
“Berani juga kamu ya...” Gibran mengitari tubuh Moli begitu orang pribadinya berhasil membawa Moli ke hadapannya. Sebut saja namanya Juan. Mareta yang kebingungan hanya mengamati Moli dari ujung kaki hingga kepala.
“Moli... kamu dari mana, sayang?”
Ck! Jadi sekarang mama panggil gue, sayang?
“Kamu boleh pergi.” Perintah Gibran pada Juan. Untuk saat ini, ia sudah tidak di perlukan.
“Jadi papa yang menyuruh om Juan menjemputku?”
Gibran menyeringai. “Tentu saja... masih untung papa nggak nyuruh Juan nyeret kamu paksa.”
Begitu mendengar ucapan papanya, Moli langsung tertawa kecil. “Apa yang tadi itu namanya nggak nyeret paksa?”
“Sebenarnya ini ada apa sih?” Mareta menatap ke arah suaminya. “Dan kamu Moli! Kamu pake baju siapa? Kenapa rambut kamu basah?”
“Oh... atau jangan-jangan kamu sudah disetubuhi bocah itu ya!” sebuah tuduhan yang langsung membuat mata Moli menggenang.
Kedua tangannya sudah menekan dadanya yang terasa sakit, sementara bola matanya sangat sulit untuk berkedip. Dalam hatinya Moli hanya bisa berkata, apakah pria berwibawa ini adalah orangtuanya? Kenapa tega sekali menuduh anaknya dengan berbuatan keji itu.
“Papa!” bentak Mareta. “Maksud papa apa? Jangan ngomong sembarangan!”
Sepertinya hanya Mareta yang bersuara. Moli masih terlihat diam sambil membiarkan air matanya yang terus mengalir.
“Jadi itukah yang papa pikirkan?” Moli mendongak, maju seakan menantang Gibran.
“Aku ini anak papa... tega-teganya papa menuduhku berbuat hal keji seperti itu.”
“Kamu yang memulai! Kalau kamu nurut sama papa, papa nggak akan mungkin sampai kepikiran jauh kesana. Lihat! Kamu ada di rumah bocah itu... begitu pulang, rambut kamu basah. Dan ini... apa ini!” Gibran menarik ujung piyama yang di kenakan Moli. “Ini jelas bukan baju kamu. Ini baju murahan!”
“Astaga!” Moli mendesah, mengusap kasar wajahnya yang basah. “Memangnya papa tahu apa yang terjadi sama Moli? Kenapa Moli bisa sampai disana, apa papa tahu? Nggak kan? tapi kenapa papa tega ngomong sembarangan?”
“Apa mama juga berpikiran begitu?” Moli mengalihkan pandangan ke arah Mareta yang sedari tak berbicara.
“Nggak, sayang. Mama cuma...”
__ADS_1
“Cuma apa? Ha!... kalian memang jahat!” Moli menghentakkan kaki dengan keras. karena sudah merasa tak kuat, Moli pun memilih lari pergi ke kamarnya.
“Moli! Tunggu!” Teriak Gibran. Moli sama sekali tak menghiraukan teriakan Papanya. Begitu sampai sia atas, Moli langsung masuk, menutup keras pintu kamarnya hingga suaranya terdengar sampai ke bawah.
Kali ini pandangan Mareta pada Gibran telah berubah. Wajahnya sudah memerah menahan amarah.
“Pa!” Mareta menarik lengan Gibran, mencegahnya sebelum masuk ke kamar.
“Apa lagi? Aku capek!”
“Kenapa papa jadi jahat begitu?”
“Memangnya aku jahat kenapa, ha?”
“Moli itu anak kita, Pa. Coba lebih lembut lagi sama dia.”
“Dia sendiri yang minta di kasari, coba kalau nurut... papa nggak mungkin bentak-bentak dia.”
“Pa...” Mareta menatap sendu wajah suaminya. “Mama memang ingin kebahagiaan untuk Moli... dan mama juga setuju kalau Moli menikah dengan Anton, tapi kalau itu hanya membuat Moli tersiksa... lebih baik tidak usah.”
“Tapi Pa, coba lihat Moli... dia sepertinya sangat tersiksa dengan perjodohan ini. Mama cuma nggak mau Moli kenapa-kenapa.”
“Nggak akan terjadi apa-apa sama Moli. Kita akan tetap segera menikahkan mereka berdua.”
***
Setelah bertemu dengan Moli pagi tadi, Diki menjadi gelisah. Bahkan sesampainya di rumah, ia terlihat seperti orang linglung. Sapaan dari istrinya beberapa kali sama sekali tak masuk ke dalam telinganya.
“Sayang, kamu udah pulang...”
Diki masih melamun sambil terus berjalan. Lia sebagai istrinya hanya berkerut dahi sampai Diki duduk di kursi ruang makan dan menaruh tas kerjanya di pinggir meja. Hampir jatuh, tapi Lia langsung buru-buru menengahkan lagi.
“Sayang!” panggilannya sedikit meninggi.
“I...iya... kenapa, sayang?”
__ADS_1
“Aku dari tadi manggil kamu lho... kok diem aja?” Lia ikut duduk.
“Oh, maaf. Aku lagi kepikiran sesuatu.”
“Kepikiran apa? Apa kerjaan kantor kamu lagi nggak baik?”
“Bukan...”
“Terus?” Lia maju sedikit lebih mendekat dengan dadanya ia senderkan di depan meja.
“Tadi aku ketemu sama Moli.”
Degh!
“Moli? Dimana? Kamu serius?”
Diki mengangguk. “Aku ketemu dia di jalan... aku nggak sengaja hampir nabrak mobil dia.”
“Terus... kamu sempat ngobrol nggak?” Lia mengguncang lengan Diki. Reaksi ini terlihat seperti Lia begitu ingin sekali tahu tentang kabar Moli.
“Gimana mau ngobrol...” Diki melemas, menyenderkan punggungnya di senderan kursi. “Moli sepertinya masih marah... dia cuek banget dan langsung pergi tadi. Jadi, aku nggak sempet ngajak bicara.”
Mendengar penjelasan suaminya, wajah antusias Lia langsung berubah menjadi biasa saja. Selama ini Lia sudah mencari Moli, entah untuk apa, tidak tahu. Sebenarnya Lia dan Diki tahu letak perusahaan Moli, tapi untuk bisa masuk ke dalam gedung itu tentulah tidak mudah. Itu sebabnya Lia begitu antusias ketika mendengar Diki bertemu kembali dengan Moli. Berharap bertemu bukan untuk memusuhinya lagi, tapi hanya ingin menyampaikan maaf atas apa yang pernah di lakukan selama ini hingga membuat hati Moli tersakiti.
“Mudah-mudahan bisa ketemu lagi... aku pengen banget minta maaf sama Moli.” Raut wajah penuh penyesalan bisa dilihat di wajan Lia.
“Semoga saja...” Diki meraih pergelangan tangan Lia. “Mungkin dengan kita meminta maaf sama Moli, kita akan lebih cepat punya anak.”
“Iya. Mungkin begitu...”
Sebenarnya mereka baru menikah sekitar satu tahun setengah. mungkin bisa di sebut nikah muda, tapi tak masalah, Diki sudah punya pekerjaan saat menikahi Lia, jadi untuk memenuhi kebutuhan berdua tentulah sangat cukup.
Mereka berdua begitu sangat mendambakan seorang anak, tapi sampai saat ini Tuhan masih belum juga mempercayakan hal itu pada mereka. Maka dari itulah, mereka berdua langsung teringat akan perbuatan buruknya pada Moli. Sementara untuk Diki, bagaimana dulu ia pernah mengusir Yoga dan ibunya lah yang membuat Diki sangat merasa bersalah.
Diki sudah berusaha mencari informasi tentang keberadaan mereka berdua, tapi sampai detik ini belum juga di ketemukannya. Mereka tinggal dimana dan dalam keadaan bagaimana, Diki sama sekali tidak tahu.
__ADS_1
***