Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
39. kembali ke Cinta. (End)


__ADS_3

“Kok bisa gagal?”


“Semua karena Diki.”


“Diki?!” Fani langsung membulatkan dua bola matanya. Kursi ia geser lebih ke depan.


“Iya.” Moli menghela napas seketika. “Gue juga bingung... gue masih nggak ngerti pokoknya. Tapi, intinya berkat dia, pernikahan gue jadi batal.”


“Serius? cuma karena Diki?” mata Fani membulat lagi.


“he-em. Dia dateng pas gue sama bokap lagi ribut tadi... terus, tiba-tiba Diki sama Lia dateng, nunjukin keburukannya Anton.”


Fani berkedip beberapa kali, bahkan ia sempat menelan ludah karena saking fokusnya menatap gerakan mulut Moli yang masih ngoceh.


“Dan setelah itu, bokap gue langsung ngebatalin pernikahan seketika itu juga.” Moli mendesah, memundurkan punggung bersenderan pada kursi. “Mungkin, Anton sedang dalam perjalanan waktu bokap gue nelpon. Gue sih, masa bodo! Intinya pernikahan ini batal.”


“Tunggu deh!” sela Fani. “Itu si Diki sama Lia ada perihal apa, sampai nolongin elo gitu?”


“Elo nggak akan percaya!” Moi tertegak lagi. Wajahnya menunjukkan reaksi tidak menyangkanya.


“Apa?”


“Setelah dia bongkar kejelekan si Anton, mereka berdua langsung bersimpuh sama gue.”


“Serius?”


“Yap! Dan elo tahu apa?”


Fani menggeleng.


“Dia minta maaf sama gue. Lia sampai nangis tahu! Gue heran aja, tapi, mereka bener-bener tulus.”


Kali ini Fani yang menghela napas dan memundurkan punggung.


“Gue masa bodo lah, sama mereka berdua. Yang penting pernikahan elo batal, itu udah bagus. Itu kan yang elo mau?”


“Iya, gue cuma nggak percaya aja, mereka bakal ngelakuin hal kaya gitu. Mereka bener-bener udah nyelamatin masa depan gue.”


“Oke-oke!” Fani maju lagi. Kedua tangannya mendarat lurus di atas meja. “Sekarang apa yang mau elo lakuin?”


“Ketemu Yoga dong!” senyum Moli langsung mengembang. Terlihat kedua alisnya naik turun.


Sementara Fani hanya terlihat nyengir, seperti sedang menyimpan sesuatu. Tangan kanannya bahkan sudah menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.


Melihat itu, Moli langsung curiga tentunya. Apa lagi dengan bibir bawah yang di gigit, sudah jelas pasti ada sesuatu. Pandangannya pun berlarian ke arah lain.


“Heh!” Moli sudah menengadah beberapa detik. “Kenapa cengengesan gitu?”

__ADS_1


“Hehe... anu, itu... emm apa ya?” masih nyengir dengan sederetan gigi putihnya.


“Apa sih?!” Moli semakin penasaran. Gelagat Fani yang tak bisa diam, membuat Moli semakin penasaran.


“Gue udah bilang sama Yoga, kalau elo mau nikah, hari ini.”


“Apa?!”


Fani tersenyum getir dengan jari telunjuk berada di antara deretan gigi atas dan bawah. Kalau Moli, dia sedang terkejut pastinya.


“Serius? Kapan elo ketemu Yoga?”


“Kemarin, waktu gue nggak jadi ketemu sama elo.” Masih dengan wajah tak bersalahnya.


“Terus Yoga bilang apa?” Moli semakin membelalak.


“Ya, dia sedih... sebenarnya pengen datang langsung ke rumah elo, Cuma dia nggak berani. Kan elo tahu, dia belum bisa ngasih apa-apa ke elo.”


Benar juga. Moli langsung mendesah, menatap Fani sebentar kemudian tergugah.


Moli berdiri. “Gue pergi dulu.” Moli sudah memutar badan.


“Kemana?”


Moli terlihat menjauh.


Fani cukup menggelengkan kepala saja. Yang namanya cinta memang membingungkan. Tapi, itu sih, cuma untuk Moli. Buat gue, nggak! Begitu kata Fani.


“Yoga...” panggil Moli lirih. Seseorang yang sedang duduk dengan kaki menjuntai di tepi gedung langsung menoleh.


“Kak Moli?” Yoga memutar kepala, mengamati wanita itu dengan mata menyipit. Ia kira ini mimpi di siang bolong.


Moli mendekat. Jangan tanya, kenapa Moli bisa tahu Yoga ada disini. Sekitar satu jam lebih, Moli mencari keberadaan Yoga tapi, tak kunjung di temukan. Moli mencari di rumah, tentu harusnya Moli tahu kalau Yoga ada di sekolah.


Sesampainya di sekolah, bukan Yoga yang di dapat, tapi Sarah. Dia bilang, hari ini Yoga nggak masuk sekolah. Seketika itu Moli langsung mengeryit. Dimana dia?


Yoga sudah berdiri, ia mendekat, begitu juga dengan Moli.


“Ngapain disini? Bukannya...”


Ucapannya terhenti. Mungkin ini liar, tapi mau gimana lagi, Moli hari ini merasa sangat senang. Mungkin dengan mencium Yoga, kelegaan hatinya bisa tersalurkan.


Bibir keduanya masih saling berpagut. Kedua tangan Yoga pun sudah melingkar di pinggang Moli. Sejak kapan? Yoga tak tahu. Selang beberapa detik saja, ciuman itu terlepas. Moli menatap Yoga sendu, dan langsung memeluknya erat.


“Gue bebas, Ga.” Itu yang Moli ucapkan sambil terisak. Yoga masih bingung.


“Bebas?” Yoga mendorong pinggang Mona mundur. “Maksudnya?” kedua mata mereka bertemu.

__ADS_1


Moli mendengus lalu membuang muka. Ia berdiri menatap lurus ke depan sambil mengelap air matanya kasar. Yoga langsung menjejeri dengan lengan saling bersentuhan.


“Kak Moli ngapain disini?”


“Kok elo nggak sekolah? Kenapa?” Moli menoleh, kepalanya mendongak memandang Yoga.


Pandangan Yoga langsung turun. “Itu... karena...”


“Apa karena gue?”


Yoga mengangguk ragu. Kedatangan Moli kesini memang membuat hatinya senang, tapi, apa gunanya jika wanita itu sudah menikah. Bodoh!


“Ga, elo mau nggak nikahin gue?” Moli meraih tangan Yoga. Sementara Yoga langsung tercengang binngung.


“Ini maksudnya apa sih?! Gue nggak ngerti.” Keluh Yoga dengan nada tinggi.


“Intinya, elo mau nggak nikah sama gue?”


“Sekarang?”


Tuk! Moli mengetuk keras kepala Yoga. “Ya, bukan sekarang ****! Nunggu elo lulus dan punya kerjaan.”


“Tapi....” wajah Yoga berubah pias. “Bukannya hari ini, kak Moli nikah ya? Terus kenapa malah mau nikah sama gue?”


Moli mengibaskan tangan Yoga, kedua tangannya kini bersidekap di depan dada. “Gue nggak jadi nikah.”


“Ha?!” Yoga memajukan kepala ke arah Moli. “Nggak jadi nikah? Serius? Kenapa? Kok bisa?”


“Ya ampun!” Moli sontak menendang kaki Yoga.


“Aw! Sakit tahu!” keluh Yoga.


“Ya lagian elo nya gitu banget.”


“Gue kan cuma bingung... nggak salah dong kalau gue tanya.”


“Iya iya... nggak salah. Udah deh, intinya sekarang gue nggak jadi nikah. Gue cuma mau nikah sama elo.Titik!”


Seketika itu Yoga langsung mengangkat tubuh Mona dengan kedua tangannya. Tanpa di suruh, Moli pun langsung melingkarkan tangan di leher Yoga. Wajah keduanya semakin mendekat. Ciuman pun sudah tak bisa di hindari.


Biarlah ciuman ini menjadi liar. Ini terlalu sayang jika di lewatkan. Tapi keduanya telah bersumpah. Ini adalah ciuman yang terakhir. Untuk yang berikutnya, tunggu sampai ada dua cincin yang melingkar di jari masing-masing.


***


**Terimakasih yang udah ngikutin cerita Moli dan Yoga. Maaf ceritanya sampai sini dulu. jika viewers naik, mungkin akan aku lanjut. tapi, di karenakan level nggak naik, jadi aku buat ceritanya cepet tamat.


capek nulis. tapi, berasa nggak di hargai pihak NT. 😭😭😭**

__ADS_1


__ADS_2