
Pembicaraan tadi...
Sepulang sekolah, di taman belakang, Yoga dan Sarah sudah duduk berjejeran di kursi panjang. Seperti yang sudah direncanakan Yoga, saat ini adalah waktu yang kemungkinan sangat tepat untuk menjelaskan semuanya pada Sarah. Mungkin saja hubungan ini juga harus ada kejelasannya, yaitu berakhir.
“Ada apa, Ga? Kamu mau ngomongin soal apa?” tanya Sarah. Sebenarnya Sarah sudah curiga, Yoga mengajaknya ketemuan mungkin ada hubungannya dengan Moli.
“Sebelumnya gue mau minta maaf... mungkin ini nggak adil buat elo, tapi kalau diterusin juga nggak baik buat hubungan ini...” cara bicara Yoga pun sudah berubah.
Sarah menarik napas. Benar saja, pembicaraan ini pasti ada hubungannya dengan Moli.
“Nggak usah minta maaf... aku ngerti kok. Cuma...” ucapannya terhenti, Sarah terlihat sedang memilin jemarinya.
“Cuma apa?”
“Apa kamu yakin dengan kelanjutan hubungan kamu dengan kak Moli?”
Benar, ucapan Sarah membuat Yoga berpikir. Mencintai memang sudah pasti, tapi untuk melanjutkan hubungannya, apa Yoga sudah yakin? Maksudnya, mungkin apa Yoga sudah siap dengan resikonya?
“Gue nggak tahu... tapi, gue mau berusaha. Gue nggak mau kak Moli berjuang sendiri... dia selama ini setia, tapi justru gue yang...” kalimatnya terhenti. Yoga ingin melanjutkan tapi mungkin saja bisa menyinggung perasaan Sarah.
“Aku paham... semua karena musibah. Kamu ingat itu kan?” Sarah menatap ke arah Yoga yang terlihat menunduk.
“Benar... gue akhiri hubungan kita, kamu nggak marah? Kita akan tetap sahabatan kok.”
Sahabatan ya? Sarah terlihat tersenyum getir. Siapa yang mau menjadi sahabat? Kenapa tidak di jadikan kekasih?
Hei! Jangan terlalu berharap. Ingat itu Sarah!
“Tenang aja... aku nggak marah. Kamu nggak usah musingin hubungan kita, bukankah selama ini baik-baik aja?”
“Iya sih... tapi aku nggak enak sama kamu.”
“Nggak papa...” Sarah berdiri, Ia sudah membuang muka menyembunyikan buliran yang sudah mengintip di sudut matanya.
“Ayo kita pulang... ini udah hampir sore.”
“Eh. Iya...” Yoga ikut berdiri.
***
“Jadi elo tadi ngobrol dulu sama Sarah?” tanya Moli. Keduanya sudah menepi dan mampir dulu di sebuah restoran.
__ADS_1
Yoga mendorong pintu kaca, mempersilahkan Moli masuk terlebih dulu. “Iya... biar semuanya jelas.”
Setelah masuk ke dalam, Yoga dan Moli langsung duduk di kursi paling ujung. Keduanya duduk berhadapan supaya lebih mudah bercengkerama.
“Jelas apanya?” lanjut Moli.
“Ya, hubungan gue dan Sarah.”
“Ha?” Moli sudah melotot. “Maksudnya?”
“Jangan salah paham! Gue cuma ngobrol tentang hubungan gue dan Sarah yang harus berakhir...”
Seketika Moli langsung mengatupkan kedua bibirnya supaya senyum senangnya tak terlihat.
Itu berarti hubungan Yoga dan Sarah udah berakhir? Bagus!
“Kenapa berakhir? Kan kasihan Sarahnya...” pura-pura peduli.
“Jadi kak Moli lebih suka gue sama Sarah tetep menjalin hubungan? Iya gitu?” Yoga sudah manyun.
Sontak Moli langsung tertawa. Melihat wajah Yoga, membuat Moli ingin sekali mencubit pipinya. Ia terkadang merasa heran, kenapa dirinya yang saat ini sudah di sebut wanita dewasa masih tetap menaruh hati pada pria yang belum jelas masa depannya nanti. Kalau di lirik orang, posisi keduanya saat ini mungkin lebih pantas di sebut kakak yang sedang jalan dengan adiknya.
“Kok malah ketawa?”
“Moli?” ucap Anton. Pria ini tiba-tiba saja ada di hadapan Moli. Kenapa selalu seperti ini dalam setiap cerita? adegan yang tiba-tiba bertemu, ini lebih mirip sebuah drama TV kan?
“Anton?” Moli terkejut, tapi ia tetap pada posisi duduknya. Sementara Yoga hanya melirik sekilas pria tinggi dan gagah ini.
Siapa ini? Apa tunangan kak Moli?
“Kamu di sini juga?” tanya Anton. Bola matanya memutar mengamati sosok pria berseragam SMA yang duduk di kursi lain di depan Moli.
“Siapa dia, Mol?” pertanyaan awal belum terjawab, Anton sudah bertanya lagi.
“Elo pengen tahu siapa dia?” tanya Moli. Bagus juga, bisa ketemu Anton di sini, biar sekalian lihat bahwa Moli memang sudah punya kekasih.
“Ya... tentu saja. Aku kan calon suami kamu, jadi aku berhak tahu siapa saja orang yang dekat dengan kamu.”
Benar, jadi ini tunangan kak Moli... sepertinya gue kalah jauh dari dia. Sialan!
Moli hanya menjulingkan bola mata. Ia tak habis pikir, bagaimana Anton bisa sepercaya diri itu dengan kalimatnya. Harusnya dia malu, ini hanya hubungan yang tidak ada kejelasannya. Harusnya tak perlu di umbar begitu.
__ADS_1
“Bisa nggak sih, nggak usah ngaku-ngaku jadi calon suami gue? Nggak suka gue! Jijik dengernya tahu!” dengus Moli.
Tak peduli dengan selorohan Moli, Anton justru menoleh ke arah Yoga, mengulurkan tangannya sambil tersenyum. “Halo... gue Anton, calon suaminya Moli. Elo temennya atau siapa?”
Sepertinya Anton memang tak tahu. Lagian siapa yang akan menyangka bahwa pria berseragam putih abu-abu itu kekasih Moli. Yang ada di pikiran Anton, pacar Moli kemungkinan adalah pria dewasa yang juga seumuran dengannya.
“Gue Yoga...” hanya itu yang keluar dari mulut Yoga. Ia tak berani menjelaskan status antara dirinya dengan Moli. Yoga terlalu minder dengan Anton, dan mungkin Moli juga tak mau Yoga menjelaskan.
Salah! Yoga salah. Moli padahal sangat berharap Yoga mau mengakui siapa dirinya pada Anton.
“Kenapa elo nggak bilang sih, Ga?” batin Moli.
“Oh.. temennya Moli?” Anton melirik tajam pada seragam yang di pakai Yoga.
Moli punya teman bocah SMA? Barangkali Moli jadi guru privatnya. Iya, mungkin begitu.
Brak!
Moli berdiri sambil menggebrak meja. Sontak saja, aksi itu membuat kedua pria di hadapannya terkejut.
“Dia itu pacar gue! Sekarang elo udah tahu kan? Mending elo pergi deh!” hardik Moli tanpa peduli lirikan pengunjung lain. Ia terlanjur di buat emosi oleh kedua pria ini. Yang satu sok kepedean dan yang satunya begitu bodoh.
“Pacar?” Kedua alisnya langsung terangkat, Anton terlihat sangat terkejut.
Moli berpacaran dengan bocah SMA? Nggak mungkin! Kok bisa?
“Iya. Dia pacar gue! Gue minta elo pergi dari sini!” Moli duduk kembali dengan napasnya yang sudah memburu. Apalagi melihat Yoga yang justru terlihat kebingungan, hal itu justru membuat Moli semakin geram.
Anton memang masih tak percaya dengan apa yang dilihat matanya dan didengarkan oleh telinganya saat ini, tapi yang jelas Anton sangat terkejut dan tidak percaya. Anton ingin bertanya lagi, tapi melihat Moli sudah terlihat sedang menahan amarah, Anton memilih mundur dan pergi. Tapi bukan pergi tanpa mencari tahu, tentu saja Anton butuh penjelasan dari semua ini.
Anton sudah pergi. Moli dan Yoga hanya saling lirik tanpa berbicara. Yoga sedikit takut ketika melihat telapak tangan Moli sudah mengepal. Ia takut kalau Moli akan marah lagi. Nyatanya memang sudah begitu, tanpa permisi atau mengajak Yoga, Moli langsung meraih kunci mobilnya dan beranjak pergi meninggalkan Yoga.
“Kak Moli, tunggu!” Yoga bergegas menyusul. “Tunggu!” Yoga meraih lengan Moli tapi langsung ditampis.
Gregh!
Pintu mobil tertutup keras. Moli sudah masuk dan duduk di depan kemudi. Setelah berdecak dan mengaruk tengkuknya, Yoga pun ikut menyusul masuk ke dalam mobil.
“Kok kak Moli jadi marah sih?! Kenapa?”
“Dasar nggak peka!”
__ADS_1
Mobil melaju begitu saja dengan kencang hingga membuat punggung Yoga tertarik kebelakang menempel erat pada senderan jok.