
Pagi harinya Moli lebih memilih untuk menyendiri di perpustakaan, setelah sebelumnya Ia masuk ke kelas untuk menaruh tasnya. Mungkin hanya di perpustakaan pikirannya bisa sedikit lebih rileks, Lagian Mia dan Moli juga tak kunjung datang.
Moli duduk di kursi panjang no 3, di ruangan itu hanya ada sekitar sepuluh penghuni saja termasuk Bu Widya penjaga perpustakaan. Tangannya membuka lembaran demi lembaran buku yang ada di hadapannya, namun hanya di mainkan tanpa berniat untuk membacanya. Menghibur diri memang tak mudah, semalaman Moli berusaha mengalihkan pikirannya tentang kejadian dimana Ia berantem dengan Kekasihnya namun tak kunjung berhasil.
Ponselnya berbunyi menandakan ada chat dari seseorang.
Mia
Lo dimana Mol? Buruan ke lapangan basket!”
Read.
Moli menggigit bibir bawahnya dengan berkerut dahi. Ngapain ke lapangan basket? Emang ada pertandingan?
Dari balik jendela kaca perpustakaan, Suara langkah kaki berlarian terdengar begitu jelas. Siswa siswi berhamburan berlari menuju ke lapangan basket. Moli menyembulkan kepalanya keluar lewat pintu menoleh mencari tahu apa yang sedang terjadi. Ia mengikuti gerombolan itu. Di tengah lapangan ada Diki dan Daren yang sedang adu mulut. Sementara Lia ada di antara mereka berusaha menghentikan pertengkaran yang hampir terjadi hingga si Tara datang memisahkan mereka.
“Dari pada lo berantem kaya anak ingusan! Mending tanding basket. Siapa yang menang itu yang berhak menentukan kemauan!”
Hampir semua siswa siswi kelas Xi berkumpul disana. Moli menerobos melewati kerumunan itu hingga berdiri tepat di pinggir lapangan. Di tengah lapangan sudah ada Diki dan Daren senior dari kelas Xii. Mereka bertanding satu lawan satu atas usul Tara tadi yang hampir membuat mereka berantem. Sepertinya ada yang sedang di rebutkan oleh mereka.
Moli tak begitu tertarik melihat mereka. Ia heran aja, pertandingan gitu aja kok sampai ribut nonton semua. Moli hendak berbalik namun lengannya di tarik oleh Mia dan Fani.
“Tunggu! Sini aja dulu...”
“Males ah! Cuma pertandingan basket... apa bagusnya sih...”
Moli terus melangkah menjauhi keramaian itu. Buat apa nonton? Toh Ia masih marah sama Diki dari semalam. Nggak penting kan kalau harus mantengin tuh anak?
“Ih bentar dulu Mol...” Fani melentangkan tangan di hadapan Moli supaya berhenti melangkah.
Dari sisi kiri Mia menggandeng tangan Moli kembali masuk ke lapangan basket. “Lihat bentar ayo... nanti juga lo terkejut.”
Moli mendengus kesal dengan kaki di hentakkan ke lantai. “Iya ayok!”
Kerumunan itu semakin ramai dikala Diki berhasil memenangkan pertandingan itu. Mata Moli berhenti pada satu titik dimana Lia sedang berdiri dengan sebuah handuk kecil dan sebotol minuman di pinggir lapangan.
Sementara di tengah lapangan Diki dan Daren sedang beradu mulut melempar argumen masing masing.
“Gue nggak akan biarin lo ganggu Lia... camkan itu!” Jari telunjuknya mendorong dada Daren yang sedang melotot padanya.
Diki acuh meninggalkan Daren yang masih terus sinis menatapnya. Sepertinya Daren begitu kesal dengan perbuatan Diki yang menurutnya keterlaluan. Apa salahnya jika dirinya ingin mendekati Lia? Itu hak semua orang kan?
Moli yang sedari tadi hanya memandang mereka dari kejauhan mulai penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Di sebelah barat Diki sedang berdiri dengan sebotol minuman yang sebelumnya di pegang oleh Lia. Melihat itu perasaan Moli mulai bergejolak lagi.
“Heh! Gue nggak perlu nunggu persetujuan
dari lo untuk deketin Lia ya! Jadi lo nggak usah ngelarang gue!” suara lantang Daren terdengar oleh seluruh siswa siswi yang masih berkumpul di situ. Tak ayal dengan Moli yang begitu jelas mendengar apa yang di katakan oleh Daren.
Sebelum pergi dari lapangan Daren sempat memicingkan matanya pada Diki pertanda pertarungan ini belum usai. Diki hanya mendengus dengan tangan mengusap rambut gadis itu tanpa sadar ada dua bola mata yang menatapnya sinis.
Sebenarnya apa yang di inginkan oleh Diki? Dan apa yang sedang terjadi. Moli membantingkan pantatnya di kursi taman belakang gedung sekolah. Ia lebih memilih untuk menjauh saat ini, walaupun sebenarnya rasa ingin tahu terus mendorongnya pada sebuah pertanyaan yang ingin Ia lemparkan pada Diki.
Di sampingi kanan Mia duduk dengan kaki terangkat satu memainkan daun kering yang jatuh di rambutnya. Sementara di sebelah kirinya ada Fani yang lebih memilih sibuk dengan ponselnya. Ya walaupun sebenarnya Ia ingin bertanya sesuatu, namun Ia urungkan karena melihat wajah cemberut Moli.
“Mol... lo nggak pengen tahu tentang yang tadi?” tanya Mia memecah keheningan.
Fani yang sebenarnya dari tadi sudah antusias langsung nimbruk pertanyaan Mia. Ia mengangkat kakinya hingga posisi duduknya mengangkang pada kursi panjang menghadap pada Moli yang sedang menjentikkan kuku panjangnya.
“Iya Mol... lo nggak pengen tahu kenapa?”
“Kenapa emangnya... masa bodo gue mah...”
Mendengar jawaban dari Moli, Fani langsung mencubit lengan Moli dengan keras.
“Songong banget jadi cewek... tegas dikit kek!”
“Lha emang gue harus gimana? Dan emang kenapa sama yang tadi?” timpal Moli. Tangannya mengelus lengan kirinya yang memerah karena cubitan Fani.
“Asal lo tahu ya... tadi Diki dan Daren itu hampir berantem hanya karena ngrebutin si ular itu... untung aja si Tara menengahi mereka... kalau nggak, bisa bonyok mereka berdua.” Jelas Mia serius.
Moli terdiam berusaha mencermati apa yang baru saja ia dengar dari mulut Mia. Untuk apa Diki sampai segitunya tak membiarkan Lia di dekati lelaki lain? Ia merasa tak adil. Semalam Ia melarang Yoga untuk bertemu lagi dengannya dan sekarang itu terjadi pada Lia.
“Yakin begitu ceritanya?”
Moli memandang wajah Mia berharap ucapannya tak benar adanya.
“Ya iyalah... asal lo tahu... gue pernah lihat mereka jalan berdua...”
Tak ada raut wajah terkejut dari Moli. Tentu saja ia sudah tahu jika mereka sering jalan bersama. Bukankah mereka teman dari kecil?
“Kok lo biasa aja sih Mol? Nggak ada rasa kagetnya sama sekali...” saur Fani dengan berkerut dahi.
Tentu saja Mia paham betul akan reaksi Moli. Tapi untuk apa yang di lihatnya beberapa hari yang lalu menurutnya kurang wajar saja kalau mereka hanya sebatas teman. Kemesraan itu contohnya, siapa sangka jika mereka hanya berteman. Pasti ada maksud lain bukan?
“Lo lagi berantem sama Diki... biasanya lo nggak secuek ini Mol...”
“Iya Mol... lo lagi ada masalah...”
Pertanyaan itu tak dapat jawaban dari Moli. Ia masih tetap diam kemudian berdiri menuju kelas. “Nanti sore main ke rumah gue ya...”
Mia dan Fani saling pandang angkat bahu dengan ucapan Moli yang diiringi senyuman aneh. Sudah pasti ada yang perlu di jelaskan dalam hal ini. Mereka berdua saling berbisik mengikuti langkah Moli dengan perasaan bingung dan penasaran.
Di koridor saat hendak berbelok Moli berpapasan dengan Diki yang hendak menuju ke WC. Ditangannya masih ada handuk yang tadi di pegang Lia. Moli berusaha acuh berpura pura tak melihatnya. Sementara Mia dan Lia melirik wajah Diki sekilas kemudian berjalan mendahului Moli yang tangannya di tarik oleh Diki.
Moli menatap kedua sahabatnya, menyuruhnya untuk pergi ke kelas terlebih dahulu. Ia tak mau kedua sahabatnya mendengar apa yang hendak di katakan Diki padanya. Belum saatnya...
“Ada apa lagi Dik? Ngomong langsung aja... aku buru buru...” Moli mengibaskan lengan Diki.
“Kita perlu bicara... aku tunggu kamu di kafe nanti jam delapan...”
“Maaf aku ada janji sama Mia dan Fani... aku nggak bisa...”
“Tapi kita perlu bicara...”
“Bicara aja sama Lia... Dia lebih penting kan...”
“Kok jadi bawa bawa Lia si Mol? Dia nggak tahu apa apa...”
__ADS_1
“Oh ya... tapi sayang nya Dia udah keseringan bikin aku emosi...” Moli berjinjit mengimbangi tingginya Diki. “Untung aja aku masih waras, jadi nggak main tonjok seperti kamu!”
Sebelum berbalik Moli sempat mendorong dada Diki dengan jari telunjuknya yang membuat Diki hanya terbengong memandang langkah Moli yang mulai beberapa langkah menjauhinya.
TV di ruang tengah sudah menyala. Di atas karpet beberapa cemilan sudah di sediakan, tak lupa 3 gelas jus mangga tertata rapi di atas meja. Mia dan Fani masih mengobrol menunggu Moli yang sudah hampir lima belas menit bersembunyi di dalam kamarnya.
“Rumah segede ini tapi sepi....” celetuk Fani.
Ia duduk di bawah bersender pada sova di atas karpet. Mulutnya tak henti mengunyah kacang yang sudah Ia habiskan separuh dari dalam bungkusnya.
Tak kalah dengan Fani, Mia lebih memilih makan bolu gulung pandan yang menurutnya lebih mengenyangkan. Ia sebenarnya tidak begitu suka dengan jajanan seperti itu apa lagi yang mengandung MSG berlebih. Bikin nggak sehat katanya.
Matanya terfokus pada drama India di layar TV. Cewek tomboy jago karate tapi tontonannya drama yang bikin mewek. Anah kan?
“Sory nunggu lama... gue mandi sekalian...” kata Moli yang sudah hadir di antara mereka. Ia membungkuk mengibaskan rambutnya kedepan di gulung dengan handuk tebal berwarna kuning. Tahu lah ya... kenapa selalu kuning.
Moli nimbruk duduk di tengah kedua sahabatnya yang masih setia senam bibir pada makanan di hadapannya. “Eh Mol... beneran nggak ada yang mau di ceritain ke kita?”
“Cerita apa?”
Sepertinya Moli lebih memilih pura pura nggak ngerti dengan yang di pertanyakan Mia. Rasanya belum siap aja buat ngomongin semuanya. Apa lagi tentang hal sepele yang membuat dua lelaki bonyok karena kesalahpahaman.
“Nggak asik lo Mol...” Fani mencibir dengan menendang sedikit kaki Moli yang selonjor di sampingnya.
“Cerita lah Mol... lo nggak tahu si Fani udah penasaran banget...” ceplos Mia mengarah pada Fani yang melotot padanya.
“Enak aja... yang penasaran elo yang kena gue! Huuu!”
“Ye... lo juga penasaran kan? Bohong banget kalau nggak...”
Moli hanya geleng kepala melihat kedua sahabatnya yang tak mau saling mengalah. Hingga terdengar suara bell berbunyi di depan rumahnya.
“Apa sih! Resek deh...!”
“Elo yang resek!”
Mereka berdua saling pukul layaknya anak TK yang berebut mainan. Tak ada yang mau mengalah hingga tak tahu Moli sudah pergi ke depan meninggalkan mereka berdua.
18.40 WIB
Seseorang tengah berdiri membelakanginya, dengan tangan kanan terselip di dalam saku celananya sementara tangan kirinya menenteng sebuah kantong keresek warna putih dengan benda kotak di dalam nya. Ia menoleh dengan senyum manis menghiasi wajah tampannya. “Malam cantik....”
Sapanya ramah, kemudian masuk tanpa permisi menerobos Moli yang berdiri di tengah pintu. Emang dasar bocah tengil! Main serobot gitu aja. Padahal si tuan rumah belum mempersilahkannya masuk.
“Eh ada mbak mbak cantik ternyata...”
Yoga meletakkan kantung keresek di atas Meja. Fani dan Mia menoleh dengan dahi di kerutkan memandang pria yang sedikit asing itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Moli menimpuk kedua sahabatnya yang masih belum menyadari siapa gerangan lelaki yang sudah duduk di atas sova tanpa rasa sungkan sedikit pun itu. “Yoga dia... masa kalian lupa sih...”
“Yoga??” Fani mengetuk pelipis dengan jari telunjuknya berusaha mengingat siapa Dia.
“Oohhh... bocah tengil itu ya... yang Fani tabrak beberapa bulan yang lalu...”
Mia tertawa menepuk pundak Fani yang sepertinya mulai mengingat kejadian itu. kejadian dimana Ia menabrak bocah itu dan membiarkannya tanpa menolongnya. Fani terkekeh tanpa rasa bersalah, sementara yang di maksud mendengus menarik keresek putih itu dan membuka dus putih dengan martabak di dalamnya.
Yoga melotot. “Enak aja... ini buat kak Moli...”
Dari dapur Moli tertawa melihat tingkah mereka berdua. Sementara Mia lebih memilih menyusul Moli yang masih berdiri di samping di depan meja dapur memandangi mereka.
“Udah laper lo?” Moli terkekeh sambil menuang jus untuk Yoga.
“Apa sih!”
“Lha gue kira laper... nah lo kelayapan kesini...”
Mia terdiam memandang wajah sahabatnya yang terlihat cerah ketika kedatangan Yoga dirumahnya. Wajahnya lebih fress dengan handuk yang masih terlilit di atas kepalanya. Mungkin bagi orang lain tidak bisa membedakan, tapi ini Mia teman dekatnya dari SMP, tentu saja dia bisa tahu banyak hal tentang Moli hingga urusan hatinya. “Yoga asik juga kayaknya ya Mol?”
“Ha? Maksudnya?”
“Ya... Dia anaknya baik juga gitu...”
“Emang...”Moli tersenyum melangkah menghampiri Fani dan Yoga yang masih ngrebutin martabak. Sementara Mia merebut sepotong martabak yang hendak masuk ke mulut Fani.
“Bagi bagi woy!”
“Mia!! Lo nggak lihat usaha gue ngrampas itu martabak dari bocah tengil ini?!”
Dengus Fani jengkel dengan kaki di tendang tendang di atas karpet. Sementara yang lain hanya tertawa tanpa memperdulikan rengekan Fani.
“Gue ke atas dulu... mau ngeringin rambut...”
“Eh Ga... lo sering kesini?” tanya Mia ketika Moli sudah masuk ke dalam kamar.
“Iya... hampir setiap hari malah...”
Jawaban enteng itu membuat mulut kedua sahabat Moli itu ternganga lebar. Sebenarnya yang pacarnya Moli itu siapa sih? Tapi jelas si Diki sih, masa iya Moli mau pacaran sama bocah tengil yang masih duduk di bangku SMP. Nggak kan ya?
“Serius lo??” Fani menendang kaki Yoga yang duduk di sova dengan kaki terjuntai ke bawah.
Mia bangkit kemudian duduk mendempet si Yoga hingga terpojok di ujung sova. Tangannya menarik kerah bajunya dengan mata molotot. “Seriusan lo sering kesini? Lo nggak takut ketahuan pacarnya Moli?”
“Nggak...”
“Bagus bagus... gue suka gaya lo...” Mia melepas kerah baju Yoga kemudian mengusap pundaknya dengan senyuman aneh. Ia duduk kembali di bawah di samping Fani yang sedikit nggak paham dengan yang di maksud Mia.
“Maksud lo apa si Ia?” sikut Fani.
“Nggak papa...”
“Lo suka ya sama si Moli...”
Pertanyaan Fani membuat Yoga yang sedang mengunyah martabak tersedak. Dengan cepat ia mengambil minuman di atas meja lalu meneguknya dengan cepat.
“Tuh kan... bener...”
Fani terkekeh melihat ekspresi Yoga yang begitu kaget dengan pertanyaannya. Bukan kaget lagi tapi itu sebuah pertanyaan yang pertama kali Ia dengar selama mengenal Moli. Pantas saja Ia syok.
__ADS_1
“Udah lo pepetin aja si Moli... gue dukung...”
“Betul tuh... biar lo masih bocah. Tapi di gandengin sama Moli lumayan lah...”
Yoga mendesah. Tak segampang itu mengambil hati Moli. Dia sudah punya kekasih, dan lagi selama ini Moli hanya menganggap dirinya sebagai adik lelakinya. Masih terlalu jauh rasanya untuk bisa memilikinya. Baginya bisa terus bertemu Moli saja itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
“Rame banget ngomongin apa sih?”
Mereka bertiga sontak menoleh pada Moli yang sedang turun dari tangga. Mia menyikut lengan Fani menunjukkan tatapan Yoga yang ternganga melihat wajah cantik Moli. Sepertinya Ia terkagum melihat tampilan natural Moli yang selalu cantik tanpa berbalut make up.
“Woi! Netes juga tuh liur...” dengan bibir nyengir Fani mendorong Yoga supaya tersadar dari tatapan maut itu yang membuatnya sampai tak berkedip.
“Lama banget lo Mol... tidur ya...” semprot Fani pada Moli yang sudah duduk di samping Yoga.
“Enak aja!”
Sebuah bantal melayang mengenai pipi Fani.
“Masih sakit itu Ga?” tanya Moli.
Fani dan Mia yang belum tersadar dengan wajah biru Yoga langsung menoleh. “Eh iya ya... itu kok biru gitu... kita baru sadar lho...” cengir Mia.
“Bener juga tuh... lo abis tawuran ya...” sambung Fani.
“Iya... semalam...”
Jawaban itu membuat Moli terpekik. Ia takut saja jika Yoga dengan entengnya menceritakan kejadian semalam. Moli mencubit paha Yoga hingga meringis. “Ohh.. abis tawuran ya...”
“Cuma bercanda kok...” Yoga masih meringis menahan cubitan itu “Udah... sakit!”
“Iya Mol... itu Yoga sampi nyengir gitu...” Mia tertawa melihat tingkah Moli pada.
Sebenarnya Mia tahu Moli sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya, tapi Mia hanya akan menunggu hingga Moli siap untuk bercerita.
Dua jam sudah mereka ber empat ngobrol ngalor ngidul. Entah apa saja yang mereka bahas namun suasananya mampu membuat rumah sepi itu menjadi ramai. Apa lagi ada Si Yoga yang suka usil hingga membuat Mia dan Fani betah duduk lebih lama.
“Kita pulang dulu ya... ketemu lagi besok di sekolah...”
Pamit Mia dan Fani. Setelah mengambil tas dan kunci mobil mereka berdua pergi dengan lambaian tangan pada Moli yang berdiri di teras rumahnya. Dan kini hanya tinggal Yoga yang masih belum berniat untuk angkat kaki dari rumahnya. Dengan santai ia pindah ke bawah, tidur dalam posisi miring di atas karpet menghadap ke layar TV.
Moli menghampirinya dan merebut remot yang di pegang di tangan kanan Yoga. Ia duduk mengangkat kepala Yoga menaruhnya di atas pangkuannya. “Belum mau pulang...”
“Masih pengen sama kak Moli...”
“Kan dari tadi juga udah sama gue...”
“Yee kan tadi ada mbak mbak cerewet... jadi belum puas...”
Moli tertawa menyentil hidung mancung itu. Bocah manja ini memang paling bisa buat Moli melepas tawa. Bahkan saat bersamanya bisa membuatnya lupa dengan Diki, hanya saja mungkin Moli belum menyadari akan hal itu.
“Kak Moli masih marahan sama Diki?”
Wajah tawa itu berubah jadi datar. Moli memanyunkan bibirnya tanda tak suka dengan pertanyaan itu. Siang tadi Diki sudah berusaha untuk bisa berbicara dengan dirinya, tapi Moli menolaknya. Bahkan telpon dari Diki tak di angkat oleh Moli hingga puluhan panggilan. Melihat wajahnya saja masih malas apa lagi untuk berbicara dengan nya.
“Kak Moli kok diem? Salah ya pertanyaannya?”
“Nggak kok... males aja bahas masalah itu...”
Yoga membalikkan tubuhnya menghadap ke atas, melihat wajah Moli yang cenderung merengut. “Ya udah bahas aku dan kamu aja gimana?”
Yoga terduduk menggelitiki perut Moli hingga menggelinjang terguling guling di atas karpet.
“Udah Ga... geli ih... udah...”
Moli meringkuk menahan nafasnya yang cepat naik turun. Kakinya menendang Yoga yang tertawa lepas karena berhasil mengerjainya. Bocah ini memang selalu berhasil. Berhasil dalam berbagai hal tentang Moli, namun satu “Cinta” itu hal yang masih sulit untuk di wujudkan.
“Pulang gih... udah malam...”
“Nginep sini lagi ya...” Yoga memohon dengan kedua telapak tangan di disatukan.
“Nggak boleh... ijin juga belum kan... “
“Kan tinggal telfon...” Yoga terus memohon.
“ya ya... boleh ya...”
“Iya... boleh...” Moli mengacak rambut Yoga hingga berantakan. Lalu bangkit menuju ke kamar tamu dimana Yoga akan tidur.
Yoga
Ma... aku nginep di rumah temen... boleh ya...
Mama
Kamu tuh ya... pulang aja... masih keburu kan...
Yoga
Jauh Ma...
Mama
Oke. Tapi jangan macam macam.
Yoga
Iya Mama ku sayang...
“Udah ijinnya? Di bolehin?” tanya Moli yang sedang mengambil selimut di dalam lemari.
Yoga mengangguk kemudian terlentang dan mengambil guling di peluknya dengan erat.
Entah kenapa Ia lebih merasa nyaman di rumah sunyi ini. Bukan hanya karena ada seorang gadis. Tapi rumah ini sering menggambarkan tentang suasana hatinya yang sering meronta. Lain halnya ketika di rumah, Ia hanya akan nyaman ketika bersama Mamanya. Tetapi setelah 2 orang itu muncul rasa sebal selalu menyelimuti nya.
part ini aku sambung lagi....
silahkan di baca. jangan lupa like dan komen untuk dukungannya.
__ADS_1