
Saat ini Santi dan Sarah sudah keluar dari ruangan Arga. Santi tahu betul bagaimana perasaan Sarah saat ini. Sarah tahu saat Yoga mengalami kecelakaan, dan Sarah pun tahu saat Yoga masih berpacaran dengan Moli. Sarah tahu semua itu, itu sebabnya Sarah sedikit merasa bahagia ketika mengetahui Yoga tidak mengingat Moli setelah mengalami kecelakaan. Karena semua kejadian itulah, saat ini Sarah bisa menjadi kekasih Yoga. Tapi sekarang, sepertinya hubungannya dengan Yoga akan segera berakhir.
“Sayang... kamu baik-baik aja kan?” tanya Santi. Mereka berdua duduk si kursi panjang yang terletak di depan ruangan Yoga.
“Iya tante, aku baik-baik aja.” Jawab Sarah.
“Kapan kak Moli ada di Indonesia?”
“Tante belum tahu... tante belum sempat bertanya.”
“Tante...” ucap lirih bibir tipis Tiara. “Apa mereka akan kembali bersama lagi?” Sarah mulai terisak.
Santi mengusap lembut ujung kepala Sarah. Ini pasti sangat berat untuk Sarah. “Tante tidak tahu... semua tergantung mereka berdua, tante tidak bisa berbuat apa-apa.”
Ya, semua memang terserah mereka. Sarah sadar dengan hal itu. Dirinya selama ini memang hanya berstatus pengganti, kalau suatu saat ingatan Yoga kembali, Sarah haruslah sudah bersiap.
Sementara di luar sini sedang dalam suasana hati tak nyaman, di dalam sana justru terlihat begitu membahagiakan. Yoga yang sudah bisa duduk, sedang makan bubur di suapi Moli yang duduk di pinggir ranjang menghadap ke arahnya. Wajah keduanya terlihat begitu bahagia.
“Aaaa...” Moli membuka mulut sambil menyodorkan satu sendok berisi bubur.
“Apa sih! Gue bukan anak kecil.” Yoga merengut tapi tetap memasukkan bubur itu kedalam mulutnya.
“Memangnya elo udah ge-de? Kayaknya masih kelihatan bocah deh...” Moli terkekeh.
“Ih! Kak Moli mah gitu. Gue itu udah SMA sekarang, jadi udah bukan bocah kaya dulu lagi.
Seketika Moli langsung tertawa, tertawa terbahak-bahak sampai bola matanya berair. Yoga yang masih mengunyah bubur hanya melihat tingkah Moli sambil tersenyum.
“Yoga...” tawa Moli sudah berhenti. “Kenapa elo sampai lupa sama gue? emangnya gue salah apa?” suaranya serak seolah sedang menahan sesuatu. Benar saja, sepertinya Moli mulai menangis.
Yoga tersenyum, meraih dagu Moli dan mengusapnya lembut. “Ceritanya panjang... gue bisa ingat lagi, itu adalah keajaiban.”
“Keajaiban?”
“Iya. Dokter pernah bilang... kemungkinan ingatan gue ini akan susah di sembuhkan. Perlu kak Moli tahu... yang gue lupain itu bukan kak Moli doang, tapi juga papa tiri gue, yaitu papa Diki.”
Moli mendaratkan telapak tangan di depan dada. “Kenapa bisa begitu?”
“Kapan-kapan gue ceritain ya... gue belum ada tenaga sekarang. Hehe...”
“Huh!” Moli mendengus, meletakkan mangkok di meja samping ranjang kemudian bersidakep.
__ADS_1
“Jangan marah... nanti cantiknya ilang lhooo.”
“Bodo!!”
“Kak Moli...” panggil Yoga lirih.
“Apa!” jawab Mona ketus.
“Kak Moli udah nikah kan?” seketika wajah Yoga langsung terlihat sayu.
“Nikah? Gue?” Moli membulatkan mata.
“Iya, kak Moli.”
Moli tertawa lagi. “Kata siapa?”
Melihat Moli tertawa justru membuat Yoga terlihat khawatir. Pasalnya, hal yang membuat Yoga sampai hilang tak lain adalah karena mendengar kabar bahwa Moli sudah mempunyai calon dan akan segera menikah.
Yoga tak menjawab. Ia masih fokus memandangi wajah Moli yang tak henti tertawa. Yoga begitu merasa bahagia, tapi juga merasa gelisah. Mengingat kembali wanita yang di cintainya itu adalah sebuah keajaiban yang Tuhan berikan.
Moli akhirnya mendesah, mengusap ujung matanya yang basah dan menghentikan tawanya. “Kok elo diem, Ga?”
Yoga tersenyum tipis. “Emangnya gue harus ngomong apa?”
Setelah ngobrol sekitar 1 jam, Santi dan Sarah pun masuk. Yoga dan Moli pun sontak menoleh ke arah mereka. Di samping Santi, terlihat Sarah masih berwajah datar tanpa ekspresi. Ia masih belum siap dengan kembalinya ingatan Yoga. Sungguh belum siap.
Moli yang semula duduk di tepi ranjang, sudah terlihat turun dan berdiri. Merapikan roknya yang kusut lalu tersenyum bergantian ke arah Santi dan Sarah.
“Siapa gadis ini?” gumam Moli dalam hati. Sejak pertemuannya tadi, Moli memang belum sempat bertanya, siapa gadis ini.
“Ma,” panggil Yoga.
“Iya, sayang...” Santi mendekat, sementara Sarah memilih duduk di sofa.
“Kak Moli masih cantik kan ya...” celoteh Yoga. Merasa dirinya di puji, pipi Moli langsung bersemu merah.
Karena menjaga perasaan Sarah, Santi hanya terlihat mengulum senyum.
Drt... drt...
Ponsel di dalam tasnya bergetar. Moli mundur kemudian menarik resleting dan merogoh ponselnya. Setelah layar ponselnya menyala, seketika wajah Moli langsung berubah pias. Nama yang tertera di layar ponselnya berhasil membuat wajahnya merengut.
__ADS_1
“Siapa, kak?” tanya Yoga.
“Bukan siapa-siapa... nggak penting.” Moli mematikan ponselnya lalu memasukkannya kembali kedalam tas.
“Papa kak Moli ya?” tebak Yoga.
“Bukan.” Jawab Moli singkat. “ Salah sambung pasti...” imbuhnya lagi.
“Yoga, kamu istirahat dulu ya... biar Sarah yang temani. Mama mau ngajak Moli bicara dulu.”
“Bicara? Kenapa nggak disini aja?” Yoga balik bertanya. Moli yang sebenarnya nggak mau ninggalin Yoga pun terpaksa menuruti Santi. Sepertinya ada perihal penting yang harus di bicarakan.
“Kamu istirahat dulu...”
Sarah berdiri dan mendekat. “Iya Ga... biar aku yang nemenin kamu.”
Akhirnya Yoga mendesah lalu membiarkan Santi membawa Moli keluar.
“Yoga...” panggil Sarah yang sudah berdiri di samping Yoga. Matanya terlihat sendu dan sembab.
Yoga yang sadar akan posisi Sarah pun sedikit gelisah.
“Sarah...” Yoga meraih telapak tangan Sarah. “Maafin gue ya... gue nggak bermaksud...”
Sarah tersenyum. “Nggak papa Ga... ini bukan kesalahan kamu kok. Aku ngerti, sangat sulit di posisi kamu.”
“Sekali lagi gue minta maaf...”
“Iya, nggak papa kok Ga. Serius deh!” dengan mencoba melempar senyum, Sarah mengangkat ke dua jarinya.
“Aku mau tanya...” ucap Sarah lirih. “Kamu beneran udah ingat dengan kak Moli?”
“Iya Sarah... aku inget semua, bahkan aku juga sudah ingat papa Yudha.”
Sepantasnya ini menjadi berita gembira atau berita lara. Sarah begitu senang mendengar Yoga kembali mengingat papa tirinya, tapi disisi lain, Sarah begitu merasa sakit menghadapi kenyataan bahwa Yoga sudah kembali mengingat Moli.
“Aku ikut seneng...” sebuah senyum palsu, Sarah lempar ke arah Yoga. Bisa tersenyum tapi di dalam sini, di dalam lubuk hatinya, sungguh terasa nyilu dan perih. Memang tak berdarah, tapi bisa membuat dada terasa sesak.
“Ya udah... kamu istirahat ya... aku mau ke toilet sebentar.” Belum mendapat anggukan dari Yoga, Sarah sudah berbalik dan berjalan menuju toilet yang ada di ruangan itu.
Menangis... memang apa lagi yang bisa Sarah lakukan? cukup menangis. Mau protes? Mau mengeluh? untuk apa? Tak ada gunanya kan?
__ADS_1
“Kamu harusnya udah bersiap dengan kemungkinan hal ini, Sarah...” ucap Sarah di dalam toilet. Dari pantulan cermin persegi di atas washtafel, nampak jelas wajah Sarah yang sudah basah terbanjiri air mata.
***