
Anton mengajak Moli ke ruangan samping. Tepatnya sebuah ruangan yang berdampingan dengan acara pesta. Di ruangan ini hanya ada 4 sofa yang mengitari meja bundar. 1 sofa berukuran panjang dan yang lainnya sofa hanya untuk di duduki satu orang.
Moli duduk, pandangannya masih mengedar keseluruh ruangan ini. Selain ada sofa, di depannya juga berdiri bufet kaca yang berukuran besar. Di sampingnya ada guci berukuran sedang dengan hiasan bunga plastik di dalamnya, menjulang tinggi sekitar 1 meter.
“Berapa umur kamu?” tanya Anton membuka percakapan. Ia sudah duduk di sofa sebelahnya. Sebenarnya ingin duduk di samping Moli, tapi sayangnya wanita itu memilih duduk di sofa yang hanya untuk satu orang saja.
“Ngapain nanyain umur gue?” ketus dan tetap cuek.
Anton tersenyum. “Nggak, cuma pengen tahu aja sih,” saur Anton.
Sunyi lagi.
“Kamu masih kuliah, atau udah kerja?”
“Kerja.”
“Hebat sekali. Di umur yang masih muda kamu udah bisa kerja.”
“Biasa aja.”
Anton terlihat tersenyum getir. Tapi bukan Anton namanya kalau seperti itu saja sudah menyerah. Selama ini tak ada satu wanita pun yang menolaknya. Siapa sih, yang tak mau menjadi kekasih pengusaha kaya? Anton yakin Moli juga akan tergila gila pada dirinya.
“Apa kamu udah punya pacar?” tanya Anton dengan di buat sesantai mungkin. Ia tak ingin terlihat begitu merayu Moli. Sepertinya wanita ini lain dari yang lain. Pikir Anton.
“Udah.”
“Wah! Aku telat dong.” Pura-pura kecewa. Tapi betul juga, mana mungkin wanita secantik Moli tak punya seorang kekasih. Mustahil!
Moli hanya terlihat menjulingkan mata di barengi dengan ujung bibirnya yang terangkat. Pria di hadapannya ini, sungguh membuatnya tak nyaman. Memang sih, bola mata itu sedari tadi tak lepas melirik tubuh sintal Moli yang menggoda. Itulah mengapa Moli mulai merasa risih. Apa lagi, di ruangan ini hanya mereka berdua saja.
“Siapa nama pacarmu? Boleh dong aku tahu,” seloroh Anton dengan mata mengerling.
__ADS_1
euuuuh! Ngeri!
“Memangnya elo siapa gue? Nggak sopan!” semprot Moli lalu berdiri. “Gue pergi, nggak betah disini. Engap!” Moli mengibas ngibas kerah blousenya.
Aneh, padahal blouse nya itu kan sedikit terbuka, dan ruangan ini di lengkapi fasilitas AC.
Anton ikut berdiri. “Kamu mau kemana?” lengannya meraih tangan Moli.
“Apa sih! Nggak usah pegang-pegang.” Moli mengibaskan tangan itu. Sepertinya pria ini mulai berani.
“Aku cuma pengen ngobrol,”
“Lha, kita kan baru ngobrol. Elo kira yang barusan itu kita ngapain?”
Anton mendesah berat, sepertinya wanita ini susah di dekati. “Oke, kalau saat ini kamu nggak mau ngobrol, tapi lain kali bisa kan?”
“Ya.”
Selama berjalan keluar, Moli hanya terpaku pada bayangan di otaknya sendiri. Sebuah bayangan yang pernah membuatnya bahagia. Cerita cinta yang pernah menemaninya selama masih remaja. Moli menghela nafas, berhenti sejenak, kepalanya mendongak ke atas, berharap buliran dari balik kelopak matanya tak mengalir keluar.
“Ma, ayo kita pulang.” Pinta Moli sambil menepuk pundak mamanya.
“Pulang? Tapi acaranyakan belum selesai, sayang.” Mareta memutar posisi duduknya. Bisa di lihat, wajah Moli berekspresi lain dari yang tadi.
“Dimana Anton?” tanya Jordi sambil melirik ke arah balik badan Moli. “Apa dia menyakitimu?”
“Nggak, Om. Aku Cuma pengen pulang aja.” Jawab Moli sekenanya. Terlihat papa dan mamanya saling pandang. Mungkin mama masih bisa memaklumi, tapi tidak dengan Papa. Moli bisa melihat dengan jelas bahwa saat ini papanya sudah terlihat menahan amarah.
“Baiklah kita pulang.” Mareta berdiri. Matanya berkedip ke arah suaminya, mengkode untuk segera berpamitan pada tuan rumah.
Gibran memundurkan kursi, kedua tangannya menekan meja lalu dengan berat hati mulai berdiri. “Maaf Jordi, kita pamit dulu. Lain kali kita bertemu lagi.”
__ADS_1
“Baiklah, tak apa. Kita bisa bertemu lagi sekaligus membahas rencana pertunangan Anton dan Moli.”
Degh! Moli langsung mendongak. Pertunangan? Jadi acara ini langsung menuju ke hal intim? Moli mencengkeram roknya hingga mencirut. Setelah menghentakkan kaki, Moli langsung berbalik dan berjalan cepat keluar dari tempat itu.
“Kalian egois!!” teriaknya di sepanjang lorong. Air mata yang tadi bisa ia tahan, kini tak bisa ia bendung lagi. Tanggulnya jebol begitu saja hingga air di dalamnya meluap membanjiri seluruh wajahnya.
Moli terus melangkah tanpa memperhatikan jalan. Ia hanya terus mengikuti kakinya yang membawanya berlarian tanpa arah tujuan yang jelas. Moli tak pernah membayangkan hidupnya akan seperti ini. Bertahun tahun di tinggal kedua orangtuanya, tanpa kabar yang jelas, dan saat mereka kembali, bayangan kebahagiaan yang ia idamkan lenyap begitu saja. Kepulangan mereka berbanding terbalik dengan apa yang selalu Moli bayangkan. Rasa rindu dan rasa sepi yang ia kira bisa musnah ketika Papa dan mamanya kembali, ternyata salah. Salah besar! Bullshit!
Aaaaaagggg!!!! Teriaknya dengan lantang ketika kakinya sudah berhenti menapak di atas atap gedung kosong.
“Kenapa? Kenapa!!!” suaranya serak melengking. Moli membungkuk dengan kedua tangan berpegangan pada kedua lututnya. Air mata yang masih mengalir jatuh begitu saja membasahi atap gedung yang ia pijak.
“Elo dimana Ga?!!!”
Tubuhnya lunglai ambruk, merosot begitu saja. Lemas, sakit, bingung dan sedih. Moli tersungkur, kedua tangannya tergeletak disana menahan tubuhnya yang layu.
Derap langkah seseorang terhenti di ujung anak tangga. Kedua alisnya berkerut sambil menatap jeli pada sosok yang sedang menangis disana, terduduk tak jauh dari tepian ujung atap gedung.
“Siapa dia?” batinnya dengan setengah memiringkan kepala. Mata elangnya ia bulatkan supaya lebih jeli menangkap sosok wanita itu. Karena suasana malam dan keadaan gedung yang hanya mengandalkan cahaya bulan, membuat pria itu kesusahan mengetahui siapa wanita itu.
Moli berdiri. Perlahan mengusap air matanya, menyelipkan rambutnya di balik telinga. Setelah berasa bisa berdiri sempurna, Moli mengibaskan roknya yang kotor dan terlihat kusut. Semua ini mengingatkan dengan kejadian di masa lalunya. Kejadian dimana Moli merasa hancur karena di khianati kekasihnya. Di sakiti berulang-ulang, namun tetap bisa bertahan.
Sekarang apa? Moli masih berharap, kesedihan seperti saat ini mungkin akan hilang saat seseorang datang dengan sebuah pelukan hangat seperti dulu. Itu dulu, hanya dulu. Sekarang, tak ada yang tahu.
Tanpa memperhatikan ke sekitar, Moli mulai berjalan walau tubuhnya terasa lelah. Seseorang yang tadi ada di ujung anak tangga hanya bergeser sedikit, memberikan jalan untuk wanita yang menurutnya terlihat aneh itu.
“Dasar! Wanita gila!” bisiknya pelan, lalu membiarkan wanita itu berjalan menuruni anak tangga.
Sebuah pertemuan awal yang tak disadari keduanya. Semua masih atas nama takdir. Ya, begitulah kira-kira
***
__ADS_1