Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
6. pertemuan yang terulang


__ADS_3

“Ma, aku berangkat dulu.” Pamit Yoga sambil mencium punggung telapak tangan Santi.


“Hati-hati.


“Iya, Ma.”


Bagi Yoga, ini adalah kehidupan barunya. Jauh dari keluarga Diki memang sudah di harapkannya dari sejak dulu. Meskipun menjauhnya karena sebuah musibah yang sangat besar saat itu. Tapi mau bagaimana lagi, memang itu yang sudah terjadi.


Yoga sudah keluar dari halaman rumah, kedua tangannya menuntun sepeda menyusuri trotoar. Ini pagi yang cerah, harusnya suasanya hatinya pun juga terlihat cerah dan bahagia.


Beberapa menit perjalanan, Yoga sudah terlihat menaiki sepedanya, ia mengayuhnya dengan penuh semangat. Ini kan hari senin, sudah sepatutnya pagi ini di awali dengan penuh semangat yang membara.


Gubrak!!


Seketika Yoga ambruk dengan kaki kiri tertindih sepedanya. Yoga terlihat meringis karena mata kakinya terkena kayuh sepeda. Perlahan Yoga bangun, berdiri dengan satu kaki tertekuk. Di bawah sana terlihat bercak darah yang keluar dari balik kulitnya yang sedikit mengelupas.


“Maaf, elo nggak papa kan?” Moli menepuk pelan punggung bocah SMA itu.


“Hati-hati dong, kalau bawa mobil. Dasar orang kaya!” Semprotnya lantang, tanpa menoleh. Yoga sibuk membenarkan seragam osisnya yang terkena debu.


“Suara itu...” Moli terdiam. Kepalanya agak miring, mencoba mengamati siapa gerangan pria yang berpaling wajah darinya itu.


Suaranya tak asing. Sepertinya suara itu pernah ia dengar, tapi dimana? Moli masih menebak-nebak. Sementara Moli masih terdiam dengan bibir terbuka, pria berseragam SMA itu sudah melajukan kembali sepedanya dengan kecepatan kencang.


Bukankah kejadian ini hampir sama dengan kejadian beberapa tahun yang lalu??


“Yoga. Iya, itu Yoga.” Moli melompat, menghentakkan kakinya bergantian. Jari telunjuknya mengibas-ibas di depan dada. Bola matanya sudah membulat lebih besar, sementara bibirnya terus mengucapkan nama pria itu berulang kali.


“Pak ujang!” teriak Moli seketika. Ia masuk menutup pintu mobil dengan cepat. Lengannya menjulur ke depan, memukul pundak pak ujang dengan keras. “Kejar dia, pak Ujang. Cepetan!!”


“I...iya, Non.”


Di jok belakang, Moli sudah tak bisa duduk dengan tenang. Ia masih terlihat menggesek kedua kakinya di bawah jok. sementara di pangkuannya, jemarinya sudah terlihat saling meremas.


Itu Yoga. Iya. Tak salah lagi. Begitulah yang ada di benak Moli saat ini.


“Cepet, pak!!” Ucap Moli dengan nada tinggi. Ia sudah tak sabar ingin segera bertemu tatap dengan pria pengayuh sepeda itu.


“Hei! Berhenti!” kaca mobil sudah terbuka. Satu tangan Moli menjulur keluar, melambai pada pria yang masih mengayuh sepeda.


“Apaan sih, dia? teriak-teriak di jalanan.” Yoga hanya menoleh sambil mencibir, lalu mengayuh sepedanya lebih cepat.


“Ayo pak, kejar dia lagi.” Moli memukul jok depan berulang kali, sementara bola matanya sudah memutar mengikuti gerakan Yoga yang semakin menjauh.


“Kenapa berhenti, pak?”

__ADS_1


“Lampu merah, Non.”


“Ck. Sial!!” Moli menggerutu sambil terus menepuk-nepuk kedua pahanya.


Itu Yoga kan? Moli yakin itu memang Yoga. Wajahnya begitu mirip, mirip sekali. Tapi pria itu lebih tinggi dari Yoga. Mungkin tingginya sekitar 185 cm, sementara Yoga, yang Moli tahu hanya sekitar 172 cm saja. Tapi itu dulu, saat Yoga masih duduk di bangku SMP.


Tapi kenapa dia tak mengenali Moli?


Moli akhirnya duduk terdiam setelah otaknya menemukan satu pertanyaan itu. Benar juga, kalau itu memang Yoga, kenapa ia tak mengenali Moli?


Tunggu! Moli menepuk jok depan lagi. Mobil masih berhenti, lampu merah masih belum berubah hijau jadi Pak Ujang bisa menoleh kebelakang.


“Ada apa, non?”


“Pak ujang.” Moli menelan salivanya. “Apa pak Ujang tahu siapa pria tadi?”


“Yang non Moli panggil tadi?”


“Iya.”


“Yoga kan? Kan tadi non Moli sendiri yang manggil begitu.”


“Ck. Pak Ujang lupa sama Yoga?”


“Yoga siapa sih, non?”


“Kalau begitu...” Moli terduduk kembali dengan mata membulat. “Mungkin Yoga lupa sama gue. Ya, mungkin begitu.”


Saat hendak meminta pak Ujang untuk mencari pria SMA pengayuh sepeda tadi, Moli di kejutkan dengan ponselnya yang tiba-tiba saja berbunyi.


“Ck! Siapa sih!” Dengan malas, Moli merogoh ponsel yang ada di dalam tas kerjanya.


“Iya Pa, ada apa?” matanya terlihat menjuling tanda tak suka. Kalau sudah di hubungi papa, kemungkinan ada dua pilihan. Satu karena soal pekerjaan, dua mungkin soal perjodohannya dengan Anton.


“Kamu dimana?” tanya dari seberang.


“Di jalan, menuju kantor.”


“Cepat sedikit, Anton sudah ada disini.”


Nah kan, apa mau di kata. Sudah pasti ada hubungannya dengan Anton. Kenapa sepagi ini? Moli langsung membanting ponselnya di jok setelah sambungan terputus. Hidung bangirnya juga terdengar mendengus beberapa kali di iringi dengan telapak tangannya yang meninju jok dengan jengkel.


“Cepet pak, kita langsung ke kantor.”


“Oke, non.”

__ADS_1


Lima belas menit kemudian, Moli sampai di kantor. Selama kakinya melangkah, bibir Moli tak pernah berhenti untuk tidak mencibir. Bahkan para karyawan menunduk karena menyambutnya pun ia abaikan.


Bertemu Anton, kenapa harus sepagi ini? Moli terlihat cemberut ketika tangannya berhasil membuka pintu ruang kerja. Di dalam sana sudah terlihat ada Papa dan Anton yang tersenyum ke arahnya. Senyum yang di buat semanis mungkin untuk menyambut Moli.


Cih! Nggak perlu!


“Pagi, Moli...” Sapa Anton sambil berdiri dengan setengah membungkuk. “Kau cantik sekali.”


What! Kalimat apa itu? Sangat menyebalkan.


“Pagi.”


Setelah melirik papanya sebentar, Moli langsung menuju meja kerjanya, menaruh tas kemudian duduk sambil menarik kerah lengannya yang merosot.


“Elo ngapain, pagi-pagi gini udah disini? Nggak kerja?” tanya Moli dengan mata melerok.


“Moli! Yang sopan.” Hardik Gibran. Ia mendekat dan berdiri di samping Moli. “Kalian ngobrol, papa tinggal.”


“Om pergi dulu, kalian silahkan mengobrol disini.” Gibran menepuk pundak Anton dengan satu kerlingan mata. Itu atinya adalah sebuah dukungan supaya Anton lebih giat lagi untuk merayu Moli.


Anton mengangguk mengerti. Kemudian setelah Gibran sudah keluar dari ruangan Moli, Anton langsung berinisiatif mendekati Moli yang masih terlihat cuek bebek.


“Sory, masih pagi udah ganggu kamu.”


“Hm...”


“Hari ini nggak terlalu sibuk kan?”


“Seperti biasanya.” Masih tetap cuek dan tak menoleh. Kalian tahu, yang ada di otak Moli saat ini adalah, sosok pria si pengayuh sepeda tadi. Moli masih sangat penasaran dengan Lelaki berseragam SMA itu.


“Mau nggak, nanti malam kita jalan?”


“Aku sibuk.”


Anton terlihat tersenyum getir. Sepertinya wanita ini sulit untuk di taklukkan. Tak apa, justru ini terlihat sangat menarik. Senyum di bibir Anton langsung berubah mengembang. Wanita ini sangat berbeda dari kebanyakan wanita yang pernah di kenalnya dan itu membuat semangat Anton membara.


“Oh ya, tapi papa kamu bilang, kamu nggak terlalu sibuk lho.” Anton membungkuk dengan posisi kedua tangan di atas meja menyangga tubuhnya.


“Jadi, ayo kita jalan. Bukankah pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang.”


Moli berdecak. Entah kenapa gendang telinganya begitu terganggu ketika kalimat kiasan itu meluncur dari mulut Anton. Dan lagian, siapa sih yang mau saling menyayang? Mimpi!


“Terserah Elo aja, gue nggak peduli.” Moli berdiri. “Lagian gue mau kenal sama elo juga karena Bokap. Jadi, gue mohon elo jangan berharap lebih.” Menatap Anton dengan nada mengingatkan.


“Baiklah, tak masalah. Kita lihat saja nanti.”

__ADS_1


“Ck! Percaya diri banget tuh orang.” Batin Moli.


***


__ADS_2