Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
Delapan


__ADS_3

Sudah hampir setengah jam Moli berjalan menyusuri trotoar. Ia lebih memilih untuk jalan kaki walaupun bisa sampai satu jam untuk sampai ke rumahnya. Ia begitu kesal dengan kehadiran Lia. Wanita itu rasanya emang tak punya perasaan! Boleh lah kalau kangen kangenan namanya juga temen lama, tapi hargai pacar nya dong... kan bisa lebih sopan dikit.


Moli terus melangkah, kakinya menendang sebuah kaleng di hadapannya hingga mengenai kepala seseorang.


“Aww!!” jerit orang itu.


Moli menghentikan langkahnya sejenak karena kaget. “Siapa tuh?” Moli menggigit bibir bawahnya.


“Woy! Urusan apa lo nglempar kaleng ke gue?” Ia turun dari sepeda nya menoleh pada seseorang yang telah melemparinya sebuah kaleng.


Yoga mendengus ketika mengetahui siapa yang melempar benda itu ke kepalanya.


“Sory nggak sengaja...” Moli menghampiri Yoga yang masih mengusap kepalanya.


“Sakit?” Moli nyengir.


“Nggak!” cibir Yoga. “Ya sakitlah ****!” semprot Yoga sambil mengusap kepalanya yang terkena kaleng. Ia melirik Moli dari ujung kepala sampai ujung kaki.


“Jalan kaki?” Yoga mengangkat alisnya.


“Gue bonceng ya...” kata Moli merayu Yoga. “Capek gue...”


“Kenapa nggak naik taksi? Bus juga ada... sepeda gue juga nggak ada boncengannya kan?”


Moli bergelayut menggoyang lengan Yoga. “Nggak mau! Pliss anterin gue ya...” Moli memohon dengan tatapan manisnya. Membuat Yoga jadi terpesona. Busyet cantik banget nih cewek!


Yoga mendengus. “Iya... iya...”


Moli tersenyum girang. Namun karena tak ada boncengan sepeda di bagian belakang terpaksa Moli duduk di depan Yoga. Yoga menghirup bau harum di rambut gadis itu. Sungguh wangi. Sudah pasti dia seorang gadis yang terawat. Jarak antara pipi keduanya begitu dekat karena tubuh Moli memang tinggi hampir 170 cm sedangkan Yoga 173 cm. Tentu saja kepala mereka bersentuhan apa lagi Yoga membungkuk memegang stang sepeda.


“Kak Moli bau wangi...” celetuk Yoga mencium harum bau rambut Moli.


Moli menyeringai. “Jalas dong! Emang situ bau apek...”


Rese' juga nih cewek. Banyak nyebelinnya dari pada baiknya.


Yoga membelokkan sepedanya masuk ke halaman rumah Moli. Rumah yang besarnya dua kali lipat dari rumahnya. Rumah mewah namun sepi penghuni. Dan disitulah Moli tinggal berselimut sepi.


Moli membuka pintu sambil menarik tas nya yang melosot dari pundak. “Masuk dulu ya... temenin gue...”


Yoga masuk mengikuti langkah Moli. Salalu sepi. “Kemana orang orang?” tanya Yoga.


“Di belakang mungkin...”


Yoga manggut-manggut. Dan duduk di sova ruang tamu dengan kaki di selonjorkan di atas meja. Emang nggak sopan! Untuk yang kedua kalinya Dia datang ke rumah ini dan selalu sepi.


“Gue ganti baju dulu... elo ke ruang tengah aja dulu...” kata Moli. Ia pergi ke kamarnya ganti baju.


Yoga menurunkan lakinya berjalan berpindah tempat. Mata nya tak luput dari beberapa foto yang tertata rapi di lemari kaca. Ada satu foto yang bikin Ia tersenyum. Sebuah foto seorang gadis kecil ompong yang di peluk kedua orang tuanya. “Lucu juga... ompong lagi...” Kekeh Yoga sendiri.


“Eh ada si Aden...” celetuk si mbok yang muncul dari dapur membawa peralatan pel.


“Udah dari tadi? Simbok ambilin minum ya...”


“Nggak usah mbok... nanti ambil sendiri.


Yoga duduk di atas karpet berwarna merah maroon. Ia menyalakan TV berukuran 21 inci yang tertempel di dinding. Sementara Si mbok sibuk mengepel lantai. 5 menit kemudian Moli muncul. Ia memakai celana jeans pendek dan kaos berwarna pink. Rambutnya di ikat ala ekor kuda. Cantik natural tanpa make up.


“Maaf lama... mau minum apa?” tanya Moli.


“Nggak usah... nggak haus gue...”


Entah karena kebetulan atau takdir, sekarang Moli jadi lebih sering bertemu dengan Yoga. Hampir setiap hari mungkin.


“Kak Moli cuma berdua sama si mbok?”


“Bertiga kok sama pak Ujang...”


“Nyokap Bokap?”


Moli terdiam lalu mendesah. “Sibuk kerja.”


Yoga berkerut dahi. Sepetinya ada sesuatu yang terjadi pada Moli. Raut wajahnya seperti menyembunyikan kehampaan hatinya. “Kok jadi cemberut?” Yoga menatap dekat wajah Moli.


Moli duduk di samping Yoga dengan kaki di silangkan. Ia mendesah. “Lo pernah nggak ngerasain kesepian?”


Yoga menelan ludah. Pertanyaan itu mengingatkan pada seseorang yang sudah lama pergi jauh. Ia teringat dimana saat sang Ayah pergi meninggalkan nya untuk selamanya. Dan saat itu munculah rasa kesepian yang mendalam. Rasa sepi yang kala itu menekuk hingga membeku.


Yoga mulai membuka mulut “Pernah...”


“Kapan? Apa sepi itu sampai sekarang?” butiran bening muncul di sudut matanya.


“Ya. Tapi nggak pernah gue pusingkan... biar berjalan dengan sendirinya...” jawab Yoga.


“Apa yang buat lo merasa kesepian?”


“Ketika orang yang gue sayang udah nggak ada. Dan ketika melihat orang lain tertawa sementara gue sedang kesepian...”


Moli menoleh melihat wajah Yoga yang seperti membayangkan sesuatu hal. Ternyata bukan hanya dirinya yang pernah di hantui rasa sepi.

__ADS_1


“Kak Moli kesepian kenapa?”


“Kedua orang tua gue selalu sibuk. Mereka nggak pernah nanyain kabar gue...” Moli terisak.


“Bagi mereka yang penting gue tercukupi... mereka nggak sadar kalau gue juga butuh perhatian, gue butuh kasih sayang...” Isakan tangisnya mulai mengeras.


Karena tak tega Yoga langsung memeluk erat gadis yang tengah menangis itu. Di dekapnya dengan erat begitu juga dengan Moli, Ia membalas pelukan Yoga. Ia membenamkan wajahnya di dada yoga yang tengah mengusap rambutnya.


“Gue... gue... sendirian Ga... gue kesepian...” ucap nya terbata bata.


“Kak Moli nggak sendirian kok... kan ada Si mbok dirumah, ada pak Ujang... ada temen temen sekolah juga kan...” Yoga mencoba menghibur Moli. Seperti ini kah bidadari tanpa sayap? Hidup sendirian tanpa ada kasih sayang menghampiri. Sunyi dalam diam.


“Udah jangan nangis! Jelek tau!” Yoga memegang kedua pipi Moli yang banjir air mata. Di tatapnya Mata sembab itu.


Cup.


Sebuah kecupan mendarat di kening Moli.


“Apaan sih!...” Moli mengelap bekas kecupan itu.


“Ya abisnya nangis sih... kan gue bingung...” semprot Yoga.


Tangisan itu sudah mulai mereda. “Makasih ya Ga...”


“Buat apa?”


“Karena lo udah nemenin dan menghibur gue...”


Yoga mengangguk sambil menyentil hidung mancung Moli. “Sakit ih...” gerutunya jengkel.


“Kapan pun kak Moli butuh gue siap hadir kok...”


“Beneran?” Moli melebarkan bola matanya.


“iya...”


Moli berhambur memeluk Yoga hingga terjengkang ke belakang. “Makasih Adik ku sayang...” ucap Moli girang.


Matanya kembali berbinar. Ia seperti di beri hadiah seorang penjaga oleh sang malaikat. Entah kenapa hari ini Ia begitu nyaman bersama yoga. Rasa manja yang selama ini ingin Ia lampiaskan pun terwujud.


“Udah lepasin! Engap!” Kata Yoga setengah mendorong Moli.


Moli meringis. “Iya maaf...”


Apakah aneh jika Moli berdekatan dengan orang yang baru Ia kenal? Semua terjadi karena hati yang berbicara.


Seseorang membunyikan bell rumah. Moli menoleh. “Siapa sih?” Ia bangkit menuju ruang tamu.


“Nggak biasanya ada tamu jam segini...”


“Diki?” Ucap Moli ketika melihat siapa yang berdiri di depan rumahnya.


“Hai cantik...” sapanya...


“Ha. Hai... tumben kamu kesini?” kata Moli sedikit terbata bata. Ia menarik gagang pintu supaya tak terbuka.


“Nggak boleh kesini?”


“Ya boleh... Cuma biasanya kamu ngomong dulu gitu...”


“Biar surprise... jalan yuk...” Yoga mengajak Moli keluar. Mungkin Ia merasa bersalah dengan yang tadi siang.


Moli menggigit bibir bawahnya. “Gimana sama Yoga?” batin Moli. Ia mencoba berfikir keras mencari solusi.


“Oke... aku ambil tas dulu... kamu tunggu sini aja ya...” ucap Moli yang langsung menutup pintu meninggalkan Diki di halaman rumah. Diki mengerutkan dahi. “Kenapa si Moli?”


Moli berlari menghampiri Yoga yang masih menonton TV. “Yoga!”


Yoga menoleh. “Tamu siapa kak?” tanya Yoga penasaran.


“Temen... gue pergi dulu ya...” Moli menggamit ponselnya di atas bufet. “Terserah lo mau ngapain di sini... mau nungguin atau pulang terserah elo... Gue buru buru.”


Moli pergi meninggalkan Yoga yang masih kebingungan. “Mau kemana Dia?” gumam Yoga ketika gadis itu sudah tidak nampak.


“Yuk...”


Diki melirik penampilan Moli yang sedikit kucel. Tentu saja, Moli kan abis nangis. Ia masih memakai baju yang sama. Belum mandi pulak. “Mau pake baju ini?” tanya Diki heran.


“Kenapa emang? Jelek?” tanya Moli sambil melirik tampilannya sendiri.


“Nggak sih... cantik kok... ya udah yuk berangkat.”


Mereka sudah dalam perjalanan. Dan jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Pedagang kaki lima sudah mulai standby menata dagangannya masing masing. Ada wedang ronde, ada juga sate Madura, di sebrang juga ada roti bakar dan martabak.


“Kamu nggak jadi nganterin Lia?” tanya Moli pembuka pembicaraan.


“Udah tadi... kenapa emang?”


“Nggak papa... Cuma nanya.”

__ADS_1


“O ya. Tadi kamu marah ya sama aku?” tanya Diki mengingat tentang kejadian tadi siang.


Moli mendengus. “Nggak sih... Cuma sebel aja.”


“Kenapa? Gara-gara Lia?”


“Nah itu kamu tahu...” jawab Moli ketus.


“Maaf deh... Lia emang gitu sifatnya... apa lagi udah lama nggak ketemu...”


Moli mendengus. Emang nggak peka nih orang. Nggak ngerti atau gimana sih? Cemburu woy!


“Terserah kamu lah...” Moli cemberut memalingkan wajahnya menghadap ke luar kaca mobil.


“Jangan ngambek dong... ntar cantiknya ilang loh...” ledek Diki.


“Biarin!!”


Belum ilang ngambek nya Moli sudah di buat jengkel lagi. Ponsel Diki berbunyi pertanda ada telpon dari gadis yang membuat Moli cemburu. “Tuh kan... dasar pengganggu!” gerutu Moli lirih.


“Halo Ia... ada apa?”


“Kamu dimana Dik? Bisa jemput aku nggak? Aku bosen sendirian di apartemen...” Suara dari sebrang.


“Aku lagi jalan sama Moli... mau ikutan?”


Moli membulatkan Mata. “Maksudnya apa?” kata Moli dalam hati.


Diki menutup telponnya dengan Lia. “Boleh nggak aku jemput Lia? Kasihan Cuma sendirian. Belum punya teman juga di sini kan...”


“Terserah kamu... Aku ngikut aja.” Jawab Moli ketus.


Diki memutar balik Mobilnya menuju Apartemen Lia di jalan Salemba raya. Sepanjang jalan Moli hanya diam menutup mulutnya. Rasa nya malas untuk berbicara dengan Diki, toh Diki juga diam aja.


Lia sudah menunggu mereka di bawah gedung apartemen. Ia memakai rok pendek di atas lutut dan memakai kaos ketat hingga menonjolkan buah dadanya. Bibirnya yang merah merona lebih mirip wanita nakal ketimbang gadis yang masih berumur belasan tahun.


“Hai... maaf ya ganggu kalian...” kata Lia ketika sudah masuk di dalam mobil. Moli hanya melempar senyum.


“Kita mau kemana?” tanya Lia lagi.


“Nonton...” jawab Diki.


Dari jok belakang Lia melirik tampilan Moli yang sedikit lusuh. Lia mencibir. “Lo belum mandi ya... kucel banget mukanya...”


Sialan Nih cewek. Kalau nggak ada Diki udah di jambak kali. Salah Moli juga sih, mandi juga nggak apalagi dandan. Tapi setidaknya Ia masih normal di banding penampilan menor Lia.


“Emang belum mandi gue...” jawab Moli ketus.


“Tapi tetep cantik kok...” sambung Diki mengelus rambut kekasihnya itu. Lia mengerucutkan bibir tanda tak suka.


Malam ini gedung bioskop lumayan ramai. Kursi yang tersedia hampir terisi penuh oleh pengunjung. Maklum lah kan ada film baru...


Diki menggandeng lengan Moli menuju kursi yang kosong di barisan ke akhir. Sementara Lia mengikuti mereka dari belakang, kemudian mereka duduk dengan posisi Diki di tengah di antara Moli dan Lia.


“Berani nonton kan? Kalau takut tinggal peluk aku aja...” ledek Diki pada Moli yang sudah fokus menatap layar lebar di hadapannya. Film horor bukanlah hal yang yang menakutkan bagi Moli. Suara geledek baru deh Moli takut. Film thriller aja berani nonton, apa lagi Cuma genre horor. Ahh biasa!


Adegan demi adegan di tontonnya dengan tenang. Namun lain halnya dengan Lia. Ia menggandeng lengan Diki karena ketakutan. Kadang menelungkupkan wajahnya di pundak Diki.


Moli melirik penuh kebencian “Gitu aja takut! Dasar! Cari kesempatan mulu!” semprotnya dalam hati. “Diki juga mau aja di gandeng Dia terus!” timpalnya lagi.


Diki menoleh pada Moli yang sedari tadi begitu tenang menatap layar lebar itu tanpa ada rasa takut sedikit pun. “Berani juga ternyata kamu...” ucap nya dengan menggenggam erat tangan Moli.


Tenang bukan berarti Moli tak ada rasa cemburu. Ia hanya malas saya harus mengatakan itu, seharusnya lelaki bisa paham dengan hal begituan kan? Dan lagi kalau kesini niatnya cuma mau nunjukin manjanya Lia mending nggak usah deh, bikin panas ruangan.


Satu jam lebih sudah berlalu. Para pengunjung berhamburan keluar dari ruangan itu. Lia mendesah pelan. “ Akhirnya selesai juga...”


“Kita mampir makan dulu yuk... lapar aku...” ajak Diki pada kedua gadis yang ada di sampingnya.


Moli mengangguk saja. Malas untuk berbicara rasanya. Matanya sudah muak melihat tingkah manja Lia. Geregetnya lagi di Diki mau aja di gituin.


“Kalian duduk dulu... aku mau ke toilet bentar...” Diki pamit pergi ke toilet. Sementara Moli dan Lia duduk menunggu Diki. Tak ada satu pun diantara mereka yang buka suara. Mereka berdua saling acuh seperti tak ada siapapun di hadapan masing masing.


Moli sibuk dengan ponselnya membuka akun sosial media nya.


“Eh Moli! Nggak papa ya kalau gue sering deket sama Diki...” ucap Lia dengan mata licik. “Diki itu sahabat gue dari kecil... jadi lo harus bisa terima kalau gue deket deket Dia...”


Sungguh rasanya ingin melempar benda keras tepat di wajah gadis sok cantik itu. Menjengkelkan sekali cara bicaranya. Seperti itukah watak teman kecil Diki? Dimana sopan santunnya?


“Terserah elo deh... bodo amat gue mah...” timpal Moli dengan sinis.


“Sukur deh... intinya elo nggak boleh ngelarang Diki buat ketemu gue...” Lia terus nyerocos seakan akan Dia paling benar.


Moli menyeringai. “siapa elo merintah gue? Kenal juga nggak kan?” Moli memalingkan wajahnya dari Lia.


“Lama ya...” kata Diki usai dari toilet. Tak ada jawaban dari mereka.


“Kok pada diem? Nggak lapar? Aku pesenin dulu ya...”


***

__ADS_1


__ADS_2