Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
DuapuluhSatu


__ADS_3

Kenapa baru sekarang Moli menyadari hal ini? Mungkin saja rasa cinta pada Diki sebenarnya sudah lama menghilang. Lalu untuk apa selama ini bertahan? Moli menyadari betul bahwa dirinya tak pernah begitu marah melihat kedekatan Diki dengan Lia. Ia hanya merasa sakit hati ketika tuduhan yang salah itu menimpa dirinya. Moli kecewa ketika Diki lebih membela Lia dari pada dirinya. Diki terlalu Bodoh, ataukah Moli yang terlalu lugu?


“Ngerti kan sekarang dengan maksud gue.” Fani tersenyum puas ketika berhasil membuat Moli tersadar akan perasaannya sekarang.


“Gila! Lo emang hebat soal ginian, keren!” tepuk tangan terdengar dari kedua tangan Mia. “Ck... ck!”


“Fani gitu loh.”


“Tapi elo paling O-on soal pelajaran.”


Moli dan Mia tertawa lepas. Sampai membuat Fani merengut jengkel. “Bangke lo!”


Entah kenapa hati Moli sekarang lebih tenang. Mungkin karena kedua sahabatnya yang selalu ada untuknya dan salalu berusaha menghiburnya ketika sedang ada masalah. Dia juga tak kesepian lagi setelah kehadiran Yoga yang juga selalu ada untuknya. Dia memang baik, terlalu baik malah.


Moli menarik nafas panjang, ada kelegaan dalam hati nya. Desahan lirih dari bibirnya menandakan Ia baik baik saja sekarang.


10.00 WIB


Suasana kelas sudah sepi, hanya tinggal Moli yang masih membereskan buku pelajarannya. Mia dan Fani sudah terlebih dulu pergi ke kantin sekitar lima menit yang lalu. Sementara Di belakang masih ada Diki yang sepertinya menunggu kesempatan untuk bisa berbicara dengan Moli.


Seberangkat sekolah tadi sebenarnya Moli heran ketika sekilas melihat wajah Diki yang memerah dan lebam di bagian pelipis mata nya. Ia hendak bertanya namun Berfikir ulang, untuk apa bertanya? Bukan urusannya kan?


“Moli.” Diki menggeser kursinya mendekat pada bangku Moli.


“Kita harus bicara.”


Moli mendengus. “Sok atuh kalu mau bicara.”


“Hubungan kita masih lanjut kan?”


“Tergantung.”


Tak ada reaksi dari Moli selain jawaban singkat dan Ia lebih memilih pura pura sibuk dengan ponselnya.


“Maaf soal kemarin, mungkin kamu cemburu makanya sampai dorong Lia hingga jatuh.”


What?! Apa lo kata? Moli mengangkat bibir atasnya dengan mata yang masih acuh pada Diki. Ternyata Dia pikir Moli sekejam itu hingga sampai mencelakai Lia? Bodoh!


“Aku minta maaf udah buat kamu cemburu.”


“Hmmm...”


“Tapi aku harap kamu jangan nyakitin Lia lagi, kasihan Dia.”


Mendengar perkataan Diki amarah yang semula bisa Ia pendam kini mulai meluap layaknya gunung meletus. Di pikir siapa juga yang nyakitin Lia? Yang ada drama queen yang berhasil diperankannya itu lah yang berhasil menyakiti Moli.


“Bisa bisa nya lo bilang kaya gitu ke gue? Punya pikiran nggak si lo?”


Moli menggebrak meja dengan bola mata menatap Diki penuh amarah. Sepertinya itu bukan Moli yang biasanya. Kata lembutnya kini hilang seketika karena gendang telinganya berhasil menangkap suara yang rasanya seperti menusuk tajam.


Diki terlonjak kaget namun Dia tak membalas amarah Moli. “Kamu kok jadi marah gitu? Aku minta maaf kalau salah.”


Dari ambang pintu yang sedang di permasalahkan pun muncul dengan santai tanpa rasa bersalah. Ia mendekati mereka berdua dengan tatapan licik pada Moli.


“Ini nih biang kerok nya!” Sorot mata tajam itu terlempar dengan jari menunjuk di depan wajah Lia. “Cewek munafik!”


“Apa apaan lo? Gue baru dateng udah lo semprot aja!”


“Halah! Nggak usah sok polos deh lo! Cuih!”


Satu dorongan membuat Lia menabrak kursi di belakangnya


“Moli! Kamu kok jadi kasar gini? Aku nggak suka ya.” Diki menarik Lia melindungi di balik punggungnya.


“Dasar Cewek kurang ajar!” semprot Moli lagi.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi Moli. Moli terdiam matanya sembab menahan rasa sakit tamparan yang di lakukan Diki. Seperti itukah Diki? Jahat sekali? Mia yang sempat melihat itu langsung mendorong Diki hingga tersungkur di atas meja. Cengkeraman erat di bahunya hampir membuat Diki tercekik.


Moli menangis dalam pelukan Fani. Sementara siswa lain yang hendak masuk ke kelas hanya saling berbisik saling menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Yang jahat itu elo atau Moli?”


Cengkeraman itu semakin erat hingga membuat Diki susah berbicara.


“Ada apa ini ribut ribut?” Bu Demora masuk ke kelas. “Bubar! Duduk di bangku masing masing!” bentak nya hingga membuat seisi kelas membisu.


“Kalian ber lima ke ruangan saya sekarang juga!”


Di dalam kantor ada beberapa guru yang memandang prihatin pada mereka berlima. Moli masih sesenggukan dalam rangkulan Fani dan Mia.


“Jelaskan apa yang terjadi, sekarang!”


Mereka berlima terlonjak kaget. Tak ada yang berani menjawab.


“Diki! Bisa bisa nya kamu berkelahi dengan perempuan? Untuk apa?”


“Ma... maaf Bu... saya...”


“Keluar dan pergi berlari keliling lapangan sepuluh kali. Sekarang juga!”


“Tapi Bu... panas banget.”


“Sekarang atau mau saya tambahin?”


Perkataan Bu Demora sudah tak bisa di ganggu gugat lagi. Guru paling keras ini selalu menang saat menghadapi siswa yang berbuat onar.


Diki melihat pipi Moli yang memerah karena tamparannya. Seharusnya Ia bisa lebih sabar, kenapa juga harus menamparnya? Tentu saja gadis itu pasti kesakitan. Seandainya bisa memeluk dan mendekapnya. Stupid Im!

__ADS_1


“Sory ya... kalian jadi ikut di hukum.” Moli menggenggam erat tangan kedua sahabatnya.


“Nggak papa, santai.”


“Semua gara gara elo! Dasar Ular!” semprot Fani pada Lia yang terlihat santai tanpa menunjukkan raut wajah salahnya.


“Udah cukup!”


Diki menarik tangan Lia melangkah lebih cepat dari mereka bertiga.


“Bweeekk!”


“Sialan tuh cewek! Kampret!!”


“Nggak usah di ladenin, buang tenaga doang...”


****


Sepulang sekolah Moli langsung terbaring di atas ranjang. Badannya lelah dan sedikit panas, mungkin demam. Masalahnya akhir akhir ini semakin bertambah dan hanya satu penyebabnya yaitu Lia si Ular berbisa.


Matanya hampir saja terpejam namun terbuka lagi ketika mendengar seseorang membuka pintu kamarnya. Langkahnya semakin terdengar jelas. “Yoga.”


“Yoga, lo disini?” Moli duduk menatap wajah Yoga yang berdiri di samping ranjangnya.


“Ga... itu kenapa? Kok Biru?”


Lengannya ditarik hingga Yoga terduduk di sampingnya. “Lo berantem? Sama siapa?”


“Alstaga! Jangan bilang lo berantem sama Diki.” Tebak Moli.


Yoga mengangguk. Tiba tiba kepalanya ia baringkan di pangkuan Moli dengan tangan melingkar di perutnya.


“Kenapa si Ga? Lo nakutin gue tahu...” Moli menarik wajah Yoga yang hendak Ia benamkan di depan perutnya.


“Masalah sama Diki?”


“Yoga sayang kak Moli.”


“Ha?? Kenapa?”


“Duduk deh, jelasin biar gue paham.” Moli mendorong Yoga supaya terduduk kembali.


“Nggak papa kok... nggak ada masalah.”


Yoga mencubit pelan pipi Moli.


Moli meringis kesakitan. Padahal cubitan itu tak seharusnya terasa sakit, mungkin tamparan Diki tadi masih terasa sakit.


“Kok merah? Kenapa?”


Moli tertunduk memalingkan wajah nya dari pandangan Yoga. Sesuatu sedang di sembunyikan oleh Moli. Tapi apa? Kening Yoga berkerut. Lalu mencoba mengoreksi apa yang sedang terjadi pada Moli.


“Iya... kenapa?”


“Diki sering bawa Lia ke rumah nggak?”


Sepertinya ini masalahnya. Tentu saja ada hubungannya antara mereka berdua. Tapi apa? Yoga mencoba bertanya. “Sering sih.. hampir tiap hari... kenapa emangnya?”


“Nggak papa, Cuma pengen tahu."


“Kak Moli mau main ke rumah? Sama gue aja, ya ya?”


Tubuh Moli di guncang oleh Yoga hingga manggut manggut. Kenapa bukan Diki yang mengajaknya. Bahkan sampai sekarang Diki belum pernah sekalipun mengajaknya main ke rumahnya. Sesekali menawari pun tidak pernah. Lia lah yang lebih penting tentunya.


“Kok diem sih?” sentil Yoga pada hidung mancung itu.


“Nggak ah, males ketemu Diki.”


Moli membanting tubuhnya kembali di atas kasur. Yoga tersenyum. Sepertinya kesempatan sudah terbuka lebar. “Ye... nggak papa kali.”


“Iya deh kapan kapan gue main, yang penting jangan lupa suguhannya ya.” ceplos Moli enteng.


“Gue serius nanya deh, itu pipi nya merah kenapa?”


“Emm... ha?” Moli menutup pipi nya. “Nggak kenapa kenapa kok.”


Moli tak ingin Yoga mengetahui warna merah itu karena terluka oleh tangan Diki. Ia tahu Diki dan Yoga baru saja bertengkar, tentu saja Moli sadar akan hal seperti ini harus di rahasiakannya terlebih dulu.


“Gue pulang ya.” pamit Yoga.


“Bentar doang??”


“Iya... Cuma nengokin kak Moli aja sih.”


Ucapnya terakhir dengan tawa sebelum berlalu dari kamar itu.


Warna merah yang membekas di pipi Moli itu terus membayangi Yoga hingga tak fokus dalam mengendarai motornya. Ia lebih memilih untuk menepi dari pada terus melaju namun pikirannya melayang entah kemana yang bisa saja membahayakan dirinya atau mungkin orang lain. Diki menyulut rokok yang Ia ambil dari sakunya, satu kepulan asap itu serasa membentuk bayangan buruk yang sudah terjadi pada bidadari cantiknya.


Yoga mendesah. Kemudian masuk ke dalam sebuah warung bakso di pinggir jalan. Ia melangkah mencari kursi yang kosong hingga Ia berhenti di depan seseorang yang di kenalnya. “Kak Mia, disini juga?”


“Yoga? Dari mana lo?”


“Dari rumah kak Moli.”


Yoga duduk di kursi kosong itu di depan Mia yang sedang menyantap satu mangkok bakso panas. Setelah ****** rokok itu di buang, Yoga memberanikan diri bertanya sesuatu pada Mia. Mungkin saja Dia tahu jawabannya.


“Kak Mia.”


“Hmmm kenapa Ga?”

__ADS_1


“Kak Mia tahu nggak kenapa pipi kak Moli memerah? Kaya di tampar gitu.”


“Uhuk!” Mia tersedak kuah bakso pedas yang sedang masuk ke dalam tenggorokannya. Si


Yoga kadang bisa bikin orang celaka juga. Sial!


“Ini minum... aduh maaf, kok jadi tersedak sih.”


“Nah elo, pertanyaan aneh gitu di tanyain.” semprot Mia.


“Namanya juga penasaran.”


“Eh tunggu tunggu.” Mia memegang janggut Yoga menggeser ke arah kanan dan kiri. “Lo abis di tonjok orang?”


“Iya... jangan bahas itu dulu deh, jawab dulu pertanyaan gue yang tadi.” Yoga terus memaksa Mia supaya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


“Di tampar sama Diki.”


“Apa?!”


Teriakan Yoga langsung membuat pengunjung lain melirik padanya. Apakah telinganya salah mendengar atau memang itu kenyataannya.


“Di tampar Diki.”


“Iya... nggak usah kenceng kenceng kali.”


“Sory... namanya juga kaget.”


Tangan kanannya mulai mengepal dengan erat. Giginya saling beradu tanda amarah. Atas dasar apa Diki tega menampar Moli? Memang betul kalau di sebut banci! Yoga terus memaki dalam hati.


“Makasih infonya, gue cabut dulu.”


Mia ternganga ketika melihat tingkah aneh Yoga. Apa yang sedang di rencanakan Yoga? Kelihatannya Dia serius banget. Dan kenapa Dia begitu kaget setelah mendengar kata Diki? Mia angkat bahu dan kembali pada bakso yang sempat terabaikan.


Sepuluh menit kemudian Yoga sudah sampai di beranda rumah Moli. Ia kembali ke rumah gadis itu karena hati kecilnya terus menghawatir kan dirinya.


“Kak Moli.”


Yoga membuka pintu kamar nya. Namun gadis itu tengah terlelap pada posisi miring memeluk bantal guling.


“Eh ada Den Yoga,kesini kapan?” tanya Si mbok dengan panci kecil berisi es di tangannya.


“Barusan Mbok.” jawab Yoga.


“Itu mau buat apa mbok?” Yoga menunjuk es batu yang di bawa mbok Ijah.


“Si Mbok juga nggak tahu Den, tadi Non Moli yang minta.”


“Bawa ke bawah lagi aja Mbok, Moli juga kayaknya lagi tidur kan.”


Mbok Ijah mengangguk dan membawa panci itu kembali ke dapur. Yoga menatap wajah bidadari yang sedang terlelap itu, merah di pipinya masih terlihat jelas di matanya. Bukankah rasa nya sakit? Hanya lelaki brengsek yang tega melakukan hal buruk itu.


Yoga duduk di pinggir ranjang, mengusap luka itu. Hatinya terasa tercabik tatkala gadis yang di cintainya tengah terluka. Seandainya Ia bisa selalu bersama dimana pun berada, mungkin saja Moli tak akan terluka. Tapi lelaki sialan itu adalah kekasihnya, hanya satu pertanyaan Apakah masih ada cinta untuk lelaki itu?.


Hemmmhhh...


Lenguhan dari bibir Moli terdengar ketika Yoga sedang memungut seragam Osis yang tergeletak di lantai. Mungkin si Mbok lupa atau belum sempat membereskan.


Mata sayu itu mulai terbuka perlahan. Bulu mata yang memayungi mata indahnya sedikit basah karena aktivitas menguap yang Ia lakukan. Moli terduduk melihat jam pada pergelangan tangannya. Sudah jam enam sore.


“Udah mimpinya?” tanya seseorang yang sedang berdiri di depan cermin menenteng seragam osis.


“Yoga? Bukannya elo udah pulang tadi?”


Moli mengerlipkan matanya yang masih ayup ayupan. Lalu berdiri mencari handuk.


“Nih...” Yoga melempar handuk putih tepat di wajah Moli. “Gue balik lagi, terlalu khawatir sih.”


“Khawatir kenapa?” celetuk Moli. Langkahnya terhuyun yang kemudian hilang masuk ke dalam kamar mandi.


Yoga menggeleng. “Bisa keluar telanjang tuh cewek.” Yoga terkekeh ketika mengingat beberapa hari yang lalu saat Moli keluar kamar mandi hanya memakai handuk dan tak sadar ada lelaki di kamarnya. Suka ngeres emang si Yoga!


“Ga!! Elo masih disitu?” teriaknya dari kamar mandi.


“Iya... kenapa?


“Keluar dulu, gue mau ganti.”


“Iya.”


Moli mengintip menyembulkan kepalanya melihat seisi kamarnya. Yoga sudah keluar. Moli langsung bergegas berganti pakaian dan menyusul Yoga yang mungkin sedang menunggunya di bawah.


Di atas anak tangga pertama Moli terhenti.


“Iya halo Fan, ada apa?” kata Moli ketika Fani menelpon lewat ponsel.


“Lo udah buka WA gue belum?”


Ibu jarinya menggeser layar ponselnya. Ada beberapa notifikasi masuk dan sebagian dari Fani hingga 10 chat.


“Belum... kenapa emang?


“Udah lo buka aja.”


Tut... tut...


Selamat membaca...


tinggal bebeberap eps lagi lho...

__ADS_1


jangan lupa Like dan komen...


__ADS_2