
“Ma,” panggil Yoga. “Kayaknya mama akrab banget sama cewek tadi, mama kenal?”
Santi terlihat memaksakan kedua ujung bibirnya supaya bisa tertarik ke atas. Sepertinya pertanyaan Yoga sangat sulit, sulit untuk mencari jawabannya. Masih sambil memandang wajah Yoga, akhirnya Santi memilih untuk bangkit dan berencana meninggalkan Yoga di situ.
“Mama mau kemana? Kok malah Yoga di tinggal sih.” Yoga ikut berdiri.
Dengan posisi yang sudah berdiri memunggungi Yoga, Santi hanya bisa menghela nafas sambil mengusap dadanya yang mulai nyeri. Berhenti sebentar, memejamkan kedua matanya sambil mendesah berat lalu pergi begitu saja tanpa memberi jawaban pada Yoga.
“Mama kenapa sih, kok jadi aneh gitu?” celetuk Yoga sambil menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuk.
“Aw!!” pekik Yoga ketika kaki kanannya sudah melangkah. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan sakit. Kedua matanya terpejam sangat rapat menahan fertigo yang mulai menyerang. Karena merasa sudah tak tahan, akhirnya Yoga duduk kembali di sofa.
Kedua tangannya memijat sambil menekan kepalanya yang masih teras pusing. “Gue kenapa ya? Kok jadi pusing kaya gini sih.”
Dalam posisi duduknya, Yoga mulai mengatur napasnya. Menarik perlahan melalui hidung, lalu di hembuskan lewat mulut. Matanya yang sudah terbuka kembali terpejam, bergidik cepat lalu perlahan matanya terbuka lagi.
Kepalanya sudah kembali seperti semula dan pusing pun sudah tak terasa. Aneh, memang sangat aneh. Sebelumnya Yoga tak pernah seperti ini, kalaupun sakit kepala, paling cuma pusing biasa dan tidak pernah sampai fertigo. Kalau seperti ini, berarti memang ada sesuatu hal yang telah menimpa Yoga, hingga sakit kepala yang semula tak pernah ada tiba-tiba saja hinggap di kepalanya.
Setelah merasa yakin bahwa kepalanya sudah tak pusing lagi, Yoga langsung bangkit dan pergi menuju kamarnya. Barang kali dengan beristirahat, otaknya akan kembali merasa lebih rileks.
***
Tiga jam sudah akhirnya Moli sampai juga di rumahnya. Rumah yang megah bak sebuah istana namun di dalamnya seperti sebuah neraka. Ah, mungkin terlalu kejam jika di sebut neraka, barang kali akan lebih tepat jika di sebut sebuah rumah yang penuh dengan peraturan dan kekangan. Apa pantas di sebut sebuah penjara? Bukan juga. Di rumah ini Moli masih bisa berkeliaran kemanapun semaunya. Atau mungkin sebuah rumah hantu? Bukan juga. Sebut saja, sebuah rumah yang di dalamnya di penuhi aturan-aturan aneh, yang mewajibkan anak perempuannya menikahi dengan teman bisnisnya. Begitu kira-kira.
Sangat konyol! Tidakkan mereka tahu ini tahun berapa? Sepatutnya perjodohan itu sudah musnah. Berpikirlah, tanpa di jodohkan pun suatu saat akan menemukan sang pendamping hati. Ya, kira-kira begitulah yang ada di pikiran Moli saat ini.
Mobil mewah yang di kendarainya sudah masuk ke garasi. Dari balik kaca yang di tutupi gorden putih, terlihat lampu ruang tamu sudah padam. Mungkin para penghuninya sudah masuk ke tempat hibernasinya masing-masing. Oh, sungguh bahasa yang kasar.
Moli terlihat menyeringai, menutup pintu mobil dengan keras, menarik napas dan setelah berhembus kaki jenjangnya akhirnya berlenggak masuk ke dalam rumah. Setelah pintu ruang tamu terbuka, Moli mendesah lega. Penghuni lain tak ada, tentu mereka sudah tidur atau barang kali masih mencari lembaran-lembaran rupiah yang masih belum cukup untuk memuaskan hati yang sangat serakah.
__ADS_1
“Dari mana kamu!” Seseorang muncul dari kegelapan. Perlahan tubuh yang masih belum terlihat samar itu mulai mendekat, dan saat Moli sudah menyadari siapa yang telah mengejutkannya itu, hidung bangirnya terdengar langsung mendengus kesal.
“Dari mana kamu? Papa tanya, kamu tidak menjawab. Sangat tidak sopan.”
Dengan lampu yang masih padam, mata Moli masih bisa menangkap tatapan tajam dari papanya. Mungkin jika ruangan ini terang, saat ini Moli sudah bergetar ketakutan karena ekspresi wajah Gibran sungguh terlihat mengerikan. Untungnya Moli tak melihat itu.
“Tentu saja aku baru pulang kerja, memangnya dari mana lagi sih, Pa?” Menjawab dengan santai.
“Pintar berbohong kamu ya. Papa tahu, hari ini kamu bolos kerja.”
“Aku nggak bolos kerja.” Moli menjulingkan mata. “Kan papa tadi juga tahu aku di kantor.”
Byar!
Lampu menyala.
“Kalau aku sih, pasti masih waras. Nggak tahu deh kalau....” Ucapannya terhenti, bola matanya melirik Gibran sebentar, lalu melengos lagi dan pergi menuju lantai dua.
Kalau kedua orang itu muncul. Ups! Maksudnya, kalau Papa dan mama sudah muncul, lebih baik pergi, kalau tidak, mungkin perdebatan yang tak berguna akan terus berlanjut.
“Kita harus percepat acara tunangan Moli dan Anton.” Ucap Gibran penuh arti. Mareta yang merasa setuju hanya cukup menganggukkan kepala saja, karena dengan begitu, artinya ide Gibran telah mendapat sebuah dukungan.
“Lebih baik kamu temui keluarga Anton lagi, mereka pasti juga setuju.”
“Tentu saja. Anton adalah lelaki yang pas untuk menjadi suami Moli.”
Mereka tak tahu saja, didalam kamar Moli sudah berulang kali memaki nama mereka. Mungkin sudah puluhan kali bibir mungilnya mengutuk Papa dan mamanya.
“Kalian egois! Nggak punya perasaan!” makian utama yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Berlanjut ke kalimat yang ke dua. “Dasar tidak punya perasaan! Kalian pikir aku itu barang yang bisa di oper dan di kasih ke orang begitu aja.”
Teriakannya terdengar menggelegar di dalam kamar, tapi untuk lantai dua, mungkin hanya terdengar seperti amukan beberapa ekor lebah yang berdengung. Keras tapi tak jelas.
Bung!
Moli membanting tubuhnya di atas kasur hingga sedikit terpental ke atas. Saat ini posisinya sudah telentang dengan kedua tangan terlipat di bawah tengkuknya untuk pengganti bantal. Sementara kakinya jenjangnya menggantung di bibir ranjang.
Moli masih terdiam. Sesekali bibirnya mengatup lalu sedikit terbuka lagi. Hidungnya juga terdengar mendengus kesal dan bola matanya menatap lurus ke langit-langit.
Hari ini otaknya benar-benar kacau. Masalah dengan perjodohan belum usai atau lebih tepatnya baru di mulai, tapi masalah baru sudah datang. Mona sudah di pusingkan dengan pria yang sama sekali belum di kenalnya dengan baik, dan sekarang Ia harus di pusingkan dengan kekasih lamanya yang ternyata saat ini tidak mengenali dirinya.
Kalau sudah begini, masalah man dulu yang harus di selesaikan?
Aaaaaaaggrrrr!!!!
Terdengar seperti auman singa, tapi bukan, itu hanya suara dari seorang wanita yang merasa frustrasi dengan skenario hidupnya. Meskipun sebuah teriakan sama sekali tak bisa membantu, entah kenapa berteriak selalu dilakukan setiap orang.
Dan Moli juga begitu. Berteriak sekencang mungkin dalam posisi berbaring, wajahnya ia tutup dengan kedua tangannya, lalu setelah itu teriakan melengking menyembur begitu saja seperti napas api dari mulut seekor naga.
Sepertinya kiasan itu terlalu lebay. Sudahlah, tak apa. Memang itu yang sedang terjadi.
***
**Jangan lupa tinggalkan Rate, like, favorite, Vote dan koment yaaa.. nggak maksa kok. 😆😆😆 tapi di wajibkan.
baca juga novel ku yang satunya yaaa..
MY BROTHER (I LOVE YOU**)
__ADS_1