Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
26. menangis setiap hari


__ADS_3

Pagi ini memang cuaca nampak cerah. Di ufuk timur, sang surya bahkan sudah mengintip, memancarkan sinarnya yang belum sempurna. burung-burung pun sudah terlihat berkicau di sarangnya masing-masing menyambut suasana indah pagi ini.


Bagaimana seseorang yang saat ini berada di balik selimut itu?


Benar saja. Di balik selimut itu, ada wajah seorang wanita yang semalaman hanya menangis. Ia masih tak menyangka papanya akan tega berbicara kasar seperti semalam. Sungguh kalimat itu sangatlah menyayat hati.


Moli memang sudah membuka kedua matanya, tapi rasanya malas untuk bangun. Badannya terasa pegal semua, seperti baru saja di pukuli berulang kali. Bola matanya pun memerah dan terasa perih.


“Sayang...” Seseorang memanggil Moli dari balik pintu. Moli bisa dengan jelas mendengar suara itu, tapi untuk sekedar menyahut, Mona malas melakukannya.


“Sayang... apa kamu udah bangun? Mama bawa sarapan buat kamu.”


Moli masih tak bereaksi, dari luar selimutnya hanya terdengar suara lirih sesenggukan sisa menangis semalam.


Ceklek!


Ternyata pintu tidak di kunci. Mareta pun masuk ke dalam setelah menutup kembali pintu itu. Mareta mendekat. Mengamati sebentar gundukan yang tertutup selimut berwarna kuning. Sepertinya Moli sudah menyadari kehadiran mamanya.


“Keluar! Aku nggak mau di ganggu.” Hardik Mona tanpa menunjukkan wajahnya.


Mareta tersenyum. “Mama nggak mau ganggu kamu kok...” nampan berisi makanan Mareta letakkan di atas meja, lalu duduk di tepi ranjang. “Mama bawakan sarapan buat kamu... yuk makan dulu.”


Ck! Sejak kapan mama jadi perhatian sama gue? Apa ini sogokan?


“Udahlah Ma... mama keluar aja. Moli nggak mau di ganggu hari ini.” Masih bersuara dari balik selimut.


Melihat Moli yang sama sekali tak berkutik, Mareta pun berdiri. Untuk sekilas, Mareta masih menatap tubuh Moli yang sama sekali tak terlihat. Mungkin Mareta juga bersalah dalam hal ini. Kalau saja dirinya tidak mendukung suaminya menjodohkan Moli dengan Anton, mungkin saat ini tak akan ada rasa bersalah pada Moli. Mareta sadar, mungkin baru saat ini merasa bahwa dirinya terlalu menuntut dan mengekang putri semata wayangnya itu. Andai bisa melawan suaminya, pasti sudah Mareta lakukan.


Hembusan napas berat pun akhirnya terdengar. Mareta berkedip sambil menepiskan kepalanya sendiri, lalu berbalik dan keluar dari kamar Moli meninggalkan nampan berisi makanan.


“Jangan lupa sarapan kamu di makan,” ucap Mareta sebelum pintu kamar tertutup.


Belum usai dengan rasa bersalahnya pada Moli, dari lantai dua Mareta menjumpai sosok seseorang yang mungkin bisa membuat Moli tambah marah. Sambil memegangi tralis pembatas, Mareta menatap sengit pada kedua orang yang sedang bercengkerama di bawah sana.


Untuk pertama kalinya, Mareta merasa tidak suka dengan sikap suaminya itu. Sambil terus mengamati, Mareta menuruni anak tangga dengan langkah malas.

__ADS_1


“Tante...”Anton berdiri dan membungkuk begitu Mareta sampai di lantai satu. Mareta hanya tersenyum tipis.


“Pagi sekali, nak Anton datang kesini?” bertanya dengan nada menyindir. Mareta sama sekali tak berniat bergabung duduk di sana. Hari ini melihat Anton rasanya langsung timbul rasa benci. Mungkin kemarin-kemarin ia begitu antusias dengan sosok pria tampan itu, tapi kali ini rasa semangat menjodohkan Moli dengan Anton sudah sirna.


“Tante tinggal dulu.” Singkat dan tanpa imbuhan kalimat lain.


“Apa tante Mareta sedang tidak enak badan?” tanya Anton. Ia belum tahu bahwa ekspresi pias Mareta adalah karena rasa tidak suka pada dirinya itu.


Merasa tahu dengan perubahan sikap istrinya, mendengar pertanyaan Anton di balas dengan sebuah tawa kecil.


“Iya. Sepertinya begitu,” jawab Gibran.


“Oh iya... dimana Moli? Apa belum bangun?”


“Sebentar... biar simbok panggilkan dia.” Gibran memutar posisi tubuhnya mengarah ke dapur.


“Mbok! Simbok! Panggil Moli... bilang saja ada Anton.”


Begitu mendengar perintah dari majikannya, simbok langsung mendekat dan mengangguk.


“Tunggu saja dulu...”


Simbok sudah sampai di depan pintu kamar Moli. Tanpa menunggu lama, simbok pun mulai memanggil dan mengetuk pintu.


“Non! Non Moli! ini simbok... di bawah ada den Anton.”


Tak ada sahutan dari dalam sana. Simbok memanggil nona mudanya itu kembali.


“Non! Ada den Anton di bawah lagi nunggu non Moli...”


“Suruh pulang aja!”


Teriakan dari dalam sana membuat simbok terhenyak hingga mundur.


“Tapi non...”

__ADS_1


“Bilang aja, aku lagi nggak enak badan.” Sahut Moli lagi. Dengan terpaksa, simbok pun turun lagi ke bawah.


Sesampainya di bawah dan sudah menghadap majikannya, simbok membungkuk. “Maaf tuan, non Moli tidak enak badan... begitu katanya.”


Simbok mulai mundur, ia tahu majikannya sangat tidak suka dengan ucapannya barusan. Benar saja, setelah meremas tepian sofa, Gibran pun berdiri. Dengan wajah seramnya, ia berjalan dan memanggil Moli sendiri.


Begitu sampai di atas, tanpa tanggung-tanggung, pintu kamar Moli langsung si ketuk. Bukan lagi di ketuk, melainkan di gedor-gedor dengan keras hingga seseorang yang sedang menunggu di lantai satu pun bisa mendengar suaranya.


“Moli! Bangun!” teriaknya lantang.


Sementara di dalam sana, Moli sudah bisa merasakan aura dari kemarahan papanya meskipun dari jarak yang tidak begitu dekat.


Moli saat ini masih berdiri di balkon, tapi langsung masuk begitu pintu kamar diamuk dari luar oleh orang yang sedang di bakar amarah. Dengan langkah gontai dan memalas, Moli mulai mendekat ke arah pintu. Apapun yang akan terjadi setelah pintu di buka, itu resiko yang akan di pikir nanti. Saat ini, setidaknya Moli memilih menyelamatkan pintu kamarnya supaya tidak hancur.


“Apa sih, Pa?” sembur Moli, begitu pintu sudah di buka. Di hadapannya saat ini, sudah bisa di lihat dengan jelas bagaimana papanya sedang menahan amarah.


“Kamu sengaja ya? Sengaja bikin papamu marah? Ha! Jawab!” Suaranya mengeras seperti ular menyembur mangsanya. Moli saja terlihat sampai menepikan kepalanya ke belakang.


“Memangnya aku buat marah papa dalam hal apa? Aku baru bangun tidur... kenapa aku di marahi?” dengan santainya Moli bersenderan pada kusen pintu.


“Kamu!” Gibran sudah melotot, tangan kanannya terlihat sudah terangkat mengarah ke pipi Moli.


“Apa!” Moli mendekat. “Papa mau menamparku? Silahkan! Tampar saja aku.” Sudah tak tahan, akhirnya Moli memilih melawan. Meninggalkan bekas tamparan semalam, tentu masih terasa sakit, dan benarkah pagi ini sudah mau di tampar lagi? Tega sekali!


Gibran terpaku, tidak bisa berkutik tapi bola mata masih bisa melotot dengan kedua tangan mengepal geram.


Moli berdecak. “Jadi... pagi-pagi begini, papa cuma mau nampar aku hanya karena Anton?” mata Moli terlihat memicing. Ini papanya, tapi kenapa jahat sekali?


“Sudahlah! Kamu nurut sekarang. Temui Anton di bawah! Dia masih nungguin kamu.”


“Ya!” jawab Moli.


Bred!


Pintu tertutup begitu saja sebelum Gibran beranjak pergi.

__ADS_1


“Semua karena bocah itu!” geram Gibran. “Moli jadi berani melawan orang tua... awas kau bocah!”


***


__ADS_2