
“Kok berhenti pak?” tanya Moli ketika pak ujang menghentikan laju mobilnya.
“Mogok kayaknya Non.” pak ujang ke luar dari mobil mencoba memeriksa sesuatu yang salah dengan mobilnya.
Seseorang dari dalam mobil yang berhenti di depan mereka tiba tiba keluar. “Diki?” batin Moli.
“Kenapa pak Ujang? Mogok” tanya Diki menghampiri pak Ujang. Moli masih duduk mengamati mereka dari dalam mobil.
“Iya Den, harus di bawa ke bengkel kayaknya.”
Diki melirik Moli kemudian menghampirinya. Ia mengetuk kaca Mobil. “Mol, keluar dulu.”
Dengan memalas akhirnya Moli keluar dengan menenteng tas selempangnya. Sudah pasti Moli akan bersikap dingin padanya. Hal ini juga termasuk satu cara supaya Diki bisa berhenti berharap pada Moli.
“Kamu bareng aku aja, soalnya mobil kamu harus di bawa ke bengkel.”
“Nggak usah. aku naik taksi aja.”
“Nggak akan keburu Mol, udah siang.”
Moli melihat jam tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit. Benar juga kata Diki, nggak akan keburu kalau harus nunggu naik taksi. Dan pada akhirnya tak ada pilihan lain, Moli masuk ke dalam Mobil dan berangkat bersama Diki.
Di dalam mobil tentu saja Moli memilih berdiam diri. Bahkan untuk sekedar melirik Diki sekilas pun tak Ia lakukan. Untuk apa? Bukankan lebih baik membisu? Dan lagi tak ada yang perlu di bicarakan kan?
“Kamu cantik hari ini Mol, aku suka.”
Hah! Rayuan apa itu? Moli hanya tersenyum tipis bahkan lebih terlihat bukan seperti sebuah senyuman.
Di lampu merah tak sengaja Yoga melihat mereka dari balik kaca. Samar namun sudah bisa di pastikan bahwa penghuni di mobil itu adalah Moli dan Diki. Yoga memundurkan sepedanya, menjauh supaya tak terlihat oleh mereka. “Kenapa kak Moli sama Diki? Bukankah hubungan mereka sudah berakhir?” tanya Yoga dalam hati.
Mobil itu sudah melaju lebih jauh. Namun Yoga masih melamun di atas sepedanya. Ia masih ragu dengan apa yang baru saja Ia lihat. Benarkan itu Moli dan Diki? Atau mungkin orang lain. Tapi tentu saja itu mereka berdua. Penglihatannya tak akan salah. Diki mengayuh sepedanya di penuhi dengan berbagai pertanyaan. Kenapa dan mengapa mereka bersama lagi?
“Makasih.”
Bret!
Moli menutup pintu mobil dengan cepat sebelum Diki keluar dari Mobil. Ke dua sahabatnya yang melihat Moli keluar dari mobil Diki langsung menghampiri Moli dan memberondong beberapa pertanyaan.
“Kok elo bareng sama Diki?”
“Elo balikan sama Diki?
“Kok bisa sih?”
“Wah, kepelet lo ya?”
“Sttt!” Moli membungkam mulut kedua sahabatnya yang terus nyerocos tanpa jeda.
“Diem ih! Ngomong mulu! Di rem dulu...”
“Nah Elo aneh, masa berangkat sekolah bareng mantan.”
“Iya Mol, lo kesambet hantu pohon beringin ya?”
“Ngaco! Nggak lah. Mobil gue mogok tadi, dan kebetulan ada Diki jadi gue ikut. Cuma karena gue nggak mau telat dari Bu Demora, pagi ini kan beliau yang mengajar.”
“Oooo.... kirain.”
“Makanya jangan suudzon.” semprot Moli dan langsung merangkul mereka menuju kelas.
“Elo kenapa bro? Diem aja, lagi ada masalah?” Tanya Doni ketika melihat sahabatnya itu melamun sambil mengaduk mangkuk berisi bakso tanpa menyuapnya.
Yoga tak bergeming. Pandangannya entah mengarah kemana. Sesuatu yang di lihatnya tadi sungguh sangat mengganggu pikirannya hingga tak fokus dalam pelajaran satu jam yang lalu. “Apakah mereka balikan?”
“Hoi! Kenapa sih lo!” Doni menepuk keras pundak Yoga hingga terlonjak.
“Apa sih lo! Ngagetin gue!”
“Nah lo ngapain ngelamun? Kesambet? Ketempelan setan?”
“Ck! Brisik!” Yoga bangkit tanpa memberi penjelasan pada Doni yang melongo.
Sepulang dari sekolah Yoga tak langsung pulang. Ia pergi ke rumah Moli untuk mencari jawaban dari apa yang tadi di lihatnya di jalan. Yoga harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Sesampainya di rumahnya Moli, Yoga langsung masuk dan menunggu Moli diruang tamu di temani si mbok yang baru selesai mengepel.
“Mbok, tadi Diki kesini nggak?”
“Nggak Den, kenapa emangnya?”
__ADS_1
“Nggak papa mbok. Cuma tanya.”
“Si mbok tinggal ya Den, mau nyetrika dulu.”
“Iya mbok.”
Dari luar terdengar suara mobil berhenti. Yoga berdiri dan mengintip dari balik gorden. Matanya membulat ketika melihat Moli keluar dari mobil Diki. Ia mencengkeram gorden itu, kemudian mendengus dan duduk kembali di atas sova.
“Yoga?udah dari tadi?” tanya Moli saat melihat Yoga berada di ruang tamunya.
“Udah.”
Moli hanya melirik Yoga sebentar kemudian langsung pergi ke kamar. Yoga mengamati langkah Moli. Kenapa Moli cuek? Apa bener kalau mereka balikan? Perasaan Yoga semakin tak karuan di buatnya. Antara penasaran dan takut merambat di didalam tubuhnya.
Setengah jam sudah Yoga menunggu Moli tapi tak kunjung menampakkan diri. Hingga sepuluh menit kemudian Moli datang dan duduk di samping Yoga. “Kenapa kamu Ga? Lagi sakit?”
Moli mengamati wajah Yoga yang terlihat gelisah. “Kenapa sih Ga?”
“Nggak ada apa apa kok, sebel aja nunggu kak Moli lama banget.”
“Gue kan mandi dulu, emang elo mau duduk sama cewek bau asem?”
Ck! Masih sempatnya Dia bercanda. Tidak tahukah Dia betapa takutnya hati ini. Takut akan sebuah harapan yang hampir terbuka namun akan tertutup kembali. Ah! Bagaimana menyampaikan keluh ini? Berbicara saja terasa sulit. Apa lagi bertanya? Bisa roboh badan ini.
“Ih Ga, Elo kenapa sih? Aneh deh, takut gue lihat nya.” Moli menjejeri Yoga yang masih diam. Lalu memeluknya membuat badan Yoga berkeringat.
Sesulit apa sih? Apa karena awal jatuh cinta hingga takut bertepuk sebelah tangan. Dasar payah! Yoga memaki dirinya yang begitu lemah dalam masalah seperti ini.
“Kak Moli pulang bareng Diki tadi? berangkatnya juga di antar Diki.”
Eh! Kok Yoga bisa tahu. Moli mengerutkan dahi. Apa bocah ini sedang cemburu? Moli menahan tawa yang sudah di ujung bibirnya.
“Iya... kenapa emang?”
“Nggk papa sih, cuma tanya aja.”
Jawaban Yoga justru membuat Moli penasaran. Apakah Yoga bertanya karena cemburu atau hanya sekedar bertanya saja.
“Oh... yakin nggak papa, nggak pengen tahu kenapa?”
Moli menyentil hidung mancung Yoga. Tangan satunya masih merangkul pinggang Yoga yang tak berkutik. “Beneran nggak mau tanya lagi?”
“Ih! Kak Moli mah gitu.” Yoga mengerucut seperti anak kecil yang gagal di beri sebuah mainan.
“Ga?”
“Hmm.”
Yoga masih menunduk tak berani menoleh pada wajah Moli. Kedua tangannya memegang pipi Yoga dengan lembut hingga
Yoga menoleh menghadap wajahnya. “Jangan salah paham sama apa yang tadi elo lihat... tak ada hal apa apa yang terjadi.”
“Maksudnya?”
“Ya gue sama Diki.“
“Terus kenapa bisa pulang bareng?” Yoga menarik tangan Moli yang menempel di pipinya.
“Elo cemburu? Hayo ngaku.” goda Moli sambil mencubit perut Yoga.
“Ih apa sih, nggak kok.” elak Yoga.
“Nggak usah bohong. “
“Nggak kok, bukan urusan gue juga kan? mau sama Diki kek sama siapa kek terserah...”
“Oh... ya udah kalau gitu.”
Kalau sudah begini keduanya jadi saling merajuk kan? Karena jengkel Moli membelakangi Yoga yang masih manyun.
“Gue ke kamar, ngantuk.”
“Tunggu...” Yoga menarik lengan Moli hingga terduduk kembali. Kemudian menggenggam erat kedua tangannya.
“Kak Moli masih sayang sama Diki?”
“Kenapa emangnya kalau masih sayang?”
“Ya... barang kali udah balikan, selamat deh, ikut seneng.”
__ADS_1
“Yakin elo seneng kalau gue balikan sama Diki lagi?”
“Nggak lah! Ih menyebalkan sumpah deh! Gedeg juga lama lama gue!” Sewot Diki dan langsung memeluk Moli.
Moli tersenyum. Ia yakin Yoga sedang cemburu padanya. Dan itu tandanya Yoga memang ada rasa pada dirinya. “Gue bisa bareng sama Diki karena mobil gue mogok tadi.. sekarang masih di bengkel sama pak Ujang...”
“Bener begitu? Nggak bohong.”
“Ya nggak lah! buat apa bohong, lagian nggak papa kan, Cuma sekedar pulang bareng, itu juga terpaksa.”
Yoga akhirnya unjuk gigi karena lega. Ternyata apa yang ada di pikirannya adalah kesalahan. Untung saja tak sampai salah paham dan emosi. Kan malu.
“Udah lepasin! Grah tahu.”
“Iya, bawel!”
Moli mengajak Yoga untuk berpindah ke ruang tengah. Mereka duduk di atas karpet sambil menonton acara sore di TV. Yoga duduk dengan kaki selonjor sementara Moli membaringkan kepalanya di atas paha Yoga.
Yoga mengamati lagi wajah gadis yang sedang memainkan remot mencari chanel TV yang pas dengan begitu dalam.
“Kak Moli beneran udah nggak ada rasa sama Diki?”
“Nggak. Gue udah nglupain dia.”
“Emang gampang ya nglupain mantan yang satu sekolahan? Dan lagi pacarannya kan udah berjalan cukup lama.”
“Intinya gue udah nggak suka sama Dia, gue udah nggak akan peduli tentang Dia, bahkan sekalipun sering ketemu, Dia nggak akan bisa buat gue suka lagi sama Dia,yang namanya udah putus ya udah putus, nggak ada kata balikan.”
“Tapi Diki masih suka loh sama kak Moli, kemarin aja Dia bentak gue lagi.”
Moli mendongak, menghadap wajah Yoga dari bawah. “Elo berantem lagi sama Dia?”
“Nggak sih, Cuma adu mulut aja. Dia nyuruh gue buat jauhin kak Moli, kayaknya emang beneran masih suka Dianya.”
“Masa bodo ah! Lagian menurut gue itu bukan karena dasar suka lagi, tapi Cinta buta karena terlanjur berulah. Ngerti kan maksud gue?”
“Hmm... maksud kak Moli, Diki cuma nggak rela aja kak Moli deket sama pria lain gitu?”
“Ya begitu kira kira, Dia juga udah sering memohon buat balikan,tapi gue tolak terus, mungkin masih belum terima kenyataan juga sih.”
“Ribet juga ya, gue jadi takut buat pacaran deh.”
Moli bangkit dan duduk. Ia tertawa geli mendengar ucapan Yoga itu. Cowok yang belum pernah pacaran emang beda ya? Lucu juga lihat ekspresi wajah nya yang menggemaskan itu. Moli mencubit ke dua pipi yoga hingga membuat Yoga kesakitan.
“Sakit ih! Lepasin!”
“Gemes gue sama lo! Jadi tambah suka deh gue.”
“Ha? Apa?” Yoga ternganga mendengar ucapan cepat itu. Apakah tak salah sedang? Moli bilang apa sih? Suka kan?
“Apa aja boleh... Bweek!”
Sialan nih cewek. Bikin penasaran aja. Gimana ya supaya bisa tahu tentang isi hatinya? Apa harus bertanya? Nggak kayaknya. Terlalu aneh.
Ponsel di atas meja berbunyi tanda ada panggilan dari seseorang.
“Halo... ada apa Fan?”
“Mau ikut nggak?”
“Kemana?”
“Ke acara ultah saudara nya Mia di Bogor...”
“Kapan?”
“Malam ini. ikut ya, nanti gue jemput. Mia juga udah di sana.”
“Oke deh...”
Tut tut tut... sambungan telpon sudah terputus. Moli memandang Yoga sebentar kemudian bangkit. “Ikut yuk Ga.”
“Kemana?”
“Ke acara ultah saudaranya si Mia.”
“Sekarang? Gue kan nggak bawa baju.”
“Gampang! nanti beli aja di jalan. sekalian beli kado, tenang, gue yang beliin.”
__ADS_1
Yoga mendengus dan akhirnya mengangguk tanda setuju dengan ajakan Moli.
****