Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
17. Yang terjadi waktu itu


__ADS_3

“Kamu itu nggak pantas berpacaran dengan anakku!” bentak seseorang berbadan tinggi dan gagah. Umurnya mungkin sekitar 53 tahun.


Sementara seseorang yang sedang di bentaknya hanya bisa duduk berdiam diri di kursi. Tepatnya di ruang BP. Name tag di dada kirinya bertuliskan, Yoga Pramana. Ya, itu dia.


“Mohon maaf...” Yoga memberanikan diri menatap ke arah orang itu. “Kalau boleh tahu, anda itu siapa?”


“Kamu belum tahu siapa aku, ha?” sentak Gibran dengan nada tinggi hingga membuat Yoga menunduk.


“Aku orangtua Moli, gadis yang kamu pacari. Dasar tidak tahu malu! Memangnya kamu siapa?” bentak Gibran lagi sambil menggebrak meja. Ini bukan ruangannya, tapi bukan jadi alasan untuk Gibran tak menjadi emosional.


Setelah mendapat kabar dari seseorang yang tidak di kenalnya, Gibran langsung datang ke sekolahan Moli.


Tunggu! Bukankan kedua orang tua Moli datang ke Indonesia satu hari sebelum berangkat lagi ke luar negeri? Lalu bagaimana dia bisa sempat bertemu orang asing?


“Jangan temui anakku lagi! Apa kamu mengerti?” Gibran berdiri mencondong, menatap Yoga penuh rasa sengit.


“Aku tak sudi, anak perempuanku satu-satunya memiliki kekasih seperti kamu! Masih bocah tapi sudah berani pacaran, belajar yang bebar! dasar tidak tahu malu!” sambung Gibran lagi tanpa mengurangi tinggi nada bicaranya.


Apa yang bisa di lakukan Yoga? Tak ada. Yoga cukup tahu diri. Saat ini dirinya memang masih duduk di bangku SMP, sangat pantas jika di sebut masih bocah. Dan benar lagi, tugasnya saat ini adalah belajar. Tapi, bagaimana dengan perasaan ini, hati ini?


“Maaf om... tapi aku menyayangi kak Moli.”


Gibran terkekeh mendengar ucapan Yoga. Ucapannya terdengar begitu lucu ketika masuk ke dalam gendang telinganya. Gibran menggebrak meja lagi. Memang tak sekeras tadi, tapi kali ini sorot matanya lebih mengerikan dari sebelumnya.


“Dengar ya...” Masih menatap wajah Yoga. “Moli sudah punya calon suami. Dan lagi... sebentar lagi Moli lulus sekolah. Memangnya apa yang bisa kamu berikan untuk Moli... dasar bocah ingusan!” Gibran mencibir lagi tanpa peduli bagaimana perasaan Yoga saat ini.


Calon suami? Kak Moli punya calon suami?


Yoga termenung, pikirannya sungguh kacau. Ia tak menyangka bahwa Moli sudah memiliki calon suami. Kenapa tidak bercerita? Yoga masih tetap termenung sambil memandangi jemarinya saling memilin.


“Aku peringatkan sekali lagi!” Gibran menuding tepat di jidat Yoga. “Jauhi Moli. Ingat! Moli sudah punya calon suami.”


Moli sudah punya calon suami...

__ADS_1


Moli sudah punya calon suami...


Dasar bocah ingusan!


Aaaaaaaaa!!!!


Gedubrak!


Yoga berteriak sekencang mungkin, terduduk dengan bola mata membelalak. Keringat dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, hingga menembus bajunya. Nafasnya langsung memburu. Kedua pundaknya naik turun berbarengan dengan napasnya yang sudah tak teratur.


Cekrek!


Brak!


“Yoga, kamu kenapa? Kenapa malam-malam teriak?” usai mendorong pintu dengan keras, Santi langsung menghampiri Yoga yang masih melongo sambil mengatur napas.


“Kamu kenapa?” Santi duduk di pinggir ranjang, sementara jemarinya menepuk pelan kaki Yoga yang tertutup selimut.


Sebenarnya Santi begitu terkejut, ini ke empat kalinya Yoga terbangun di malam hari karena mimpi buruk. Yang ke tiganya memang terjadi sudah lama, tepatnya satu minggu setelah kekasihnya pergi dan tak memberi kabar hingga bertahun-tahun.


“Sayang...” Santi meraih tangan Yoga yang gemetaran. “Memangnya kamu mimpi apa?” Santi merasa was-was. Ia tak ingin mimpi buruk Yoga kali ini adalah tentang kekacauan di masa lalu. Santi berharap bukan itu.


“Moli itu siapa, ma? Siapa Moli??” Yoga melepas tangan Santi dan berpindah memegang kedua pundak Santi.


Deg!


Santi terpaku. Jadi benar, mimpi buruknya tentang masa lalu. Kenapa ini terjadi lagi?


“Ma... jawab!” Yoga mengguncang lagi pundak Santi. “Siapa Moli?”


“Aagg!” Yoga meringis sambil memegang kepalanya.


“Yoga! Kamu kenapa?” Tanya Santi panik.

__ADS_1


Yoga masih menekan kepala dengan kedua tangannya.


Yoga! Gue sayang sama elo.


Yoga! Peluk gue.


“Aaaagghhh!” Yoga berteriak lagi. Bayangan itu membuat kepalanya terasa semakin sakit.


“Yoga! Lihat mama... Yoga!” Santi mencoba meraih kepala Yoga tapi terhalang oleh eratnya cengkeraman tangan Yoga yang masih menekan keras kepalanya yang sakit.


Bugh!


Yoga ambruk dan terjatuh, terbaring di atas ranjang.


“Yoga!” teriak Santi. “Yoga... bangun sayang... mama mohon, kamu bangun.”


Yoga masih memejamkan ke dua matanya. Wajahnya terlihat begitu pucat. Mencoba menghilangkan kepanikan, Santi langsung bergegas menelpon ambulan. Sebelum ambulan datang, Santi sempat meminta bantuan tetangganya untuk mengangkat tubuh Yoga. Untung saja, tetangga mereka baik. Siapapun yang membutuhkan pertolongan pasti akan di bantu sebisa mungkin.


Ini sudah pukul satu dini hari, dan Yoga sudah terbaring di ruang UGD dengan selang infus di pergelangan tangan. Malam ini tentu belum ada dokter yang bekerja, jadi dengan rasa gelisah, Santi terpaksa menunggu dokter memeriksa Yoga keesokan harinya.


Santi duduk di kursi menghadap ke arah Yoga. “Maafin mama, sayang....” ucap Santi sambil menempelkan satu telapak tangan Yoga di pipi. Santi mulai terisak.


Tiga tahu terakhir, kehidupan mereka memang kurang baik, bukan hanya pernah merasakan kekurangan karena kepergian suami keduanya, tapi juga merasakan berbagai masalah yang timbul silih berganti. Mereka masih beruntung, setidaknya setelah angkat kaki dari rumah Yudha, Santi masih punya pekerjaan walaupun dengan gaji yang mungkin hanya cukup untuk makan dan membiayai sekolah Yoga.


“Maaf karena mama nggak pernah cerita. Bukan karena mama ingin merahasiakan, tapi...” Santi menunduk sambil mencium punggung telapak tangan Yoga. “Mama cuma belum siap melihat kamu 9kebingungan dan mama juga belum siap di hujani pertanyaan karena rasa penasaran kamu.”


“Mama hanya ingin kamu selalu baik-baik saja... mama nggak mau kamu tersiksa. Cukup sudah kamu menderita karena mama pernah menikah lagi.” Air matanya semakin deras, tapi seseorang yang masih terbaring lemah itu belum juga membuka matanya.


“Yoga, maafin mama... harusnya kamu berhak tahu tentang Moli. Mungkin jika mama menceritakan semuanya sejak awal, kejadiannya nggak akan seperti ini,” sesal Santi. Masih terisak dan tanpa terasa kepalanya sudah tergeletak sambil memeluk telapak tangan Yoga.


“Mama minta maaf.”


***

__ADS_1


__ADS_2