
Ini hari minggu. pagi-pagi sekali, sekitar pukul empat pagi, Moli sudah terbangun. Usai membuka kedua bola matanya, Moli langsung bergegas bangkit dari atas ranjangnya. Turun dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
“Aku harus cepat! Ini masih pagi.” Celetuk Mona usai menutup pintu kamar mandi.
Mandi dengan cepat, mungkin hanya sekitar lima menitan saja. Jikalau bukan karena memburu waktu, Moli sangatlah malas jika harus sepagi ini terbangun dari tidurnya. Ini semua karena rencana Moli untuk menemui Yoga, jika tidak pergi sepagi ini, mungkin saja akan di persulit oleh Papanya yang menyuruhnya jalan dengan Anton.
Menyebalkan! Memangnya siapa yang mau menemui Anton?
Moli sudah berdiri di depan lemari pakaiannya. Bola matanya memutar ke samping dan ke atas mencari baju apa yang kira-kira pas untuk menemui Yoga.
Pilihan Moli jatuh pada blouse berwarna abu dan rok wiru di atas lutut. Moli berdiri cukup lama di depan cermin. Mengamati dirinya yang saat ini terlihat lebih segar. Ini adalah Moli, Moli yang ceria, bukan Moli yang penuh tekanan dari orangtua ataupun kerjaannya. Ini sungguh terlihat Moli si gadis periang yang dulu.
Moli seketika tersenyum getir. Melihat bayangannya sendiri dari pantulan cermin seakan membuatnya merasa menyesal. Kemana Moli harus berubah? Setiap hari harus di hadapkan dengan setumpuk pekerjaan kantornya, tidak ada waktu untuk bergurau dengan teman. Ah, teman ya? Memang siapa temannya? Bertemu Fani pun baru kemarin. Itu juga karena tidak kesengajaan.
Lalu dimana teman Moli? Saat ini Moli kembali tersenyum getir. Ia menyadari bahwa beberapa tahun terakhir ini, hidupnya hanya bergantung pada peraturan Papa dan papanya. Bagaimana bisa punya teman, punya waktu untuk dirinya sendiri saja tidak ada.
“Hei, Moli!” Moli membungkuk, menunjuk cermin tepat ke arah pantulan wajahnya. “Hidup elo sial banget. Haha!”
Moli kembali tertegak, tangan kirinya meraih bedak lalu menepuknya pelan di seluruh wajahnya hingga merata, kemudian ia meraih lipbalm, mengolesnya di bibir tipisnya.
“Ini baru gue!”
Semuanya sudah beres. Moli langsung mengambil kunci mobil di dalam laci nakas, menggamit tas kecilnya yang menggantung di balik pintu. Beres! Moli membuka dan menutup pintu dengan perlahan hingga tak terdengar suaranya.
Usai pintu benar-benar tertutup rapat, Moli berbalik, melangkah ke arah anak tangga. Perlahan mulai menuruninya sambil memantau keadaan di sekitar. Masih gelap dan sepi. Moli menghela napas sambil mengusap dadanya.
“Aman...” gumam Moli.
“Non, mau kemana?”
“Eh, kodok loncat... loncat.” Moli terhenyak dan langsung berjinjit seketika pundaknya di tepuk seorang.
“Simbok... ih ngagetin aja deh!” kesal Moli dengan suara di buat berbisik.
Mengikuti suara nona mudanya yang berbisik, simbok pun mendekat. “Si e-non mau kemana? Ini kan masih pagi...”
“Simbok nggak perlu tahu...” Moli mengibaskan telapak tangan di depan wajah simbok. “Jangan bilang-bilang kalau aku pergi. Kalau di tanya, jawab aja nggak tahu.”
Belum mendapat anggukan dari simbok, Moli sudah keburu pergi duluan. Bahkan karena ingin merasa aman dari papa dan mamanya, Moli langsung menjalankan mobilnya tanpa memanasinya terlebih dulu.
__ADS_1
Simbok hanya berkerut dahi. Nona mudanya itu tak pernah pergi sepagi ini, kecuali ada hal yang sangat penting.
Lampu jalan masih terlihat menyala, itu artinya ini memang masih terlalu pagi untuk keluar rumah, Sementara laju mobil Moli semakin menjauh dari area rumahnya. Mungkin saat ini, Moli merasa sedikit gugup. Sebenarnya bukan hanya sekedar gugup, melainkan gelisah tingkat dewa. Lihat saja, jemari Moli sedari tadi tidak bisa berhenti bergerak di atas kemudi mobilnya.
“Hari ini gue harus tahu, apa penyebab Yoga bisa ngelupain gue,” celetuk Moli. Intinya, apapun yang terjadi dan apapun alasannya nanti, Moli harus mendapat jawabannya.
Satu jam kemudian, mobil Moli sudah menepi di halaman rumah sederhana milik Yoga. Moli membuka pintu mobil, kemudian kakinya mulai melangkah turun. Setelah kakinya berpijak di atas setapak, kedua tangan Moli langsung memeluk kedua tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya yang melingkar di bawah pundaknya.
Pagi ini memang terasa dingin, itu juga karena Moli hanya memakai rok pendek dan blouse tipis. Tapi hawa dingin itu tak berlangsung lama, ketika sang surya perlahan mengintip dari balik atap pohon beringin besar yang ada di belakang rumah Yoga.
Sekejap Moli menarik napas, menghembuskan perlahan lalu kakinya mulai maju ke depan mendekati teras rumah. Rumah terlihat sunyi. Barang kali penghuninya belum terbangun. Itu pikir Moli.
“Assalamualaikum...” ucap Moli, sementara tangan kanannya mengetuk pintu dengan keras.
“Assalamualaikum...”
Masih tak ada sahutan dari dalam. Moli berkerut dahi. Merasa tak ada pergerakan dari dalam, Moli maju mendekati jendela kaca yang tidak di tutupi gorden. Mona maju lebih dekat, mencondongkan tubuh dan kedua tangannya menempel di atas jidat untuk mengintip ke dalam. Sepertinya memang tak ada siapapun.
Mona berdiri tegak lagi. “Kok sepi sih... apa nggak ada orang ya?” Jari telunjuknya menusuk pipi.
“Maaf, kakak cari siapa ya?”
“Eh adek...” Moli tersenyum. “Kakak nyari kak Yoga, apa ada?”
“Oh... kak Yoga ya? Kemarin, kak Yoga pingsan... terus di bawa ke rumah sakit.”
“Apa!” pekik Moli. “Serius dek?” Moli memegang kedua pundak anak itu.
“Iya kak...”
“Kalau boleh tahu, di rumah sakit mana?”
“Kalau nggak salah... di Rumah Sakit Harapan, kak.”
“Oh, oke. Makasih ya, dek...” Moli mengusap pipi bocah itu, lalu dengan cepat masuk ke dalam mobil dan mulai melajukannya mengarah menuju ke rumah sakit.
Moli terlihat gelisah. Perasaannya di datangi perasaan khawatir dan was-was. Dengan adanya masalah ini, semakin membuat Moli yakin bahwa memang pernah terjadi sesuatu pada Yoga. Tapi apa? Itulah yang mau Moli selidiki.
“Ruangan dengan pasien bernama Yoga di sebelah mana ya, mbak?” tanya Moli pada seorang resepsionis wanita.
__ADS_1
“Bentar ya mbak... saya cek dulu.” Wanita itu mulai mencari daftar para pasien yang di rawat inap di lembaran kertas putih.
“Di ruang mawar, nomor 12, mbak.” Jawab wanita itu usai menemukan nama pasien bernama Yoga.
“Oke. Terimakasih.”
Moli langsung berjalan cepat mencari ruangan itu. Ruangan dimana Yoga berada. Moli mulai memasuki lorong yang di penuhi dengan pintu yang berderet.
“Sembilan, sepuluh, sebelas... dua belas.” Kaki Moli berhenti melangkah tepat di depan pintu ruangan nomor 12.
Sebelum masuk, Moli menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan segala hal yang mungkin bisa terjadi di dalam sana. Setelah hembusan napas terdengar, Moli langsung memutar gagang pintu, mendorongnya dengan tangan gemetara.
Ceklek...
Seseorang di dalam sana langsung menoleh ke arah Moli. Moli menutup kembali pintu itu, kemudian matanya langsung bertatap dengan mereka yang berdiri di samping tempat Yoga berbaring.
“Moli...” ucap Santi terkejut.
“Tante...” Moli tersenyum, mendekat lalu mencium punggung telapak tangan Santi. Moli sempat melirik ke arah seseorang yang berdiri di samping Santi.
Siapa gadis ini?
“Sayang, kamu ngapain kesini?” Santi mengusap lembut pipi Moli. Tentu saja hal itu membuat seorang gadis yang berdiri di samping Santi langsung mbesengut.
“Tadi aku ke rumah, tapi katanya Yoga sedang di rawat... jadi aku langsung kesini.”
“Gimana keadaan Yoga?” tanya Moli sambil melirik prihatin ke arah Yoga yang masih belum sadarkan diri.
“Dia baik-baik aja kok. Nggak usah khawatir.”
“Boleh aku...” Moli menunjuk ke arah Yoga, meminta izin untuk mendekat.
“Boleh, sayang...”
Santi sepertinya tak bisa lagi menyembunyikan semua ini. Perpisahan mereka ternyata hanya sementara, Tuhan masih ingin melihat mereka bersama. Begitu kah? Ini buktinya. Sudah satu tahun lebih tidak berjumpa, tapi tiba-tiba mereka bertemu kembali.
Itu adalah takdir. Hanya saja, ini takdir mereka bersama ataukah takdir untuk berpisah.
***
__ADS_1