Ketika, Kau Menciumku

Ketika, Kau Menciumku
15. Bercerita


__ADS_3

“Apa!” Teriak Fani lantang bertabrakan dengan suara angin yang baru saja berhembus. Setelah mendapat pelototan dari Moli, Fani langsung mengatupkan kedua bibirnya. Menutupnya juga dengan kedua telapak tangan.


Moli berdecak lalu berjalan masuk lagi ke dalam ruangan. “Nggak usah teriak kali.” Moli mencibir.


“Gimana gue nggak teriak...” Fani menyusul Moli masuk ke dalam. “Elo ngagetin gue. Dan tunggu...” Fani menarik lengan Moli hingga Moli berbalik.


“Elo serius dengan ucapan lo tadi?” Fani masih merasa belum yakin.


“Ini lebih dari sekedar serius.” Moli mendengus lalu membanting bagian pinggulnya di atas sofa.


“Kok bisa?” Fani ikut duduk. Matanya sudah melotot karena begitu penasaran.


“Itu yang jadi masalahnya. Gue sama sekali nggak tahu kenapa Yoga bisa lupa sama gue. Padahal nih ya...” Moli memutar posisi duduk menghadap ke arah Fani. “... Yoga itu inget lho sama elo dan Tika. Tapi, kenapa sama gue nggak?”


“Ih sumpah! Gue kok jadi bingung sendiri ya. Ini sebenarnya gimana ceritanya sih!” Fani menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak merasa gatal.


“Gue juga bingung!” hentakkan keras dari kedua kaki Moli terdengar.


“Gue mau, elo bantuin gue buat cari tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Yoga.” Moli menggenggam erat kedua tangan Fani. Matanya berkedip beberapa kali, memohon supaya Fani bersedia membantu.


“Gue sih, mau-mau aja bantuin. Tapi...”


“Tapi apa?”


“Caranya? Gue kan nggak tahu...”


Moli manggut-manggut. “Betul juga ya... terus gimana dong?” Moli menghela napas lalu bersendehan. Mungkin semua ini akan terasa sulit. Bagaimana caranya memulai semua ini?


“Oh iya, Fan...” Moli menatap Fani lagi. Ekspresi wajahnya kini terlihat semakin mengusut. Fani menoleh.


“Gue udah di jodohin sama seseorang...”


“Apa!” Fani berteriak lagi. Kali ini Moli tak memelototinya seperti tadi, Moli tahu pasti Fani akan terkejut.


“Heh Mol!” kali ini justru bola mata Fani yang melotot. “Elo sedang nggak ngerjain gue kan? Jangan elo kira semua ini terlihat lucu.”


“Elo nggak bisa beda-in mana yang serius dan mana yang nggak, ha?” Moli balik melotot.


“Ini pertama kalinya gue ketemu sama elo lagi. Bisa nggak sih, elo itu jangan kasih berita yang aneh-aneh? Sumpah, gue pusing, Mol.” Fani memegang kepala dengan kedua tangannya. Pasalnya sudah beberapa bulan tidak bertemu dengan Moli, tapi sekali bertemu malah dapat berita macam-macam.

__ADS_1


“Ini juga bukan kemauan gue kali, Fan.” Moli melengos. Mendesah lalu kembali bersenderan lagi. “Gue bingung.”


Ckleeek!


Pintu terbuka perlahan, sontak Moli dan Fani langsung memutar pandangan ke arah pintu. Seseorang berbadan tinggi dengan setelan jas berwarna dongker masuk sambil melempar senyum.


“Anton?” ucap Moli sambil memiringkan kepala.


Kenapa dia kesini sih!


“Hai...” Anton mengangkat ke lima jarinya. “Apa aku ganggu?”


Fani dan Moli sudah berdiri. Refleks Fani yang merasa asing dengan pria itu langsung menyikut lengan Mona. Tersenyum sekilas pada pria itu, lalu mendekatkan bibir ke telinga Moli.


“Siapa Mol? Apa pria itu yang mau di jodohin sama elo?” tanya Fani tepat di dekat telinga Moli.


Moli tak menjawab, ia hanya mencubit pelan punggung telapak tangan Fani lalu mendekat ke arah Anton.


“Ngapain elo kemari? Nggak punya kerjaan?” tanya Moli sinis. Fani yang masih berdiri di belakang Moli hanya berkerut dahi. Sementara Anton terlihat tersenyum.


“Ada, menemui kami.”


“Moli!” Panggil Fani dengan lirih. “Elo nggak mau ngenalin dia ke gue?”


“Kenalan aja sendiri.”


Mendengar jawaban Moli, Fani hanya meringis sambil melirik Anton.


“Hai, Gue Anton. Calon suaminya Moli.”


Moli langsung terhenyak.


Mulai kurang ajar dia!


“Oh, hai... gue Fani temannya Moli, salam kenal.” Fani membalas uluran tangan Anton.


“Kalau gitu, gue pamit ya... takut ganggu kalian.” Fani melirik Moli sambil menggerakkan ke lima jarinya. “Gue pergi, nanti elo bisa telpon gue.”


Usai mengucapkan kalimat terakhir, Fani langsung ngibrit keluar dari ruangan.

__ADS_1


“Jadi itu calon suaminya Moli?” Gumam Fani seampainya di dalam mobil. “Ganteng juga.” Fani terkekeh.


“Eh! Lha Yoga mau di kemanain dong?” Fani mengangkat satu alisnya. Mobilnya sudah melaju dengan kecepatan sedang.


“Elo tiap hari datang kesini, mau ngapain?” sinis Moli.


“Ketemu kamu lah, memang apa lagi?” Kedua pundaknya terlihat terangkat lalu di ikuti senyum.


“Heh!” Moli berdiri sambil menggebrak meja. Bola matanya lurus menatap ke arah Anton. Dan Anton pun balik menatap Moli.


“Gue kasih tahu ya, gue itu udah punya pacar. Jadi mendingan elo jauhin gue.” Moli menuding dengan jari telunjuknya ke arah Anton.


“Hanya pacar kan?” jawab Anton enteng. Bahkan bibirnya terlihat menyeringai.


“Memang saat ini hanya pacar, tapi besok, pasti akan jadi suami gue. Jadi, gue saranin... elo jauh-jauh dari gue.”


“Tapi sayangnya nggak bisa.” Anton tersenyum licik lalu dengan seenaknya meraih dagu Mona.


“Heh! Jangan kurang ajar ya!” tepis Moli. “Belum apa-apa, tapi elo udah mulai nggak sopan! Memalukan!”


Anton tak tersinggung sama sekali, senyum di bibirnya bahkan masih terlihat.


“Kita itu di takdirkan bersama, jadi kamu harus terima aku sebagai calon suamimu. Dan sebentar lagi menjadi suami mu.”


“Jangan harap!” Moli menggebrak meja lagi lalu keluar dari ruangannya meninggalkan Anton sendirian.


Di dalam, Anton masih termenung. Berdiri dan diam tanpa bergerak. Terlihat telapak tangannya sudah berada di atas meja, menyangga tubuhnya yang mencondong ke depan.


“Siapa pacar Moli? Gue jadi penasaran.” Gumam Anton. Setelah itu, Anton langsung berbalik dan ikut keluar dari ruangan itu.


“Ini masih pagi, dan gue harus di buat jengkel karena Anton.” Moli mendengus. Saat ini dirinya sudah berada di restoran di seberang kantornya.


Moli hanya duduk, mau pesan makanan tapi perutnya belum lapar. Dan lagi dompetnya lupa di bawa, begitu juga dengan ponselnya.


“Semua gara-gara Anton! Sialan!” gerutu Moli sambil memukul Meja, hingga membuat pengunjung lain meliriknya.


“Terus... disini gue ngapain dong? Aaaghh! Brengsek!” Moli menelungkupkan kepalanya di atas meja.


Kenapa hidupnya serumit ini? Siapa yang tahu. Dan kenapa selalu tentang cinta dan perasaan? Kenapa bukan hal yang lain?

__ADS_1


Papa, mama... aku ini cantik, tak perlu di jodohkan, aku juga bisa cari calon suami. Aku seperti wanita yang nggak laku aja. Kalian memang tega! Sampai kapan kalian akan terus begini? Mengekangku tanpa alasan yang jelas! Aku benci kalian!


__ADS_2