandang Yudha penuh penyesalan atas skandal yang di buatnya dengan Diki beberapa hari yang lalu.


“Om... maaf selama Lia disini, cuma bisa ngerepotin Om dan keluarga... Lia bener bener minta maaf...”


Yudha mendesah prihatin pada Lia. Sebenarnya Ia tak tega melihat Lia yang harus balik ke Bandung atas perintah ke dua orang tuanya. Mereka tak ingin Lia semakin merepotkan keluarga Yudha, walaupun sebenarnya sudah ada kata maaf untuk Lia jauh jauh hari. Tapi ini pilihan ke dua orang tuanya, jadi Yudha hanya turut menasihati saja.


“Om sudah maafin kamu kok... sepenuhnya bukan salah kamu... Diki juga bersalah dalam hal ini... dan Om minta maaf untuk hal itu...”


“Iya Om, Tante... Lia sekali lagi minta maaf... Lia pamit...”


Di depan pintu Diki bertemu dengan Yoga yang baru pulang dari rumah Moli. Dahinya berkerut melirik koper besar itu, namun kemudian pergi menyerobot masuk karena tak mau peduli.


“Dari mana kamu Ga? Baru pulang?” tanya Santi sebelum menyusul Diki dan Lia yang sudah di halaman rumah.


“Main... Yoga langsung ke kamar Ma...”


Santi mengangguk lalu menyusul ke depan. Lia sudah ada di dalam mobil duduk di jok depan dengan Diki di sampingnya yang mulai menyalakan mobil.


“Lia pamit Om... Tante...” lambaian tangan dari balik kaca sedikit membuat tubuhnya lemas. Sebenarnya Ia masih betah tinggal di jakarta. Kalau saja Ia tak menganggap enteng resiko dari perbuatannya itu, mungkin saja Ia masih tetap bisa tinggal disini. Penyesalan memang tak pernah ada di posisi terdepan.


Lia menoleh pada Diki yang sedari tadi hanya diam dengan wajah datar. Lia bingung apakah Diki marah padanya atau karena ada hal lain yang membuatnya membisu hingga sepertinya tak peduli dengan kepergian Lia.


“Diki... kok kamu diem aja? Kamu kenapa sih?”


“Hmm... nggak papa kok...”


“Kamu marah sama aku... atau kenapa? Kok kayaknya kamu biasa aja aku mau balik ke Bandung? Kamu udah nggak peduli lagi...”


“Bukan gitu... aku Cuma lagi nggak fit aja... lagi banyak pikiran...”


Pikiran yang seperti apa? Lia tak tahu itu. Diki tak pernah cerita. Bahkan setelah kasus itu mereka memang jarang bertemu. Diki susah sekali di hubungi, bahkan di datangi ke rumahnya pun tak pernah bisa ia temui. Lia curiga Diki memang sengaja menjauhinya. Karena apa? Moli? Iya, pasti Moli.


“Karena Moli kamu diemin aku ya? Iya kan? Pasti karena Moli... jadi kamu masih suka sama dia?”


Yoga mengambil nafas panjang, Ia tak ingin membahas masalah ini sekarang karena sebenarnya masih ada emosi yang tersisa dari kejadian tadi. Diki mencoba menahan karena Ia tahu hari ini Lia akan pulang ke Bandung. Bagaimana pun juga Diki memang salah dalam semua hal ini. Hanya saja Ia masih keras tak mau mengakuinya.


“Nggak ada hubungannya sama Moli... kamu juga tahu aku udah selesai sama dia kan? Jangan bahas Moli disini.”


Lia tersenyum. Ia kira Diki memang sudah melupakan Moli. Walaupun Lia akan berjauhan dengan Diki, tapi setidaknya Ia sedikit tenang karena hubungan cinta antara Diki dan Moli sudah berakhir. Masih ada harapan tersisa pikirnya.


“Oke aku nggak akan bahas Dia... tapi kamu masih sayang sama aku kan? Walaupun kita jauh tapi kamu jangan lupa sering telpon aku... kalau bisa tiap minggu berkunjung... nanti aku kirim alamatnya.”


Diki hanya mengangguk. Jahat sekali telah mempermainkan hati wanita ini. Memberi sebuah harapan namun membiarkannya begitu saja tanpa ada balasan yang jelas. Siapa yang kejam? Kamu! Tunjuk Diki pada diri sendiri.


****


Terimakasih buat para pembaca.


mohon dukungannya ya...

__ADS_1


__ADS_2