Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
34. seperti peliharaan


__ADS_3

Pernikahan itu sepertinya sudah tidak bisa Moli hindari. Apapun yang akan terjadi, maka besok akan terjadi, begitulah yang Moli khawatirkan saat ini. Di rumah sebesar ini, Moli lebih mirip seekor anjing yang sedang di kurung oleh majikannya. Pasalnya setelah lamaran kemarin malam, Moli sudah tidak bisa lagi menghirup udara di luar sana.


Buktinya pagi ini, Moli yang sudah bangun lebih awal karena berencana menemui Yoga pun langsung di buat gagal. Karena apa? Tentu saja karena para pengawal pribadi papa yang siap siaga bergentayangan di rumah megah ini. Semua jalan keluar sudah di jaga ketat oleh mereka-pereka orang suruhan papa.


“Bentar doang! Minggir!” hentak Moli kesal. Rasanya ingin mencakar wajah kedua orang yang tengah menghalangi jalannya di ambang pintu.


“Maaf non, ini perintah Tuan Gibran.” Balas mereka.


“Bentar doang kok! Nggak lama. Minggir!!” Moli mencoba menyingkirkan tubuh mereka, namun sayangnya tidak bisa karena tubuh mereka lebih besar.


“Maaf non! Lebih baik Non Moli kembali ke kamar.”


“Ck! Sialan!!” Moli akhirnya berbalik dan terpaksa kembali lagi masuk ke kamar.


“Astaga!!!” Moli mengacak-acak rambutnya sendiri. Menghentakkan kaki berulang kali di ikuti mulutnya tak henti melontarkan kata ‘sialan'.


“Ini rumah gue, tapi kenapa gue berasa kaya di penjara?!” Moli ambruk membentur ranjang empuknya. Wajahnya terbenam di antara dua bantal yang berjejeran.


“Gue harus gimana?!” teriaknya tanpa mengangkat kepala.


Drt... drt...


Ponsel di atas nakas bergetar. Moli enggan mengangkatnya, tapi setelah ponsel itu terus bergetar tanpa henti, akhirnya Moli beranjak dari kasur. Jemari lentiknya menyelipkan rambut di balik telinga, sementara bola matanya melirik ponselnya yang masih berkedip-kedip.


Fani, itu nama yang muncul di layar ponsel. Setelah membuang napas, Moli langsung mengangkat ponsel itu.


“Halo Fan, tolongin gue! Hiks.” Belum sempat menyapa dahulu, Moli sudah terlebih dahulu menyela.


“Apaan sih?!” Fani langsung menautkan alis. “Belum juga ngomong, elo nya udah minta tolong. Kenapa emang?”


“Gue dikurung, Fan. Hiks!” Moli sudah terisak. Sementara orang di seberang hanya membulatkan mata terkejut.


“Dikurung gimana maksudnya?” tanya Fani.


“Elo dateng ke sini deh! Pliss yaa!”

__ADS_1


“Lha, kan gue belum tahu rumah elo yang baru.”


“Gue kirim lewat pesan deh alamatnya. Pliss elo kesini!”


Tut! Ponsel di tutup begitu saja oleh Moli. Fani terdengar mendengus, tapi begitu teringat isak tangis Moli, Fani langsung bergegas berdiri dan buru-buru keluar rumah. Fani sampai lupa pergi tanpa membawa dompet maupun jaket, yang ia ingat hanya menggamit kontak mobilnya saja.


“Mau kemana kamu, sayang?” tanya mama yang sedang membaca koran pagi.


“Aku mau keluar bentar, ada perlu.” Fani lari lagi setelah mencium pipi mamanya.


Di dalam mobil yang sudah melaju, Fani langsung teringat akan isakan Moli. Memang terdengar tidak terlalu menyedihkan sih, tapi kalau sudah meminta datang biasanya ada sesuatu masalah.


Sementara di rumah, di dalam kamarnya Moli masih meringkuk sambil terus menangis. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di hari esok. Siap atau tidak, besok adalah hari pernikahannya. Bagaimana ini bisa terjadi? Moli sudah tidak bisa menghindar.


Hwaaaaaaa!!!


Tangisannya semakin kencang. Kali ini Moli menengadahkan kepala menghadap ke langit-langit. Ingin berteriak lagi tapi suaranya sudah serak dan berat. Padahal Moli cuma menangis, entah bagaimana tenggorokannya terasa serak dan berasa seperti ada dahak yang menyumbat.


“Sayang, kamu di dalam?” panggil seseorang dari balik pintu.


Gagang pintu sudah di putar, dan pintu pun langsung didorong. Mareta mendesah pelan begitu melihat Moli berbaring dengan posisi telentang. Bola matanya masih mengeluarkan air mata yang terus mengalir sampai membasahi seprei.


Mareta mendekat, duduk di tepi ranjang sambil meraih bagian lutut kaki Moli. Mengusapnya pelan memandangi wajah Moli yang masih berpaling. Sebagai seorang ibu, tentu saja Mareta bisa merasakan bagaimana takut dan sedihnya Moli saat ini. Tapi untuk membatunya, Mareta memang tidaklah tahu harus berbuat apa.


“Sayang....” Mareta mengusap kaki Moli. “Maaf, mama nggak bisa berbuat apa-apa.” Hanya itu yang bisa Mareta ucapkan. Mau apa lagi? Memang itu kenyataannya.


“Ma, kenapa harus Moli? Kenapa Moli yang mengalami nasib seperti ini?” Moli berucap tanpa memandang ke arah Mareta. “Moli nggak mau nikah, Ma! Nggak mau kalau sama Anton.” Tangisannya banjir lagi. Semakin deras tapi tak bersuara.


“Kemarilah!” Mareta menggeser posisi duduk mendekati kepala Moli yang masih menengadah ke atas.


“Duduklah!” pinta Mareta pelan. Moli mulai menggerakkan tubuhnya di bantu Mareta. Saat ini posisinya sudah duduk bersila menghadap ke arah Mareta.


“Maaa!!” Moli menghambur membawa tangisnya ke pelukan Mareta. “Moli nggak mau nikah, Ma!” masih dalam isakan tangis.


“Mama tahu, sayang. Tapi kamu tahu papa kan? Dia orangnya keras dan nggak bisa di bantah.” Mareta mengusap lembut ujung kepala Mona yang masih dalam pelukannya.

__ADS_1


“Mama udah coba bicara sama papa, tapi jawabannya tetep sama. Mama juga bingung,” lanjut Mareta lagi.


“Besok ma, besok aku nikah? Itu nggak mungkin!” ucap Moli sambil melepas pelukannya. Kesepuluh jarinya mengusap kasar air mata yang masih mengalir.


“Aku nggak mau!” hardik Moli dengan nada tinggi. Posisi tubuhnya sudah bergeser ke sudut ranjang menjauhi Mareta.


“Pokoknya aku nggak mau menikah, titik!” Begitu ucapannya berakhir, Moli langsung menelungkupkan kepala di antara dua lututnya.


“Moli...”


“Keluar!” perintah Moli dalam persembunyian kepalanya. “Aku minta, mama keluar!”


Sepertinya Moli sudah tidak bisa di dekati lagi. Dari pada membuat Moli berontak, lebih baik untuk saat ini menjauh dulu dari Moli. Siapa tahu, setelah malam nanti hatinya sudah tidak sepanas saat ini.


“Papa!” panggil Mareta begitu melihat Gibran baru saja pulang. Langkah kali Mareta langsung lebih cepat menuruni anak tangga.


“Mama mau bicara sama papa!” ucap Mareta dengan nada tinggi.


“Nanti aja, papa capek.” Jawab Gibran tanpa menghentikan langkah dan langsung menuju kamar. Mareta masih membuntutinya, bahkan Mareta tetap berdiri sambil memandangi Gibran yang sedang melucuti pakaian kantornya.


“Pa!” panggil Mareta lagi.


Sambil melempar kemejanya ke atas ranjang, Gibran langsung menoleh. Sorot matanya terlihat tajam. “Apa sih, Ma?!” ucap Gibran tak kalah meninggi.


“Bisa nggak sih, ngomongnya nanti aja?! Aku capek!” Gibran membuang pandangan, menggamit handuk dan langsung masuk ke kamar mandi. Sementara Mareta terlihat menggeram sambil menghentakkan kaki.


“Papa!” teriak Mareta lagi. “Pokoknya mama nggak mau kalau pernikahan besok, sampai membuat Moli tersakiti.” Mareta masih mengoceh walaupun tiada yang mendengarkan.


“Moli itu anak satu-satunya kita, aku nggak mau dia tersiksa hanya karena pernikahan ini. Dan lagi, bukankan menikah itu perlu persyaratan yang lengkap? Memangnya semua itu sudah ada?” Terus berbicara berharap ocehannya mendapat hasil yang diinginkan.


“Tak perlu khawatir...” Gibran keluar dengan hanya memakai handuk yang melingkar di pinggannya. “Aku sudah mengurus semua itu. Jadi, besok pernikahan siap di laksanakan.”


Mareta langsung terhenyak. Mareta kira, Gibran belum mempersiapkan semua itu. Ternyata Gibran sudah sigap dalam hal ini. Mareta seketika langsung melemas dan memilih duduk di kursi di depan meja riasnya.


***

__ADS_1


__ADS_2